
Selagi bibir saling beradu, mengunyah, menyecap, dan lidah pun saling membelit. Tangan mahir Igo juga dengan cekatan mengerjakan tugasnya agar istrinya cepat merasakan panas dingin.
Tangan itu memelintir dua buah karsen yang nampak menegang di atas pegunungan Tialaya.
"Ah..." racau Tia.
"Gimana? Enak?" Tanya Igo basa-basi, padahal dari raut wajah Tia, dia sudah tau jawabannya.
Tia hanya menganggukkan kepalanya.
"Kalau gini.." Igo pun memasukkan salah satu gunung Tialaya ke dalam mulutnya dan memelintir buah karsen dengan lidahnya. Mata Igo mendelik melihat ekspresi Tia saat lidahnya sedang bermain dengan buah karsen.
"Ssh..ah..kak.." racau Tia karena rasanya seperti semut sedang menggelitiki sekujur tubuhnya, geli-geli nikmat. Sangking geli-geli nikamatnya, Tia sampai melengkungkan tubuhnya.
Melihat respon tubuh Tia yang sangat luar biasa, bukannya menghentikan aksinya, Igo malah makin menjadi-jadi. Satu tangannya mulai mengelus paha Tia, pelan tapi pasti elusan itu sampai di depan pintu gerbang Tiaport yang sudah tidak di terpal.
"Sssh...aah kak.." racau Tia lagi, tubuhnya bukan lagi melengkung, tapi sudah menggeliat kesana-kemari seperti cacing kepanasan merasakan sensasi yang luar biasa yang di hasilkan jemari profesioanal suaminya.
Igo pun berhenti dari aksinya saat merasakan lubang tambang Tiaport kebanjiran.
"Udah becek banget Ti, Dragon aku masukin yah?" Tanya Igo meminta izin pada yang empunya lahan.
Tia menganggukkan kepalanya cepat, karena ia juga sudah tidak tahan ingin merasakan bor an kenikmatan sang Dragon. Bor an yang akan membawanya terbang ke langit ke tujuh.
Igo pun mulai mencekik Dragon, eh...salah, menggenggam Dragon dan menuntunnya masuk ke dalam lubang tambang Tiaport. Dengan sekali seruduk, kepala beserta tubuh Dragon masuk sempurna ke dalam lubang.
"Aaargh..." racau keduanya. Jika Igo meracau karena nikmat sedangkan Tia meracau karena sakit, sakit karena Dragon masuk langsung mendobrak pintu gerbang.
"Pelan-pelan dong kak, sakit." Ringis Tia.
"Sorry...sorry, sakit yah? Aku kirain gak bakalan sakit lagi kalau lahannya udah di buka." Ucap Igo merasa bersalah.
"Gimana gak sakit orang kakak asal main nancepin gitu!!!" Protes Tia.
"Ya udah sorry, aku ulang deh kalau gitu." Jawab Igo, ia pun hendak mengeluarkan Dragon dari dalam lubang tambang untuk mengulang adegan cara Dragon masuk ke dalam lubang.
Cepat-cepat Tia menahan bokong Igo agar suaminya itu tak mengeluarkan Dragon dari dalam lubang tambang.
"Eh...gak gitu juga kak!!! Udah terlanjur masuk, jadi gak usah di keluarin lagi. Udah ngebor aja sekarang!!"
"Bener? Emangnya gak sakit?"
"Bener, gak sakit kalau kakak ngebornya pelan-pelan."
"Oke honey. Dragon mulai yah.."
__ADS_1
Tia menganggukkan kepalanya.
Melihat sang istri menganggukkan kepalanya, Igo pun mulai meliuk-liukkkan pinggulnya lembut dan pelan seperti sedang ngebor.
Merasakan liukkan Igo, Tia menggeliat tak karuan, ia melipat kedua bibirnya untuk menahan suara ghoib keluar dari mulutnya.
Melihat istrinya masih saja malu untuk mengeluarkan suara ghoib, Igo malah mempercepat gerakkan pinggulnya.
"Lepasin suaranya Ti, gak usah di tahan. Cuma ada kita berdua di apartemen ini." Ucap Igo dengan nafas terengah-engah.
Tia yang tak sanggup menahan suara ghoib di mulutnya, langsung menjerit mengeluarkan suara ghoib nan seksinya.
"Aaargggh...oh...kak, uh...hemh...ssshh...ah.."
"Nah gitu dong, kalau gini aku kan makin semangat mompanya nya." Ucap Igo senang. Igo pun makin menggila menggerakkan pinggulnya.
Setelah hampir setengah jam Igo dan Tia saling beradu mekanik dan adu kekuatan di atas ranjang dengan berbagai macam gaya, gaya cicak di dinding, gaya buaya berenang, gaya tokek nemplok pohon, gaya koala berayun-ayun, gaya kuda ketiban kandang, gaya gukguk gendong-gendongan, akhirnya keduanya tiba juga di puncak kenikmatan.
