
Selama keluar dari mobil sampai kini mereka dalam lift pun Igo tak kunjung membuka suaranya. Kini Tia merasakan apa yang Igo rasakan saat dirinya yang tukang ngomel tiba-tiba mendiamkan suaminya. Menyimpan masalah sendiri memang lah tidak enak, tapi ternyata ada orang yang merasa bersalah dengan aksi kita yang diam karena menyimpan masalah sendiri.
Ting. Pintu lift terbuka.
Igo dan Tia pun keluar dari dalam lift dan berjalan menuju unit apartemen mereka.
Ceklek. Igo membuka pintu unit apartemen mereka.
Igo masuk lebih dulu ke dalam unit apartemen kemudian di susul Tia dari belakang.
Begitu masuk Igo langsung berjalan ke dapur untuk mengambil air mineral. Tia yang melihat Igo masuk ke dapur pun mengikuti suaminya ke dapur.
Glek glek glek. Dengan satu tarikan nafas Igo menenggak air mineral yang sebelumnya ia tuang ke dalam gelas.
"Kak.." lirih Tia sambil berjalan mendekati suaminya saat suaminya sudah selesai menenggak air mineral.
"Hemh.." jawab Igo seadanya.
"Kakak gak pa-pa? Kok dari tadi kakak diem aja? Biasanya juga ngajak debat?" Tanya Tia sambil memeluk suaminya.
"Gak pa-pa sayang, cuma kecapean aja kok. Tadi pagi aku kan ada meeting sama kak Shea dan bang Vier, meetingnya tuh alot banget, bikin pusing. Nyampe apartemen, istirahat bentar terus langsung pergi lagi ke tempat kak Irna." Jawab Igo berbohong. Padahal sewaktu di kantor meeting tidak sampai satu jam selesai dan selesai meeting Igo hanya tidur saja di kamar tidur di ruang kerjanya.
"Kakak gak bohong kan? Kakak kayak gini bukan karena lagi insecure kan?" Tanya Tia.
"Hahaha." Igo tertawa tapi tawa yang sangat ia paksakan.
"Gak dong sayang, masa aku insecure. Kan aku udah bilang, aku udah siap dengan hasilnya nanti, dan aku juga sangat ikhlas kalau kamu mau pergi ninggalin aku." Ucap Igo.
"Kakak ngomong apaan sih!!! Jangan ngomong gitu akh. Waktu aku down, kakak selalu bilang kalau kita pasti baik-baik saja, jadi sekarang kakak juga harus punya pikiran kalau kita baik-baik saja. Kalau pun kakak bermasalah, kan kita bisa obatin, kita bisa ikut program bayi tabung." Ucap Tia memberi semangat pada Igo.
"Iya sayang, aku ngerti." Balas Igo sambil mengelus rambut istrinya.
"Aku istirahat dulu yah sayang, badan aku pegel-pegel semua." Ucap Igo sambil menjauhkan tubuh Tia dari tubuhnya.
Tia mengangguk.
"Ya udah kakak istirahat aja, biar aku yang masak. Kakak mau makan apa, biar aku masakin?" Tanya Tia sebelum suaminya itu berlalu dari dapur.
__ADS_1
"Gak usah sayang, kamu gak usah repot-repot masak, kita pesan dari aplikasi aja nanti." Tolak Igo.
Cup. Igo mengecup pipi istrinya kemudian berjalan menuju basecamp mereka.
Tia menghela nafasnya kasar setelah suaminya itu pergi meninggalkannya di dapur.
Tak ingin mendengarkan suaminya yang melarangnya memasak untuk makan malam mereka, Tia tetap memasak. Ia ingin menenangkan perasaan suaminya melalui masakannya.
Setelah hampir satu jam berkutat di dapur akhirnya masakan sederhana buatan Tia siap di hidangkan, Tia pun meletakkan ikan mujair sambal dan tumis pakis ke meja makan kemudian menyusun piring dan gelas serta air cucian tangan, karena Igo lebih suka makan dengan tangan kalau makan ikan goreng dengan sayuran tumis. (Itu mah othor banget epribadih ππ)
Tia pun masuk ke dalam basecamp untuk membangunkan suaminya, ternyata di dalam kamar suaminya tidak ada di ruang tidur. Mendengar suara air dari dalam kamar mandi, Tia pun berjalan menuju kamar mandi.
