
Saat sedang sibuk menyiapkan bumbu, tiba-tiba saja tangan berkulit putih mulus dengan jari-jari lentik melingkar di pinggang Igo.
Dan itu benar-benar membuatnya Igo kaget.
"Woooy...siapa loe!!! Kuntilanak loe yah!!!" Teriak Igo tanpa melihat dengan jelas siapa pemilik tangan yang melingkar.
"Ish...masa istrinya sendiri di bilang kuntilanak!!" Geram Tia sambil memukul punggung suaminya.
Niat hati ingin mesra-mesraan ala-ala drama korea tidak jadi, karena suaminya tidak bisa diajak berkerjasama.
"Habis kamu bikin kaget. Udah tau arwah aku sebagian masih berkeliaran, kamu bikin kaget kayak gini." Balas Igo.
"Lagian ngapain sih ikut ke dapur? Udah sana ke kamar, nanti kalau udah jadi aku panggil." Lanjut Igo.
"Mau liat kakak masak. Nanti kakak tuker lagi bakso sapi sama bakso uratnya Dragon."
"Ngaco. Nanti kalau aku tuker mukanya dedek LuCa setengah mirip aku setengah mirip sapi. Enak aja tuh si sapi, aku udah capek-capek ngendapin racunnya si Dragon, eh...mukanya si sapi ikut nemplok." Jawab Igo.
Sungguh pasangan abstrak.
"Kamu duduk aja, di meja makan. Gak nyampai setengah jam selesai kok." Perintah Igo.
Tia pun menuruti perintah suaminya dan duduk di meja makan.
Setengah jam kemudian, bakso ala kadarnya hasil karya Igo pun siap di hidangkan.
"Ini Nyonya Mandala, bakso spesial pake cinta yang di buat dengan penuh kasih sayang dan pengorbanan siap untuk Nyonya Mandala santap." Ucap Igo sambil meletakkan satu mangkok bakso ke hadapan Tia.
Tia menghirup dalam-dalam aroma yang keluar dari bakso yang tersaji di hadapannya.
"Enak banget aromanya." Ucap Tia.
Tia pun mulai mengambil sendok dan garpu. Hal yang pertama ia lakukan adalah menyendokkan kuah baksonya lalu menyeruput kuah bakso itu.
Hal itu wajar memang di lakukan sebelum memakan baksonya.
Tapi bagaimana kalau Tia hanya menyendokkan kuah baksonya saja sampai habis tanpa menyentuh satupun baksonya? Sudah pasti itu bukan lah hal yang wajar. Tapi itu lah yang di lakukan Tia sekarang. Ia hanya menghabiskan kuah baksonya saja.
Dan hal itu membuat Igo terheran-heran. Awalnya, ia berpikir kalau Tia akan menghabiskan kuahnya terlebih dahulu dan memakan baksonya belakangan. Tapi ini...
"Eeeeuuggh.." Tia bersendawa sambil menyilangkan sendok dan garpu. Kalau garpu dan sendok sudah tersilang, itu tandanya Tia sudah selesai makan.
"Loh kok bakso nya gak dimakan?" Tanya Igo terheran-heran.
"Gak akh udah kenyang." Jawab Tia tanpa rasa berdosa sambil menyenderkan punggungnya di sandaran kursi makan.
"Kenyang gimana? Kalau cuma kuahnya yang kamu habisin!" Protes Igo.
"Tapi beneran aku udah kenyang."
Igo menghela nafasnya.
"Tadi kamu bilang laper, pengen makan bakso. Udah aku bikinin bakso, eh..cuma kuahnya kamu habisin. Kalau tau begitu aku cuma bikinin kuahnya doang." Lagi dan lagi Igo ngedumel pada isdungnya.
"Tadi aku memang pengen banget makan bakso, tapi tiba-tiba aja udah gak pengen. Kakak aja deh yang makan baksonya."
Igo menggaruk kepalanya yang tidak gatal karena menahan emosi.
Kemudian ia membuang nafasnya kasar sambil membawa mangkok yang berisi bakso tanpa kuah yang ada di hadapan istrinya itu.
"Mana enak makan bakso gak ada kuah nya. Bener-bener nih bini gue!!" Gerutu Igo sambil berjalan menuju dapur.
Ternyata dari belakang Tia mengikuti langkah kaki Igo yang menuju dapur.
