
Sedangkan di dalam kamar, Tia terbangun karena sosok suaminya yang saat ia tidur ia peluk berubah menjadi guling.
"Kak.." panggil Tia, yang berpikir kalau suaminya itu sedang berada di dalam kamar mandi.
Perlahan Tia menurunkan kakinya dari atas tempat tidur dan berjalan menuju kamar mandi.
Ceklek. Tia membuka pintu kamar mandi.
Dan ternyata suaminya tidak ada disana.
Tia pun keluar dari basecamp dan hendak berjalan menuju dapur.
"Kak." Panggil Tia sembari berjalan menuju dapur.
Namun langkah kakinya terhenti saat melihat lampu ruang kerja suaminya menyala.
Tia mengernyitkan keningnya heran. Karena semenjak menikah dengan Igo, baru kali ini lampu ruang kerja Igo menyala di tengah malam. Jangankan menyala di tengah malam, melihat suaminya masuk ke ruangan itu saja saja bisa di hitung dengan jari.
Tia pun memutar langkahnya dan berjalan menuju ruang kerja suaminya.
Dengan sangat perlahan, Tia memutar handle pintu.
Ceklek.
Setelah berhasil membuka pintu dengan suara yang sangat pelan, perlahan Tia masuk ke dalam ruangan itu.
"Kak.." panggil Tia sambil mendekati meja kerja sang suami, dimana posisi kursi kebesaran suaminya membelakangi meja.
Tak ada suara jawaban ataupun kursi yang memutar.
Dan itu membuat Tia makin penasaran.
"Kak.." panggil Tia lagi, tapi kini ia berjalan mendekati kursi.
"Astaga kak Igo..." pekik Tia saat melihat suaminya ternyata sedang bermain game online di ponsel nya dengan headset.
Tadi saat Igo sedang bingung dengan pikirannya sendiri, Igo memutuskan bermain game online untuk menghilangkan semua pikiran-pikiran negatif yang hampir saja merusak otaknya. Karena hanya dengan cara bermain game online otak Igo kembali ke setelan pabrik.
"Kak!!!" Panggil Tia sambil menepuk pundak suaminya yang masih belum menyadari kehadirannya di belakang kursi kebesaran sang suami.
Sontak Igo pun mendongakkan kepalanya.
"Eh...sayang.." Ucap Igo kaget melihat istrinya sudah ada di belakangnya.
Cepat-cepat Igo melepas headsetnya dan memutar kursi kebesarannya.
"Kamu kok bangun?" Tanya Igo sambil meletakkan ponselnya.
"Aku nyariin kakak, aku pikir kakak kemana. Gak tau nya disini lagi main game. Kenapa gak di kamar aja sih main game nya?" Omel Tia.
"Tadi nya aku kesini bukan untuk main game sayang, aku cuma mau balikin setelan otak aku ke setelan pabrik, tapi gak bisa. Yang ada pikiran aku jadi melebar kemana-mana, ya udah mending aku main game biar bisa balikin setelan otak aku ke setelan pabrik." Jawab Igo.
__ADS_1
"Emang apalagi sih kak yang kakak pikirin? Cerita dong sama aku?" Tanya Tia sambil mendudukkan bokongnya di meja kerja suaminya.
"Banyak lah sayang, tentang masa depan rumah tangga kita kalau seandainya kita gak di karuniai anak gimana, atau kalau kita di karuniai anak gimana, terus kalau nanti kita punya anak cewek gimana, apa dia akan menerima karma karena ulah ku dan kalau kita punya anak cowok gimana, apa dia akan jadi laki-laki bejad kayak aku apa gak. Ah...pokoknya banyak lah, aku aja sampe bingung sendiri kenapa semua pikiran-pikiran itu memenuhi otak aku." Jawab Igo.
Tia menghela nafasnya.
"Harus berapa kali lagi sih kak aku bilang kalau aku akan tetap ada di samping kakak apapun yang terjadi sama kakak, jadi kakak gak usah mikir yang macem-macem lagi yah." Ucap Tia sambil mengelus rambut suaminya.
Igo hanya menganggukkan kepalanya.
"Kak.." panggil Tia sambil perlahan turun dari atas meja lalu duduk di atas pangkuan suaminya.
"Hemh.."
Tia menggigit bibir bawahnya sambil bergerak pelan di atas sang Dragon yang masih di lapisi celana boxer dan bedong.
"Ssh.." desau Igo.
"Kakak gak ngelupain sesuatu?" Tanya Tia sambil terus bergerak nakal diatas pangkuan Igo.
"Oh..maaf sayang, tadi memori di otak aku kepenuhan, jadi aku lupa dengan hal yang satu ini." Jawab Igo yang paham maksud pertanyaan istrinya.
"Apa kamu mau Dragon ngebor disini?" Tanya Igo.
Tia menganggukkan kepalanya.
"Kita kan belum pernah ngebor disini kak."
Tia menganggukkan kepalanya.
Tanpa bicara lagi Igo dan Tia pun langsung saling mengunyah bibir, tangan mereka pun sudah berkelana kesana kemari. Tangan Igo berkelana ke pegunungan Tialaya, sedangkan tangan Tia berkelana di semak belukar habitat sang Dragon.
"Ah..ough..uh..ssh..ah.." Suara racauan dan desauan dari mulut ke duanya menjadi sound pengiring aktivitas mereka di atas kursi putar kebesaran Igo.
Tangan mereka pun sudah mulai aktif membuat pasangan mereka polos.
