Pelabuhan Hati Sang Casanova

Pelabuhan Hati Sang Casanova
PHSC 105


__ADS_3

Kedua matanya terbuka sempurna saat hasil tes menyatakan kalau dirinya juga sehat.


"Aku sehat? Jadi aku gak bermasalah?" Tanya Igo pada Irna.


"Iya. Kamu sama Tia sama-sama sehat." Jawab Irna.


Igo pun menoleh ke arah Tia.


"Kok muka kamu tadi tegang gitu?" Tanya Igo pada istrinya.


"Hehe..tadi waktu aku mau buka itu, aku sambil nahan kentut kak." Jawab Tia tanpa berdosa.


"Cih.. gara-gara ekspresi muka kamu, jantung aku kayak lagi main roller coaster tau gak!!" Gerutu Igo.


"Terus kenapa sampai saat ini aku sama Tia belum punya anak?" Kini Igo bertanya pada Irna.


"Anak itu kan Tuhan yang kasih Go. Ya mungkin Tuhan masih pengen ngeliat kalian berduaan dulu dari atas sana." Jawab Irna diplomatis.


"Kalian gak usah patah semangat, tetap berusaha dan berdoa dan selalu berpikir positif. Dan satu lagi, mulai sekarang kalian kurangi aktifitas ranjang kalian. Kalau bisa racunnya Dragon kamu endapin paling lama lima hari, tapi kalau kamu gak tahan tiga hari aja cukup." Irna memberi nasehat pada Igo.


"Aku udah pernah bilang kayak gitu kak, tapi kak Igo nya aja yang gak mau denger."


"Ya..iya lah, tadi kak Irna bilang tetap berusaha. Lah sekarang di suruh di tahan sampe tiga-lima hari. Gimana sih?!" Gerutu Igo.


"Bener-bener kamu tuh yah!!! Yang namanya usaha kan bukan cuma soal ritualnya aja Go,.tapi membuat racun kualitas premium dan menemukan tekhnik dan gaya yang tepat untuk menyemburkan racun juga termasuk usaha. Percuma aja kalau tiap hari kamu ritual tapi tekhniknya salah, gayanya salah, racun yang kamu sembur juga racun abal-abal, gak ada artinya. Cuma bikin encok pinggang sama bikin kopong dengkul doang." Omel Irna.


"Paham gak kamu?!" Lanjut Irna.


Igo hanya manggut-manggut tak berani lagi membantah.


"Kalau kamu pengen banget punya anak, mulai sekarang kamu dengerin istri kamu, paham kamu!!"


"Iya kak, paham kok." Jawab Igo.


Irna menggeleng-gelengkan kepalanya, tak habis pikir dengan adiknya yang satu ini.


Irna pun mengambil secarik kertas dan menuliskan vitamin untuk Tia konsumsi.


"Ini vitamin buat kamu. Kamu juga harus tegas sama suami kamu kalau kamu memang pengen banget punya anak. Basicnya kalian itu sama-sama sehat. Tapi karena racunnya Dragon tiap hari nyembur, jadi kualitasnya gak bagus. Buktinya, hasil racun yang di endapkan lima hari kualitas premium. Ngerti kamu kan Ti?" Gantian, kini Irna menasehati Tia.


"Ia kak ngerti."


"Ya udah kalian boleh keluar. Dan inget pesan kakak tadi, oke."


"Oke kak." Jawab Tia dan Igo kompak seperti anak SD yang habis kena setrap gurunya di depan kelas karena tidak mengerjakan PR.


Tia dan Igo pun keluar dari ruangan Irna. Dan sebelum pulang, Tia menebus vitamin yang di resepkan Irna untuk dirinya. Tak lupa juga Tia membeli susu untuk program hamil.


🎀 🎀 🎀


Tiga hari berlalu sejak hasil tes kesuburan Igo, sesuai dengan nasehat Irna yang menganjurkan pasangan senggol nancep ini melakukan pengeboran minimal setiap tiga hari, Igo dan Tia pun sudah tiga hari tidak melakukan pengeboran, menuruti anjuran si tukang palak dua buaya amazone, maklum karena buaya amazone yang satu lagi kan adiknya jadi si tukang palak tidak tega memalak adiknya sendiri.


Tia juga sudah mulai bekerja kembali sedangkan Igo seperti biasa dengan sukarela menjadi tukang antar jemput istrinya, setelah mengantar istrinya bekerja baru lah Igo pergi ke kantor dan disaat jam pulang Tia baru lah Igo menjemput dan pastinya ikut pulang dengan istrinya dan tak kembali lagi ke kantor.


