Pelabuhan Hati Sang Casanova

Pelabuhan Hati Sang Casanova
PHSC 97


__ADS_3

Keesokan harinya.


Jam sudah menunjukkan pukul dua siang, setelah makan siang bersama Yordan dan Ica, dua pasangan itu pun memutuskan untuk pulang ke habitat mereka masing-masing.


Dan disini lah Igo dan Tia sedang dalam perjalanan pulang ke apartemen mereka.


"Honey.." panggil Igo sambil melirik istrinya yang sejak keluar dari hotel tidak mengeluarkan suaranya. Bahkan saat makan siang dengan Ica dan Yordan, Tia juga irit sekali bicara.


"Hemh.." jawab Tia seadanya.


"Kita ke taman bermain yuk." Ajak Igo. Ia berusaha membuat istrinya terhibur.


"Males kak. Mau pulang, mau rebahan lagi." Tolak Igo.


"Yah...padahal aku lagi pengen banget ngerasain naik kora-kora, naik halilintar, naik turbo drop, ontang-anting sama pengen naik kereta gantung." Ucap Igo sengaja menyebutkan nama- nama wahana permainan yang sangat istrinya sukai. Berharap istrinya akan tergiur.


"Besok-besok aja lah kak, badan aku capek banget, pinggang aku juga sakit, kan aku lagi dateng bulan, jadi males ngapa-ngapain." Tetap saja Tia tidak tergoda dengan ajakan Igo.


Igo menghela nafasnya.


"Ya udah deh." Jawab Igo lemas.


Setelah hampir setengah jam, mobil yang Igo kendarai pun sampai juga di parkiran gedung apartemen tempat tinggalnya dengan Tia.


Setelah mobil terparkir sempurna, Igo dan Tia pun turun dari dalam mobil dan berjalan memasukki gedung apartemen lalu berjalan menuju lift yang akan membawa mereka ke lantai dimana unit apartemen mereka berada.


Masih sama seperti saat keluar dari hotel tadi, Tia masih enggan mengeluarkan suaranya. Tia baru mengeluarkan suaranya kalau hanya di tanya saja. Melihat itu, entah sudah berapa kali Igo menghela nafasnya.


Ting. Pintu lift terbuka, tanda kalau lift sudah sampai di lantai unit apartemen mereka.

__ADS_1


Mereka pun keluar dari dalam lift, Igo langsung menyambar tangan istrinya begitu Tia hendak ingin berjalan terlebih dulu kemudian menggenggam tangan sang istri dengan erat. Mereka pun berjalan menyusuri lorong dengan bergandeng tangan.


Ceklek. Igo membuka pintu unit apartemen mereka.


Mereka pun masuk ke dalam unit apartemen, begitu masuk kedalam unit apartemen, Tia langsung melepas genggaman tangan suaminya dan berjalan melewati suaminya menuju basecamp.


"Mau aku buatin teh gak? Atau aku buatin makanan?" Tanya Igo saat melihat istrinya berjalan menuju basecamp.


"Gak usah kak, aku cuma mau rebahan aja." Jawab Tia lemas. Kemudian melanjutkan kembali langkah kakinya menuju basecamp.


Igo menghela nafasnya. Hatinya sakit sekali melihat istrinya yang seperti orang tidak punya semangat hidup.


Igo pun berjalan menuju dapur, meski istrinya mengatakan tidak perlu membuatkannya teh atau makanan, tapi tetap saja Igo ingin membuatkan teh dan makanan untuk istrinya, ini adalah salah satu bentuk perhatian Igo untuk istrinya yang sedang drop.


Segelas teh hijau dan roti selai coklat pun sudah selesai Igo buat. Dengan nampan di tangannya, Igo berjalan menuju kamarnya.


Ceklek. Dengan susah payah Igo akhirnya berhasil membuka pintu basecamp.


"Honey.." panggil Igo sambil berjalan menuju ranjang.


Cepat-cepat Tia meletakkan ponselnya di bawah bantal kemudian menoleh ke arah Igo.


"Hemh."


"Nih udah aku buatin teh hijau sama roti. Ayo dimakan." Ucap Igo sambil meletakkan nampan di atas nakas.


"Kan udah aku bilang gak usah kak."


"Tadi kan kamu makannya cuma dikit, pasti sekarang kamu laper."

__ADS_1


"Aku gak laper kak, beneran."


"Laper gak laper, pokoknya aku mau kamu makan. Kalau kamu gak mau makan dan minum ini, gak jadi kita ke tempat nya kak Irna."


Tia mengernyitkan keningnya.