"Aaarrrgh..." erangan panjang keluar dari mulut keduanya.
Tia sampai membusungkan dadanya, ke sepuluh kuku jari tangannya pun menggores punggung suaminya saat dirinya sudah sampai di puncak kenikmatannya.
Setelah Dragon selesai mengeluarkan racunnya, Igo pun ambruk seketika di atas tubuh istrinya dan mulai mengatur pernafasannya.
Cup cup cup cup. Kecupan bertubi-tubi Igo berikan di wajah Tia, tanda terimakasih untuk istrinya yang sudah membantunya menenangkan sang Dragon.
Tia hanya menganggukkan kepalanya.
"Udah enakkan?" Tanya Tia.
"Untuk saat ini udah, tapi gak tau kalau nanti efek obatnya ada lagi apa gak, kan kita gak tau dosis yang di pake." Jawab Igo jujur sambil memindahkan tubuhnya berbaring di sebelah istrinya.
"Kamu capek?" Tanya Igo saat melihat wajah lelah istrinya.
"Lumayan."
"Ya udah kita istirahat aja, mudah-mudahan efek obatnya udah gak ada lagi." Ucap Igo sambil menarik selimut untuk menutupi tubuh polos mereka.
Mereka pun tidur berpelukan di bawah selimut tebal. Ranjang pun kembali tenang tanpa guncangan.
Tapi sayangnya selang satu jam, gempa susulan yang mengakibatkan pengguncangan ranjang dan terhempasnya bantal serta guling ke bawah lantai terjadi lagi, karena Igo yang merasakan kembali mesin Dragon yang kembali menyala.
Dan malam itu bukan hanya sekali-dua kali gempa terjadi di atas ranjang, melainkan sampai empat kali. Cicak, tokek, buaya, koala, kuda, gukguk, kembali menjadi saksi kebuasan Igo dalam mengguncang ranjang.
🎀 🎀 🎀
__ADS_1
Keesokan paginya.
Waktu sudah menunjukkan pukul delapan pagi. Suara nada dering ponsel Igo sukses mengganggu tidur pasangan yang baru beberapa jam selesai melakukan ritual pengguncangan ranjang yang mengencokkan pinggang dan menggemetarkan lutut.
Igo meraba nakas di sebelahnya untuk mengambil ponselnya, tapi sayangnya ponselnya tidak berada di atas nakas.
Igo pun mengerjapkan matanya untuk menyesuiakan cahaya yang masuk ke pupil matanya sebelum ia mencari keberadaan ponselnya itu.
Setelah Igo berhasil membuka kedua matanya, ia menoleh sesaat kesampingnya dimana sang istri masih terlelap dalam tidurnya.
Tak ingin tidur istrinya terganggu karena bunyi nada dering ponselnya, cepat-cepat Igo turun dari atas ranjang tanpa memakai terlebih dahulu begongan si Dragon.
Untung saja saat ini Dragon sedang tidur, jadi gerakan Dragon hanya melambai-lambai saat Igo berjalan mencari ponselnya, coba kalau saat ini Dragon sedang dalam mode pemimpin upacara yang berdiri tegak, sudah pasti bukan ponsel yang Igo cari melainkan lubang tambang Tiaport.
Igo pun menemukan ponselnya yang tergeletak di atas sofa. Igo mengambil ponselnya dan melihat nama orang suruhannya tertera di layar ponsel.
"Halo."
"Halo bos, saya sudah kirimkan informasi yang bos mau." Ucap orang suruhan Igo dari seberang telpon.
"Oke."
Igo pun mengakhiri panggilan telpon mereka. Dan cepat-cepat membuka pesan yang berisi tentang informasi tentang Sasha.
Setelah selesai membaca pesan dari orang suruhannya, Igo pun mencari nomor Duta dan melakukan panggilan ke nomor Duta.
Tuuut...tuuut...tuuut.
"Halo pak."
"Dut, sekarang kamu pergi ke kantor pusat dan temui asisten papa saya. Bilang sama asisten papa saya kalau saya mau dalam kurun waktu paling lama satu minggu dua perusahaan harus pindah nama menjadi nama istri saya." Perintah Igo.
"Dua perusahaan? Perusahaan apa saja itu pak?"
"Nanti saya kirimkan profilnya."
"Oke. Baik pak."
"Oh..iya Dut, satu lagi. Sekalian kamu temui pengacara saya dan pindah namakan semua aset pribadi saya menjadi atas nama istri saya."
"Loh..kenapa gitu pak?"
"Emangnya kenapa? Salah kalau saya memberikan aset saya untuk istri saya? Gak kan? Yang salah itu kalau semua aset saya, saya pindah namakan atas nama kamu. Jadi gak usah banyak tanya kenapa."
"Ba-baik pak."
__ADS_1
Setelah memberikan perintah pada Duta, Igo pun mengakhiri panggilannya. Kemudian ia kembali melakukan panggilan ke nomor orang suruhannya yang biasa ia pakai untuk memata-matai Tia.