
Kini para wanita lah yang saling berbalas pantun. Sedangkan Igo hanya duduk manis menyaksikan macan tutulnya adu mulut dengan pawang tiga buaya amazone. Kalau ada kacang, ingin rasanya Igo duduk di pojokan sambil makan kacang dan minum soda menyaksikan adu mulut antara si bar-bar dan si tukang palak.
"Terus kamu waktu kakak yang terbuang karena ulah suami kamu yang lupa cabut itu gak kamu hitung?"
Kata-kata Irna sukses membuat Tia kembali mengingat kejadian mengesalkan itu.
Tia pun langsung menoleh ke arah sang suami dan memberi tatapan tajam pada suaminya itu.
"Apa? Kok gitu ngeliatinnya? Mau di ungkit lagi?" Tanya Igo to the point saat Tia memberi tatapan tajam padanya.
Tia tak menjawab, ia hanya memutar bola matanya malas.
"Lagian jangan salahin aku aja dong. Kamu juga salah. Kalau kita gak buat kak Irna nunggu hari ini, gak mungkin kejadian yang kemaren itu di ungkit lagi." Cari mati Igo menyalahkan wanita.
"Kok jadi aku yang salah? Aku salah dimana coba?"
"Gak sadar kamu, udah kamu kebo, tadi malam pake mancing-mancing lagi, jadinya kita ritual sampe subuh kan?!"
"Oh...jadi kakak gak suka kalau aku jadi istri yang smarthot? Kakak maunya aku jadi istri yang lemothot gitu? Harus nya kakak bangga dong punya istri kayak aku yang tanpa di tagih udah memberi hak kakak duluan!!" Balas Tia tak mau kalah.
Mendengar perdebatan dua manusia langka di hadapannya membuat telinga Irna jadi panas sendiri, karena Irna tau betul apa yang pasangan manusia langka ini perdebatkan.
"STOOOP!!!" Teriak Irna agar Igo dan Tia berhenti berdebat.
Sontak saja Igo dan Tia pun menghentikan perdebatan mereka.
"Bisa-bisanya kalian berdua bahas masalah ranjang kalian di depan kakak? Kalau di ruangan ini cuma ada kita bertiga gak pa-pa, tapi lihat dong di ruangan ini bukan cuma kita bertiga." Ucap Irna dengan nafas yang memburu. Matanya pun mengarahkan ke arah ranjang pemeriksaan yang ada di belakang mereka.
Mata Tia membelalak karena ada dua mahasiswa kebidanan yang sedang berdiri di pojokan dekat ranjang pemeriksaan, waktu masuk tadi Tia sama sekali tidak melihat dua mahasiswa kebidanan itu. Dan asisten Irna yang duduk di sofa dekat pintu masuk sedang menonton perdebatan Igo dan Tia.
Tia pun langsung tertunduk malu, hilang sudah image jutek dan dinginnya di depan mahasiswa praktek. Dalam hati Tia berdoa, semoga dua mahasiswa itu tidak menyebar gosip ke mahasiswa yang lain.
Kalau Tia kaget dan malu, sedangkan Igo terlihat biasa saja malah terkesan sangat santai. Maklum urat malunya kan sudah putus.
"Kalian keluar dulu, saya mau tatar dulu dua manusia ini." Ucap Irna pada tiga orang yang membantunya di ruangan itu.
Ketiga orang itu pun keluar sambil menahan tawa.
Tia yakin sesampainya di luar ruangan Irna, ketiga orang itu tertawa puas sampai terjungkal-jungkal.
Setelah ketiga orang itu keluar dari ruangannya, Irna menarik nafasnya dalam-dalam dan membuangnya kasar dari mulut bukan dari van•tat.
"Mana hasil tes kesuburannya?" Todong Igo.
"Transfer dulu, baru kakak kasih." Balas Irna.
Igo menoleh ke arah Tia untuk meminta persetujuan istrinya.
__ADS_1
Mau tidak mau Tia menganggukkan kepalanya pasrah.
Melihat istrinya mengangguk, Igo menghela nafasnya.
"Melayang deh duit gue. Baru aja gue mau beli mobil baru, udah keduluan di palak kak Irna. Apes banget sih loe Gon..!!" Lah kok malah Dragon di salahin.
Igo pun merogoh saku celana untuk mengambil ponsel. Setelah ponsel berada di tangannya, Igo mencari nomor Duta dan melakukan panggilan ke nomor asistennya itu.
"Speakerin kak." Perintah Tia, karena Tia juga ingin mendengar percakapan suaminya dan asisten suaminya tersebut.
Igo pun menyalakan loudspeaker di ponselnya.
Tuuut...tuuut.
"Halo bos." Jawab Duta.
"Dut, nanti saya kirim nomor rekening, tolong kamu transferin uang sebesar empat M yah ke rekening itu." Perinta Igo pada Duta.
"Wah...si bos, jadi bos beli mobil sportnya?!" Ceplos Duta, karena Duta tau kalau bos nya itu berencana ingin membeli mobil baru.
Jangan salahkan Duta yang keceplosan, karena Duta tidak tau kalau saat ini Igo sedang men speakerkan suara ponselnya.
Jelas saja kata-kata Duta membuat Tia semakin panas dingin. Tia pun langsung memberi tatapan tajam pada suaminya itu.
"Kampret nih si Duta!!! Ember banget mulutnya!!" Umpat Igo dalam hati pada asistennya.