"Mau ngapain ke tempatnya kak Irna?" Tanya Tia sambil mendudukkan tubuhnya.


Igo juga ikut mendudukkan dirinya di tepi ranjang sebelah Tia.


"Mau konsul sayang, kamu pengen banget kan kita periksa kesuburan?" Jawab Igo sambil mengelus kepala istrinya.


"Bukannya kakak gak mau kita periksa? Kenapa sekarang tiba-tiba kakak mau periksa?" Tanya Tia terkejut terheran-heran.


"Aku tau sayang, selama ini pasti kamu memendam rasa bersalah sendirian, menerka-nerka sendiri apa penyebab kita belum punya anak. Walaupun aku selalu bilang kita berdua pasti baik-baik saja, tapi aku yakin dalam hati mu ada rasa kesal, marah, putus asa dengan keadaan ini." Jawab Igo.


"Maafin aku yah sayang, aku udah egois, ngebiarin kamu menyimpan rasa penasaran sendiri karena aku yang selalu menolak untuk periksa dan melarang kamu untuk periksa." Lanjut Igo.


"Aku terlalu takut sayang, takut kalau seandainya aku yang bermasalah. Aku takut kamu ninggalin aku dan cari laki-laki lain yang bisa kasih kamu anak. Aku juga takut kalau sampai kamu yang bermasalah, aku takut kamu jadi merasa bersalah dan minta aku cari perempuan lain yang bisa ngasih aku anak. Aku gak mau kedua hal itu terjadi Ti, makanya aku ngelarang kamu untuk periksa. Tapi ngeliat kamu yang seperti ini terus-terusan, aku jadi sadar kalau selama ini aku egois, aku gak mikirin perasaan kamu. Ngeliat kamu yang berusaha menyembunyikan kesedihan kamu, jujur aku gak tega, aku jadi merasa bersalah. Dan setelah aku pikir-pikir, gak ada salahnya kalau kita coba periksa. Sekalipun hasilnya nanti aku yang bermasalah, aku ikhlas kok kalau kamu ninggalin aku dan cari laki-laki yang bisa buat kamu jadi wanita seutuhnya." Lanjut Igo lagi dengan raut wajah sedih.


Tia yang sejak tadi hanya mendengar penjelasan suaminya itu, langsung memberi pelukan hangat pada suaminya itu.


"Gak mungkin lah kak, aku ninggalin kakak karena itu. Lagian kalau memang kakak yang bermasalah kan, kita bisa cari tau penyebabnya apa, kita bisa obatin. Justru yang aku takutin, aku yang bermasalah. Karena dari keluarganya mama kan ada yang gak bisa punya anak. Aku takut kakak ninggalin aku dan cari perempuan yang bisa kasih kakak keturunan." Balas Tia sambil mengelus punggung suaminya.


"Aku gak akan pernah ninggalin kamu cuma masalah keturunan sayang. Kamu tuh anugerah terindah di hidup ku, kalau gak ada kamu di hidupku gak mungkin aku seperti sekarang ini. Mungkin sekarang aku masih keluar masuk club dengan wanita yang berbeda-beda tiap malam, berputar-putar di samudra luas tanpa tau pelabuhan yang di tuju. Tapi sejak kamu hadir dalam hidup ku, aku tuh jadi punya tujuan hidup, target yang harus di capai dalam hidup, pelabuhan tempat aku menyandarkan keluh kesah dan bahagia. Jadi gak mungkin aku ninggalin kamu hanya karena masalah ini, kalau aku ninggalin kamu, aku gak yakin hidup aku akan sebahagia dan setenang saat bersama kamu." Ucap Igo.


Ucapan yang keluar dari mulut manis suaminya sukses membuat hati Tia meleleh, air mata bahagia dan haru pun tak bisa lagi terbendung. Dalam pelukan sang suami, Tia menangis tersedu-sedu meluapkan kesedihan, bahagia, haru, kesal yang ada dalam dadanya yang selama beberapa bulan ini selalu ia simpan sendiri.


"Udah sayang jangan nangis lagi. Sekarang kamu minum teh nya, makan rotinya, terus kamu istirahat. Nanti sore kita ke tempat prakteknya kak Irna, aku udah hubungin kak Irna tadi kalau kita mau dateng konsul ke tempat prakteknya." Ucap Igo sambil mengelus punggung istrinya.

__ADS_1


Setelah istrinya tenang, perlahan Igo menjauhkan tubuh istrinya dari pelukannya kemudian mengusap air mata yang membasahi pipi istrinya dan tak lupa menyeka ingus yang juga ikut meleleh saat istrinya menangis tadi.


__ADS_2