Pelabuhan Hati Sang Casanova

Pelabuhan Hati Sang Casanova
PHSC 78


__ADS_3

"Ti, tunggu dong." Teriak Igo saat Tia berada jauh di depannya.


Kini mereka sudah berada di area parkiran club.


Tia tidak menjawab, mata asyik clingak-clinguk mencari motor yang tadi ia pakai.


"Nah..itu dia." Ucap Tia saat berhasil menemukan motor pinjamannya.


Tia menoleh kebelakang. Di situlah Tia baru sadar kalau sang suami masih berada jauh di belakangnya.


"Cepetan dong kak jalannya!!!" Teriak Tia tak sabar melihat cara jalan suaminya yang mirip seperti siput bunting.


Setelah Igo hampir dekat dengannya, Tia menghampiri Igo dan langsung menyeret tangan suaminya sampai ke tempat motor terparkir.


"Motor siapa ini?" Tanya Igo.


"Motornya satpam apartemen. Aku pinjem tadi buat ngejar kakak kesini." Jawab Tia sambil memakai helm dan naik ke atas motor.


"Udah ayo naik."


"Kamu bisa bawa motor?!" Tanya Igo yang kurang yakin dengan skill istrinya membawa motor.


"Ya bisa lah, kalau gak bisa, gak mungkin aku bisa sampe disini, nyelametin kakak dari ratu semut rangrang!!!" Sindir Tia.


Igo menaikkan sudut bibirnya mendapat sindiran mematikan dari Tia.


"Sini aku aja yang bawa."


"Gak, aku aja. Kakak lagi di bawah pengaruh obat, bahaya!!! Udah cepetan naik!!" Perintah Tia lagi.


Mau tidak mau Igo pun naik ke atas motor klx.


Tia pun memutar kunci dan menyalakan stater. Tanpa menunggu mesin panas, Tia langsung tancap gas keluar dari parkiran club.


Tubuh Igo semakin horni. Entah efek horni atau memang Igo yang sedang mencari kesempatan dalam kesempitan, tangan Igo nakal Igo sedang berusaha menjamah pegunungan Tialaya.


"Ish...lepasin!!! Jangan pegang disitu!!!" Teriak Tia sambil memukul tangan suaminya saat kedua tangan nakal itu berhasil sampai di pegunungan Tialaya.


Bukannya melepas tangannya dari area pegunungan, tangan Igo malah makin bermain di area gunung.


"Gak tahan Ti." Ucap Igo di telinga Tia sambil tangannya terus bermain di pegunungan kembar.


CIIIIIT. Tia langsung rem mendadak karena Igo tak menggubris peringatan yang ia berikan.


Tia langsung melepas paksa tangan Igo kemudian memelintir kacang tanah yang ada di dada Igo.


"Auw....." jerit kesakitan Igo.


"Makan tuh horni!!!! Siapa suruh gak mau nurut sama istri!!!! Sukur-sukur aku bisa nyelametin kakak, kalau gak gimana!!! Udah diem, tahan horni nya, jangan pegang-pegang di sembarang tempat!!!! Kalau kakak gak mau denger, aku balik lagi ke club, aku masukin kakak ke room bareng si Roy dan ratu semut rangrang!!!" Ancam Tia.

__ADS_1


Setelah memberi peringatan pada Igo, Tia kembali mengendarai motornya menuju apartemen.


Igo tak berkutik. Ia diam saja dan mau tidak mau ia hanya memeluk pinggang Tia sepanjang perjalanan, dari pada harus di masukkan ke dalam room enam.


🎀 🎀 🎀


Sedangkan di room enam tempat Roy dan Sasha di kurung. Ada dua orang yang sedang mati-matian menahan hasrat. Apalagi Roy, karena Tia memasukkan semua sisa obat perangsang ke dalam minuman yang Roy tenggak dengan paksaan.


"Buka....buka....buka...!!!! Tolong bukaaa!!!" Teriak Sasha sambil menggedor-gedor pintu room.


"Percuma be•go!!! Loe teriak gimana pun, gak bakalan ada yang denger!!!" Roy mengumpat kebodohan Sasha.


"Aaarghh.!!!" Teriak Sasha sambil menjambak rambutnya frustasi.


Sadar tidak ada harapan bisa keluar dari room enam, Sasha terduduk pasrah di depan pintu room. Tanpa Sasha sadari kalau gaya duduk pasrahnya itu memperlihatkan jelas apem jamurannya, karena Sasha memang sengaja tidak membungkus apem jamurannya, karena menuruti perintah Roy.


Roy menelan slivanya susah payah saat matanya di sajikan dengan pemandangan apem milik Sasha, meski jamuran karena lama tidak di pake, tapi di mata Roy, apem milik Sasha itu sangat lah menggoda, di tambah lagi efek obat perangsang sudah mulai beraksi dalam tubuhnya, membuat mata si Otong yang sedang kelaparan langsung berbinar-binar melihat penampakan apem milik Sasha.


Roy yang hasratnya sedang tinggi-tingginya, memasukkan tangannya ke dalam celana sambil matanya melihat ke arah apem milik Sasha.


"Ah...uh.." suara laknat keluar dari mulut Roy sambil tangannya memijat-mijat si Otong.


Sasha yang mendengar suara laknat yang keluar dari mulut Roy, sontak melihat Roy yang ada di depannya.


Cepat-cepat Sasha menutup pahanya saat sadar kalau mata Roy sedang menatap apemnya penuh gairah.


"Kurang ajar loe yah Roy!!!" Umpat Sasha.


