
Kini Igo dan Tia sudah berada di dalam unit apartemen mereka.
"Aaakh.." pekik Tia begitu masuk ke dalam unit apartemen karena Igo tiba-tiba menggendongnya dari belakang.
"Kakak apa-apaan sih? Kaget tau gak!" Omel Tia.
"Siapa suruh bikin aku gemes." Jawab Igo sambil terus melangkah menuju basecamp mereka.
Setelah sampai di dalam basecamp, dengan perlahan Igo mendudukkan istrinya di atas ranjang.
Igo pun berjongkok untuk mensejajarkan wajahnya dengan perut sang istri.
Cup. Cup. Cup. Kecupan bertubi-tubi Igo berikan di perut istrinya.
Hal yang sedari tadi ingin Igo lakukan sejak ia mengetahui kalau istrinya sedang mengandung racun premium milik sang Dragon, tapi ia mencoba menahannya sampai di apartemen.
"Kak..geli akh.." pekik Tia saat Igo dengan gemasnya mencium perutnya.
"Gemes aku Ti. Kamu kenapa sih gak langsung bilang. Kalau aku tau dari kemaren-kemaren kan udah dari kemaren-kemaren aku unyel-unyel."
"Kan mau ngasih surprise kak." Jawab Tia.
"Terus jenis kelamin anak kita apa?"
"Ya belum kelihatan lah kak, nanti umur lima bulan baru jelas jenis kelaminnya."
Igo pun kembali memberi ciuman gemas di perut istrinya.
"Makasih sayang." Ucap Igo setelah puas memberi ciuman gemas di perut Tia.
"Makasih untuk apa?"
"Makasih karena sudah mengandung anak ku."
Tia menganggukkan kepalanya.
"Aku juga berterimakasih sama kakak." Ucap Tia balik.
"Terimakasih untuk apa?" Igo balik bertanya.
"Terimakasih karena sudah menaburkan benih ke rahim aku, membuat aku jadi wanita yang seutuhnya." Jawab Tia.
"Oh...so sweet." Ucap Igo terharu. Ia pun langsung memeluk Tia dan memberikan ciuman bertubi-tubi di wajah Tia.
"Ti.."
"Hemh.."
"Keramasin dedek yuk." Ajak Igo.
"Hah...keramasin?" Tanya Tia yang tak mengerti maksud perkataan Igo.
"Itu loh.." jawab Igo sambil mengerlingkan sebelah matanya genit.
Melihat suaminya mengerlingkan mata genit, Tia pun mengerti apa maksud arti dari kalimat keramasin dedek.
"Ish.. si dedek masih belum bisa di keramasin kak. Kalau kakak mau, kakak pake APD."
"Kok pake APD? Kayak si Jeki aja. Gak mau akh." Tolak Igo.
"Astaga kak, kalau Dragon gak pake APD, kakak mau kalau nanti aku kontraksi karena racunnya Dragon? Racunnya Dragon belum bisa nyembur di dalam kak, bisa menyebabkan kontraksi."
"Gitu yah?"
Tia menganggukkan kepalanya.
"Tapi aku gak punya stok APD sayang, kan semenjak nikah sama kamu, Dragon gak pernah make wc umum lagi. Aku buang di luar deh, yah..yah.." Tawar Igo.
"Gak!!!!" Tak perlu berpikir lama, Tia langsung menolak tawaran suaminya, karena ia tau bagaimana tabiat suaminya. Pantang cabut sebelum menciut.
Mendapat penolakan mentah-mentah dari Tia, Igo memutar bola matanya malas.
"Ya udah aku beli dulu. Kamu mau nitip sesuatu gak?" Ucap Igo pasrah sambil berdiri.
"Nitip snack sama coklat aja deh kak."
__ADS_1
"Tunggu yah. Jangan tidur dulu." Ucap Igo memberi peringatan.
"Makanya jangan lama-lama."
"Iya isdung ku.."
"Apaan tuh isdung?"
"Istri tekdung."
"Cih.." decih Tia.
Cup. Sebelum keluar dari basecamp, Igo mencium kening isdungnya terlebih dahulu.
