
Dengan perlahan Igo membaringkan tubuh Tia di atas ranjang.
"Kamu cantik banget sih malam ini." Puji Igo sambil jari jemarinya mengitari setiap panca indera yang ada di wajah Tia diikuti dengan sorot mata Igo yang sudah di selimuti hasrat menggebu.
"Kakak juga tampan banget." Jawab Tia dengan sorot mata tak kalah menggebu.
Netra mereka pun beradu sejenak untuk saling mentransfer rasa cinta dan gairah yang semakin membuncah dalam diri mereka masing-masing.
Perlahan tapi pasti,dimulai dengan mata yang beradu,kini bibir mereka pun sudah ikut beradu. Pelan namun ganas. Tangan mereka pun sudah menggerayang kesana kemari tak bisa diam.
Bibir Igo pun perlahan turun ke leher dan memberi jejak-jejak kepemilikan sang profesional disana.
Suasana pun makin memanas tatkala saat tangan Igo berada di atas pegunungan Tialaya dan memilin gemas buah karsen yang ada di puncak gunung.
"Sshhh...aah kak.." suara ghoib yang sengaja Tia tahan pun mau tak mau harus ia keluarkan,bukan untuk membuat si tangan ahli menghentikan aksinya,justru untuk membuat si tangan ahli makin memperdalam permainannya pada dua gundukan daging yang menjulang tinggi itu.
Mendengar suara ghoib yang keluar dari mulut Tia,jelas saja membuat Dragon semakin blingsatan. Suara ghoib yang Tia keluarkan ibarat suara seruling pemanggil ular,yang membuat Dragon ingin segera terlepas dari bedongannya.
Merasakan sahabatnya yang semakin sesak,Igo menghentikan sejenak aksi yang sedang memberikan jejak kepemilikannya di leher Tia. Buru-buru ia mengeluarkan Dragon dari dalam bedongannya.
"Huh...lega!!!" Teriak Dragon saat berhasil terlepas dari bedongannya.
"Yang mana nih yang mau di bantai?!" Begitulah kira-kira yang Dragon katakan pada Igo saat matanya berhasil melihat dunia luar.
Seperti menjawab pertanyaan sang Dragon,Igo membuka lebar paha Tia.
Mata Igo langsung membulat melihat semak belukar yang menutupi lubang tambang Tiaport.
"Gila!!! Bini gue udah siaga aja ngelepas terpal." Gumam Igo dalam hati,dirinya kaget karena ternyata sang istri datang tanpa memakaikan terpal untuk menutupi lubang tambang Tiaport.
Melihat Igo terdiam sambil melihat area pertambangan Tiaport. Tia langsung merapatkan kembali pahanya karena malu.
"Kok ditutup Ti?!" Protes Igo.
"Habis kakak ngeliatinnya gitu sih,kan aku jadi malu." Jawab Tia.
"Gak usah malu,orang udah sering kok aku ngeliat yang beginian. Cuma bedanya yang ini semak belukarnya masih lebat banget,tanda belum ada yang singgah ke lubang tambangnya Dragon." Ucap Igo.
"Udah sini buka lagi,biar aku pelajari dulu cara tekhnik untuk membuka lahannya,maklum Dragon kan gak pernah buka lahan,selama ini dia kan ngebor di lubang yang udah menganga." Kata Igo lagi sambil mencoba membuka paha Tia lagi.
__ADS_1
"Tunggu kak."
"Apalagi sih Ti? Mesinnya Dragon udah tegangan tinggi nih." Protes Igo yang sudah tak sabar.
"Matiin dulu lampunya,aku malu kalau kakak ngeliatinnya kayak tadi." Pinta Tia.
Igo menghela nafasnya.
"Iya aku matiin,tapi biarin satu lampu tidur tetap nyala. Biar gak gelap-gelap amat Ti." Jawab Igo.
Tia menganggukkan kepalanya setuju.
Igo pun mengambil remote untuk mematikan lampu kamar tidurnya dan menyalakan satu lampu tidur yang ada di nakas sebelah Tia.
Setelah keadaan kamar remang-remang,Igo kembali menindih tubuh Tia dan kembali melakukan pemanasan bibir dan pemanasan tangan.
Lalu bagaimana dengan Dragon? Yang pasti di bawah sana Dragon sudah ngences-ngences di depan pintu lubang pertambangan,bahkan sesekali Dragon mengetuk pintu lubang pertambangan,tanda kalau dirinya sudah tak sabar ingin masuk. Tapi sayangnya Igo masih menahan sang sahabat dan memintanya untuk bersabar sebentar lagi,menunggu pelumas alami dari dalam lubang tambang keluar. Agar saat Dragon membuka lahan,Tia tidak terlalu merasakan sakit.
Setelah lama pemanasan,pelumas alami dari dalam lubang tambang pun meluber,membuat basah area pertambangan.
"Kamu beneran udah siap Ti?" Tanya Igo sekali lagi di tengah-tengah pemanasannya.
"Udah kak,siap banget malah."
