Pelabuhan Hati Sang Casanova

Pelabuhan Hati Sang Casanova
PHSC 92


__ADS_3

Kini si Cheetah sudah terparkir mulus di parkiran tempat ngegym.


Dengan gaya coolnya, Igo turun dari atas punggung Cheetah dan masuk ke tempat gym. Ternyata sudah ada Irlan dan Yordan yang duluan sampai.


"Eh...buset, cepet banget loe berdua nyampe. Tumben." Tanya Igo pada dua sahabatnya yang sedang duduk di ruang tunggu untuk menunggu Igo.


"Nih..temen loe jam tujuh udah jemput gue." Jawab Irlan sambil menunjuk Yordan.


"Asal loe tau, ini tempat belum di buka, kita udah nyampe sini tau gak!!" Protes Irlan lagi.


"Kesambet apaan loe Dan?" Tanya Igo.


"Kesambet setan empat puluh hari." Jawab Irlan.


"Apaan tuh setan empat puluh hari?" Tanya Igo yang tidak mengerti.


"Pura-pura be•go lagi nih orang!!" Protes Yordan sambil menoyor kepala Igo.


"Bini nya kan baru ngelahirin, jadi terowongan belum bisa di pake balapan sampe empat puluh hari, makanya dia semaput kalau lama-lama di rumah. Apalagi liat bini nya ngasih en•en si Millie, kena vertigo langsung kepalanya si Jeki." Kata Irlan menjelaskan situasi yang sedang Yordan hadapi.


Bukannya kasihan, Igo malah menertawai sahabatnya itu.


"Sekarang boleh loe ngetawain gue, nanti kalau bini loe melahirkan, gantian gue yang ngetawain loe!!" Kata Yordan tak senang dengan tawa Igo.


"Heleh...sensitif amat. Tinggal di spa aja tuh si Jeki kalau vertigonya kumat, gampang kan!!"


"Gampang jidat loe!!! Kalau Jeki kayak Dragon yang kagak tukang ngambek sih gak pa-pa. Ini si Jeki tukang ngambek, gak puas kalau gak langsung balapan di terowongan."


"Ya elah, kalau ngambek tinggal kasih kinderjoy aja mah beres!!!"


"Udah...udah...loe berdua mau pada ngegym atau mau pada meeting bahas si Jeki?" Tanya Irlan menengahi perdebatan Igo dan Yordan.


"Ya ngegym lah, gila aja meeting bahas si Jeki." Jawab Igo.


Igo pun berdiri dari tempat duduknya dan berjalan masuk ke ruang fitnes. Begitupun Irlan dan Yordan yang ikut menyusul Igo masuk ke ruang fitnes.


Sesampainya di ruang fitnes, terlebih dahulu mereka mengganti baju mereka dengan pakaian ngegym yang memperlihatkan otot-otot kekar mereka.


"Astaga Igo....." pekik Irlan saat melihat punggung Igo.


Mendengar Irlan memekik, sontak Yordan pun menoleh ke arah Irlan dan mengikuti arah pandang mata Irlan.


"Ya ampun Go..itu punggung loe kenapa bisa begitu?" Gantian, kini Yordan lah bertanya sok-sok prihatin.


"Biasalah kerjaan bini gue. Gini nih kalau macam tutul gue ngamuk. Gigi ganti gigi, tangan ganti tangan, kan kemaren gue udah bikin cap bibir di sekujur tubuhnya, jadinya gantian giliran dia yang bikin cap tangan di sekujur tubuh gue." Jawab Igo.


"Gila..sadis banget bini loe. Ini dia bikinnya gimana?" Tanya Yordan yang baru pertama kali melihat hasil kerokan. Kalau Irlan tidak perlu bertanya, karena ia tahu bagaimana cara mengerok.

__ADS_1


"Ini tuh di kerok pake uang koin tapi sebelum di kerok di balurin dulu balsem biar licin." Jawab Igo menjelaskan cara kerja pengerokkan yang sebenarnya baru dirinya ketahui juga.


"Hah balsem? Yang rasanya panas dan pedas itu Go?"


"Iya bule kampret!!!!" Geram Igo dengan ke o-o-n an Yordan.


"Maklum lah Go, si Yordan mana tau yang beginian. Tapi kalau loe tanya pelumas terbaik buat spa si Jeki, nah dia tau tuh merk apa yang paling bagus." Ejek Irlan.


"Sialan loe!!!" Umpat Yordan.


"Udah yuk stretching." Ajak Igo yang malas membahas masalah mahakarya Tia di punggungnya.


"Loe gak malu keluar kayak gitu?" Tanya Yordan sambil mereka berjalan keluar dari ruang ganti.


