Pelabuhan Hati Sang Casanova

Pelabuhan Hati Sang Casanova
PHSC 73


__ADS_3

Malam berganti pagi, pagi berganti siang, siang berganti sore, dan sore pun berganti malam.


Tak terasa setelah seharian beraktivitas penuh drama, kini Igo dan Tia sudah berada lagi dalam apartemen mereka.


"Tumben kamu masak?" Tanya Igo saat masuk ke dalam ruang makan dan melihat sang istri sedang menyajikan makan malam untuk mereka berdua.


"Cih...istrinya udah masak bukannya di support malah di bilang tumben." Protes Tia tak suka dengan kata-kata Igo.


"Bukannya gak mau support, aku cuma heran aja. Bukannya tadi kamu bilang mau ke rumah sakit? Lah kok jam segini udah di rumah?" Tanya Igo.


Karena tadi pagi Tia memang pamit keluar ingin ke rumah sakit meski cuti nya belum selesai. Bukan untuk bekerja, tapi ingin bertemu mami Saskia dan meminta resep makanan yang biasa sang mami masak untuk memikat hati papi Sakti. Setelah dari rumah sakit, Tia pun pergi ke supermarket sendiri untuk membeli macam-macam bumbu dapur dan bahan-bahan makanan yang akan ia pakai untuk memasak menu spesial untuk suaminya.


Sedangkan Igo, selesai mengantar Tia ke rumah sakit, ia pergi ke perusahaan sang papa yang di pegang oleh kak Shea karena harus membantu kak Shea menghandle meeting tiba-tiba dengan klien kakaknya dari Rusia yang jadwalnya bentrok dengan meeting dengan klien yang lainnya.


"Emangnya aku satpam apa di rumah sakit, dari pagi sampe sore disana." Jawab Tia ketus.


"Yah..biasanya kan begitu."


"Mau makan gak nih? Atau mau debat?"


"Makan lah. Kalau debatnya antara Dragon sama Empit, yah aku pilih debat." Jawab Igo sambil mengerlingkan matanya.


"Au ah gelap!!!"


Tia pun mendudukkan bokongnya di kursi meja makan dan mulai menyajikan makanan untuk dirinya.


Melihat istrinya menyajikan makanan untuk dirinya sendiri, Igo pun langsung melayangkan protesnya.


"Kok cuma nyiapin punya sendiri sih? Siapin buat aku juga dong sayang. Kalau mau ngelayanin suami tuh jangan tanggung-tanggung."


Tia memutar bola matanya malas.


Tapi tangannya malah mengambil piring dan menyendokkan nasi dan beragam lauk pauk yang sudah ia masak, kemudian menyodorkan piring yang sudah berisi nasi serta lauk pauk itu ke hadapan Igo yang duduk tepat di sampingnya.


"Nah gitu dong, itu baru namanya istri smarthot." Puji Igo sambil menoel pipi Tia.


"Cih..." Tia berdecih sambil memutar bola matanya malas mendengar pujian sang suami untuknya.


Tak ingin berdebat, Tia kembali melanjutkan menyantap makan malamnya.


"Jadi kakak udah suruh orang selidikin temen kakak itu belum?" Tanya Tia sambil mengunyah makanannya.


Igo menggeleng santai.


Melihat sang suami menggeleng, cepat-cepat Tia menelan makanannya dan mendorong makanan itu masuk ke dalam kerongkongannya dengan bantuan air minum.


Mode galak Tia on.


"Kok belum sih? Kakak tuh serius gak sih cari tau kebusukan temen kakak itu? Atau jangan-jangan kakak masih gak percaya sama aku dan lebih percaya sama temen kakak itu?" Bentak Tia emosi karena melihat raut wajah ketidakseriusan sang suami.


"Eiits...tenang-tenang, jangan emosi dulu dong. Tarik nafas dalam-dalam." Igo memberikan instruksi pada Tia.


