Pelabuhan Hati Sang Casanova

Pelabuhan Hati Sang Casanova
PHSC 98


__ADS_3

Waktu sudah menunjukkan pukul lima sore, kini Igo dan Tia sudah berada di tempat praktek kak Irna.


"Angin ribut apa yang bikin kamu mau periksa Go? Bukannya Tia bilang kamu gak mau periksa dan ngelarang Tia buat periksa?" Tanya Irna.


Igo memutar bola matanya malas mendengar sindiran wanita yang sudah ia anggap sebagai kakak nya sendiri.


"Udah sih kak gak usah nyindir. Periksa saja Tia nya." Protes Igo.


Kak Irna mengulas senyum mengejek mendengar protes dari sahabat adiknya itu, yang juga sudah ia anggap adiknya.


"Ayo Ti." Ucap Irna mengajak Tia berbaring di ranjang periksa untuk di lakukan USG dan HSG.


"Aku lagi datang bulan kak." Tia menolak ajakan Irna.


"Kamu lagi datang bulan?" Tanya Irna pada Tia.


Tia mengangguk.


"Kok kamu gak bilang Go kalau istri kamu lagi datang bulan?" Kini mata Irna beralih pada Igo.


"Kak Irna gak nanya." Jawab Igo enteng.


Irna menghela nafasnya, ingin rasanya ia menjitak kepala Igo yang songongnya tidak hilang-hilang.


"Udah hari ke berapa kamu datang bulan?" Kini Irna beralih pada Tia.


"Baru hari kedua kak."


"Terus kalian terakhir berhubungan kapan?"


Tia tak menjawab, ia menggigit bibir bawahnya karena malu mengatakan kalau mereka tidak pernah libur membuat gempa lokal di ranjang. Mereka libur hanya saat Tia sedang di jaga Sailormoon saja.


"Kemaren, sebelum resepsi, Dragon isi absen kerja dulu." Malah Igo yang menjawab dengan tidak tahu malunya.


"Bener Ti?"


Tia menganggukkan kepalanya malu-malu. Meski ia seorang dokter yang sebentar lagi juga akan menjadi dokter kandungan seperti kak Irna, tak di pungkiri kalau membahas masalah ranjang ia masih malu-malu.


"Bukannya kamu bilang kamu haid dari kemaren?"


"Iya tapi setelah resepsi kemaren." Malah Igo yang kembali menjawab.

__ADS_1


Irna menghela nafasnya.


"Kalau gitu kalian datang lagi nanti setelah tiga hari kamu selesai datang bulan. Dan selama itu kalian jangan berhubungan intim dulu." Ucap Irna tegas pada keduanya.


"Loh kok gitu kak?" Tanya Igo tak terima.


"Ya emang gitu Go.!!! Biar kita periksa kualitas dan kuantitas racunnya Dragon." Jawab Irna.


"Emang kamu gak kasih tau suami kamu Ti prosedur-prosedur tes kesuburan?" Kini Irna bertanya pada Tia.


"Gimana mau kasih tau kak, aku aja tadi kaget waktu kak Igo ngajakin ke sini. Mau ngomongin prosedurnya pun sampe lupa. Lagian nanti kalau aku bilang racunnya Dragon di biarin mengendap dua atau lima hari, kak Igo gak percaya sama aku, makanya biar kak Irna aja yang jelasin." Jawab Tia.


Irna menghela nafasnya, entah sudah berapa kali ia menghela nafasnya dalam kurun waktu kurang dari setengah jam ini.


"Ya udah mending kalian pulang sekarang, nanti kalian balik lagi tiga hari setelah selesai datang bulan. Dan ingat, itu racunnya Dragon di endapkan dulu lima hari sebelum datang kesini." Ucap Irna memberi peringatan.


"Kamu Tia, sampe rumah jelasin sama suami kamu gimana prosedur-prosedurnya, biar nanti dia gak kaget waktu pemeriksaan." Ucap Irna pada Tia.


Tia menganggukkan kepalanya paham.


Igo dan Tia pun keluar dari ruang praktek Irna, karena tidak mungkin mereka berlama-lama disitu karena masih banyak pasien ibu hamil yang ingin di periksa Irna.


Seminggu kemudian.


