Pelabuhan Hati Sang Casanova

Pelabuhan Hati Sang Casanova
PHSC 110


__ADS_3

Dua bulan kemudian.


Pagi ini tak seperti pagi sebelumnya. Karena biasanya tiap pagi, Tia selalu bangun pukul lima atau pukul enam pagi, namun pagi ini disaat jam dinding sudah menunjukkan pukul sepuluh, Tia tak belum juga membuka matanya. Di bilang lelah, tidak juga karena tadi malam tidak ada ritual pengeboran.


Igo yang sudah bangun dari pukul tujuh pun sampai heran dengan istrinya. Walau istrinya itu susah di bangunkan, tapi kalau di hari kerja, Tia selalu bangun jika alarm di ponselnya berbunyi, yah..walaupun harus menunggu sampai tiga atau lima kali berbunyi baru Tia bangun. Lain hal kalau di hari libur, bunyi petasan pun tidak akan sanggup membangunkan istrinya itu. Hanya dua cara yang mampu membuat istrinya bangun kalau sedang dalam mode kebo, cara pertama merendam istrinya di dalam bathtub, dan yang kedua apalagi kalau bukan sedotan maut Igo pada susu gantung istrinya.


"Eugh.." Tia melenguh sambil merentangkan kedua tangannya.


Lalu perlahan mengerjapkan matanya.


Igo yang sejak tadi berada di sisi Tia dan matanya tak pernah lepas memandang wajah istrinya yang sedang tertidur, langsung memberi kecupan hangat di pipi istrinya itu ketika Tia sedang mengerjapkan matanya.


"Selamat pagi istri ku yang paling cantik se kartu keluarga." Sapa Igo.


"Cih.." decih Tia menanggapi sapaan selamat pagi suaminya.


"Kakak mau muji apa mau ngejek sih. Kalau mau bilang aku cantik yah cantik aja, gak usah pake embel-embel se kartu keluarga segala." Protes Tia.


"Iya deh, istrinya Igo yang paling cantik." Balas Igo.


"Emang istri kakak ada berapa? Kok bilang aku yang paling cantik?" Protes Tia lagi.


"Hish...ngeselin nih yah bini gue pagi-pagi. Niatnya mau romantis, jadi gedeg. Untung sayang." Gerutu Igo dalam hati karena pagi-pagi istrinya sudah mengajak berdebat.


"Istri aku cuma kamu doang sayang. Udah yuk bangun, udah jam sepuluh tau gak." Ajak Igo. Tak ada lagi istilah romantis-romantisan di pagi hari, karena mood Igo sudah drop di buat istrinya.


"Apa jam sepuluh?" Pekik Tia dan langsung mendudukkan dirinya.


"Kok kakak gak bangunin aku sih!!" Omel Tia. Tia pun menurunkan kakinya ke lantai.


Namun saat ia hendak berdiri, tiba-tiba saja kepalanya terasa berputar.


"Sssh..aargh.." ringis Tia sambil memegang kepalanya. Perlahan Tia pun menyandarkan kepalanya di kepala ranjang.


Melihat itu, Igo pun menjadi khawatir.


"Kamu kenapa?" Tanya Igo sambil mendekatkan dirinya pada sang istri yang sedang bersandar di kepala ranjang.


"Gak tau, tiba-tiba saja kepala ku pusing. Mungkin karena aku kaget tadi." Jawab Tia.


"Tunggu sini yah, biar aku ambilin minum." Ucap Igo.


Igo pun turun dari tempat tidur dan keluar dari dalam basecamp kemudian berjalan menuju dapur untuk mengambil air putih hangat untuk istrinya.


Dengan segelas air putih hangat di tangannya, Igo kembali masuk ke dalam basecamp.


Igo berjalan mendekati istrinya yang masih bersandar di kepala ranjang.


"Ini minum dulu." Ucap Igo sambil menyodorkan segelas air putih hangat kepada Tia.


Tia pun mengambil gelas itu dan menenggak air putih hangat sampai habis. Lalu memberikan kembali gelas itu pada suaminya.


Igo pun meletakkan gelas itu di nakas. Kemudian membuka laci nakas untuk mengambil minyak kayu putih yang biasanya Tia simpan di laci nakas.