Dan bodohnya Tia mau saja mengikuti instruksi dari suami gesreknya.


"Tahan." Lanjut Igo.


Tia pun menahan nafasnya mengikuti instruksi sang suami.


"Udah gitu aja, gak usah di buang. Sayang nafasnya kalau di buang-buang." Bisik Igo bercanda.


"Ish..." Tia langsung memukul lengan sang suami sekuat tenaga saat sadar kalau sang suami sedang mengerjai dirinya.


"Auw...sakit Ti. Kamu makan apa sih? Kuat banget tenaganya?!"


"Makan ati!!!" Jawab Tia sekaligus menyindir sang suami.

__ADS_1


"Kakak tuh yah, orang lagi serius juga malah becanda!!!" Lanjut, Tia mengomeli Igo.


"Aku tuh sibuk banget seharian ini sayang, sampe-sampe lupa sama urusan Sasha, tapi bukan berarti aku gak serius dan gak percaya sama omongan kamu."


"Cih...sibuk!!! Alasan!!"


"Astoked, suer sayang aku tuh sibuk." Ucap Igo sambil mengacungkan jari telunjuk dan jari tengahnya membentuk huruf V ke udara.


"Kalau kamu gak percaya tanya kak Shea dan bang Vier. Tadi habis meeting dengan kliennya kak Shea yang dari Rusia, aku langsung ke kantor bang Vier, bantuin dia periksa laporan." Kata Igo lagi.


"Emangnya sesibuk apa sampe-sampe gak bisa nyuruh orang cari tau kebusukan temen kakak itu?"


Igo menghela nafasnya.


"Kira-kira kalau gue bilang lupa, gue bakal di apain sama macan betinya yang lagi dateng bulan ini?" Gumam Igo dalam hatinya.


"Ya udah, ya udah, aku telpon orang suruhan aku sekarang." Jawab Igo karena tak ingin menambah masalah dengan macan betinanya.


Igo pun berdiri dari tempat duduknya dan berjalan menuju basecamp untuk mengambil ponsel miliknya kemudian balik lagi ke ruang makan dan duduk kembali di tempat duduk sebelah Tia.


Igo mencari nomor orang suruhannya yang dulu biasa ia suruh memata-matai aktivitas Tia.


Tuuut...tuuut...tuuut.


"Halo bos." Jawab seorang laki-laki dengan suara baritonnya.


"Gue ada tugas nih buat loe."


"Tugas apa nih bos?"


"Gampang kok, loe cukup awasin gerak-gerik seseorang."


"Cewek apa cowok nih bos?"


"Cewek."


Karena Igo menyalakan loudspeaker, jadi Tia bisa mendengar apa yang pria itu katakan barusan.


Dan Tia pun langsung memberikan tatapan tajam pada Igo.


Mendapat tatapan tajam dari sang istri, Igo menelan slivanya susah payah.


"Sialan nih jin tomang, pake ngomong begitu segala lagi!!! Ketauan deh!!!" Igo mengumpat si pria itu dalam hati.


"G-gue ki-kirim profilnya lewat chat." Cepat-cepat Igo mengakhiri panggilannya dengan si pria itu daripada si pria itu makin bablas ngomongnya.


"Cewek yang mana yang kakak suruh buntutin?" Tanya Tia dengan nada mengintimidasi.


"Ah..i-itu a-anu." Igo tak sanggup bicara, bisa-bisa tamat riwayatnya kalau Tia tau selama ini dirinya menyuruh orang memata-matai sang istri sebelum mereka menikah.


"Itu-anu-itu-anu!!! Yang jelas kalau ngomong?!" Bentak Tia.


Igo tak menjawab, ia hanya menundukkan kepalanya tak sanggup menatap wajah Tia yang di penuhi amarah yang membara.


"Cewek itu aku kan?" Tanya Tia lagi dengan nada mengintimidasi.


Igo menelan slivanya.


"Maaf." Lirih Igo. Hanya kata itu lah yang sanggup Igo ucapkan.


