
Si mbak yang sedang melanjutkan menyusun bahan makanan di kulkas pun ikut berlari ke toilet saat melihat anak majikannya itu berlari ke toilet.
"Astaga non Tia.." pekik si mbak.
Si mbak pun berjalan mendekati Tia yang sedang berjongkok di closet memuntahkan isi perutnya. Lalu memijat-mijat tengkuk Tia agar Tia bisa mengeluarkan isi perutnya.
Setelah puas memuntahkan isi perutnya, Tia pun terduduk lemas di lantai.
"Non Tia sakit?" Tanya si mbak.
"Gak tau nih mbak, perut aku tuh mual banget." Jawab Tia.
"Ayo non duduk di ruang makan aja." Si mbak pun membantu Tia untuk berdiri dan memapah anak majikannya itu sampai di ruang makan.
Setelah mendudukkan Tia, si mbak pun berlari ke dapur untuk mengambil air putih hangat yang ia campur sedikit gula dan garam, tujuannya agar anak majikannya tidak lemas.
"Nih non minum dulu, biar non Tia gak lemes." Si mbak menyodorkan gelas berisi air hangat yang sudah ia racik resep kampung.
"Makasih mbak." Jawab Tia sambil mengambil gelas dari tangan si mbak. Lalu menenggak air hangat yang sudah di racik sampai habis.
"Non Tia lagi hamil yah?" Tanya si mbak to the point.
Mendengar pertanyaan si mbak, Tia tak merasa kaget, karena ia juga berpikir seperti itu. Tapi sekali lagi, ia tak mau terlalu berharap.
"Kok mbak bisa bilang gitu?" Tanya Tia pura-pura tidak menyadari kehamilannya.
"Muka non Tia walaupun kelihatan pucat, tapi aura nya cantik banget." Jawab si mbak.
"Masa sih mbak?"
"Iya non, coba deh non Tia periksa. Mau saya beliin testpack gak?" Tawar si mbak.
Mendengar saran si mbak, niat Tia untuk memeriksakan dirinya semakin kuat. Masalah hasil yang tak sesuai harapan, itu belakangan, toh selama ini dia juga selalu mendapat hasil yang tak sesuai harapan, mentalnya sudah sangat kuat untuk itu.
"Gak usah deh mbak, biar Tia langsung ke rumah sakit aja." Tolak Tia halus.
Tia pun berdiri dari tempat duduknya dan berjalan kembali ke ruang televisi. Bukan untuk melanjutkan makannya, tapi untuk mengambil ponsel dan menghubungi perawat bagian obgyn untuk mendaftarkan dirinya sebagai pasien yang ingin di periksa oleh dokter Irna.
Setelah selesai mendaftarkan dirinya lewat telpon, Tia pun pamit pada art yang ada di rumah orangtuanya itu, untuk pergi kerumah sakit. Ia tak memberitahu Igo, karena ia ingin memastikan hasilnya positif dulu baru ia akan memberitahu suaminya.
🎀 🎀 🎀
Kini Tia sudah berada di rumah sakit, tapi karena poli obgyn di buka satu jam lagi, jadi Tia memutuskan untuk menunggu diruangan para dokter koas berkumpul.
Satu jam kemudian Tia pun kembali ke poli obgyn. Tia memicingkan matanya karena melihat sosok sahabatnya, yang tak lain tak bukan adalah Ica sekaligus istri dari suhu percasanovaan suaminya sedang duduk di depan ruang praktek dokter kandungan.
"Ca.." panggil Tia sambil berjalan mendekati Ica.
Ica pun menoleh.
__ADS_1
Mata Ica membelalak saat melihat siapa yang memanggilnya.
"Tia."
"Ngapain loe disini?" Tanya Tia.
"Gue gak enak badan,gue udah periksa ke dokter penyakit dalam,tapi dokternya nyuruh gue periksa kesini."
"Loe hamil?"
Ica mengkerutkan keningnya. Ia nampak memikirkan sesuatu.