"Ya gak lah, ngapain malu. Ini kan hasil karya bini gue. Malah kalau bisa gue mondar-mandir di lampu merah nunjukin mahakarya bini gue." Jawab Igo bangga.


"Loe emang gak malu, tapi bini loe nanti yang malu punya lakik kayak orang stres!!!" Ejek Yordan.


"Sialan loe!!!" Umpat Igo.


Mereka bertiga pun mulai melakukan stretching sebelum berolahraga menggunakan alat.


"Huh...huh...huh..." Ketiganya mengatur nafas setelah selesai berolahraga.


"Dan, si madam punya stok obat encok gak? Kasih gue dong, satu botol aja." Ucap Igo pada Yordan.


"Masalahnya kan gue gak tau si madam beli dimana. Ayo lah Dan, bilang sama madam sponsorin obat encok." Rayu Igo.


"Buat siapa itu obat encoknya? Buat loe apa bini loe?"


"Buat bini gue lah, masa buat gue!!!"


"Cih...gak yakin gue itu buat bini loe, orang tenaganya aja kayak Yakuza, paling juga buat loe, ngaku loe!!!"


"Tau loe, ngaku loe!!!" Timpal Irlan.


"Cih...gak yah!!! Gue mah kuat, mau sehari lima-enam ronde mah gue sanggup, gak ada istilah dengkul gemetar sama pinggang encok. Emangnya kayak loe!!" Sindir Igo pada Yordan.


"Gak yakin gue!!!" Ucap Yordan sepele.


"Resepsi dulu Go, baru nanti kita kasih hadiah obat encok, kalau perlu satu tronton nanti kita kirimin obat encok ke rumah loe."


"Anjiiir loe, gak satu tronton juga kali, nanti di kira orang gue udah beralih profesi jadi tabib jadi-jadian yang jualan obat encok." Protes Igo.


Mendengar protesan Igo, Irlan dan Yordan malah tertawa terbahak-bahak.


Setelah melakukan pendinginan, mereka pun mengganti baju mereka dan keluar dari tempat gym ke kantor mereka masing-masing.

__ADS_1


🎀 🎀 🎀


Waktu sudah menunjukkan pukul delapan malam, Tia dan Igo pun juga baru selesai mengisi perut mereka. Dan kini mereka sedang bersantai di ruang televisi.


"Ini buat kamu." Kata Igo sambil menyodorkan map kehadapan Tia.


Map yang berisi surat pengalihan semua aset kekayaan Igo.


"Apa ini?" Tanya Tia.


"Buka saja."


Tia yang penasaran pun membuka map itu dengan tidak sabaran.


Kemudian membaca surat itu dengan seksama dalam tempo yang sesingkat-singkatnya.


Mata Tia membelalak sempurna saat tau kalau semua aset suaminya sudah beralih menjadi atas namanya.


"Ka-kakak serius semua aset kakak, kakak pindahin atas nama ku?" Tanya Tia masih tercengang.


Igo menganggukkan kepalanya.


"Tapi buat apa kak? Aku tuh gak butuh ini."


"Yah tanda cinta aku sama kamu lah sayang. Jadi kalau semua aset aku atas nama kamu, mana ada perempuan model Sasha mau deketin aku. Mereka pasti mikir sejuta kali mau berurusan sama kamu."


"Terus kalau perempuan yang deketin kakak gak gila harta dan hanya mau kakak aja gimana?"


"Cih...mana ada perempuan kayak gitu sekarang."


"Iiikh ada yah, itu janda-janda konglomerat pasti mau sama kakak."


"Iya mereka yang mau, tapi aku yang gak mau! Udah akh, gak usah di perpanjang. Pokonya aku ngasih ini sama kamu sebagai tanda kalau aku tuh cinta mati sama kamu."


Tak ingin melanjutkan debat, Tia pun langsung memeluk suaminya itu.


"Makasih yah kak, udah rela miskin buat aku." Ucap Tia. Entah itu pujian atau sindiran.


"Mending kehilangan semua aset dan jatuh miskin Ti, dari pada aku harus kehilangan kamu." Balas Igo.


"Enak aja, yah gak gitu juga lah kak!!! Kalau kakak miskin terus yang nafkahin aku siapa? Masa aku yang nafkahin kakak?" Protes Tia tidak senang.


"Tenang aja, biar aku jatuh miskin, kan kamu punya mertua kaya, harta warisan papa juga gak akan habis sampe keturunan yang ke dua belas. Paling gak masih bisa lah jajanin kamu cilok sama bawa kamu jalan-jalan ke pasar malam." Jawab Igo seloroh.


"Ish..." Tia memukul lengan suaminya itu gemas.


"Apaan ini Ti." Tanya Igo saat melihat kotak yang ada di meja.

__ADS_1


__ADS_2