
Satu jam kemudian Tia pun keluar dari ruang operasi.
"Dokter Tia." Panggil perawat yang telah di beri amanah oleh Igo.
Tia pun menoleh ke arah perawat yang memanggilnya.
"Ya sus." Jawab Tia.
"Di kamar VVIP tujuh ada pasien yang ingin di periksa sama dokter Tia." Ucap si perawat itu.
"Kamar VVIP tujuh? Bukannya kamar VVIP cuma sampai kamar lima yang terisi?" Tanya Tia heran.
"Lagi pula dokter Fina gak ada pasien di kamar VVIP kok sus." Tanya Tia lagi. Karena status dinasnya malam ini hanya mengganti posisi dokter Fina,
"Pasiennya baru masuk dok. Dan beliau minta dokter Tia yang memeriksa."
"Darimana pasien itu tau kalau saya dinas malam, malam ini?"
"Tadi beliau bertanya sama saya, ada dokter siapa saja yang dinas malam ini, jadi saya sebut semua dokter yang jaga malam ini."
"Memangnya pasiennya sakit apa?"
Si perawat pun memikirkan jawaban yang tepat yang bisa membuat Tia percaya.
"Pasien habis operasi sesar dua minggu yang lalu dok, tapi masuk lagi karena batuk. Setiap batuk bagian bekas operasinya berdenyut dok." Jawab perawat itu. Jawaban yang masuk akal, dan perawat itu berharap agar Tia percaya dengan jawabannya.
Tia menghela nafasnya.
"Pasti yang sakit orang kaya manja deh. Masa perkara batuk aja harus di rawat segala, di kamar VVIP lagi!!! Emangnya gak bisa apa ke poli umum, minta di resepin obat batuk yang bagus untuk ibu menyusui." Gerutu Tia dalam hati.
"Ya udah sus, saya ke atas." Mau tak mau, suka tak suka, Tia pun naik ke lantai atas untuk melihat pasien yang Tia anggap manja dan berlebihan itu.
"Orang kaya sih orang kaya, tapi gak gini juga kali." Tia terus ngedumel dalam hati.
Ting. Pintu lift yang membawa Tia ke lantai dimana kamar VVIP berada pun terbuka.
"Malam dokter Tia." Sapa para perawat yang berjaga di pos lantai VVIP dengan sangat ramah.
Meski status Tia hanya lah dokter koas, tapi seisi rumah sakit tunduk hormat padanya, itu semua karena Tia adalah anak salah satu pemilik rumah sakit di tambah lagi, Tia adalah menantu salah satu orang penting di negara ini.
"Malam juga sus. Sus, kamar VVIP tujuh ada siapa sih? Pejabat?" Tanya Tia sebelum masuk ke kamar VVIP tujuh.
"Orang penting dok. Dokter Tia lihat aja deh." Jawab salah satu perawat.
Tia mengernyitkan keningnya.
"Orang penting? Apa jangan-jangan Ica?" Gumam Tia dalam hati.
"Akh gak mungkin, orang perawat di bawah bilang tadi baru dua minggu operasi sesar. Ica kan lahirin si Millie normal. Nia juga gak mungkin." Gumam Tia lagi dalam hati.
Memikirkan siapa pasien manja yang ada di kamar VVIP tujuh, membuat Tia pusing sendiri.
Tia pun meninggalkan dua perawat yang berjaga di pos dan berjalan menuju kamar rawat VVIP tujuh.
Tok tok tok. Tia mengetuk pintu kamar rawat sebelum membuka pintu.
__ADS_1
Ceklek. Perlahan Tia membuka pintu kamar rawat itu, takut-takut pasien di dalam sudah tertidur.
Tia pun masuk ke dalam kamar rawat sambil clingak-clinguk heran karena kamar rawat yang kosong.
"Permisi. Nyonya..Tuan.. Pak..Buk.." panggil Tia sambil jalan perlahan menuju ranjang.
Ceklek. Tiba-tiba pintu kamar rawat tertutup.
Sontak Tia pun menoleh ke belakang.
Dan...
"Aaarggh.." pekik Tia saat seseorang menggendong tubuhnya seperti karung beras.
Seseorang itu tak lain dan tak bukan adalah suaminya sendiri.
"Turunin!! Kak Igo turunin gak!!" Teriak Tia sambil memukul-mukul punggung suaminya.
Igo tak menghiraukan rontaan istrinya dan terus berjalan menuju ranjang.
Igo pun mendudukkan Tia di tepi ranjang.
"Kak Igo apa-apaan sih?! Kok kakak ngintilin aku ke kerumah sakit?! Kita kan udah sepakat kak." Teriak Tia kesal.
"Kamu yang apa-apaan!! Aku ajakin phone s•x gak mau. Ya udah aku kesini."
