
Mendengar suara sang suami yang menyahut dari arah dapur,Tia pun berjalan dengan langkah panjang menuju dapur.
"Kak Igo,kakak kan yang gunting-gunting handuk aku ini?" Tanya Tia nge gas.
"Iya. Aku pake buat ngompres kamu tadi malam." Jawab Igo tanpa dosa.
"Astaga,kenapa harus di gunting sih kak. Kan bisa pake sapu tangan,pake washlap,kenapa harus handuk aku yang kakak gunting?!" Geram Tia.
"Namanya juga panik Ti,aku nemunya itu ya udah itu yang aku gunting aku jadiin kompres."
"Ini tuh handuk baru kak,belum pernah aku pake."
"Ya udah beli aja sih yang baru,masa gara-gara handuk kamu teriak-teriak sih pagi-pagi. Berapa harganya,nanti aku transfer buat beli yang baru."
"Sembilan juta!!!"
Mata Igo membelalak.
"Eh...buset,handuk doang sembilan juta?" Gumam Igo dalam hati.
"Kok mahal banget?"
"Ini kan handuk merk terkenal. Gimana sih,katanya orang kaya tapi gak tau merk."
"Bukan gak tau Ti,tapi malas tau. Lagian mana pernah sih aku beli-beli handuk,orang keperluan aku mama yang selalu siapin." Jawab Igo jujur.
"Cih...dasar anak mama."
"Udah gak usah ngomel-ngomel,sana pake baju terus sarapan. Aku udah bikinin bubur ayam buat kamu."
"Hah..bubur ayam lagi?"
Igo menganggukkan kepalanya.
"Kamu kan suka,jadi aku bikinin lagi."
"Astaga kak Igo....!!! Suka bukan berarti tiap hari makan itu kan?!" Protes Tia.
Ternyata selain suka memasak,jiwa Igo juga seperti emak-emak berdaster yang menu masakannya tidak akan berubah selama seminggu kalau anaknya memuji dan bilang sangat suka dengan menu masakan sang emak hari itu.
__ADS_1
(Hayooo disini siapa yang begitu? Gara-gara anak bilang suka tempe kecap,terus seminggu berturut-turut masaknya tempe kecap? Hayo ngaku? Othor ngacung pertama.😂😂😂)
"Terus kamu mau makan apa dong?"
Tia melongok melihat bubur ayam yang Igo masak untuknya. Meski bosan tapi penampakan dan aroma bubur ayam yang menggoda membuat Tia jadi ngiler.
"Ya udah deh itu aja. Tapi besok-besok jangan bikin bubur ayam lagi yah buat sarapan." Jawab Tia.
"Enak aja. Besok-besok kamu lah yang bikinin aku sarapan. Masa aku terus." Protes Igo.
Tia menyengir mendapat protes dari Igo,karena selama dua bulan menikah belum pernah Tia memasak untuk Igo. Bukan tidak bisa,tapi karena pekerjaannya membuat ia tidak sempat masak untuk sang suami,jadi lebih banyak Igo yang memasak karena memang waktu Igo lebih banyak mengintil Tia di banding bekerja.
Bagi orang yang tidak mengenal Igo pasti orang itu sudah men cap Igo pengangguran dan numpang hidup dengan Tia.
"Iya deh,nanti kalau aku libur aku masakin buat kakak." Jawab Tia lembut.
Tia pun kembali masuk ke dalam kamarnya u ntuk memakai pakaiannya karena saat ini dirinya sedang memakai bathrobe. Setelah selesai memakai pakaiannya,Tia pun kembali ke ruang makan untuk sarapan bersama sang suami.
Setelah mengisi perut,layaknya pasangan pengantin baru pada umumnya yang sama-sama membersihkan meja makan serta sama-sama mencuci piring kotor bekas makan mereka,Igo dan Tia juga melakukan itu.
Sambil mencuci piring,mereka saling bercanda,saling mencipratkan air,saling menaruh sabun ke wajah dan masih banyak lagi. Benar-benar pemandangan langka. Dan alhasil piring kotor yang hanya beberapa selesai di cuci dalam waktu lebih dari setengah jam.
Cepat-cepat Igo menggiring Tia mendekati kran wastafel dan membilas mata Tia dengan air yang mengalir.
"Masih pedih?"
Tia pun mencoba membuka matanya perlahan.
"Ssh..lumayan."
"Sini aku tiup?" Perlahan Igo membuka mata Tia yang terkena cipratan sabun dan menghembus mata Tia.
"Udah?"
Tia menganggukkan kepalanya.