"Jangan fitnah loe Dut, siapa juga yang mau beli mobil. Ini tuh buat bayar pinalti sama kak Irna." Jawab Igo menangkis kata-kata Duta agar Tia tidak mencakar-cakar wajahnya.
"Kak Irna yang kakak nya pak Irlan itu? Yang dokter itu? Emang bos punya masalah apa sama bu dokter?"
"Ah..banyak tanya loe, kepo banget kayak emak-emak komplek. Udah kalau gue bilang kirim yah kirim aja." Geram Igo.
"Dan satu lagi saran gue, kalau nanti loe punya istri dan istri loe nanti hamil, jangan mau kalau dokternya kak Irna." Lanjut Igo.
"Kenapa memangnya bos?" Tanya Duta.
"Terkuras gaji loe empat tahun nanti." Jawab Igo dengan nada meninggi.
"Sialan kamu!!!" Irna langsung melempar pena yang ia pegang ke wajah Igo.
"Udah yah Dut, pokoknya sekarang loe transfer. Gue kirim sekarang nomor rekeningnya." Igo pun mengakhiri panggilannya dengan Duta.
Kemudian mengirimkan nomor rekening Irna kepada Duta.
Sejenak suasana ruangan pun hening, menunggu notifikasi m-banking di ponsel Irna.
TRIIING. Akhirnya yang di tunggu-tunggu pun tiba, bunyi notifikasi m-banking masuk juga ke ponsel Irna.
__ADS_1
"Udah masuk kan?" Tanya Igo.
Irna menganggukkan kepalanya sambil menatap layar ponselnya.
"Padahal kakak kan mau nya dikirim mobilnya langsung ke rumah kakak, ini malah kamu kirim duit." Dumel Irna.
"Gak tau bersyukur yah. Sengaja aku kirim duitnya, biar kakak pilih sendiri warna yang kakak suka, nanti kalau aku yang pilih kakak gak mau, ngomel-ngomel lagi." Balas Igo.
"Cih.." decih Irna sambil meletakkan ponselnya di atas meja.
"Ngomong-ngomong, kakak pake duit siapa transfer uang ke kak Irna?" Tanya Tia yang baru sadar kalau semua aset atas nama Igo telah beralih atas namanya dan itu berarti keuntungan dari perusahaan Igo masuk ke rekeningnya.
Tapi mungkin Tia lupa atau mungkin tidak tau kalau Igo punya rekening tersembunyi yang aliran dananya dari aset warisan papa Oscar yang keuntungannya di bagi-bagi untuk ke tiga anaknya, apalagi Igo tiap bulan juga mendapat transferan dari mama Wita yang uangnya tidak pernah Igo pakai satu perak pun.
"Emang kamu gak tau kalau suami kamu dapet transferan tiap bulan dari papa-mama mertua kamu? Suami kamu kan anak kesayangan." Irna yang mulutnya sudah gatal tak sanggup untuk tidak memberitahu Tia.
Tia pun menoleh ke arah Igo.
"Beneran kak? Kok kakak gak ngasih tau aku?" Tanya Tia.
"Kan waktu itu aku udah bilang, sekalipun aku jatuh miskin, kamu gak akan hidup susah karena kamu punya mertua yang duitnya gak bakalan habis sampai keturunan yang kedua belas." Jawab Igo dengan bangganya.
"Plus suami kamu itu anak kesayangan, jadi soal rekening gak bakalan pernah kering." Timpal Irna.
"Makanya jadi istri jangan irit-irit. Sekalipun harta suami sudah atas nama istri, jangan percaya kalau mereka gak punya rekening siluman, makanya jadi istri jaman sekarang itu harus punya kemampuan detektif melebihi detektif conan." Lanjut Irna lagi.
"Hemh...kompor...kompor!!" Gerutu Igo dalam hati karena Irna sedang mencuci otak polos istrinya mengenai keuangan.
"Kalau begini mah, alamat gue gak bakalan bisa beli mobil atau motor baru." Dumel Igo lagi dalam hatinya.
"Udah...udah kok jadi bahas rekening. Mana amplopnya!" Todong Igo.
Irna memutar bola matanya malas sambil mengambil amplop yang berisi hasil tes kesuburan Igo dan memberikan hasil tes itu pada Tia.
Tia pun membuka amplop itu dan membaca dengan seksama dan dalam waktu yang sesingkat-singkatnya hasil tes kesuburan suaminya.
Ekspresi wajah Tia berubah seketika. Yang tadinya biasa-biasa saja jadi berubah tegang.
Melihat perubahan ekspresi wajah istrinya, hal-hal negatif langsung memenuhi isi kepala Igo. Igo berpikir kalau hasilnya tidak sesuai harapan dan doanya.
"Pasti hasilnya aku bermasalah kan Ti?" Tanya Igo lemas.
Tanpa menjawab dan tetap memasang ekspresi tegang, Tia memberikan hasil tes kesuburan itu pada Igo.
"Gak usah. Aku gak sanggup lihat." Igo menolak selembar kertas hasil tes kesuburan dirinya.
"Gak usah drama!!! Baca dulu." Omel Irna saat melihat wajah sok drama Igo.
__ADS_1
Sudah kena omel Irna baru Igo mengambil selembar kertas itu.
Ia menutup matanya sebelah untuk membaca hasil tes kesuburannya.