Sedangkan Sasha berdiri dari lantai dan berjalan menuju sofa. Dengan susah payah Sasha mencoba berdiri karena kedua kakinya lemas dan gemetaran menahan efek obat perangsang.


"Ah...panas..." racau Sasha sambil membuang tubuhnya di atas sofa.


Sasha menggulung rambutnya ke atas, membuat leher jenjangnya terekspose.


Tangan Sasha meraba leher dan dada nya karena merasakan sesuatu yang membuncah minta segera di salurkan.


Nafas Roy makin memburu melihat aksi Sasha yang sedang menggeliat-geliat di atas sofa.


"Oh....shiiit!!!!" Umpat Roy karena dirinya semakin menegang, apalagi Sasha kembali membuka pahanya.


Tak tahan dan tak ingin menyalurkan hasratnya sendiri, Roy pun berdiri dari duduknya di atas lantai dan berjalan menghampiri Sasha yang sedang menggeliat di atas sofa.


"Sha..." panggil Roy dengan suara berat dan nafas yang memburu, matanya juga sudah sangat sayu.


Sasha mendongakkan wajahnya untuk melihat Roy yang sudah berdiri di hadapannya. Wajahnya juga sudah sama dengan Roy, merah dan sayu diselimuti hasrat.


"Mau apa loe?! Jangan mendekat!!!" Bentak Sasha saat Roy berusaha mendekatinya.


"Ayo lah Sha, gak usah munafik. Kita lagi sama-sama horni, dari pada loe tersiksa, mending kita saling tolong." Ucap Roy. Entah sedang bernegosiasi atau sedang merayu, ah...entahlah.

__ADS_1


Sasha membuang wajahnya tak ingin melihat wajah Roy, karena melihat wajah Roy hasrat Sasha semakin menjadi-jadi.


Roy berjongkok di depan Sasha, dengan tangan yang masih terikat, Roy mengelus paha Sasha perlahan.


Cepat-cepat Sasha menangkap tangan Roy sebelum tangan Roy sampai di apemnya.


"Ayo lah Sha, gak usah di tahan." Mohon Roy.


Karena hasrat yang sudah tidak bisa lagi dibendung, Sasha pun pasrah, perlahan ia melepaskan tangannya dari tangan Roy.


Setelah tangan Sasha tak lagi menahan tangannya, Roy kembali melanjutkan aksinya. Tangan Roy terus menanjak naik menuju apem milik Sasha.


Sasha yang terbawa suasana, makin melebarkan pahanya agar Roy mudah menggapai apemnya.


"Aakh..." Sasha mengerang saat satu jari Roy menusuk ke dalam apem. Tubuhnya menggelinjang, bola matanya juga hanya kelihatan yang putih saja. Baru kena tusuk jari saja rasanya sudah luar biasa, apalagi kalau pisang kepok Roy menancap didalam apem. Rasanya pasti sangat enak. Apem rasa pisang kepok.


Mendengar suara Sasha, Roy pun ikut menggila. Ia makin mengobok-obok apem Sasha dengan jarinya. Dari lembut dan pelan kemudian kasar dan cepat lalu kembali lagi ke lembut dan pelan. Layaknya sedang main layangan, tarik ulur-tarik ulur, begitulah cara Roy mengobok-obok si Apem.


"Ah...Roy...sekarang!!! Aku udah gak tahan." Racau Sasha saat tubuhnya menginginkan permainan yang lebih dari sekedar mengobok-obok.


"I'm coming baby." Jawab Roy. Ia pun berdiri dan berusaha membuka celananya, namun karena tangannya terikat membuat dirinya kesulitan membuka celana.


Melihat partner one night stand nya kesusahan membuka celana, Sasha yang sudah tidak sabar, ikut membantu Roy membuka celananya.


Setelah celana Roy berhasil terlepas, Sasha langsung mendudukkan Roy di sofa kemudian ia naik ke atas pangkuan Roy.


"Loe mau mimpin?" Tanya Roy.


Sasha mengangguk. Dan mulai memberikan sengatan-sengatan di leher, dada dan titik-titik sensitive Roy.


Roy pun menaikkan tangannya ke atas kepala untuk mempermudah Sasha memberikan sengatan di titik sensitifnya.


Racauan dan erangan keluar dari mulut Roy.


"Sekarang Sha." Racau Roy saat pisang kepoknya sudah siap di timpa apem.


Sama dengan Roy yang pisang kepoknya sudah minta di timpa apem, apem Sasha pun sudah cenat-cenut minta di obok-obok pisang kepok.


Tangan Sasha pun mengarahkan pisang kepok Roy untuk menembus apem Sasha.


"Aaargh..." racau Sasha maupun Roy saat pisang kepok berhasil menembus apem yang sudah tidak padat lagi.


Meski apem Sasha sudah tidak padat lagi, tapi bagi Roy rasa apem milik Sasha masih sangat enak dan legit, ah..mungkin karena apem sudah lama tidak kena aduk pisang kepok, makanya rasanya masih enak.


Racauan dan erangan keduanya makin menjadi-jadi saat Sasha bekerja mengaduk pisang kepok di dalam apem.


"Faster Sha..." racau Roy saat merasakan pisang kepoknya ingin menyemburkan bubur pisang. Pisang ajaib, bisa mengeluarkan bubur pisang jika diaduk dalam apem.


Sasha pun mempercepat cara pemixerannya. Dan...

__ADS_1


"Aaaargh.." erangan panjang keluar dari mulut keduanya saat berhasil sampai di puncak kenikmatan.


Dan akhirnya, bubur pisang bercampur sari-sari apem meluber membasahi paha keduanya.


__ADS_2