"Hamil? Emang sih gue udah tiga bulan gak dateng bulan,tapi kata kak Irna kan biasa,efek pemakaian suntik kb. Eh..tunggu,tapi gue kan udah gak suntik lagi semenjak kak Yordan mau make APD." Gumam Ica dalam hati. Semenjak Yordan terpaksa memakaikan Jeki APD saat kepulangan Yordan dari Jerman tiga bulan lalu,mulai saat itu Yordan pun mau memakaikan Jeki setiap sahabatnya itu ingin balapan,karena Yordan merasa sensasinya tak berubah sama sekali saat mau pakai APD atau tidak pakai APD. Dari pada sang istri harus suntik tiga bulan sekali,jadi Yordan memutuskan biarlah Jeki saja yang engap karena memakai APD.
Ica hanya menjawab pertanyaan Tia dengan menggedikkan bahunya.
"Nah loe sendiri ngapain disini?" Nampaknya Ica lupa kalau Tia adalah calon dokter yang sedang koas di rumah sakit yang tiga puluh persen sahamnya adalah milik papi Tia.
Baru saja Tia ingin menjawab pertanyaan Ica,tiba-tiba saja nama Tia di panggil. Tia pun langsung berjalan menuju pintu ruang kerja kak Irna. Sedangkan Ica ikut mengekori Tia dari belakang dan ikut masuk ke dalam ruang kerja kak Irna karena penasaran kenapa nama Tia juga di panggil.
"Ngapain loe ikut masuk?" Tanya Tia saat melihat Ica ada di belakangnya.
"Gue penasaran aja,kenapa nama loe di panggil."
"Kalau nama gue di panggil,berarti gue mau di periksa lah oon!!" Jawab Tia sambil menoyor kepala Ica.
"Loh ada Ica juga?" Tanya kak Irna saat melihat Ica dan Tia sudah masuk ke dalam ruangannya,karena saat Tia dan Ica masuk,kak Irna sedang berada di dalam toilet yang ada di ruangan itu.
"Kamu periksa juga atau cuma mau nemenin Tia?"
"Dua-duanya lah kak. Nemenin juga,meriksa juga."
"Kamu hamil lagi?"
Ica menggedikkan bahunya.
"Gak tau,badan aku tuh gak enak banget. Tadi aku udah periksa ke bagian penyakit dalam,tapi kata dokternya aku disuruh meriksa kesini dulu."
"Haid kamu gimana?"
"Udah tiga bulan gak haid. Tapi kata kak Irna,itu kan biasa."
"Oh. Eh..tapi kamu juga udah lama kan gak dateng suntik? Kayaknya terakhir kali kamu bilang mau suntik seminggu sebelum Yordan balik dari Jerman,tapi sampai sekarang kamu gak dateng-dateng buat suntik."
"Kak Yordan udah mau pake APD kok kak." Jawab Ica sambil menyengir.
Untung saja kak Irna dan Tia tau arti APD yang Ica maksud,karena Igo suami Tia juga mengatakan hal-hal ajaib seperti itu jika mereka sedang melakukan ritual pelemasan tubuh.
"Ya udah,sini kakak periksa." Kata kak Irna menyuruh Ica sambil menepuk ranjang yang ada disebelahnya.
__ADS_1
"Kok Ica duluan kak. Kan nama Tia yang di panggil." Protes Tia.
"Junior ngalah lah sama senior!!" Malah Ica yang menjawab sambil menepuk pundak Tia. Ica pun berdiri dari tempat duduknya dan berjalan menuju ranjang.
Tia pun menghela nafasnya mencoba bersabar dan mengalah. Untung Ica adalah sahabatnya, kalau tidak sudah di pastikan Tia akan menggeret Ica keluar ruangan.
Irna pun mulai memeriksa Ica yang mengaku-ngaku lebih senior dari Tia. Senior dalam hal balap liar tentunya.
Setelah di periksa, ternyata Ica tengah hamil. Di lihat dari bentuk janinnya, usia kandungan Ica sudah jalan tiga bulan.
Mendengar itu, Tia menepuk tangannya untuk memberikan selamat sekaligus mengejek sang sahabat. Pasalnya Tia tau,kalau Ica belum mau memberikan adik untuk Millie sebelum Millie berusia enam atau tujuh tahun. Dengan alasan selain Millie masih membutuhkan kasih sayang,Ica juga sedang menikmati mengurus butiknya. Kalau dia hamil lagi,itu tandanya ia harus kembali vakum mengurus butik sampai anaknya nanti berusia satu tahun.