"Kakak mau ngapain?" Tanya Tia tiba-tiba saat melihat suaminya meletakkan kuali di atas kompor.
"Eh tante kunti..tante kunti..tante kunti.." Latah Igo sangking kagetnya.
"Ish..istri sendiri di katain tante kunti!!!" Geram Tia sambil memukul punggung suaminya.
__ADS_1
"Habis kamu bikin kaget terus sih."
"Kakak mau ngapain?" Tanya Tia kembali.
"Mau bikin bakso goreng." Jawab Igo.
"Oh.."
Igo pun menuangkan minyak, setelah minyak panas baru ia menggoreng bakso yang tadi tidak di makan Tia.
Setelah bakso menguning, Igo pun mengangkat bakso dari dalam penggorengan lalu meletakkannya di atas piring. Kemudian menuangkan saos dan mayonaise diatas bakso goreng.
Melihat penampakan bakso goreng yang baru saja selesai Igo sajikan, air liur Tia langsung menggenang di dalam mulutnya.
"Apa liat-liat?" Tanya Igo yang sadar akan arti tatapan mata istrinya.
"Kayaknya enak tuh. Mau dong."
"Katanya tadi udah kenyang."
"Ish...itu kan tadi. Sekarang laper lagi." Dan tanpa berdosanya Tia langsung menyambar piring yang sedang di pegang Igo. Dan membawa piring itu ke meja makan.
Tujuh dari delapan bakso yang sudah Igo goreng, kini sudah pindah ke lambung Tia.
"Ini buat kakak, aku kenyang." Ucap Tia sambil menyodorkan piring yang berisi satu bakso lagi ke hadapan Igo. Dan tanpa bersalah, Tia berdiri dari tempat duduknya dan pergi dari ruang makan menuju kamarnya.
Melihat itu Igo sampai tidak bisa berkata apa-apalagi, ia hanya menggelengkan kepalanya tak habis pikir dengan kelakuan isdungnya itu.
Mau tak mau Igo pun harus terima, memakan satu bakso yang Tia sisakan untuknya.
🎀 🎀 🎀
Keesokan paginya.
Jam dinding sudah menunjukkan pukul enam pagi.
Sedangkan Tia sudah terbangun karena merasa mual.
"Hoeek...Hoeek." Tia memuntahkam isi perutnya. Ia mengalami morning sicknes.
Mendengar suara orang muntah-muntah, perlahan Igo mengerjapkan matanya. Ia melihat ke sebelah nya, tak ada lagi istrinya di sebelahnya.
"Hooek..hoeek.." Suara Tia yang sedang mengeluarkan isi perutnya kembali terdengar di telinga Igo.
Sontak Igo pun langsung lompat dari atas tempat tidur dan berlari menuju kamar mandi sangking paniknya.
BRAAAK. Dengan kasar Igo membuka pintu kamar mandi yang tidak Tia kunci.
"Kamu gak pa-pa?" Tanya Igo panik.
"Hoeek..Hoeek." Tia tak menjawab, dan kembali muntah-muntah.
Igo pun mendekati Tia dan memijat-mijat tengkuk istrinya.
Setelah puas mengeluarkan isi perutnya, Tia langsung membersihkan mulutnya kemudian menjatuhkan dirinya ke dalam pelukan suaminya.
"Kamu gak pa-pa?" Tanya Igo sekali lagi.
"Lemes." Jawab Tia.
Igo pun menggendong Tia dan membawa istrinya ke tempat tidur.
Setelah merebahkan Tia diatas ranjang, Igo pun keluar menuju dapur untuk membuatkan teh madu untuk istrinya.
Tak lama Igo pun masuk kembali ke basecamp dengan membawa secangkir teh madu, untuk menghangatkan perut istrinya yang mual.
"Ini minum dulu." Ucap Igo sambil menyodorkan secangkir teh madu ke hadapan istrinya.
Tia pun mengambil teh madu yang di berikan suaminya, kemudian menyesapnya perlahan karena teh madu yang masih panas.
__ADS_1
Igo meletakkan telapak tangannya ke kening Tia untuk memastikan suhu tubuh istrinya.
"Gak panas." Lirih Igo pelan tapi masih bisa di dengar oleh Tia.
"Memang gak panas kak." Balas Tia.
"Terus kenapa muntah-muntah? Apa gara-gara bakso semalam?" Igo bertanya-tanya, dan si bakso yang tak tau apa-apa di salahkan oleh Igo.