"Apa maksud kakak nyuruh orang mata-matain aku? Emangnya aku ******* di mata-matain?


"Kamu kan ******* di hati aku. Yang kapan saja bisa meledakkan hati aku." Jawab Igo ngelantur.


"Iiiikh..." Tia yang geram langsung memutar kacang tanah yang menempel di dada Igo yang masih di lapisi kaos oblong yang Igo pakai.

__ADS_1


"Aaaarrrrrgghhh..." jelas saja plintiran jari lentik Tia pada kacang tanah milik Igo, membuat Igo menjerit serasa seperti terkena sengatan listrik dari menara sutet.


KRIIING...KRIIING...KRIIING.


Bunyi nada dering panggilan masuk di ponsel Igo membuat Tia melepaskan plintirannya dari kacang tanah suaminya.


"Auw..." ringis Igo sambil mengusap dadanya sambil menatap layar ponselnya yang tergeletak di meja makan.


"Siapa nih?" Kata Igo saat melihat nomor si pemanggil yang tidak terdaftar di kontak teleponnya.


"Siapa?" Tanya Tia sambil ikut-ikutan melongok menatap layar ponsel sang suami.


"Entah."


"Ya udah angkat." Perintah Tia.


"Pake speaker!!!" Perintah Tia lagi saat Igo hendak menggeser tombol hijau di ponselnya.


"Iya bawel!!" Gerutu Igo. Tapi tetap saja ia menuruti kemauan istrinya itu. Igo pun mengaktifkan speaker agar Tia bisa ikut mendengar pembicaraannya dengan si penelpon.


"Halo."


"Hai Go, masih inget gue gak loe?!" Tanya si penelpon yang dari suaranya bisa di ketahui kalau si penelpon adalah seorang pria.


"Gimana gue mau inget kalau loe aja gak nyebutin nama!!!"


"Hahahahaha.." tawa nyaring si penelpon itu mendengar jawaban Igo.


"Ini gue Handi, inget gak loe?"


"Handi?" Gumam Igo sambil berusaha mengingat-ingat sosok Handi.


"Temen SD loe Go, sekaligus saingan loe karena kita waktu SD sama-sama suka sama Sasha." Kata si penelpon.


Mendengar kalimat terakhir si penelpon, hati Tia berang seketika.


Mata Igo membulat saat ingat dengan sosok Handi dan juga saat Handi membawa-bawa nama musuh bebuyutan Tia saat ini.


"Breng•sek nih orang!!! Pake bawa-bawa Sasha lagi.!!" Umpat Igo dalam hati.


"Ah...iya..iya gue inget. Kenapa Han?"


"Gue lagi ada di club xxx, kesini dong loe!!!" Ajak Handi.


Sontak Igo langsung menoleh ke arah Tia.


"G-gak bi-sa gue Han." Jawab Igo gugup saat melihat mata Tia yang memberi tatapan membunuh untuknya.


"Oh...ayolah Go, besok gue harus balik ke London. Gue juga udah nyuruh Frans, Mike sama Gloudy dateng kesini kok. Plisss dateng yah." Mohon Handi.


Igo kembali menatap mata Tia seolah meminta jawaban sang istri atas ajakan teman SD nya itu.


HAI...HAI...HAI...PARA READERS ISTRI SOLEHOT TERCIIIINTAAAH...


Othor mau promo novel baru nih, judulnya Oh..Dokter Lucky.


Yang udah baca Akhir Penderitaan Clarisa pasti tau dong dengan sosok dokter yang satu ini. Itu loh dokter yang "mbelok" itu, yang doyan main adu terong dibanding terong di cabein.


Yuuk para readers istri solehot singgah di kamarnya dokter Lucky dan Ayu.


Othor tunggu yah komen gesrek kalian di Oh..Dokter Lucky.



Nih..yang begini nih sampulnya.

__ADS_1


🙏🙏🙏


__ADS_2