
Kini mama Wita,papa Oscar,Igo dan Tia sedang berada di ruang keluarga setelah selesai makan malam. Menikmati waktu bersama keluarga untuk sekedar berbagi cerita tentang kegiatan hari ini.
Dengan tatapan matanya,Tia memberi kode pada Igo untuk mengatakan pada orangtua Igo tentang niat mereka yang ingin keluar dari rumah utama.
"Mah...Igo sama Tia tinggal di apartemen yah?" Tanya Igo pada sang mama yang mengerti kode yang di berikan istrinya.
Mama Wita yang sedang menuangkan teh ke dalam cangkir untuk papa Oscar sontak menoleh ke arah Igo dan langsung meletakkan kembali teko ke atas meja,kemudian mendudukkan bokongnya disamping papa Oscar.
"Kamu bilang apa tadi?" Tanya mama Wita memastikan apa yang barusan ia dengar.
"Igo sama Tia mau tinggal di apartemen mah. Boleh yah." Kata Igo mengulangi kata-katanya lagi.
"Gak. Gak boleh!!!" Tolak mama Wita tegas.
"Shea udah di bawa suaminya,Vier juga udah keluar dari rumah ini,sekarang kamu juga mau keluar dari rumah ini? Tega kamu ninggalin mama sama papa yang udah tua?" Kata mama Wita lagi.
"Tapi mah,Igo kan udah menikah. Igo juga pengen kayak bang Vier yang bisa bertanggung jawab untuk keluarga kecil Igo mah."
"Oh...jadi maksud kamu kalau tinggal sama mama,kamu takut mama bakal campurin rumah tangga kamu?" Tanya mama Wita sinis.
"Bukan gitu mah. Igo sama Tia kan baru nikah,Igo pengen nikmatin masa-masa pengantin baru Igo sama Tia sekaligus supaya kita berdua bisa cepat saling mengenal. Kalau kami tinggal disini kan,bisa aja Tia jadi canggung mah. Lagian jarak rumah ini ke rumah sakit kan jauh banget mah,kalau tiba-tiba Tia ada panggilan darurat gimana? Gak terkejar dong. Kasihan istri Igo dong mah nanti di marah-marahin sama dokter senior." Jawab Igo sambil memasang wajah melas.
Mama Wita mengkerutkan keningnya nampak sedang memikirkan kata-kata anak kesayangannya.
"Ya udah,kamu boleh tinggal di apartemen. Tapi...." mama Wita menggantung kata-katanya.
Mendengar kata 'boleh' keluar dari mulut mama Wita,jelas saja hati Tia senang bukan kepalang. Tapi begitu mama Wita mengatakan kata 'tapi' dan menggantung kalimatnya,hati Tia jadi dag dug duaar. Takut-takut mama Wita memberikan persyaratan untuk mereka keluar dari rumah utama sangat berat.
__ADS_1
"Tapi apa mah?" Tanya Igo.
"Tapi kalau mama sama papa ke luar negri aja. Kalau mama sama papa ada disini,kamu sama Tia juga harus tinggal disini. Mama kesepian Go kalau kamu juga keluar dari rumah ini. Yah...yah...yah..." gantian,kini mama Wita yang memasang tampang memelas pada anaknya.
Igo menghela nafasnya sambil melirik ke arah Tia.
Bingung,itu lah yang Igo rasakan saat ini. Satu sisi ia tak tega melihat tampang melas sang mama,tapi di sisi lain ia ingin terlihat menjadi superhero untuk istrinya.
Tapi setelah Igo pikir-pikir lagi,syarat dari sang mama juga tidak terlalu buruk untuknya dan Tia. Karena kalau mama dan papanya pergi keluar negri pasti memakan waktu paling sebentar tiga sampai empat bulan. Dan kalau pulang ke negaranya,paling hanya dua atau tiga bulan.
"Oke. Igo setuju." Jawab Igo.
Mata Tia membelalak karena tanpa dirundingkan dengannya, Igo langsung mengambil keputusan menyetujui syarat dari mama Wita.
"Nah gitu dong." Kata mama Wita senang.
"Sekitar dua minggu lagi lah." Jawab mama Wita santai.
"Apaaaaa???!!! Dua minggu lagi??? Oh...lord..apa yang harus aku lakukan sekarang?!!! Dua minggu bagiku serasa dua tahun!!!!" Gerutu Tia dalam hati. Rasa-rasanya ia tak sanggup membayangkan kalau dirinya harus tidur seranjang dengan Igo selama dua minggu. Sedangkan baru dua malam saja,benteng pertahanannya sudah rapuh,apalagi dua minggu,bisa-bisa Igo berhasil membobol gawang dengan skor 5-0.
Igo memperhatikan wajah Tia yang terlihat sangat kesal. Entah kesal karena dirinya atau karena sang mama,Igo tidak tahu.
"Tidur yuk Ti,aku udah ngantuk nih. Besok kamu masuk pagi kan?" Sengaja Igo mengajak Tia tidur,agar Igo bisa menjelaskan pada Tia kenapa dirinya menyetujui persyaratan mama Wita.
Tia hanya menjawab dengan anggukan,sangking kesalnya pada Igo,ia sampai malas mengeluarkan suaranya.
"Mah..pah..Igo sama Tia naik dulu yah.." pamit Igo pada kedua orangtuanya.
__ADS_1
Mama Wita dan papa Oscar menganggukkan kepalanya.
"Ayo Ti." Ajak Igo sambil menarik tangan Tia.
Tia pun beranjak dari tempat duduknya dan mengikuti langkah kaki sang suami yang membawanya menapaki anak tangga menuju kamar mereka.
Kini mereka sudah berada di dalam kamar.
"Kenapa sih tuh manyun-manyun mulu? Minta aku cium? Atau Dragon yang cium?" Tanya Igo.
BUGH. Tia melemparkan bantal sofa ke arah Igo karena kata-kata Igo yang tak di filter.
"Kakak kok malah setuju sih sama mama kalau kita tinggal di apartemen pas mama sama papa ke luar negri?" Tia langsung mengungkapkan rasa kesalnya pada Igo.
"Bukannya itu lebih baik daripada kita sama sekali gak bisa keluar dari rumah ini?" Jawab Igo.
"Lagian,mama sama papa kalau keluar negri itu lama Ti,paling sebentar empat bulanan,paling lama bisa setahun. Nah kalau pulang,palingan di rumah cuma dua tiga bulan." Lanjut Igo.
Tia mengernyitkan keningnya memikirkan kata-kata Igo.
"Iya juga yah. Kalau ngeliat latar belakang kak Igo si bungsu yang disayang banget sama mama Wita,masih mending begini daripada gak bisa tinggal di apartemen sama sekali." Gumam Tia dalam hati.
"Tapi tetap aja,nungguin dua minggu badan aku keburu remuk duluan karena perjalanan yang jauh." Gerutu Tia yang masih enggan mengatakan setuju dengan keputusan Igo.
"Tenang aja sayang kan ada Super Igo yang siap mengantar-jemput kamu." Jawab Igo dengan bangganya sambil mengerlingkan matanya genit.
"Cih.." decih Tia. Ia pun beranjak dari sofa dan berlalu dari hadapan Igo menuju ruang ganti untuk mengganti bajunya dengan sleepwear.
__ADS_1
"Dalam waktu dua minggu ini,gue harus bisa buat loe nyerah Ti." Gumam Igo setelah Tia berlalu dari hadapannya.