
"Pokoknya kamu harus bayar ganti rugi waktu kakak karena nungguin kamu!!!" Omel Irna lagi.
"Iya...iya gampang." Jawab Igo enteng.
Igo belum sadar sebentar lagi rekeningnya kena jarah dokter sekaligus wanita yang sudah ia anggap kakaknya itu.
"Bener yah."
"Iya kak. Kak Irna kayak gak tau aku aja sih." Jawab Igo lagi dengan sombongnya.
"Oke, kalau gitu kakak mau kamu bayar ganti rugi kakak dengan mobil porsche keluaran terbaru, paling lama dua minggu mobil itu harus ada, kalau gak kakak kasih tau Tia kalau waktu itu kamu yang masukkin obat perangsang di minumannya Tia tapi yang kena Ica." Ancam Irna.
Mata Igo membelalak karena kak Irna juga tau tentang kejadian itu.
"Sialan, pasti kerjaannya si kampret dan si kupret nih!!! Ini mah namanya rahasia umum!! Madam tau, kak Irna tau, kenapa gak di umumin aja pake toa sekalian biar satu negara tau!!! " Dumel Igo dalam hati.
"Ya udah kakak tunggu kedatangan kalian dirumah sakit dan kakak tunggu kedatangan mobil kakak di garasi rumah kakak dua minggu lagi.!!!" Ucap Irna mengingatkan sebelum mengakhiri panggilan telponnya.
"Adeknya oon banget sama duit, sampe-sampe ngeluarin duit puluhan juta seminggu buat mantannya, eh...dateng kakaknya pinter banget nguras rekening adek-adeknya." Gerutu Igo setelah panggilan telponnya dengan Irna berakhir.
"Ngomong-ngomong berapaan harga mobil porsche terbaru yah?" Gumam Igo.
Dengan menggunakan ponsel Tia, Igo mengecek harga mobil porsche terbaru.
Mata Igo membelalak.
"Whaaat? Hampir empat M? Gila ini mah!!!! Kalau Tia tau gue ngeluarin duit sebanyak itu, bisa-bisa di suruh tidur di parkiran gue!!" Gerutu Igo saat melihat harga mobil porsche terbaru.
"Gue harus negosiasi nih sama kak Irna." Gumam Igo.
Igo pun bangkit dari tempat tidur hendak menuju kamar mandi, ia ingin cepat-cepat pergi kerumah sakit dan melakukan negosiasi dengan Irna.
Namun baru beberapa langkah ia menjauh dari tempat tidur, ia baru teringat dengan istrinya yang masih tertidur pulas.
Igo pun memutar langkahnya dan berjalan menuju ranjang di mana sisi Tia berada.
"Enak yah kamu Ti tidur, gara-gara kamu tadi malam mancing-mancing Dragon, sekarang rekening aku yang terkuras. Coba tadi malam kamu gak nyusulin aku ke ruang kerja, gak bakalan kita bangun telat kayak gini." Protes Igo pada istrinya yang masih tertidur pulas.
"Ti..bangun.." Ucap Igo sambil mengguncang tubuh Tia pelan.
Jelas saja aksi Igo itu tidak membuahkan hasil, Tia tidak akan semudah itu bangus jika sudah pulas seperti ini. Jangankan di guncang pelan, di guncang kencang saja istri kebo nya itu tidak akan bangun.
Tak ingin membuang waktu hanya untuk membangunkan Tia, Igo pun langsung menggendong tubuh istrinya yang polos dengan tutul yang melingkar di sekitar gunung Tialaya masuk ke dalam kamar mandi.
"Uuuh..untung gue cinta sama loe Ti." Gemas Igo melihat wajah Tia yang ada dalam gendongannya sambil kakinya terus melangkah menuju bathtub.
Igo pun membaringkan Tia di dalam bathtub kemudian menyalakan air dingin ke dalam bathtub tujuannya untuk membangunkan istrinya. Karena kalau ia pakai cara bermain dengan gunung Tialaya, yang ada bukan hanya Tia yang bangun tapi sang Dragon juga pasti bangun dari bobok gantengnya.
Setelah menyalakan kran air untuk mengisi bathtub, tanpa menunggu istrinya bangun, Igo langsung berjalan menuju shower untuk memulai mandinya. Tapi mata Igo tetap melihat ke arah bathtub.
__ADS_1
"Eugh..." lenguh Tia saat merasakan sesuatu yang dingin membasahi bagian belakang tubuhnya.
Mata Tia langsung terbuka lebar saat otaknya memberi tau kalau tubuhnya sedang berada dalam genangan air.
"Banjiiir...banjiiir.." teriak Tia sambil berdiri, ia masih setengah sadar.
Melihat itu, Igo malah menertawai istrinya.
"Hahahahaha.." tawa Igo begitu lepas.
Mendengar tawa suaminya, Tia pun clingak-clinguk melihat sekitar.
"Sialan!!!" Geram Tia saat sadar kalau dirinya ada dalam kamar mandi. Dan sadar kalau ini adalah perbuatan suaminya.
"Kak Igoooo!!!!" Teriak Tia. Tia pun hendak keluar dari dalam bathtub.
Tau istrinya ingin mengeluarkan jurus cerocos kereta api, cepat-cepat Igo menahan jurus istrinya itu.
