
Setelah memberikan perintah pada Duta, Igo pun mengakhiri panggilannya. Kemudian ia kembali melakukan panggilan ke nomor orang suruhannya yang biasa ia pakai untuk memata-matai Tia.
"Halo bos, kenapa? Apa informasi yang saya kasih gak cukup?"
"Cukup kok. Gue mau ngasih tugas lagi buat loe."
"Tugas apa nih bos?"
"Loe pergi ke club yang di jalan xxx, terus loe bawa dua orang yang ada di room enam ke gudang perusahaan gue. Dan satu lagi, loe minta cctv club kejadian tadi malam."
"Oke bos. Cuma itu doang bos?"
Igo berpikir, sepertinya masih ada yang kurang.
"Satu lagi, sebelum ke club, loe beli pakaian beserta pakaian dalam untuk perempuan dan laki-laki." Kata Igo setelah mengingat penampakan Sasha yang memakai dress putih tipis tanpa memakai pakaian dalam. Ditambah lagi, Igo yakin kalau pakaian Sasha dan Roy pasti sudah tidak layak pakai karena terkurung semalaman di dalam room dalam kondisi di pengaruhi obat perangsang.
Setelah memberi perintah pada orang suruhannya untuk mengurus Sasha dan Roy, Igo pun mengakhiri panggilan telponnya kemudian berjalan kembali menuju tempat tidur untuk kembali berbaring di sebelah istrinya.
Netra nya tak jemu memandang wajah istrinya yang masih terlelap tidur.
"Makasih yah Ti, udah jadi istri yang kuat dan pintar untuk laki-laki seperti aku. Aku gak tau akan seperti apa rumah tangga ku kalau istri ku bukan kamu." Ucap Igo sambil mengelus pipi istrinya yang masih tertidur lelap.
Igo pun menarik tubuh istrinya agar masuk ke dalam pelukannya, niat hati ingin kembali tidur sambil berpelukan, tapi nahasnya apa yang Igo lakukan malah menjadi boomerang untuk dirinya sendiri.
Bagaimana tidak boomerang, saat ia membawa tubuh polos Tia dalam pelukannya, otomatis si kembar Tialaya juga menempel di dada Igo. Di tambah lagi kebiasaan tangan Tia yang suka mengelus-elus benda yang ia dapat gapai, membuat Igo panas dingin, merem melek, cenat-cenut. Karena yang tergapai tangan Tia adalah kepala plontos Dragon yang sedang bobok ganteng.
"Sssh...ah... astaga Ti..." Igo menggeram sekaligus mendes•ah saat Tia mengunyel-unyel kepala plontos Dragon. Jelas saja aksi Tia itu membuat sang Dragon membuka matanya dan langsung berdiri tegak minta keadilan kesejahteraan.
Igo memejamkan matanya, bibirnya pun ia lipat rapat-rapat, bukan untuk menahan suara ghoib, tapi menahan rasa nikmat akibat tangan Tia yang mengunyel-unyel sang Dragon. Sebenarnya bisa saja ia membalas perlakuan tak sadar istrinya itu, tapi setelah ia pikir-pikir, ia merasa kasihan pada istrinya karena baru beberapa jam pulang dari langit ke tujuh.
Sekuat tenaga Igo membangun benteng pertahanan, tapi apalah daya kekuatan sang Dragon yang sedang mengamuk lebih kuat dari kekuatannya dan mampu meruntuhkan benteng pertahanan yang susah payah ia bangun.
Tangan Igo mulai beraksi pada si kembar Tialaya, tak puas hanya bermain menggunakan tangan, Igo merentangkan tubuh Tia agar dirinya bisa lebih mudah bermain dengan si kembar Tialaya dengan mulutnya.
Sekebo-kebo nya Tia, Tia masih bisa merasakan saat si kembar mendapat sentuhan.
"Eugh..." Tia melenguh sambil mengerjapkan matanya.
Dan terlihatlah Igo sedang bermain dengan si kembar.
"Kak..." panggil Tia sambil menjauhkan kepala Igo dari dadanya.
"Aku capek kak.." ucap Tia lagi.
"Tapi Dragon bangun lagi Ti, kayaknya masih ada sisa efek obatnya deh Ti." Jawab Igo memberi alasan.
"Kan semalem udah empat kali, masa masih ada sih efeknya?" Tanya Tia menolak percaya.
"Kamu gak percaya? Nih pegang aja kalau gak percaya." Ucap Igo sambil mengambil tangan Tia agar bisa menyentuh sang Dragon.
"Kok bisa sih?" Ucap Tia terheran-heran saat tangannya menggenggam sang Dragon.
__ADS_1
"Ya bisa lah, gara-gara kamu juga sih makanya si Dragon bangun."
"Kok gara-gara aku? Aku aja tidur kok?" Protes Tia yang tak terima di salahkan.
"Mata kamu emang tidur, tapi tangan kamu gak tidur, kepala si Dragon kamu unyel-unyel." Igo balik memprotes Tia.
Tia memutar bola matanya malas.
"Aku mulai yah Ti." Ucap Igo.