Nahasnya nasib mu bakso, sudah di gigit, di kunyah, di hancur leburkan di dalam lambung, dan sudah membuat Tia kenyang, tapi malah disalahkan oleh Igo.
"Bukan kak. Emang gini kalau masih hamil muda. Ini namanya morning sicknes."
"Terus ada obatnya gak? Aku gak tega lihat kamu kayak gini."
"Paling cuma obat mual aja, itu pun di kasih kalau morning sicknes nya parah. Tapi aku gak terlalu parah kok, malah aku nikmatin."
"Muntah-muntah sampe pucat, lemas gitu kok di nikmatin."
"Ya mau gimana lagi kak, itu udah kodrat. Udah akh gak usah bawel. Aku mau mandi dulu, mau kerja."
Mendengar istrinya ingin berangkat kerja, padahal wajahnya sudah pucat jelas saja Igo melarang keras istrinya.
"Gak boleh!" Tegas Igo.
"Kok gak boleh?"
"Kamu lagi sakit, lihat tuh muka kamu pucat banget, suami macam apa aku ngebiarin istrinya kerja dalam keadaan lemas. Pokoknya aku bilang gak boleh, yah gak boleh. TITIK.!" Tegas Igo lagi.
"Kalau perlu aku bilang sama papi kalau kamu cuti sampe kamu melahirkan." Lanjut Igo.
"Hah!!!" Tia menganga mendengar ultimatum yang di buat suaminya.
"Kakak lebay ikh!! Masa aku harus cuti sampe melahirkan. Aku gak mau! Pokoknya aku mau tetap kerja. Lagian tiga bulan lagi aku mau ujian spesialis kak, banyak yang harus aku siapin dari sekarang."
"Tapi aku gak tega sayang lihat kamu kayak gini. Nanti apa kata orang-orang tentang aku, nanti mereka bilang aku yang gak perhatian sama istri, padahal istrinya aja yang gak mau denger."
Tia menghela nafasnya.
"Aku gak pa-pa kak, aku seneng kok. Ngerasain morning sicknes, ngerasain sakit pinggang karena perut yang makin membesar, ngerasain mules saat melahirkan, ngerasain begadang karena anak kita terbangun tengah malam, itu semua udah lama aku mimpikan kak. Jadi kakak gak perlu gak tega, karena aku bahagia dengan proses ini. Dan juga sebagai dokter spesialis kandungan, itu tuh udah impian aku dari dulu, dan dalam tiga bulan impian aku itu akan terwujud, masa kakak tega sih nunda aku untuk menggapai impian aku?"
Igo diam sejenak, nampak memikirkan kata-kata istrinya.
Setelah agak lama ia berpikir, keputusan apa yang harus ia ambil untuk kebaikan istrinya, akhirnya Igo menghela nafasnya. Mau tak mau, tega tak tega, ia harus mengambil keputusan ini.
"Oke kalau memang itu buat kamu senang. Tapi ingat kalau udah capek, istirahat jangan di paksa, kalau gak sanggup tinggal lambaikan tangan ke kamera. Paham." Lagi serius-serius nya, masih sempat-sempatnya Igo bercanda.
Jelas saja guyonan Igo itu membuat Tia tertawa lepas.
"Makasih yah kak. Kakak tuh bener-bener suami pengertian." Ucap Tia sambil memeluk suaminya.
"Ya udah kamu mandi sana. Biar aku bikinin sarapan. Kamu mau sarapan apa, hah?" Tanya Igo sambil melepas pelukan istrinya.
Tia menggigit bibir bawahnya lalu mendekatkan mulutnya ke telinga sang suami.
"Mau makan bakso uratnya kakak aja." Bisik Tia genit di telinga suaminya.
TENG. Mendengar bisikan Tia, sang Dragon pun langsung berdiri tegak.
"Genit kamu sekarang yah." Igo mencubit gemas pipi istrinya.
"Ayo lah kalau gitu, bakso urat siap di olah jadi apapun." Ucap Igo sambil menggendong istrinya.
"Eeh..tunggu kak."
"Apalagi?"
"Jangan lupa APD."
Igo pun mengambil APD dari atas nakas dengan susah payah karena sambil menggendong istrinya. Setelah APD di tangannya, Igo pun melanjutkan langkah kakinya menuju kamar mandi.
__ADS_1