Pelabuhan Hati Sang Casanova

Pelabuhan Hati Sang Casanova
PHSC 43


__ADS_3

"Kamu gak mau mandi lagi? Udah jam berapa tuh,nanti telat loh."


Kata-kata Igo menyadarkan Tia kalau hari ini dia dinas pagi.


Tia pun langsung melilitkan handuk di tubuhnya kembali kemudian bangkit dari tempat tidur dan berjalan menuju kamar mandi dengan terburu-buru.


Sangking buru-burunya ia sampai lupa mengunci pintu kamar mandi.


Cepat-cepat Tia menyalakan memutar kran shower dan mulai membersihkan tubuhnya lagi gara-gara ulah sang suami.


Ceklek. Tiba-tiba saja pintu kamar mandi terbuka saat Tia sedang asyik membersihkan tubuhnya di bawah guyuran shower. Siapa lagi pelakunya kalau bukan Igo.


Sontak Tia pun menoleh ke arah pintu sambil menutup aset berharganya.


"Sialan!!! Gue lupa ngunci pintu lagi !!" Umpat Tia pada dirinya sendiri saat mendengar pintu kamar mandi terbuka.


Mata Tia membelalak saat melihat sosok Igo yang dengan pede nya berjalan tanpa busana mendekati dirinya.


"Kak Igo mau ngapain? Keluar!!!" Usir Tia.


"Ya mau mandi lah Ti." Jawab Igo santai sambil terus berjalan mendekati Tia.


"Aku duluan yang mandi,kakak keluar dulu.!!" Usir Tia lagi.


Igo tak memperdulikan kata-kata Tia,ia malah terus berjalan mendekati Tia yang sudah mendempetkan tubuhnya ke dinding,layaknya cicak.


"Aaaaakkh..." Teriak Tia saat Igo menarik tangannya.


Kini mereka sudah sama-sama berada dibawah guyuran shower.


"Gosokin punggung aku Ti. Udah tebel banget kayaknya daki nya." Perintah Igo sambil memberikan spons pada Tia.


"Gak mau.!!! Kakak gosok sendiri aja.!!" Tolak Tia.


"Tangan aku gak nyampe sayang. Lagian apa gunanya aku punya istri kalau gosok punggung masih sendiri. Udah cepetan gosokin,makin kamu nolak,makin lama juga kita di kamar mandi."


Tia menghela nafasnya kemudian mengambil spons dari tangan Igo dan mulai menggosokkan punggung sang suami.


"Udah." Kata Tia setelah selesai menggosok punggung Igo

__ADS_1


Tia pun hendak meletakkan kembali spons ke tempatnya,tapi dengan cepat Igo menyambar spons itu.


"Gantian. Sini biar aku gosokin punggung kamu." Kata Igo sambil membalikkan tubuh Tia.


"Eh...gak usah kak. Aku bisa sendiri!!" Tolak Tia.


"Udah diem!!! Jangan kebanyakan nolak,nikmatin aja.!!"


Tia pun diam tak berkutik dan membiarkan sang suami menggosok punggungnya.


Oh...Tia ketahuilah,itu hanya modus Igo saja.


Karena lama kelamaan tangan Igo mulai merambat ke bagian pegunungan Tialaya.


"Ish kak Igo,gosoknya gak usah kedepan-depan!!" Protes Tia sambil memukul tangan Igo pelan.


"Aku kan suami bertanggung jawab sayang,tadi kan aku udah bikin kotor disini jadi biar aku juga yang bersihin." Jawab Igo modus.


"Gak usah kak,biar aku aja. Udah sana,kakak keluar duluan sana." Usir Tia sambil meronta karena tangan Igo yang makin tidak bisa diam.


Igo langsung membalikkan tubuh Tia agar mereka bisa berhadapan kemudian mendorong tubuh Tia ke dinding dan menghimpitnya.


"Kakak mau apa?" Tanya Tia takut-takut kalau Igo memintanya untuk meninabobok an Dragon,karena dibawah sana Tia sudah merasakan tendangan Dragon yang menendang perut bawahnya.


"Jangan lagi kak,nanti aku telat."


"Gak bakalan telat kalau kamu langsung ngerjain tugas kamu ini. Lagian kan ada si Cheetah,dua puluh menit nyampe kok ke rumah sakit."


"Kak..." rengek Tia agar Igo mengasihani dirinya.


Tapi sayang,Igo lebih kasihan pada Dragon yang sudah lebih dulu merengek ingin merasakan pijatan tangan Tia.