Sambil menunggu suaminya datang, Tia pun berganti pakaian dinas pengeboran lubang tambang Tiaport.
Tak sampai setengah jam, Igo pun kembali ke unit apartemennya dengan membawa banyak cemilan dan tak lupa satu kotak APD untuk sang Dragon.
Ceklek. Igo membuka pintu basecamp.
Dengan membawa satu kantong plastik berisi cemilan pesanan Tia, Igo masuk ke dalam ruang tidur.
Ternyata isdung nya sudah berbaring di atas ranjang dengan selimut yang menutupi tubuhnya sampai sebatas leher.
"Udah di bilang jangan tidur." Dumel Igo. Apa Igo tidak tahu kalau istrinya itu sudah sangat lelah.
Igo pun meletakkan kantong plastik di atas nakas dekat sofa kemudian mengeluarkan satu kotak APD untuk sang Dragon melakukan pengeboran. Lalu melangkah menuju ranjang, sebelum naik ke atas ranjang, Igo membuka pakaian yang menempel di tubuhnya dan hanya menyisakan bedongan sang Dragon, setelah itu barulah Igo naik ke atas ranjang.
Igo memeluk istrinya dari belakang.
"Honey..." bisik Igo di telinga Tia.
Tak ada respon, Tia sudah benar-benar tertidur.
Tak ingin acara pengeboran gagal malam ini, apalagi kemaren juga tidak ada aktivitas pengeboran, Igo pun mengeluarkan jurus kanuragannya. Apalagi kalau bukan bermain dengan gunung Tialaya dan buah karsen yang ada di puncak gunung.
Igo membuka selimut yang sedari tadi menutupi tubuh istrinya.
Mata Igo membelalak sempurna saat melihat penampakan tubuh istrinya yang ternyata sudah memakai pakaian dinas.
Setelah baju dinas terbuka sampai di dada, bibir manis Igo pun mulai pindah pada pegunungan Tialaya.
"Eugh..." Berhasil. Tia melenguh.
Tia pun mengerjapkan matanya.
"Mmm...kak."
Igo pun menghentikan aktivitas nya sejenak untuk memandang istrinya.
"Kakak baru pulang?" Tanya Tia.
Igo yang hasratnya sudah di ubun-ubun hanya sanggup menganggukkan kepala.
"Ada APD nya?"
Igo kembali menganggukkan kepala.
"Kok gak bangunin aku?"
Igo memejamkan matanya sebentar sambil menghela nafasnya.
"Ini kan lagi di bangunin sayang. Bangunin kamu pake cara normal mana bisa, jadi bangunin kamu harus pake cara abnormal kayak gini." Jawab Igo menggeram.
"Cih.." Tia berdecih mendengar jawaban suaminya.
"Udah bisa lanjut belum nih? Tombaknya udah gak tahan pengen nanโขcep." Tanya Igo yang sudah tak sabaran.
Tia menganggukkan kepalanya.
"Tapi pelan-pelan aja yah kak, jangan grasak grusuk kayak biasanya. Kasihan si dedek." Tia memberi peringatan pada Igo sambil mengusap perutnya.
"Dek, papa jenguk yah. Nanti kalau dedek udah gede di perut mama, baru papa keramasin." Ucap Igo tepat di depan perut Tia.
Dan malam itu, Igo pun berkenalan dengan sang anak. Dengan ayunan pinggul yang lembut seperti angin sepoi-sepoi namun dengan hentakan yang tegas dan tajam seperti hentakan kaki prajurit yang sedang latihan berbaris, begitulah cara Igo memperkenalkan dirinya pada anaknya yang masih dalam kandungan istrinya.
__ADS_1
Malam ini acara pengeboran tak seperti malam-malam sebelum ada si dedek LuCa (dedek LuCa apa hayo?!), jika malam sebelum ada dedek LuCa di dalam rahim Tia, Igo bisa tega menghabisi istrinya sampai tiga-empat putaran, tapi malam ini cukup satu kali putaran saja. Karena Igo tak ingin sampai isdung nya itu kelelahan dan mengakibatkan dedek LuCa tertekan batin di dalam sana.
๐ ๐ ๐
Waktu sudah menunjukkan pukul dua dini hari, Tia terbangun karena merasakan lapar. Drama ngidam pun dimulai.