"Dokter Tia." Panggil salah satu dokter wanita yang masih sama-sama koas dengan Tia.


Tia pun menoleh ke arah sumber suara.

__ADS_1


"Ya dokter Fina. Kenapa?"


"Dok, bisa minta tolong gak?"


"Tolong apa dok?"


"Besok kan saya ada acara keluarga, bisa gak besok kita tukar jadwal dinas? Saya dinas pagi, dokter Tia dinas malam."


"Ta-.." baru saja Tia ingin menolak, dokter Fina sudah terlebih dahulu memotong kata-kata Tia.


"Cuma satu malam kok dok. Please." Mohon dokter Fina.


Tia menghela nafasnya.


"Saya usahain yah dok, nanti malam saya kabarin bisa apa gak yah. Dokter Fina kan tau kalau suami saya ngelarang keras saya dinas malam. Tapi kalau untuk satu malam aja, nanti saya bicarakan sama suami saya, mudah-mudahan suami saya ngizinin yah dok." Jawab Tia yang tak berani menyanggupi permohonan dokter Fina.


"Iya dok, saya tunggu jawabannya nanti malam." Balas dokter Fina.


Kedua dokter ini pun melanjutkan langkah kaki mereka ke arah yang berbeda.


Jam sudah menunjukkan pukul enam sore, Tia baru selesai bekerja, lebih lama dua jam dari waktu biasanya, karena ada pasien yang harus operasi mendadak karena anak terlilit tali pusat.


Igo juga sudah menunggu sang istri di depan ruangan para dokter koas sudah dua jam lebih.


"Cie dokter Tia, yang di tungguin sama pangeran tampan, pangerannya setia banget lagi nungguin." Goda perawat yang jalan bersama dengan Tia saat melihat Igo duduk di depan ruangannya dengan gaya cool sambil memainkan ponsel.


"Cih..ngapain sih sok pasang gaya cool begitu!!! Ngeselin banget!! Biar di kira lajang apa!!" Dumel Tia dalam hati karena melihat suaminya bergaya cool dan terlihat sangat tampan.


Nampaknya Tia tidak rela ketampanan dan ke cool an suaminya di lihat wanita lain.


"Ekhem.." Tia berdehem saat sudah sampai tepat di hadapan Igo.


"Udah selesai?" Tanya Igo.


"Mm." Jawab Tia padat, singkat dan jelas.


"Ya udah ayo pulang." Ajak Igo sambil berdiri dari tempat duduknya.


"Tunggu, aku ambil tas dulu." Tia pun masuk ke dalam ruangannya untuk mengambil tas. Tak lama Tia pun keluar.


"Ayo." Ajak Tia dan langsung menyambar tangan suaminya.


Dan aksi Tia itu sukses membuat Igo terheran-heran. Pasalnya istrinya itu paling tidak mau di gandeng kalau di lingkungan rumah sakit, apalagi ia kerumah sakit dengan status sebagai dokter bukan sebagai pasien atau pengunjung rumah sakit. Meski bingung dan heran, tapi Igo juga tidak menepis tangan istrinya, malahan ia senang kalau istrinya mau menunjukkan kemesraan mereka di depan umum.


Sedangkan dari sisi Tia, dia membuang semua ego nya yang setinggi nirwana hanya untuk menginformasikan pada seisi rumah sakit kalau dirinya lah pawang buaya amazone yang ada disebelahnya.


"Sore dokter Tia." Begitulah sapaan yang di lontarkan perawat maupun sesama dokter disaat mereka melintas, tak lupa mereka memberikan senyum manis semanis madu tetangga. Yang Tia yakini senyum manis itu di tujukan untuk suaminya.


"Ish...bisa gak sih kak, gak usah tebar pesona gitu!!" Omel Tia saat melihat suaminya selalu membalas senyuman para perawat maupun dokter wanita yang menyapa dan memberi senyum pada mereka.


"Siapa yang tebar pesona?!" Jawab Igo yang merasa dirinya tidak sedang tebar pesona, ia hanya bersikap ramah pada orang yang menyapa dirinya dan sang istri.


"Itu kakak ngapain senyum-senyum."


"Ya kan orang nyapa kita juga senyum Ti, masa mau di balas muka jutek sih."


"Ya gak di balas jutek tapi gak usah ngobral senyum juga. Kan bisa cuma ngangguk."

__ADS_1


"Kamu cemburu?" Tanya Igo dengan tatapan menyelidik.


"Gak!!!" Jawab Tia ketus.