Tia memutar handle pintu, ternyata Igo mengunci pintu nya dari dalam.
"Tumben di kunci." Lirih Tia.
Dor dor dor. Tia menggedor pintu kamar mandi dengan sangat keras. Takut suaminya berbuat macam-macam di dalam sana.
"Kak buka pintunya!!!" Teriak Tia panik sambil terus menggedor pintu kamar mandi.
Ceklek. Tiba-tiba Igo membuka pintu kamar mandi hanya dengan handuk yang melilit di pinggangnya.
Tia yang sudah diselimuti rasa panik langsung memeluk tubuh suaminya dengan sangat erat.
"Aku pikir kakak mau bunuh diri di dalam, aku takut kak." Jawab Tia.
"Ngaco kamu. Orang aku lagi boβ’ker kok, terus sekalian aku mandi." Balas Igo.
"Kakak bilang tadi mau tidur." Tanya Tia sambil melepaskan pelukannya.
"Aku gak bilang mau tidur yah, aku bilang mau istirahat." Jawab Igo.
Kemudian Igo mengendus tubuh Tia.
"Kamu habis masak?" Tanya Igo karena tubuh istrinya itu beraroma ikan goreng.
Tia menganggukkan kepalanya.
__ADS_1
"Kan aku udah bilang gak usah masak sayang."
"Tapi aku mau masak buat kakak, aku tau kakak lagi resah dan gelisah jadi aku ingin menenangkan perasaan kakak dengan masakan yang aku buat." Jawab Tia.
Igo tersenyum mendengar jawaban istrinya itu. Lalu menarik tubuh istrinya itu ke dalam pelukannya.
Cup. Igo mengecup kening Tia.
"Makasih sayang, kamu udah mau ngertiin perasaan aku dan ada disamping disaat aku down." Ucap Igo.
"Sama-sama kak, kan kakak juga seperti itu sama aku. Itulah gunanya suami-istri. Saling melengkapi kekurangan masing-masing." Jawab Tia.
"Ya udah, aku pake baju dulu yah, baru kita makan bareng." Ucap Igo.
"Astaga..." pekik Tia.
"Apa? Kenapa?" Tanya Igo sambil menjauhkan tubuh istrinya.
"Aku lupa masak nasi.." jawab Tia sambil menyengir.
"Em... ya udah, biar aku aja yang masak nasi. Kamu mandi aja."
Tia pun menganggukkan kepalanya kemudian berjalan masuk ke dalam kamar mandi.
Setelah Tia masuk ke dalam kamar mandi, baru lah Igo keluar dari dalam basecamp dan berjalan menuju dapur untuk memasak nasi.
π π π
Jam dinding sudah menunjukkan pukul dua belas malam.
Igo dan Tia juga sudah tertidur pulas dari dua jam yang lalu, akh..lebih tepatnya hanya Tia, karena Igo sejak tadi hanya berpura-pura tidur saja.
Tidak ada acara pengguncangan ranjang seperti yang Igo minta setelah mereka selesai melakukan pemeriksaan tes kesuburan. Mungkin karena Igo sedang stress menerka-nerka hasil tes kesuburannya makanya dirinya tidak berhasrat untuk mengguncang ranjang.
Melihat istrinya sudah tertidur pulas, perlahan Igo turun dari atas ranjang dan berjalan mengendap-endap keluar dari dalam basecamp.
Setelah berhasil keluar dari dalam basecamp seperti seorang pencuri, Igo berjalan menuju ruang kerjanya, ruangan yang hampir tidak pernah Igo masuki, karena Igo jarang bekerja kalau sudah sampai di apartemen, maklum semua pekerjaan sudah di handle Duta sang asisten serba guna.
__ADS_1
Igo duduk di kursi kebesarannya. Hanya duduk sambil memutar-mutarkan kursi seperti sedang memikirkan sesuatu yang ia sendiri tidak tau apa yang sebenarnya sedang ia pikirkan.
Berpikir ini dan itu, berpikir jika begini dan begitu, berpikir seandainya dulu ia begini maka sekarang dirinya tidak akan seperti ini. Menyesali waktu yang ia buang sia-sia.