"Kak.." Tia membangunkan suaminya yang sedang tidur sambil memeluk dirinya.
"Kak.." sekali lagi, Tia membangunkan Igo sambil sedikit menoel-noel lengan suaminya.
"Hemh..." respon Igo sambil menelantangkan tubuhnya dengan mata yang masih tertutup.
"Ish..kak bangun." Kesal karena suaminya tak kunjung membuka matanya, kali ini Tia membangunkan Igo sambil mengguncangkan tubuh suaminya.
"Apa sih Ti..?" Tanya Igo tapi matanya masih enggan ia buka.
"Laper. Mau makan bakso." Ucap Tia.
Dan tanpa Tia duga-duga, Igo langsung membuka selimut yang menutupi tubuh polosnya.
"Nih baksonya makan aja." Jawab Igo nyeleneh.
Tia ternganga mendengar jawaban nyeleneh suaminya, karena Igo salah menanggapi permintaan Tia.
"Ish..bukan bakso itu!!!" Geram Tia.
"Ini tuh bakso urat, lebih enak tau gak!" Igo masih memberi jawaban asal dengan mata yang masih terpejam.
"Kak Igoooo!!!!" Teriak Tia geram karena suaminya terus memberi jawaban nyeleneh bin mesum.
Mendengar teriakan Tia, tak perlu menunggu roh nya masuk ke dalam tubuhnya, Igo sudah langsung membuka matanya.
"Apa sih Ti, tengah malam teriak-teriak!" Pekik Igo sambil memegang dadanya kaget.
"Habisnya kakak ngeselin. Aku minta bakso, kakak malah nunjukin itu." Ucap Tia sambil menunjukkan dua biji bakso urat milik sang Dragon.
"Loh salah aku dimana? Kan emang bener ini bakso."
"Bukan bakso itu kak. Aku laper, pengen makan bakso yang bikin kenyang." Geram Tia. Ingin sekali rasanya Tia menjitak kepala suaminya itu.
"Ini juga bisa bikin kamu kenyang Ti, bahkan perut kamu bisa bengkak sangking kenyang nya."
"Aaargghhh kak Igo ngeselin!!!! Kalau gak mau beliin bilang aja, gak usah ngeles gitu dong kayak bajai!!" Teriak Tia. Tia pun membalikkan tubuhnya sehingga membelakangi sang suami. Si macan tutul ngambek.
"Salah lagi gue!" Gumam Igo dalam hati.
"Jangan ngambek dong..ya udah aku beliin." Bujuk Igo.
Tia pun memutar tubuhnya lagi agar bisa berhadapan dengan suaminya.
"Beneran?" Tanya Tia.
Igo menganggukkan kepalanya pasrah.
"Tapi emangnya harus beli yah? Kalau aku aja yang masak gimana?" Tanya Igo menawarkan diri menjadi tumbal. Menurut Igo memasak sendiri lebih baik daripada dirinya harus pergi berkeliling mencari penjual bakso di tengah malam, itu sama saja uji nyali.
"Emangnya ada bahan-bahannya?"
"Kayaknya masih ada sisa bakso deh freezer, kalau buat kamu aja cukuplah." Jawab Igo.
"Ya udah. Bikin yang enak yah. Karena ini mau nya si dedek." Ucap Tia.
"Iya sayang, emang kapan sih masakan aku gak enak." Jawab Igo sombong.
Igo pun turun dari atas ranjang dan memungut boxernya. Lalu keluar dari dalam markas menuju dapur.
Sesampainya di dapur, ia membuka kulkas sambil berdoa dalam hati semoga saja memang benar masih ada sisa bakso dalam freezer.
Dan...
Igo pun bernafas lega, saat melihat masih ada setengah bungkus bakso dalam freezer.
Igo pun mulai mengeluarkan bumbu-bumbu yang akan ia pakai untuk membuat kuah bakso.
Saat sedang sibuk menyiapkan bumbu, tiba-tiba saja tangan berkulit putih mulus dengan jari-jari lentik melingkar di pinggang Igo.
__ADS_1
Dan itu benar-benar membuatnya Igo kaget.