Dan ketika keduanya sama-sama polos, dengan tidak sabarannya Tia langsung menggiring sang Dragon yang mesinnya dari tadi sudah siap mengebor masuk ke dalam lubang tambang.
"Aakh..." erang Tia sambil melengkungkan tubuhnya saat sang Dragon terbenam sempurna di dalam lubang tambang.
"Ough...Tia sayang, kenapa makin hari lubang tambang mu semakin enak di bor? Apa kamu pake susuk rapet jepit, hah?" Tanya Igo sambil membantu Tia menaik-turunkan pinggulnya.
"Ah..emh..uh..ssh..ah..kayaknya bukan lubang tambangnya deh yang makin enak tapi Dragonnya aja yang semakin kekar, apa kakak bawa Dragon ngegym ke tempatnya Mak Enrot?" Balas Tia, dia malah balik bertanya pada suaminya.
Selain suara ghoib yang keluar dari mulut mereka, aksi saling puji pun ikut mengiringi aktivitas mengguncang kursi putar. Seperti biasa, tak hanya satu gaya yang mereka peragakan. Gaya piton melilit sapi, gaya elang mencapit kobra, bahkan sampai gaya beruang buang kenโขtut pun mereka coba.
Dengan menggabungkan dua kekuatan, yakni kekuatan avatar dan kekuatan naruto, setelah hampir setengah jam mereka melakukan berbagai gaya pamungkas, kini sampai la Igo dan Tia di puncak tertinggi klimakstation.
"Aaargh." Erang keduanya saat dua cairan yang keluar dari dalam lubang tambang dan cairan yang keluar dari dalam tubuh Dragon melebur menjadi satu di dalam lubang tambang.
๐ ๐ ๐
__ADS_1
Keesokan harinya.
Jam dinding sudah menunjukkan pukul sepuluh, belum ada dari pasangan Igo dan Tia yang membuka matanya. Maklum saja, jam lima subuh tadi mereka baru selesai mengobrak-abrik seisi unit apartemen mereka.
Mulai dari ruang kerja Igo, pindah ke ruang makan kemudian pindah ke ruang televisi dan terakhir berakhir di dalam basecamp.
KRIIING...KRIIING. Nada dering panggilan masuk di ponsel Tia sanggup membangunkan Igo dari mimpi indahnya.
Dengan mata yang masih tertutup, Igo meraba nakas untuk mengambil ponsel istrinya yang berdering itu.
"Hemh.." tanpa melihat siapa yang melakukan panggilan dan belum sadar ponsel siapa yang berdering, Igo menggeser tombol hijau dan menyapa si penelpon.
"Igo? Kalian masih tidur?" Tanya seorang wanita di seberang telpon.
Dari suaranya, Igo langsung tau siapa yang menelpon.
Igo pun langsung membuka matanya lebar-lebar untuk meyakinkan dirinya kalau ini bukan lah mimpi.
"Dokter Irna." Lirih Igo.
"Kok dokter Irna? Sejak kapan nama kak Irna gue bikin jadi dokter Irna?" Gumam Igo saat melihat nama yang tertera di layar ponsel.
Igo pun membolak-balikkan ponsel yang ia pegang.
"Ini kan ponselnya Tia." Gumam Igo lagi tanpa menghiraukan suara yang masih cuap cuap di seberang sana.
"Igoooooo!!!" Teriak kak Irna di seberang sana karena Igo tak mendengarkan ocehannya dan malah asyik bergumam sendiri.
Mendengar teriakkan Irna, sontak Igo pun terkejut. Padahal ponsel tidak berada di telinga Igo tapi teriakkan Irna masih terdengar sangat keras, bagaimana kalau ponsel ia letakkan di telinganya, sudah dapat di pastikan Igo harus mendapatkan penanganan serius dari dokter THT.
Nyawa Igo yang masih nyicil terkumpul, langsung buru-buru masuk ke tubuh Igo, takut-takut kalau Irna teriak sekali lagi, nyawa Igo tak bisa balik ke tubuh Igo.
"Iya kak..iya. Gak usah teriak-teriak kali." Jawab Igo cepat-cepat takut Irna kembali berteriak.
"Dari tadi kakak telponin ke ponsel kamu kok di angkat-angkat?" Omel Irna.
"Oh...ponsel aku tinggal di ruang..." Igo terdiam sejenak, mengingat-ingat dimana ia letakkan ponselnya.
"Dimana gue taro ponsel gue yah?" Gumam Igo dalam hati. Kali ini cukup dalam hati, karena kalau sampai Irna mendengar Igo bicara sendiri, alamat mental semua nyawa Igo keluar dan tak akan masuk lagi kedalam tubuhnya.
"Cepetan kamu kesini, kakak udah nungguin kalian dari satu jam yang lalu. Kakak mau ke rumah sakit ini." Omel Irna tanpa menunggu Igo meneruskan kata-katanya.
"Astaga.!!" Igo menepuk jidatnya, baru ingat kalau hari ini hasil tes kesuburannya keluar.
"Ya udah kak bawa ke rumah sakit aja, nanti aku sama Tia ke sana." Jawab Igo.
"Dasar kamu yah!!! Kenapa gak bilang dari tadi sih!!!" Omel Irna.
"Pokoknya kamu harus bayar ganti rugi waktu kakak karena nungguin kamu!!!" Omel Irna lagi.
"Iya...iya gampang." Jawab Igo enteng.
__ADS_1
Igo belum sadar sebentar lagi rekeningnya kena jarah dokter sekaligus wanita yang sudah ia anggap kakaknya itu.