
Nafas Tia terasa sesak mendengar pengakuan Roy, sekujur tubuhnya bergetar hebat membayangkan apa yang barusan Roy katakan.
"Breng•sek loe Roy!!! Emang kak Igo punya masalah apa sama loe, sampe-sampe loe ngejebak kak Igo dengan cara kotor kayak gini?" Teriak Tia mencurahkan segenap emosi di dalam dadanya.
"Masalahnya dia udah ngambil loe dari gue!!! Dan gue gak terima itu!!! Dia yang doyan gonta-ganti ja*ang bisa dapetin loe, kenapa gue yang cuma bergelar playboy gak bisa dapetin loe?! Apa karena dia anak Oscar Mandala makanya loe mau sama dia?!" Teriak Roy tak kalah kerasnya dari Tia.
"Denger yah Roy, gue milih kak Igo karena dia gentle dan sportif untuk ngedapetin gue, gak kayak loe yang menggunakan cara kotor untuk mendapatkan simpati gue malahan sekarang loe mau ngerusak rumah tangga gue. Loe tau kan Roy, dengan siapa loe berurusan? Gue harap loe gak nyesel karena udah melakukan hal kotor kayak gini!!!"
"Gue gak akan pernah nyesel dengan apa yang udah gue lakuin!!! Jadi baby, gimana kalau kita juga bersenang-senang seperti mereka. Gue janji, kalau malam ini loe mau bercinta dengan gue sampe gue puas, gue gak akan nyebarin video suami loe yang lagi lagi cepak cepak jeder dengan Sasha."
"Jangan mimpi loe!!!!" Jawab Tia.
Dan tanpa Roy duga-duga, Tia langsung menendang pusaka milik Roy. Sontak Roy langsung melepas tangan Tia yang ia cengkram kuat.
"Auw...." jerit kesakitan Roy saat pedang pusakanya terkena tendangan maut Tia.
Begitu Roy melepaskan tangannya, cepat-cepat Tia kabur dari hadapan Roy dan naik ke lantai atas dimana private room berada.
Setelah sampai di lantai atas, Tia membuka satu persatu pintu room, jika room itu terkunci, berarti Igo dan Sasha ada di dalam.
Ada sepuluh private room di lantai itu, dan pada room yang ke enam, Tia menemukan pintu yang terkunci.
"Kak Igo....kak Igo di dalem?" Teriak Tia dari luar.
Percuma saja Tia berteriak sekuat apapun bahkan sampai pita suaranya putus sekalipun, Igo tidak akan mendengar teriakan Tia karena memang room itu kedap suara.
Tak ingin putus asa, Tia pun beranjak dari depan room yang ia yakini ada Igo dan Sasha di dalamnya untuk mencari manajer club.
Tia kembali berlari ke bawah untuk mencari manajer club, namun saat sudah di pertengahan anak tangga, ia bertemu dengan Roy yang jalannya sudah terseok-seok.
"Are you lost baby girl?" Tanya Roy sambil perlahan manapaki anak tangga untuk mendekati Tia.
"Minggir loe!!!" Teriak Tia sambil mendorong tubuh Roy yang sedang berdiri tepat di hadapannya.
Tapi sayangnya, dorongan Tia tidak membuat tubuh Roy bergerak satu centi pun. Justru kini Tia lah yang kembali berada dalam genggaman tangan Roy.
Roy menarik paksa Tia untuk turun ke lantai bawah.
"Lepas Roy!!!" Teriak Tia sambil meronta-ronta.
Roy menulikan telinganya, ia tetap menarik paksa Tia.
"Roy, jangan salahin gue kalau loe harus terima perlakuan kasar dari gue!!" Geram Tia.
"Sekasar-kasarnya loe, emangnya loe bisa apa? Mau nendang si Otong lagi?"
"Nantangin gue loe yah!!"
Dan...
BUGH..
Tanpa Roy sangka-sangka tubuh kurus Tia sanggup membanting dirinya.
"Aaarrrgh..." jerit Roy saat Tia membanting tubuhnya ke atas lantai seperti melempar karung beras dua puluh lima kilo saja.
Di saat terdesak, sisi bengis Tia keluar begitu saja.
Dan aksi Tia itu di lihat oleh banyak pasang mata, karena saat Tia membanting tubuh Roy, mereka sedang berada di lantai dansa.
__ADS_1
"Hai nona..apa yang kamu lakukan?" Tanya seorang laki-laki berpakaian rapih dan ada tulisan manajer di name tag nya.
Melihat name tag si laki-laki tersebut, Tia pun berjalan mendekati si laki-laki dan tanoa sadar Tia menginjak tubuh Roy yang masih terkapar di lantai.
"Pak...tolong buka private room enam, suami saya dalam bahaya disana."
"Maaf nona, itu privasi, kami tidak bisa membukanya kalau bukan si pemesan room yang membuka."
"Breng•sek!!! Bapak mau club ini di tutup permanen?! Yang di room itu anak pak Oscar Mandala, bapak tau kan siapa Oscar Mandala!!!" Teriak Tia emosi mendengar jawaban si manajer club.
"Serius?"
"Gak percaya?! Tunggu saya telpon mertua saya!!!" Tia pun mengeluarkan ponselnya hendak menghubungi papa Oscar.
Tapi baru saja Tia mengeluarkan ponselnya, si manajer langsung meminta Tia untuk menghentikan aksinya.
"Oke..oke..oke, saya akan buka kan. Tapi tolong jangan sampai masalah ini naik ke publik." Mohon si manajer club.