Setelah minyak kayu putih di tangan Igo, Igo pun segera membalurkan minyak kayu putih itu di kening dan leher istrinya. Lalu memberikan botol minyak kayu putih itu pada istrinya agar Tia bisa menghirup aroma minyak kayu putih tersebut.


"Gimana? Udah enakkan?" Tanya Igo.


Tia menganggukkan kepalanya.


"Kamu gak usah kerja, lagian tadi aku udah telpon rumah sakit kalau kamu gak kerja hari ini."


Tia menganggukkan kepalanya lagi, walau sebenarnya ingin sekali mulutnya melayangkan protes, tapi berhubung ia tak enak badan, jadi ia mengangguk-anggukkan kepalanya saja.


"Kamu mau sarapan apa? Biar aku masakin?" Tanya Igo.

__ADS_1


Tia terdiam memikirkan makanan apa yang sangat ingin ia makan untuk mengisi perutnya. Tapi baru membayangkan segala jenis makanan saja, perutnya terasa teraduk-aduk.


"Aku mau roti tawar pakai selai coklat aja deh kak." Jawab Tia.


"Mau minum susu atau teh?"


Sekali lagi perut Tia terasa teraduk-aduk saat Igo menyebut kata susu.


"Teh manis hangat aja." Jawab Tia lagi.


Cup. Igo mengecup kening istrinya.


"Tunggu yah aku bikinin dulu." Ucap Igo setelah mengecup kening istrinya.


Igo pun keluar dari dalam basecamp untuk membuat roti dan teh yang di inginkan istrinya.


Selepas Igo pergi, Tia mengambil ponselnya yang ia letakkan di atas nakas.


Ia membuka aplikasi kalender yang ada di ponselnya.


"Apa di dalam sini sudah ada nyawa lain yah?" Gumam Tia sambil mengelus perutnya yang masih rata.


Sudah seminggu ia merasakan sesuatu yang aneh pada tubuhnya, di tambah lagi dirinya sudah satu bulan lebih belum di datangi Sailormoon, tapi ia tidak berani berharap seperti yang sudah-sudah.


Ingin memeriksa lewat tespack pun Tia tidak berani, takut hasilnya tidak sesuai harapan. Tia berniat akan memeriksa lewat tespack jika tamu bulanannya tidak datang dua bulan lebih.


Tia juga sengaja tidak memberitahu suaminya tentang apa yang ia sedang rasakan. Ia baru akan memberitahu suaminya, jika hasilnya benar-benar positif.


Ceklek. Igo membuka pintu basecamp.


Dengan membawa nampan yang berisi roti dan teh pesanan Tia, Igo berjalan mendekati istrinya. Kemudian roti dan teh ke hadapan Tia.


Walau sebenarnya Tia merasa eneg, tapi Tia memaksakan dirinya untuk memakan roti dan teh yang sudah suaminya buatkan untuknya.


Igo pun berjalan memutari ranjang untuk mengambil ponselnya yang ada di atas nakas sebelah kanan ranjang. Dan membuka pesan masuk di ponselnya. Ternyata pesan masuk dari kak Shea yang mengingatkan kalau sehabis makan siang, mereka ada meeting bulanan.


"Siapa kak?" Tanya Tia penasaran. Karena melihat raut wajah suaminya berubah saat membuka pesan.


"Kak Shea." Jawab Igo sambil berjalan memutari ranjang dan kembali duduk di sebelah istrinya.


"Bener dari kak Shea? Kok muka kakak kayak gak seneng gitu?"


"Emang kapan aku pernah seneng kalau kak Shea atau bang Vier kirim pesan? Orang setiap mereka kirim pesan pasti berurusan dengan kerjaan." Gerutu Igo.


"Jadi ini berurusan dengan kerjaan?"


Igo menganggukkan kepalanya.


"Nih, baca aja." Igo memberikan ponselnya agar Tia membaca pesan yang di kirim kakak iparnya itu.


"Ya udah sana pergi. Kok muka kakak cemberut gitu." Ucap Tia sesudah membaca pesan dari kakak iparnya.


"Gimana mau pergi Ti, orang kamu lagi sakit kok."


"Siapa yang sakit? Aku gak sakit kok. Periksa aja suhu tubuh aku, aku gak demam. Aku cuma pusing kak, gara-gara begitu buka mata langsung duduk, apalagi aku duduk karena kaget. Darah rendah aku emang sering kumat kalau kayak gitu."