Karena wajah mereka sekarang hanya berjarak beberapa centi,membuat Igo menjadi salah fokus,karena saat ini sorot matanya tertuju pada bibir Tia yang pagi ini belum di tabrak bibir Igo.
Sama hal nya dengan Igo,ternyata mata Tia juga tertuju pada bibir Igo. Dengan saling menatap bibir pasangan mereka,Igo dan Tia sama-sama memajukan wajah mereka perlahan untuk saling bertabrakan bibir.
__ADS_1
Tabrakan bibir pun tak bisa terelakkan. Dengan buas nya mereka saling mengunyah bibir,bukan hanya bibir bahkan lidah pun sudah ikut bergelut dalam rongga mulut mereka yang kini tengah menjadi satu.
Disaat pergelutan sedang memanas,Igo tiba-tiba melepaskan tautan bibir mereka. Sontak Tia kaget saat Igo menyudahi pergelutan bibir yang sedang memanas.
Tanpa bicara sepatah kata pun Igo langsung meninggalkan Tia dan masuk ke dalam kamarnya. Sesampainya Igo di dalam kamar,Igo langsung masuk ke dalam kamar mandi kemudian melepaskan Dragon dari bedongannya. Ternyata aksi Igo yang tiba-tiba meninggalkan Tia disaat situasi memanas,tak lain tak bukan karena Igo merasakan sinyal amarah Dragon.
Sebenarnya bisa saja Igo meminta Tia untuk meredakan amarah Dragon. Tapi ia tidak tega meminta Tia melakukan itu karena sang istri sedang masa recovery.
Melihat sikap sang suami yang tak biasa,Tia pun sampai ternganga heran. Karena biasanya sang suami akan langsung menggendong dirinya saat pertempuran bibir sudah semakin sengit dan akan meminta Tia untuk merelaksasikan otot-otot tubuh Dragon yang menegang sampai Dragon bersin-bersin dan mengeluarkan cairan ingusnya. Tapi sekarang Igo malah pergi meninggalkannya di dapur tanpa sepatah kata pun.
Penasaran dengan sikap suaminya yang tak biasanya,Tia pun melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamar sang suami untuk mencari tau sendiri alasan kenapa sang suami meninggalkannya bukan menggendongnya masuk ke dalam kamar.
Ceklek. Tia membuka pintu kamar Igo.
Mata Tia langsung berkeliling mencari keberadaan sang suami,tapi Tia tak menemukan Igo di ruang tidur.
Mendengar suara-suara ghoib dari dalam kamar mandi,Tia yakin itu adalah suara sang suami,tapi Tia tidak tahu apa yang sedang Igo lakukan di dalam, karena penasaran Tia pun melangkahkan kakinya menuju kamar mandi kemudian menempelkan telinganya di pintu.
"Ssh...oh..Ti.." begitulah suara yang Tia dengar dari dalam kamar mandi.
"Kak Igo lagi ngapain sih?" Gumam Tia.
Karena penasaran,perlahan Tia memutar handle pintu untuk mengintip kegiatan yang Igo lakukan di kamar mandi.
Mata Tia membelalak saat melihat Igo sedang olahraga lima jari di depan closet. Tia bukan gadis polos yang tidak mengerti apa yang sedang Igo lakukan,karena di rumah sakit,setiap pasangan yang ingin melakukan tes kesuburan pasti si laki-laki di minta untuk mengeluarkan bibitnya dengan salah satu caranya seperti yang sedang Igo lakukan,yaitu olahraga lima jari.
Tidak mau mengganggu Igo yang sedang mengajak Dragon nge gym,perlahan Tia menutup pintu kamar mandi.
Ada rasa kecewa dalam diri Tia saat Igo harus menenangkan Dragon sendiri,padahal selama dua bulan ini meninabobokan Dragon adalah tugasnya.
Tia masuk ke dalam ruang ganti untuk menyiapkan pakaian yang akan Igo pakai. Sambil menyiapkan pakaian ganti untuk Igo,Tia menatap pantulan dirinya dari cermin.
"Apa sekarang udah saatnya?" Gumam Tia.
Cukup lama Tia memikirkan apa sudah saatnya dia melakukan tugasnya sebagai seorang istri di atas ranjang. Sangking seriusnya memantapkan hati untuk melakukan kewajiban,sampai-sampai Tia tidak sadar ada Igo yang sedang berdiri di depan pintu.
"Ekhem." Tiba-tiba saja Igo berdehem.
Mendengar suara deheman Igo,lamunan Tia pun buyar,Tia pun menoleh ke arah sumber suara.
__ADS_1