
Igo dan Tia kini sudah berada dalam mobil dan baru ingin keluar dari area rumah sakit.
"Kamu kenapa senyam-senyum sendiri?" Tanya Igo heran melihat istrinya yang sejak keluar dari kamar rawat Ica senyam-senyum sendiri.
"Gak pa-pa cuma berasa lega aja." Jawab Tia ambigu.
"Lega? Kamu baru buang kentut?" Tanya Igo sambil menutup hidungnya.
"Sembarangan." Protes Tia sambil memukul lengan Igo.
"Aku tuh lega kak karena Nia sama Ica akhirnya tau tentang pernikahan kita." Kata Tia lagi.
"Oh..kirain." respon Igo.
"Terus mereka gak marah karena kamu nyembunyiin pernikahan kita ke mereka?" Tanya Igo.
Tia menggeleng.
"Tapi mereka nuntut kita harus bikin resepsi dan kalau kita bikin resepsi, mereka yang harus nentuin konsepnya." Jawab Tia.
"Kok perasaan gue gak enak yah kalau Nia sama Ica yang nentuin konsep." Gumam Igo dalam hati.
KRIIIING.. Nada dering di ponsel Igo membuyarkan gumamannya.
"Ti, tolong ambilin dong ponselnya." Pinta Igo pada Tia, karena ponselnya kini ada di dalam saku celananya dan ia tidak bisa menepikan mobilnya karena tidak menemukan tepian jalan yang kosong.
Tia pun mengambil ponsel itu dari dalam kantong celana suaminya.
"Makanya lain kali ponselnya taro di laci dulu sebelum mengendarai." Omel Tia sambil merogoh celana suaminya.
Setelah susah payah, akhirnya ponsel Igo pun berada di tangan Tia.
"Siapa?" Tanya Igo.
"Mr. X." Jawab Tia, karena memang itu lah yang tertera di layar ponsel suaminya.
"Ya udah jawab. Terus pakein speaker." Pinta Igo.
Tia pun melakukan apa yang diminta suaminya. Ia menggeser tombol hijau kemudian mengaktifkan speakernya.
"Halo." Jawab Igo.
"Halo bos, bos dimana? Udah berjam-jam nungguin kok gak dateng-dateng." Omel orang yang Igo suruh membawa Sasha dan Roy ke gudang.
Dimana lagi coba di temukan bawahan ngomel-ngomel sama atasan.
"Astaga...lupa gue!!!" Pekik Igo. Ia baru sadar kalau ia sudah berjanji akan datang satu jam lagi setelah orang suruhannya itu mengirim hasil rekaman cctv club. Dan ini sudah lewat tiga jam.
__ADS_1
"Ya udah..gue kesana sekarang. Tapi tuh para kadal udah loe kasih makan belum?"
"Makan malam yah belum bos."
"Kalau makan malam, biar aja mereka saling makan nanti. Ya udah saya kesana sekarang."
Igo pun mengakhiri panggilan telepon orang suruhannya itu.
"Siapa kak?" Tanya Tia penasaran.
"Anak buah sayang."
"Oh..terus kalian tadi bahas apa? Kok bawa-bawa kadal segala?"
"Ada deh. Kamu mau ikut gak, aku mau liat kadal nya nih. Mana tau nanti setelah kamu lihat kadalnya, kamu jadi punya niat mau ngawinin mereka lagi."
"Maksudnya?" Tanya Tia yang tidak mengerti maksud kata-kata Igo.
"Gak usah banyak tanya, sekarang mau ikut apa gak? Kalau gak mau ikut, aku turunin nih di jalan, biar kamu pulang naik taksi aja." Ancam Igo tapi hanya bercanda.
Mata Tia membelalak saat mendengar ancaman suaminya.
"Becanda...becanda, gitu aja langsung melotot." Sebelum Tia menyeruduknya, cepat-cepat Igo mengatakan kalau itu hanya candaan.
Tia pun mengecilkan matanya dan kembali duduk dengan tenang.
"Emang kita mau kemana sih?"
Tia memutar bola matanya malas. Dari pada ia melihat wajah suaminya mending ia memejamkan matanya untuk tidur sejenak sampai mobil yang Igo kendarai tiba di tempat tujuan yang hanya di ketahui suaminya.
Setelah hampir satu jam berkendara akhirnya mobil yang Igo kendarai tiba juga di gudang tempat penyimpanan barang-barang bekas perusahaan transportasi Igo.
"Ti..bangun Ti.." Igo mengguncang-guncang kan tubuh Tia dari lembut ke kasar untuk membangunkan istrinya itu.
"Huuh.." Igo menghela nafasnya frustasi, karena usahanya membangunkan istrinya yang kebo itu sia-sia.
"Udah di bilangin pandangin wajah aku aja. Ini malah tidur!!! Susah kan di bangunin!!" Gerutu Igo.