"Ngomel-ngomelnya tunda dulu, sekarang cepetan kamu mandi, kita udah di tunggu kak Irna." Ucap Igo.
Tia yang baru saja mengeluarkan satu kakinya dari bathtub, tak jadi mengeluarkan kakinya yang satu.
"Astaga. Jam berapa ini kak?"
"Gak usah tanya jam, yang jelas kak Irna udah ngomel-ngomel. Sekarang dia nunggu kita di rumah sakit. Jadi cepetan kamu mandi."
Tak banyak bicara lagi, Tia pun memulai ritual mandinya.
🎀 🎀 🎀
Kini Igo dan Tia sudah berada di depan ruang praktek Irna yang ada di rumah sakit, menunggu Irna selesai melakukan pemeriksaan pada pasien. Tadi nya Igo ingin langsung menerobos masuk, tapi baru saja Igo dan Tia di depan pintu ruangan, para emak-emak ksp sudah melayangkan aksi demo dan meminta Igo dan Tia untuk antri. Mau tidak mau, daripada kena amuk massal emak-emak ksp, Igo dan Tia pun mundur teratur.
"Harusnya kamu pake jubah dokter kamu Ti, biar kita gak usah nunggu gini." Gerutu Igo.
"Sabar kak." Ucap Tia sambil mengelus punggung suaminya.
"Gimana bisa sabar sih, aku tuh penasaran banget mau tau hasilnya. Udah yuk, kita trobos aja, ini kan rumah sakitnya papi, masa iya ada yang larang kita trobos antrian."
"Justru karena ini rumah sakitnya papi, kita harus jaga image, kalau kita bikin ulah yang malu nanti papi sama om Niko."
Igo memutar bola matanya malas.
Tapi benar juga apa yang di katakan Tia, mereka harus menjaga nama baik orang tua Tia dan orang tua Nia sebagai pemilik rumah sakit.
Satu jam lebih mereka menunggu, setelah beberapa kali mereka berkeliling rumah sakit, akhirnya tidak ada pasien di depan ruang praktek Irna.
Tanpa ba bi bu be bo, Igo langsung membuka ruang praktek kakak sahabatnya itu.
Sontak Irna dan asistennya menoleh ke arah pintu.
__ADS_1
"Kirain udah pulang." Ucap Irna dengan santainya.
"Cih.." decih Igo tak suka karena ia tau Irna sedang mengejeknya.
"Udah ayo duduk." Tia menarik tangan suaminya yang terlihat masih kesal karena harus menunggu berjam-jam.
"Kenapa muka kamu merengut gitu?" Tanya Irna saat Tia dan Igo mendekati meja kerjanya.
"Biasa lah kak. Begini kalau biasa tinggal di hutan, jadi sekalinya di suruh antri langsung emosi." Tia yang menjawab pertanyaan Irna.
"Baru gitu aja udah emosi. Kamu lihat kan tadi ibu-ibu hamil yang di depan tadi? Mereka udah bawa dua nyawa, engap, tapi gak ngedumel kayak kamu. Malu kamu!!!"
"Hemh..." jawab Igo sekenanya.
"Udah mana hasilnya." Todong Igo tak sabaran.
"Transfer dulu ganti rugi waktu kakak." Balas Irna.
"Astaga kak Irna.." geram Igo karena Irna menagih di depan Tia.
"Ganti rugi waktu?" Tanya Tia yang belum tau permasalahan.
"Emangnya suami kamu gak cerita?" Tanya Irna balik pada Tia.
Tia menggeleng.
"Udah...udah gak usah dibahas." Potong Igo.
Kemudian dengan matanya Igo memberi kode pada Irna agar tidak membahas masalah uang ganti rugi.
Irna yang paham maksud kode mata Igo, bukannya diam, malah terus melanjutkan kata-katanya.
"Harusnya kamu tuh terbuka sama istri kamu, bukannya malah di rahasiain gini. Nanti kalau istri kamu mikir kalau kamu transfer uang ke selingkuhan kamu gimana?" Ucap Irna menasehati Igo.
"Sebenarnya ada apa sih ini? Kok jadi melebar ke selingkuhan? Kakak punya selingkuhan?" Tanya Tia mencurigai suaminya.
"Sembarangan kamu, ya gak lah!!!" Bantah Igo.
"Gini, kak Irna minta di beliin mobil porsche sebagai ganti rugi waktunya yang udah terbuang karena nungguin kita." Akhirnya Igo jujur pada Tia.
Mata Tia membelalak mendengar pengakuan Igo.
"Hah? Mobil porsche? Gue aja gak pernah di beliin mobil sama kak Igo, berlian aja cuma satu set, itu pun kado pas ulangtahun pernikahan." Gumam Tia dalam hati.
"Emang harus mobil sport yah kak? Gak bisa gitu ditraktir makan somay sampai mules-mules?"
"Enak aja waktu kakak kamu tuker sama somay." Protes Irna.
"Emang berapa jam sih kakak nungguin kita, paling juga satu-dua jam." Balas Tia.
__ADS_1
Kini para wanita lah yang saling berbalas pantun. Sedangkan Igo hanya duduk manis menyaksikan macan tutulnya adu mulut dengan pawang tiga buaya amazone. Kalau ada kacang, ingin rasanya Igo duduk di pojokan sambil makan kacang dan minum soda menyaksikan adu mulut antara si bar-bar dan si tukang palak.