"Tetap aja aku khawatir kalau ninggalin kamu sendirian di apartemen." Ucap Igo yang tak mau meninggalkan istrinya dalam keadaan seperti ini. Ia takut kejadian waktu Tia sakit sampai pingsan terjadi lagi.


"Astaga kak, gak usah lebay deh. Kalau orang darah rendah itu, ngobatinnya gampang. Tinggal makan makanan yang enak-enak, istirahat yang cukup dan minum penambah darah, udah deh sembuh. Jadi kakak gak usah khawatir oke. Kakak lupa kalau istri kakak ini dokter?" Balas Tia berusaha meyakinkan suaminya.


"Udah sana kakak mandi, lihat tuh udah mau jam sebelas." Ucap Tia sambil menunjuk jam dinding.


"Bener kamu gak pa-pa di tinggal sendirian di apartemen? Apa perlu aku panggil mbak di rumah untuk nemenin kamu sampai aku pulang?" Tanya Igo.


"Gak usah kak. Malahan nanti kalau badan aku udah enakkan, aku mau kerumah mami. Aku kangen masakan mami."

__ADS_1


"Ya udah, kalau gitu aku anter aja kamu ke rumah mami. Biar aku tenang pergi kerja."


Tia menghela nafasnya, padahal dia mengatakan itu hanya main-main agar suaminya tidak khawatir.


Tak ingin memperpanjang perdebatan dan tak ingin membuat suaminya kepikiran pada dirinya saat bekerja, Tia pun menyetujui saran Igo yang akan mengantarnya ke rumah orangtuanya.


"Ya udah, kalau memang itu bisa bikin kakak tenang." Jawab Tia mengalah.


Setelah roti dan teh Tia habiskan, mereka pun mandi bersama, mandi tanpa membuat tsunami buatan di bathtub ataupun membuat getaran di dinding kamar mandi, karena Igo tidak tega dengan Tia yang menurutnya sedang sakit.


🎀 🎀 🎀


"Aku pergi yah." Pamit Igo.


Kini mereka sudah sampai di rumah orangtua Tia.


Tia menganggukkan kepalanya.


Cup. Sebelum melangkah keluar rumah, Igo tak lupa mengecup kening istrinya itu.


"Sebelum aku jemput, jangan kemana-mana. Oke."


"Iya kak."


"Aku pergi." Pamit Igo sekali lagi. Kemudian melangkahkan kakinya keluar dari dalam rumah mertuanya itu.


Setelah mobil suaminya keluar dari rumah orangtuanya, Tia pun masuk ke dalam dan menuju dapur.


"Mbak.." panggil Tia pada art yang sedang menyusun bahan makanan di kulkas.


"Iya non."


"Tolong bikinin mie instan mbak."


"Iya non. Oh iya non, mie instan nya mau pake telur gak non?"


"Pake mbak, bikin pedes yah mbak, pake sawi yang banyak."


"Oke non."


"Aku tunggu di ruang televisi yah mbak."


"Iya non."


Tia pun melangkahkan kakinya menuju ruang televisi.


Dirumah itu hanya ada asisten rumah tangga dan satpam yang menjaga rumah, karena mami dan papi Tia sedang bekerja.


Tia mendudukkan dirinya di sofa.


Rasa resah dan penasaran menggelayuti dada nya, ingin rasanya ia membeli testpack untuk memastikan apa dirinya hamil atau tidak. Tapi ia takut. Benar-benar dia sangat bimbang.


Saat ia sibuk menimbang-nimbang keputusan yang mana yang harus ia ambil, aroma mie instan yang art buat kan untuknya langsung membuyarkan pikirannya.


Si asisten rumah tangga pun meletakkan mangkok yang berisi mie instan pesanan Tia.


"Silahkan dimakan non." Ucap si asisten rumah tangga.


"Makasih yah mbak." Jawab Tia.


Setelah meletakkan mangkok, si asisten rumah tangga pun keluar dari dalam ruang televisi meninggalkan Tia.


Melihat penampakan mie instan yang ada di mangkok, belum di makan saja air liur Tia sudah menetes.


Tak ingin hanya melihat, Tia pun mulai melahap mie itu. Tapi baru tiga sendok, perutnya terasa teraduk-aduk. Tia pun berlari menuju toilet dekat dapur, dan memuntahkan isi makanannya yang tak seberapa itu di closet.

__ADS_1


__ADS_2