"Astaga kak, bukannya gak mau, tapi tiba-tiba aja tadi ada pasien darurat."
"Ya harusnya bilang dong, biar aku gak nungguin. Asal kamu tau yah, aku tadi udah polos tau gak."
Keduanya baru diam ketika sudah sama-sama kehabisan kata-kata.
Kamar rawat pun seketika menghening seperti kamar mayat.
Tia pun tiba-tiba berdiri dan hendak keluar dari dalam kamar rawat meninggalkan suaminya, ia masih kesal karena suaminya tidak konsisten dengan kesepakatan di tambah lagi alasan Igo datang ke rumah sakit hanya karena phone s•x yang gagal.
Melihat istrinya berdiri, cepat-cepat Igo menarik tangan Tia.
"Mau kemana?"
"Mau turun, mau istirahat. Aku capek."
"Istirahat disini aja."
"Kakak aja tidur disini. Tempat aku bukan disini."
"Kamu tega biarin aku sendirian disini?"
"Yang nyuruh kakak kesini siapa? Lagian aku disini kerja kak, kalau aku tidur disini bareng kakak, aku bukan kerja tapi di kerjain. Udah akh, aku males debat. Aku istirahat di ruangan aku aja." Ucap Tia sambil menyentak tangan suaminya.
Tak ingin istrinya itu pergi meninggalkannya sendiri di kamar itu, Igo pun mengalah dan memang seharusnya dia mengalah karena dia memang salah. Igo pun memeluk Tia dari belakang.
"Maaf. Aku salah." Meminta maaf dan mengaku salah adalah jurus pertama untuk meredakan emosi macan tutulnya.
"Kakak ngeselin tau gak."
__ADS_1
"Iya, aku tau." Merendahkan diri di depan pasangan adalah jurus kedua.
"Aku sebel sama kakak, kakak gak pernah konsisten sama omongan kakak."
"Aku minta maaf. Semua ini aku lakuin karena aku gak bisa jauh dari kamu." Mengeluarkan rayuan maut adalah jurus ketiga.
"Tapi kan aku lagi kerja kak."
"Terus aku harus gimana dong? Nafas aku tuh sesak Ti kalau gak ada kamu disamping aku, aku juga gak bisa tidur nyenyak kalau gak ada kamu." Buat lah wanita mu merasa paling di butuhkan untuk hidup mu adalah jurus keempat.
Jika keempat jurus sudah di lakukan tapi macan tutul belum juga melunak. Jurus terakhir yang Igo yakini ampuh menjinakkan macan tutulnya adalah mengalah. Tapi mengalah bukan karena kalah melainkan mengalah agar bisa mende•sah.
Perlahan Igo melepaskan tangannya yang melingkar di pinggang Tia.
"Ya udah kalau kamu masih marah, aku pulang aja kalau gitu." Ucap Igo dengan nada suara yang sengaja ia buat lemah.
"Aku pulang yah." Pamit Igo.
Cup. Ia pun mengecup kening istrinya sebelum melangkahkan kakinya keluar dari dalam kamar itu.
Dan akting Igo itu berhasil membuat hati Tia luluh.
Tia menarik tangan Igo saat suaminya itu baru memutar tubuhnya.
"Kak." Lirih Tia.
"Yes. Berhasil." Sorak sorai Igo dalam hati.
Igo pun kembali menoleh ke arah Tia.
"Kenapa?" Tanya Igo masih dengan nada suara lemah.
"Gak usah pulang, tidur disini aja."
"Gak pa-pa Ti, aku tidur di apartemen aja. Kalau nanti aku gak bisa tidur, paling aku kerumah mama." Jawab Igo.
"Masa tengah malam mau kerumah mama, nanti mama mikirnya kita lagi berantem lagi."
"Emang kita lagi berantem kan? Kan kamu lagi marah sama aku."
"Gak lagi. Aku gak marah lagi kok. Kakak tidur disini yah. Aku kelonin deh."
"Beneran kamu gak marah lagi?"
Tia mengangguk.
"Beneran kamu mau kelonin aku?"
Tia mengangguk lagi.
"Ya udah, aku tidur disini deh kalau gitu."
Dan tanpa Tia sangka-sangka suaminya itu langsung menggendongnya ala bridal style dan membaringkannya di ranjang. Igo pun langsung menindih tubuh Tia.
Tak perlu di tanya lagi apa yang terjadi selanjutnya, yang pasti akting Igo mengalah pun berhasil membuat mereka saling mende•sah. Suara cepak-cepak jeder pun memenuhi kamar rawat VVIP tujuh.
__ADS_1
Ritual pengeboran sang Dragon malam ini pun berhasil membuat hantu penunggu rumah sakit mengungsi sementara karena tidak tahan mendengar suara yang lebih horor dari suara cekikikan kuntilanak.