
Mata Tia membelalak. Bukan karena kata-kata Igo yang ingin membobol gawang,tapi karena Igo membentaknya,satu hari ini sudah dua kali Igo membentaknya. Apalagi Igo membentaknya karena sesuatu yang menurut Tia bukan salahnya,karena Tia memang sudah mengabari Igo dan Igo sudah memberi izin pada Tia untuk pulang sendiri.
"Kakak ngomong apaan sih!!! Aku kan tadi udah ngabarin kakak,kakak sendiri yang nyuruh aku pulang sendiri karena kakak banyak kerjaan,kenapa sekarang kakak nyalahin aku?!" Balas Tia. Seandainya sekarang tubuhnya sehat,sudah pasti Tia akan membalas bentakan Igo dengan bentakan juga. Sayangnya,untuk berdiri saja ia tak bertenaga apalagi untuk berteriak-teriak seperti yang di lakukan Igo saat ini.
"Gak usah bohong kamu!!! Semenjak aku nyampe kantor aku selalu perhatiin ponsel aku,gak ada tuh pesan masuk dari kamu,apalagi aku nyuruh kamu untuk pulang sendiri!!!"
"Aku gak bohong kak,beneran. Tunggu aku ambil ponsel aku dulu,biar kamu percaya." Tia pun memutar tubuhnya untuk masuk ke dalam kamar untuk mengambil ponselnya yang masih ada dalam tas nya.
Tapi sayang,begitu Tia memutar tubuhnya pandangannya seketika gelap,dan...
BRUUUK. Tia pun ambruk tepat di depan Igo.
Melihat istrinya ambruk,tak usah ditanya lagi bagaimana reaksi Igo,pastinya ia panik bukan main.
"Tia...Ti...bangun Ti.." Igo mencoba menyadarkan Tia dengan menepuk-nepuk pipi Tia.
"Astaga..panas banget." Lirih Igo saat merasakan tubuh Tia yang panas.
Igo pun mengangkat tubuh Tia dan membawanya menuju tempat tidurnya kemudian membaringkan tubuh Tia dengan sangat hati-hati.
Igo mengeluarkan ponselnya dan menghubungi mami Saskia.
"Halo.." jawab mami Saskia dari seberang telepon.
"Halo mi, Igo bisa minta tolong gak mi.." kata Igo dengan nada terengah-engah karena panik.
"Kamu kenapa nak? Minta tolong apa?" Jawab mami Saskia,mendengar nada suara Igo yang panik,mami Saskia jadi ikut panik.
__ADS_1
"Mi,tolong datang ke tempat Igo sekarang,Tia sakit mi,badannya panas banget,bahkan Tia sampe pingsan."
"APAAAAAA????!!!!! Tia pingsan?!" Teriak mami Saskia.
Sangking kerasnya teriakan mami Saskia,Igo sampai menjauhkan ponselnya dari telinganya.
"I...iya mi." Jawab Igo terbata-bata,ia jadi ketakutan,takut sang mami mertua menyalahkan dirinya karena Tia pingsan.
"Ya udah mami kesana sekarang. Dan kamu,sambil nunggu mami dateng,kamu kompres kepala Tia pake air hangat yah. Ingat air hangat!!!"
"Iya mi."
Panggilan pun berakhir.
Dengan sigap Igo berjalan menuju dapur untuk mengambil air hangat kemudian kembali ke dalam kamar Tia. Sesampainya di kamar Tia,Igo mencari handuk-handuk kecil untuk ia gunakan mengkompres Tia,tapi sayangnya ia tak menemukan handuk kecil di lemari sang istri.
Igo tak kehilangan akal,ia pun mengambil handuk yang besar kemudian ia gunting menjadi potongan kecil sesuai ukuran jidat Tia.
🎀 🎀 🎀
"Tia gak pa-pa kan mi?" Tanya Igo pada mami Saskia.
"Gak pa-pa. Dia cuma kecapean aja,mungkin karena dinas malam tiga hari berturut-turut makanya dia drop." Jawab mami Saskia setelah memasangkan infus di tangan Tia.
"Bisa jadi mi,apalagi tadi pagi dia belum istirahat sudah di panggil lagi ke rumah sakit. Heran deh,emang rumah sakit sebesar itu gak punya stok dokter apa? Kenapa Tia mulu sih yang di panggil." Gerutu Igo.
"Bukannya gak punya stok dokter,tapi dokter-dokter senior cuma percaya nya sama Tia. Kamu harusnya bangga dong punya istri kayak Tia,yang di percayai dokter-dokter senior."
__ADS_1
"Yah tapi gak harus Tia doang dong mi yang di percaya. Lihat aja,kalau dokter-dokter itu masih manggil-manggil Tia pas jam istirahat Tia,Igo aduin langsung ke om Niko." Ancam Igo.
Walaupun pak Sakti alias papi Tia memiliki saham tiga puluh persen di rumah sakit itu,tetap saja pak Niko Dirgantara alias papanya Nia lah yang berkuasa di rumah sakit.
Bukannya takut mendengar ancaman menantunya,mami Saskia malah tertawa kecil.
"Iya..iya,nanti mami bilangin sama papi kamu biar dokter-dokter senior gak manggil Tia kalau bukan jadwalnya. Biar kalian bisa punya waktu lebih untuk berduaan,biar cucu mami cepet jadi." Bisik mami Saskia di telinga Igo di akhir kalimatnya.
Igo menyengir kuda mendengar bisikan mami mertuanya.
"Gimana mau dapet cucu mi,orang anak mami aja masih mau jadi gadis." Gerutu Igo dalam hati.
Karena tidak mungkin ia mengatakan pada mami mertuanya kalau dirinya dan Tia belum melakukan ritual peranjangan.
"Ya udah mami pulang dulu yah. Suruh Tia jangan lupa minum vitaminnya." Mami Saskia pun keluar dari dalam unit apartemen Igo dan Tia.
"Oh..iya,kalau mau bikinin Tia bubur,jangan masukin telur ke dalam buburnya,Tia gak suka,mending kamu rebus telurnya." Kata mami Saskia lagi memperingati Igo tentang hal yang tidak disukai Tia.
"Oke mah,Igo ngerti." Jawab Igo.
Mami Saskia pun melanjutkan langkahnya menuju pintu apartemen.
Setelah mengantar mami Saskia sampai di depan pintu apartemen,Igo pun kembali masuk ke dalam kamar Tia.
Sebenarnya Igo ingin mengantar mami Saskia sampai ke lobi,tapi mami Saskia melarangnya dan meminta Igo untuk tetap berada di samping Tia.
Sesampainya di kamar,Igo langsung mengecek suhu tubuh Tia.
__ADS_1
Suhu tubuh Tia yang tadinya 38° saat di periksa mami Saskia,kini sudah turun menjadi 37,5°,padahal infus yang mami Saskia pasang di tangan Tia belum ada setengah jam.
Setelah mengecek suhu tubuh Tia,Igo pun mengganti kompres yang menempel di kening Tia. Setelah itu,Igo keluar kamar untuk menuju dapur. Ia ingin membuatkan bubur untuk sang istri. Tapi tidak menggunakan telur,baik itu hanya direbus atau di campur langsung ke dalam bubur,karena Igo ingin membuat bubur ayam seperti yang mereka makan tadi pagi. Karena sewaktu sarapan tadi,Igo melihat Tia sangat lahap memakan bubur ayam,bahkan Tia sampai tambah.