"Kok bisa hamil sih? Kan kak Yordan pake APD terus?" Tanya Ica yang masih tidak percaya dengan hasil pemeriksaan kak Irna.
"Kamu kayak gak tau suami kamu aja sih Ca. Sedangkan dulu dia sampe rela ngeluarin uang dua miliar hanya untuk nukar pil kb dengan vitamin penyubur kandungan. Apalagi cuma pengaman Ca,itu mah perkara mudah untuk Yordan." Jawab Irna mengenang masa-masa ia memalak si bule kampret.
"Makanya jangan mau sama bule. Udah tau bule itu orangnya horny an. Apalagi kak Yordan sukanya grasak-grusuk,biar di lapis sampe tiga lapisan pun,pasti bakal robek juga tuh APD nya." Timpal Tia dari belakang.
"Terus gimana dong ini?" Tanya Ica cemas. Bukan cemas karena hamil, tapi cemas takut dikurung lagi dirumah oleh mommy Sarah dan Yordan karena hamil.
"Gimana apanya? Yah diterima lah Ca,di syukurin,itu namanya rejeki. Ingat di luar sana banyak perempuan yang berjuang untuk dua garis merah. Lagian kamu kan hamil sama suami kamu,jadi apa yang harus kamu takutin. Kamu juga punya mertua yang perhatiannya luar biasa ke kamu,kalau soal biaya membesarkan anak,harta suami dan mertua kamu kan gak bakal habis sampe tujuh turunan." Jawab Irna menasehati Ica.
"Tapi nanti aku gak boleh megang butik lagi kak."
"Gak mungkin lah Ca,mommy,daddy sama Yordan pikirannya gak kolot. Semua bisa di bicarain kok itu."
"Ya udah sekarang gantian sama Tia."
Sedangkan Tia, dari tempat duduknya ia hanya mendengarkan percakapan Ica dengan Irna. Ingin sekali Tia menggetok kepala Ica karena tak mensyukuri kehamilannya. Seandainya Tia ada di posisi Ica, tak usah di tanya lagi bagaimana senangnya bisa hamil dengan mudahnya. Rasa-rasanya karier dan impian sudah tidak penting lagi bagi Tia. Wajar kalau Tia berpikir seperti itu, karena setahun lebih menikah ia belum juga di karunia anak, jadi mendengar sahabatnya tidak bersyukur di anugrahi kehamilan ke dua membuat ia kesal sendiri. Tapi untungnya, Irna sudah lebih dulu menceramahi Ica.
Perawat pun membersihkan gel yang ada di perut Ica. Setelah perut Ica di bersihkan,Ica pun turun dari atas ranjang berganti dengan Tia.
"Ini pegang hasil usg anak kamu." Kak Irna memberikan hasil usg Ica sebelum Ica duduk di kursi di depan meja kerja Irna.
Setelah Ica turun dari ranjang periksa, Tia pun naik ke atas ranjang dan membaringkan tubuhnya.
"Kamu udah testpack?" Tanya Irna sebelum menuangkan gel di atas perut Tia.
Tia menggelengkan kepalanya.
"Kenapa? Takut hasilnya tak sesuai dengan tanda-tanda?" Tanya Irna yang paham dengan apa yang Tia pikirkan.
Tia menganggukkan kepalanya lagi.
Rasa deg deg seer dalam dirinya membuatnya tak sanggup mengeluarkan kata-kata.
Meski ia juga seorang dokter yang harus bisa tenang dalam menangani pasien, tapi Tia juga lah manusia biasa yang bisa merasakan rasa takut, khawatir dan cemas saat dirinya di periksa sebagai pasien.
"Gak usah grogi gitu. Santai aja. Yakinin aja kalau hasilnya sesuai dengan tanda-tanda yang kamu alami sekarang." Ucap Irna yang bisa membaca raut wajah Tia yang sedang grogi.
__ADS_1
Irna mulai menuangkan gel di atas perut Tia, kemudian meletakkan alat usg di atas perut Tia yang sudah ia beri gel, menggerak-gerakkan alat itu untuk mencari kehidupan lain di dalam rahim Tia.