Sebenarnya sih bisa saja mereka ke rumah sakit, tapi Igo menolak karena ia hanya merasa nyaman kalau dirinya dan Tia di periksa oleh Irna. Karena Irna pasti bisa menjaga kerahasiaan seratus persen. Kalau dengan dokter yang lain, Igo takut ada dokter yang membocorkan hasil pemeriksaan Igo dan Tia dan berujung kehebohan di media.


"Kalian gak ngelanggar pantangan kan?" Tanya Irna to the point dengan tatapan menyelidik.


"Gak kak. Aman kok." Jawab Tia.


"Bagus. Jadi siapa nih yang mau di periksa duluan?" Tanya Irna.


"Tia dulu deh kak." Jawab Igo.


"Oke. Ayo Ti." Irna pun berdiri terlebih dahulu dan disusul Tia.


Irna pun memberikan cup penampung urine pada Tia untuk melakukan step pertama tes kesuburan, yaitu tes ovulasi.


Tia yang paham langsung mengambil cup itu dan masuk ke dalam kamar mandi yang ada di dalam ruang kerja Irna.


Tak lama Tia pun keluar dengan membawa cup yang sudah berisi air seni nya. Dan dengan sigap asisten Irna langsung mengambil cup itu dari tangan Tia.

__ADS_1


Irna pun meminta Tia untuk langsung naik ke ranjang periksa untuk pemeriksaan tahap dua, yaitu pemeriksaan dengan menggunakan alat HSG, sebelum Irna merontgen bagian dalam rahim, Irna terlebih dahulu menyuntikkan cairan ke dalam rahim dengan tujuan untuk mengetahui kalau kondisi rahim dalam keadaan baik.


Setelah melakukan serangkaian pemeriksaan dan hasil tes ovulasi juga sudah keluar, maka di nyatakan lah kalau rahim Tia dalam keadaan normal.


Sekarang giliran melakukan tes pada Igo.


Kini Igo sudah di tempatkan di ruang khusus untuk mengeluarkan racun sang Dragon. Sedangkan Tia dan Irna menunggu di luar ruangan itu.


"Gon..bangun dong Gon? Loe gak engap apa itu racun gak keluar-keluar udah lima hari. Ayo bangun Gon, biar di periksa mutu racun loe." Ucap Igo pada sang Dragon sambil mengelus-elus sang Dragon.


Tapi sudah hampir sepuluh menit di dalam ruangan itu sang Dragon tak kunjung bangun. Sepertinya Dragon ngambek karena Igo meragukan kualitas racunnya.


Tak ingin putus asa, Igo pun mengeluarkan ponselnya dan membuka situs film dewasa untuk memancing sang Dragon.


Berhasil memang, tapi belum sampai lima menit Dragon kembali layu.


Igo membuang nafasnya kasar, ia sudah putus asa.


Dengan tidak membawa hasil apa-apa, Igo pun keluar dari dalam ruangan itu.


"Mana?" Todong Irna begitu Igo keluar.


Igo pun menunjukkan cup yang Irna berikan pada Igo sebelum Igo masuk ruangan itu. Cup itu masih kosong.


"Kok kosong? Kamu telen itu racunnya Dragon?"


"Cih..kakak pikir aku sinting apa nelen racun si Dragon."


"Terus kok cup nya kosong?"


"Gimana mau diisi kak, kalau Dragonnya gak mau bangun."


"Ya di bangunin dong Go, di elus, di bujuk rayu."


"Udah, tetap gak mau bangun. Udah di pancing pake film juga gak mau."


"Cih..si Dragon, sok alim kau Dragon!!" Ejek Irna pada Dragon.


"Ya udah Ti, kamu bantu suami kamu, manatau si Dragon mau bangun kalau denger suara kamu." Ucap Irna.


"Nah itu baru bener kak. Ayo sayang." Tanpa basa-basi Igo langsung menarik tangan istrinya ke dalam ruang khusus.

__ADS_1


Tia pasrah-pasrah saja suaminya menarik tangannya masuk ke ruangan itu. Kalau bukan untuk mengetahui masalah yang menyebabkan mereka belum di karunia keturunan, mana mungkin Tia pasrah di tarik masuk ke dalam ruangan itu.


__ADS_2