Tapi tiba-tiba Igo teringat akan satu cara ampuh yang bisa membangunkan istrinya itu. Ia tersenyum licik sambil mendekatkan tubuhnya ke tubuh istrinya.
Perlahan ia menaikkan blouse yang di kenakan istrinya sampai memperlihatkan pegunungan Tialaya.
Apalagi yang akan Igo lakukan kalau bukan membawa pegunungan Tialaya ke dalam mulutnya.
Layaknya anak bayi yang haus akan air susu ibunya, begitulah cara Igo mulut Igo bermain dengan salah satu pengunungan Tialaya dan tangannya asyik memelintir buah karsen di pegunungan yang satunya lagi.
"Eugh.." lenguh Tia saat merasakan ada yang menyesap dan memelintir buah karsennya.
__ADS_1
Perlahan Tia pun membuka matanya.
"Astaga kak...." geram Tia karena melihat suaminya sedang berubah menjadi vampire penghisap buah karsen di puncak gunung Tialaya.
Tau istrinya sudah bangun, bukan menghentikan aksinya, Igo malah terus melanjutkan kegiatan yang sedang berlangsung di puncak gunung Tialaya dan semakin beringas. Padahal niat awalnya ia melakukan itu hanya untuk membuat istrinya bangun,eh...setelah Tia bangun malah Igo yang hilang ingatan dari tujuan awalnya.
"Emh...kak udah dong.." protes Tia sambil berusaha menjauhkan wajah suaminya dari pegunungan Tialaya sebelum dirinya ikut terbuai dengan permainan lidah laknat suaminya pada buah karsen miliknya.
Igo pun menjauhkan wajahnya dan keluar dari dalam mobil dan berputar menuju pintu mobil tempat Tia berada, bukan untuk menyudahi permainannya, melainkan untuk menarik Tia keluar dari dalam mobil dan memindahkan istrinya itu di kursi belakang.
"Aakh..kak Igo mau ngapain?!! Jangan yang aneh-aneh kak." Omel Tia. Melihat dari raut wajah suaminya, Tia tahu apa tujuan suaminya memindahkan dirinya di kursi belakang.
Igo tak menjawab dan ikut masuk ke dalam kursi belakang, kemudian ia menutup pintu mobil dan mengunci semua pintu dari sentral.
"Jangan macem-macem kak, ini tuh di mobil!!" Ucap Tia mengingatkan keberadaan mereka sambil menutup rapat kakinya agar suaminya tidak bisa membuka terpal penutup lubang tambang.
"Yang bilang ini di hotel siapa sayang?!" Jawab Igo santai.
"Makanya minggir, jangan macem-macem!!' Ronta Tia.
"Emang gak bisa pake gaya macem-macem sayang, cuma bisa pake gaya terlentang dan terkang-kang." Jawab Igo nyolot.
"Kak..." rengek Tia.
"Udah jangan ngerengek gitu, biar cepet selesai.
"Lagian kamu kan pernah bilang, kapan pun dan dimana pun Dragon mau ngebor, kamu siap buka lahan."
"Iya tapi gak disini juga kali kak."
"Ya mau gimana lagi kalau Dragon mau ngebornya disini. Udah ayo cepetan."
Tia menghela nafasnya, ia pun pasrah dengan situasi yang ada.
Mau tak mau, perlahan Tia membuka lebar kakinya agar suaminya bisa mudah membuka terpal penutup lubang tambang.
Setelah terpal berhasil Igo lepas, buru-buru Igo membuka celana dan bedongan si Dragon.
Sebelum Dragon memulai pengeboran, Igo pun melakukan pemanasan terlebih dahulu sampai lubang tambang terasa be•cek, setelah itu barulah Igo menuntun Dragon untuk masuk ke lubang tambang secara perlahan.
"Ah kak.." racau Tia.
"Ah Tia..oh.." racau Igo.
Keduanya meracau saat tubuh Dragon telah masuk sempurna memenuhi lubang tambang. Perlahan Igo pun mulai meliak-liukkan pinggulnya untuk memulai pengeboran.
Permainan pun semakin panas, gerakan pinggul yang tadinya pelan dan lembut semakin lama semakin kasar, membuat mobil bergoyang dengan hebatnya.
__ADS_1
Sementara itu, orang yang Igo suruh menjaga Sasha dan Roy sampai Igo datang, hanya bisa gigit jari dan geleng-geleng kepala saat melihat mobil bos nya yang terparkir mulus di tengah-tengah pekarangan gedung sedang goyang-goyang. Niat hati ingin menghampiri bos nya saat melihat mobil bos nya terparkir, namun baru beberapa langkah, ia langsung memutar tubuhnya kembali menuju tempat Sasha dan Roy ia sekap.
Si Mr. X bukan lah orang bodoh yang tidak tau apa yang sedang terjadi di dalam mobil.