Si manajer pun memberikan kode pada tim keamanan club untuk membawa kartu serep untuk membuka pintu room dimana Igo berada.
Manajer dan ke empat tim keamanan club pun berjalan menuju tangga untuk naik ke lantai atas.
"Pak. Tolong ikat laki-laki ini dan bawa ke atas.!!" Perintah Tia pada salah satu tim keamanan yang hendak naik ke lantai atas.
Setelah memberi perintah pada salah satu tim keamanan itu, Tia pun ikut naik ke lantai atas.
BRAAK. Tia membuka pintu room dengan kasar setelah si manajer berhasil membuka kunci pintu room.
"Kak Igo..." Teriak Tia.
FLASHBACK ON.
Karena Roy menghubunginya dan meminta Sasha untuk datang ke club xxx dan masuk ke room enam.
"Ya mau bersenang-senang lah." Jawab Roy sambil mengerlingkan sebelah matanya.
"Cih...najis gue bersenang-senang sama loe!!!" Umpat Sasha.
"Cih...siapa juga yang mau bersenang-senang sama loe!!! Maksud gue,loe bersenang-senang sama si Igo dan gue bersenang-senang karena rencana gue yang pasti berhasil."
"Maksud loe?" Tanya Sasha sambil memicingkan matanya.
"Gak usah banyak tanya, sekarang kasih tau gue nama temen deketnya si Igo waktu SD."
"Buat apa?"
"Udah gue bilang jangan banyak tanya, loe tinggal ikutin alurnya."
"Handi, Frans, Mike, Gloudy. Kayaknya cuma empat itu deh temen deketnya Igo waktu SD."
"Di antara mereka berempat yang paling deket sama Igo siapa?"
"Handi. Handi paling deket, tapi mereka pernah ribut gara-gara Igo tau Handi caper sama gue. Tapi sekarang Handi lagi ada di London."
Roy tersenyum licik.
"Oke. Segitu aja cukup. Loe lihat yah cara gue beraksi."
Roy pun mengambil ponselnya dan mencari nama Igo kemudian melakukan panggilan ke nomor Igo. Roy pun mengaku-ngaku sebagai Handi dan meminta Igo untuk datang ke club dan berkumpul bersama teman-teman SD mereka yang lain sebelum Handi balik ke London.
__ADS_1
Panggilan pun berakhir dengan hasil yang memuaskan karena Igo menerima ajakan Roy yang berpura-pura menjadi Handi.
"Sekarang, loe ganti baju loe dengan pakaian yang paling seksi, kalau perlu loe gak usah deh pake daleman, biar nanti Igo gak perlu susah payah."
Mata Sasha membelalak.
"Ma-maksud loe?"
"Gak usah belagak be•go!!! Gue tau loe paham maksud gue!!! Udah sana cepetan!!"
Sebelum beranjak, Sasha nampak berpikir apa iya harus mengikuti rencana gila Roy atau ia mundur teratur.
"Gak!! Gue gak boleh mundur!!! Udah terlanjur basah, mandi aja sekalian!!!" Gumam Sasha dalam hati.
"Oke gue pergi dulu dan gue akan balik dengan pakaian paling hot seperti yang loe bilang." Ucap Sasha mantap sambil berdiri dari tempat duduknya.
Sasha pun keluar dari dalam room.
"Bentar lagi pasti Tia akan ninggalin laki-laki itu, dan gue pastiin Tia akan jadi milik gue." Ucap Roy pelan setelah Sasha keluar dari dalam room.
Mobil sport yang Igo kendarai kini sudah terparkir mulus di parkiran club. Igo pun melangkahkan kakinya masuk ke dalam club dan Igo langsung naik ke lantai atas dan masuk di room enam sesuai dengan pesan yang Handi kirimkan untuknya.
Igo mengernyitkan keningnya saat melihat room yang kosong.
Igo pun menghubungi Handi.
Tuut..tuut..tuut.
"Halo Go." Jawab Handi palsu.
"Loe dimana Han? Gue udah di room nih."
"Tunggu Go, gue check in bentar, sesak banget nih."
Igo mengernyitkan keningnya. Ia merasa aneh, karena Handi yang ia kenal bukan laki-laki seperti dirinya dulu. Apalagi Handi sudah mempunyai istri dan dua orang anak.
"Bukannya..." baru saja Igo ingin menanyakan rasa curiganya, si Handi palsu langsung mengakhiri panggilan telponnya.
"Aneh.." gumam Igo.
Tok tok tok.
Tak lama pelayan masuk ke dalam room sambil membawa dua gelas koktail.
"Gak salah masuk room mas? Saya belum pesan apa-apa kok?!" Tanya Igo pada si pelayan.
"Gak pak. Room ini di reservasi atas nama pak Handi kan?"
Igo mengangguk.
"Tadi pak Handi pesan pada saya kalau teman beliau datang, saya harus menjamu teman beliau hingga pak Handi kembali."
"Oh..." Igo ber O ria sambil manggut-manggut.
Meski ia merasa ada sesuatu yang janggal, tapi ia percaya-percaya saja.
Begitu lah Igo, terlalu gampang percaya dengan seseorang sebelum orang itu melakukan hal buruk padanya. Tapi kalau orang yang Igo percaya menipunya, sekali saja, maka Igo akan terus mengingatnya, bahkan sekalipun orang itu sudah berubah menjadi baik sekalipun, Igo tetap tidak akan mempercayai orang itu.
Setelah meletakkan dua gelas koktail di atas meja, si pelayan pun keluar.
__ADS_1