"Heleh..bilang aja cemburu." Goda Igo sambil menoel pipi Tia.


"Gak usah cemburu sayang, aku kan cuma ngasih senyum sama mereka bukan ngasih hati. Hati aku kan udah buat kamu semua." Gombal Igo.


"Apaan sih, udah di bilang gak cemburu!!! Udah akh, ayo cepetan jalannya, jangan kayak ulat keket." Dumel Tia. Dia malu mengakui kalau dirinya cemburu.


Mereka pun berjalan dalam diam menuju parkiran.


Kini mereka sudah berada dalam mobil menuju apartemen mereka, tak lupa di pertengahan jalan mereka membeli makanan jadi untuk makan malam mereka dan mereka akan memakannya di apartemen nanti.


TRIING. Bunyi nada dering notifikasi pesan masuk di ponsel Tia.


Tia pun mengambil ponselnya dari dalam tas dan membuka pesan masuk itu. Dan ternyata pesan dari dokter Fina yang minta tukaran dinas besok. Dokter Fina mengingatkan Tia agar Tia tak lupa memberi kabar padanya bisa atau tidaknya Tia bertukar dinas dengannya.


"Astaga. Kok gue sampe lupa yah." Gumam Tia dalam hati.


"Gimana ngomongnya ini sama kak Igo." Gumamnya lagi masih di dalam hati.


Tia pun berpikir keras cara untuk mendapatkan izin suaminya.


Tak lama Tia tersenyum penuh arti saat menemukan cara yang ampuh untuk mendapat izin dari suaminya itu.


Sangking seriusnya memikirkan cara jitu untuk mendapat izin suaminya, Tia sampai tak menyadari kalau mobil yang suaminya kendarai sudah terparkir mulus di parkiran gedung apartemen.


"Kenapa kok clingak- clinguk? Kayak si Dragon yang di keluarin paksa dari lubang tambang aja." Tanya Igo.


"Hish.." respon Tia tak suka karena suaminya membandingkan dirinya dengan si Dragon.


Mereka pun turun dari dalam mobil dan jalan beriringan masuk ke dalam gedung apartemen. Masuk ke dalam lift yang akan membawa mereka ke lantai dimana unit apartemen mereka berada.


Kini mereka sudah berada di dalam unit apartemen mereka.


Tia langsung berjalan ke dapur untuk memindahkan makanan yang mereka beli ke dalam piring dan menyajikannya di meja makan. Sedangkan Igo langsung masuk ke dalam basecamp.


Setelah selesai menyajikan makanan di meja makan, Tia pun menyusul suaminya ke dalam basecamp. Misi mendapatkan izin dinas malam satu malam segera di laksanakan.


"Kak, mau makan dulu apa mandi dulu?" Tanya Tia sesampainya di basecamp.


"Mandi dulu deh." Jawab Igo.


"Oh..ya udah ayo." Ajak Tia.


Mendengar ajakan istrinya Igo sampai ternganga.


"Kesambet apaan nih bini gue, tumben ngajak mandi bareng." Gumam Igo dalam hati.


"Kok bengong kak? Ayo kita mandi dulu." Ajak Tia sekali lagi sambil menarik tangan suaminya.


"Ada yang gak beres nih." Gumam Igo dalam hatinya lagi karena merasa curiga dengan sikap istrinya yang tiba-tiba lembut.


Nampaknya Igo sudah mulai hapal dengan kebiasaan istrinya itu, jika tiba-tiba lembut Igo harus waspada level empat.


"Mmm..honey, kamu duluan aja deh yang mandi, aku baru inget ada email yang harus aku kirim ke kak Shea." Tolak Igo halus. Seandainya istrinya itu manusia berotak normal, tak perlu pikir panjang, Igo pasti sudah menggendong istrinya masuk ke dalam kamar mandi. Tapi berhubung otak istrinya di atas otak normal manusia biasa, membuat Igo harus berpikir panjang dengan ajakan istrinya.

__ADS_1


"Kakak gak mau mandi bareng aku?" Tanya Tia dengan nada sedikit kesal namun masih lembut.


"Bukan gak mau honey, tapi aku harus ngirim email ke kak Shea, nanti kalau aku mandi duluan, takutnya nanti kelupaan, keburu lemes duluan. Jadi kamu mandi aja duluan yah, aku ke ruang kerja dulu." Dengan gaya sok di kejar deadline yang sangat meyakinkan, cepat-cepat Igo keluar dari dalam basecamp sebelum istrinya itu mengeluarkan jurus melemahkan iman.


__ADS_2