"Ikhlas kak. Udah dong jangan ngomong terus,udah gak tahan nih." Nampaknya Tia juga sudah tidak sabar merasakan Dragon membuka pintu lubang tambang Tiaport.
"Oke. Dragon coming Empit." Teriak Dragon,eh...salah teriak Igo maksudnya.
Igo pun menuntun Dragon untuk membuka pintu lubang tambang Tiaport.
"Auuuww...sakit kak." Jerit Tia saat merasakan kepala Dragon menyundul pintu lubang tambangnya.
"Belum juga masuk Ti,udah ngejerit aja kamu,gimana kalau udah masuk,bakalan kayak kuda lumping kamu.!!!" Ejek Igo.
"Makanya pelan-pelan dong kak,itu kan masih tersegel,jangan asal main seruduk gitu dong."
"Astaga Ti,ini tuh udah pelan banget,emang dasar lubangnya aja yang sempit banget. Udah kamu nikmatin aja,ini resikonya kalau mau buka lahan." Omel Igo.
Tia pun terdiam mendapat omelan dari suaminya.
__ADS_1
Sedangkan Igo kembali membantu Dragon untuk membuka segel lubang. Tapi sayang,meski lubang tambang sudah mengeluarkan pelumasnya,tapi pintu masih sangat sulit terbuka.
"Huh..." Igo membuang nafasnya kasar karena usaha Dragon membuka pintu lubang tambang tak berhasil.
Igo dan Dragon tak mau putus asa,mereka tetap bekerja sama tak kenal lelah membuka pintu lubang tambang yang masih tersegel rapat.
Usaha yang tak kenal lelah itu pun menghasilkan biji keringat sebesar jagung,padahal suhu pendingin ruangan berada di suhu terendah.
"Bisa gak sih kak?" Tanya Tia yang sudah tidak sabar karena kerjasama sang suami dengan sahabatnya tak kunjung berhasil membobol pintu.
Igo tak menjawab. Ia malah mengambil remote lampu dan menyalakan lampu kamarnya.
"Aarrgh..." pekik Tia saat lampu kamar Igo menyala. Cepat-cepat ia menutup bagian bawahnya dengan bantal karena malu. Kalau bagian atasnya tidak perlu lagi di tutupi karena Igo dan Dragon sudah setiap hari menyusu disana.
"Apaan sih kamu Ti,pake di tutup-tutupin segala." Protes Igo.
"Kakak yang apa-apaan!! Kok lampunya di nyalain lagi?!" Tia balik memprotes Igo.
"Dragon tuh rabun senja Ti,penglihatannya buruk kalau cahayanya remang-remang kayak gini. Apalagi ini baru mau buka segel,pencahayaan harus terang biar Dragon gak salah masuk lubang. Kalau segel udah kebuka dan Dragon udah hapal mati medan perangnya,baru bisa pake cahaya remang-remang." Jawab Igo memberi alasan.
"Tapi aku malu kak.."
"Ngapain malu sih Ti,aku kan suami kamu sayang. Tadi kamu bilang udah siap,tapi gak mau nyalain lampu." Sindir Igo.
Tia memanyunkan bibirnya karena kata-katanya tadi menjadi boomerang untuk dirinya sendiri. Saat mengatakan itu,ia tidak memikirkan akan semalu ini saat pahanya terbuka lebar,yang ada di otaknya saat itu hanyalah ingin memberikan hak suaminya yang sudah ia tahan selama dua bulan.
"Udah sini buka,gak usah di tutup-tutupin lagi." Igo langsung menarik bantal yang Tia pakai menutupi bagian bawahnya.
Tak ingin ada alat yang akan Tia jadikan sebagai penutup bagian bawahnya atau bagian atasnya,Igo pun langsung melempar jauh-jauh semua bantal,guling dan selimut yang masih betah ada di atas ranjang. Padahal tanpa Igo buang pun,bantal,guling dan selimut itu akan terhempas dengan sendirinya jika Dragon sudah berhasil membuka segel dan memulai pengeborannya.
"Aku coba lagi yah.." Kata Igo setelah dirinya membuang semua penghuni ranjang ke lantai.
Igo pun kembali menuntun sang Dragon untuk membuka segel pintu lubang tambang.
"Akh..kak sakit.." jerit Tia saat merasakan kepala Dragon menyeruduk pintu lubang tambangnya. Bahkan tubuhnya sampai refleks menjauh dari tubuh Igo.
"Tahan Ti." Jawab Igo sambil menahan pinggul sang istri yang refleks menjauh dari tubuhnya.
"Tapi sakit kak."
__ADS_1
"Ya emang gini Ti,tahan dong. Gimana Dragon bisa buka segel kalau kamu gerak-gerak gini. Gerak-geraknya nanti aja,kalau Dragon udah di dalam. Makanya jangan fokus ke sakitnya,fokus ke enaknya aja."
Tia pun diam,ia tak lagi banyak mengeluh apalagi protes. Ia pun mengikuti saran dari sang mentor yang menyuruhnya untuk fokus ke rasa nikmat saat Dragon berusaha membuka segel.