Igo menarik tangan Tia dan mengarahkannya untuk menggenggam Dragon.


Dan akhirnya pagi ini Dragon bisa menyemburkan racunnya sebanyak dua kali. Yang satu dengan bantuan himpitan pegunungan Tialaya dan yang satunya lagi dengan cara pijat plus plus.


Berbahagialah engkau Dragon,walaupun belum bisa ngebor tapi Igo tidak kehabisan akal untuk membantu mu menyemburkan racun dari dalam tubuh mu. Yang kalau di timbun terlalu lama bisa menimbulkan sakit kepala atas dan kepala bawah.


🎀 🎀 🎀

__ADS_1


Satu bulan berlalu.


Igo dan Tia juga sudah tinggal di apartemen,bukan di apartemen yang biasa ia pakai untuk mengadu kekuatan dengan para partner ranjangnya,namun dia apartemen yang baru Igo beli dekat dengan rumah sakit tempat Tia bekerja.


Sengaja Igo membeli apartemen di dekat rumah sakit,dengan tujuan agar Tia bisa cepat sampai di rumah sakit kalau ada panggilan darurat.


Igo tak membawa Tia ke apartemen lamanya,karena Igo tidak mau masa depan yang baru ia mulai bersama Tia harus berbaur dengan kenangan-kenangan masa kelam Igo di apartemen itu. Igo sempat kepikiran ingin menjual apartemen itu,tapi sayangnya niatnya masih setengah-setengah,jadi tunggu niatnya terkumpul seribu persen dulu baru ia akan menjual apartemen yang sudah memberikan banyak kenangan dan pengalaman sejak dirinya SMU.


Sudah tiga hari berturut-turut Tia dinas malam,dan tiga hari berturut-turut pun Igo harus tidur sendiri di kamarnya,walau sebenarnya ada atau tidak ada Tia,Igo juga tidur sendiri di kamarnya. Karena sejak mereka pindah ke apartemen,Tia meminta kamar terpisah dengan Igo.


Igo pun menyanggupi permintaan Tia asal Tia juga menyanggupi permintaan Igo. Apalagi permintaan Igo kalau bukan seputaran Dragon,karena setiap pagi yang awalnya hanya morning kiss,sekarang Tia juga wajib menyapa Dragon.


Walau Dragon belum bisa mengebor di lahan pertambangan pribadinya,tapi hubungan Igo dan Tia mulai membaik. Membaik dalam arti Tia tidak terlalu jutek lagi pada Igo.


Malam ini Igo pun harus terima berada di apartemen sendiri,seperti beberapa hari terakhir. Dan untuk mengusir rasa kesepiannya,Igo pun mengambil ponselnya untuk melakukan panggilan video dengan Tia.


Tiga kali Igo menghubungi Tia,tapi Tia tak menjawab panggilan videonya.


"Lagi sibuk kali yah." Gumam Igo. Ia tak mau berprasangka buruk pada sang istri karena ia sadar dengan siapa ia menikah dan tau bagaimana sistem kerja profesi istrinya.


Lima belas menit kemudian Igo kembali melakukan panggilan video ke nomor Tia.


Akhirnya Tia menjawab panggilan video Igo.


"Kamu lagi sibuk? Dari tadi aku telponin gak di jawab-jawab." Tanya Igo setelah melihat wajah Tia terpampang nyata memenuhi layar ponselnya.


"Iya,barusan ada yang melahirkan."


"Normal?"


Tia mengangguk.


"Kakak lagi apa? Kok belum tidur?"


"Baru jam sebelas. Ben•cong aja belum pada keluar,masih pada briefing jam segini." Jawab Igo tengil.


Tia memutar bola matanya malas. Untungnya dua bulan menikah dengan Igo,Tia sudah menyetok banyak kesabaran untuk menghadapi kata-kata dan kelakuan tengil sang suami. Walau kadang-kadang ingin sekali Tia menjitak jidat suaminya kalau ketengilan Igo di luar batas.


"Emang harus nunggu ben•cong keluar dulu baru tidur? Udah sana tidur,ntar kena vertigo loh."

__ADS_1


"Biar aja kena vertigo,kan ada kamu yang ngerawat aku nanti." Jawab Igo sambil menyengir kuda.


Hampir setengah jam mereka melakukan panggilan video dengan percakapan unfaedah. Dan selama itu pula,darah tinggi Tia naik mendengar ocehan-ocehan Igo yang sangat tengil dan condong ke mesum.


__ADS_2