Tanpa persetujuan dari Tia, Igo kembali bermain dengan si kembar dengan mulutnya.
Kalau sudah begini, pastinya Tia juga tidak bisa menolak kemauan suaminya. Ingin meronta pun juga tidak bisa selain nyawanya belum terkumpul semua, tenaganya juga sudah terkuras habis karena adu mekanik semalam.
Dan pagi itu pun Igo dan Tia kembali adu mekanik.
"Aaargh.." erangan panjang keluar dari mulut keduanya.
Igo langsung mengambrukkan tubuhnya di sebelah Tia.
"Udah yah kak, aku udah gak sanggup." Ucap Tia menyerah. Nafasnya sudah sangat ngos-ngosan seolah-olah habis lari keliling lapangan sepuluh kali.
"Ia sayang, dengkul aku juga udah gemeteran." Balas Igo.
Suasana kamar pun hening sesaat, hanya terdengar deru nafas Igo dan Tia yang saling balapan.
KRIIIING...KRIIIING..
Igo pun mendudukkan dirinya dan mengambil ponsel yang ia letakkan di nakas.
"Irlan?" Lirih Igo saat melihat nama sahabatnya itu di layar ponsel.
"Siapa kak?" Tanya Tia sambil mendekatkan tubuhnya ke sang suami.
"Irlan." Jawab Igo
"Ya udah angkat, manatau ada yang penting." Suruh Tia.
Igo pun menggeser tombol hijau di layar ponselnya.
"Hemh..." jawab Igo.
"Ham hem ham hem. Baru bangun loe yah?"
"Hemh. Kenapa?"
"Ke rumah sakit sekarang, si Jeju udah lahir." Ucap Irlan.
"Serius loe? Wah..udah ada yang jadi bapak-bapak nih di antara kita bertiga."
"Serius gue. Bini gue nelponin bini loe dari tadi gak di jawab-jawab telponnya."
__ADS_1
"Ya iya lah gak di jawab, orang lagi beroprasi." Celetuk Igo.
"Hemh..pantes!!! Ya udah mandi sana, cepetan gak pake lama. Gue ama Nia udah mau on the way ini."
"Oke."
Irlan pun mengakhiri panggilan telponnya dengan Igo.
"Kak Irlan bilang apa kak?" Tanya Tia setelah suaminya meletakkan kembali ponselnya di atas nakas.
"Dia bilang si Jeju udah launching." Ucap Igo.
"Serius." Tanya Tia kaget.
"Kok Ica gak ngabarin aku mau lahiran?" Kembali Tia bertanya-tanya, dia tidak sadar kalau sekarang dia berada di dalam basecamp sedangkan ponselnya ada di dalam kamarnya.
"Ponsel kamu kan di kamar sebelah sayang." Jawab Igo.
Tia pun celingak-celinguk melihat seisi kamar. Disitulah ia baru sadar kalau dirinya ada di dalam basecamp.
"Ya udah cepatan kita mandi, kakak mandi di kamar mandi sini, aku mandi di kamar mandi kamar ku." Ucap Tia menarik selimut dan melilitkan ke tubuhnya, hendak turun dari atas ranjang.
Mata Igo membelalak sempurna saat melihat penampakan tubuh Tia yang sudah berubah menjadi macan tutul akibat ulahnya.
"Mampus gue, bisa tamat riwayat gue kalau Tia tau gue bikin tato semi permanen di lehernya, udah malah banyak lagi." Umpat Igo pada dirinya sendiri dalam hati.
"Eh..tunggu Ti, mending kita mandi bareng aja, biar cepet." Sebisa mungkin Igo mencegah Tia untuk tidak melihat penampakan dirinya sendiri.
"Gak mau!!! Bakalan lama lah kalau kita mandi bareng." Tolak Tia, karena Tia curiga kalau mereka mandi bareng akan ada adu mekanik lagi di dalam kamar mandi.
"Gak bakalan, kan udah aku bilang, lulut aku juga udah gemetaran."
Igo pun menurunkan kakinya ke lantai dan berjalan memutari ranjang untuk menghampiri istrinya.
"Ayo sayang." Igo menarik tangan Tia.
"Eh..tunggu ambilin dulu baju aku."
"Gak usah, buang-buang waktu aja, nyampe kamar mandi juga di buka lagi."
"Tapi aku malu kak."
"Heleh..malu,.orang aku udah lihat semuanya kok." Jawab Igo.
"Udah Ayo." Ucap Igo kembali menarik tangan Tia.
Tia pun menurut, ia pun menurunkan kakinya ke lantai dan berjalan menuju kamar mandi.
Saat melewati meja rias, Igo langsung memutar kepala Tia agar istrinya itu tidak bisa melihat penampakan dirinya sendiri.
Begitupun saat mereka telah berada dalam kamar mandi, sebisa mungkin Igo menghalangi Tia untuk tidak menoleh ke arah cermin wastafel.
__ADS_1
Igo langsung membawa Tia berdiri di bawah shower kemudian menyalakan kran shower. Mereka berdua pun mandi di bawah guyuran shower. Seperti kata-kata Igo, hanya mandi dan tidak melakukan apa-apa.