Pelabuhan Hati Sang Casanova

Pelabuhan Hati Sang Casanova
PHSC 52


__ADS_3

"Ekhem." Tiba-tiba saja Igo berdehem.


Mendengar suara deheman Igo,lamunan Tia pun buyar,Tia pun menoleh ke arah sumber suara.


"Ngapain kamu disini?" Tanya Igo saat melihat Tia berada di ruang ganti di kamarnya.


"Nih nyiapin baju kakak." Alibi Tia.


"Tumben?" Tanya Igo lagi sambil memicingkan matanya curiga.


"Di urus salah,gak di urus salah. Gimana sih?!" Jawab Tia ketus.


"Udah akh males." Katanya lagi sambil berlali dari hadapan Igo.


"Hahahaha...iya..iya." Igo tertawa melihat Tia yang sedang ngambek sambil menarik tangan Tia.


"Makasih yah istri ku sayang." Ucap Igo.


"Cuma makasih doang?"


"Terus aku harus ngapain selain ucapin terimakasih?" Tanya Igo bingung.


Tia memanyunkan bibirnya memberi kode untuk Igo cium,tapi sayangnya yang di kode agak sedikit telat mikir pagi ini. Tapi jangan salahkan Igo juga yang tidak paham akan kode yang di berikan Tia,karena sebelum-sebelumnya Tia memang tidak pernah minta di cium terlebih dahulu.


Igo pikir saat ini Tia memanyunkan bibirnya karena sedang ngambek.


"Oh...aku tau. Kamu pasti minta jatah bulanan sama uang ganti handuk kan?" Tebak Igo.


Mendengar kata-kata Igo,Tia berhenti memanyunkan bibirnya dan memasang wajah kesal.


"Oke aku pake baju dulu kalau gitu." Kata Igo lagi,ia pikir tebakannya benar.


"Ish." Kesal Tia.


Dengan perasaan kesal karena sang suami tidak peka,Tia pun keluar dari dalam kamar Igo dengan menghentak-hentakkan kakinya.


"Nyebelin!! Kalau dia yang minta cium,aku harus peka,giliran aku yang minta cium dia gak bisa peka!!! Dasar laki-laki,mau nya menang sendiri!!" Gerutu Tia setelah keluar dari dalam kamar Igo.


Sedangkan Igo masih terheran-heran dengan sikap Tia yang keluar dengan menghentak-hentakkan kaki.


"Kenapa sih dia? Lagi PMS kali yah!!" Gumam Igo.


"Apa efek sakit kemaren,makanya sekarang dia aneh gitu?!" Gumam Igo lagi.


🎀 🎀 🎀


Setelah memakai pakaiannya Igo pun keluar dari dalam kamarnya dan menghampiri Tia yang sedang asyik nonton di ruang keluarga.


"Udah di minum vitaminnya?" Tanya Igo sambil mendudukkan bokongnya di sebelah Tia.

__ADS_1


"Udah." Jawab Tia ketus.


"Masih ngambek aja." Goda Igo sambil menoel dagu Tia.


Tia tak menjawab dan tetap menatap layar televisi padahal pikirannya tidak fokus dengan siaran televisi.


"Ya udah,ini aku transfer." Kata Igo lagi sambil mengeluarkan ponsel dari saku celana pendek yang ia pakai sekarang. Igo pun mengirim uang sejumlah lima puluh juta ke rekening Tia,uang yang hanya di peruntukkan untuk jajan Tia dan mengganti handuk yang sudah ia gunting-gunting.


Tring. Bunyi notifikasi m-banking di ponsel Tia.


Tia pun mengambil ponselnya untuk melihat jumlah uang yang Igo kirim.


Mata Tia langsung melongo melihat jumlah yang Igo transfer.


"K..kk..kok banyak banget kak? Bulan lalu kan cuma tiga puluh juta."


"Sekalian ganti uang handuk."


"Gak usah sebanyak ini juga kak,uang yang kakak kasih bulan lalu aja masih banyak banget sisanya,kenapa sekarang di kirim sebanyak ini sih?!" Protes Tia.


"Itu kan udah kewajiban aku sayang ngasih kamu uang bulanan. Lagian ngasih uang banyak-banyak ke istri gak bakalan bikin aku miskin,malah rejeki aku nanti jadi berlipat-lipat ganda dari uang yang aku kasih ke kamu."


Nyes. Hati Tia melengos mendengar kata-kata Igo. Ia serasa tertampar.


Suaminya yang mempunyai masa lalu kelam saja bisa berpikiran seperti itu dan tidak pernah mangkir dari tanggung jawabnya. Sedangkan dirinya,hanya karena masa lalu sang suami yang casanova,sampai saat ini ia masih menahan hak Igo yang seharusnya ia berikan di malam pengantin mereka.


"Kak...."


"Em...aku..em..." Antara ragu dan malu,Tia ingin mengatakan kalau dirinya sudah siap membuka lahan pengeboran.


"Apa sayang? Kamu kenapa?" Tanya Igo penasaran.


"Em...aku.."


Kriing...Kriing...Kriing. Bunyi nada panggil di ponsel Igo berhasil merusak mood Tia.


Igo melihat siapa yang melakukan panggilan.


"Duta." Lirih Igo saat melihat nama sanh asisten tertera di layar ponsel.


"Bentar yah,aku angkat telpon dulu." Izin Igo.


Tia mengangguk. Igo pun berdiri dari tempat duduknya dan berjalan menjauh dari tempat Tia berada.


"Ya Dut,kenapa?" Tanya Igo setelah menggeser tombol hijau di layar ponselnya.


"Ini pak,nona Sasha ada di kantor."


"Kan saya udah bilang kamu yang urus."

__ADS_1


"Ta..." tiba-tiba saja Sasha merebut ponsel Duta.


"Halo Go,kamu dimana sih? Gak ke kantor? Pembicaraan kita belum selesai kemaren Go."


"Kamu udah bawa proposalnya? Kalau udah kasih aja sama Duta."


"Aku gak mau sama asisten kamu Go,aku maunya bicarain kerjasama langsung sama kamu."


"Sama aja Sha mau sama aku atau sama asisten aku. Klien-klien aku yang lain juga kalau mau ngajuin kerjasama langsung ke asisten aku."


"Pokoknya aku gak mau tau,aku cuma mau ngomongin kerjasama langsung sama kamu. Titik."


"Tapi aku gak bisa sekarang Sha,aku ada urusan lebih penting dari pada kerjaan. Kalau kamu mau,nanti aku atur jadwalnya,gimana?"


"Ya udah deh,terserah kamu aja.!!!" Sasha langsung memutuskan panggilan teleponnya.


"Ini hari apa sih? Kenapa cewek-cewek pada sensitive banget. Tadi Tia,sekarang Sasha. Apa hari ini hari sensitive perempuan sedunia yah?!" Gumam Igo sambil menggelengkan kepalanya.


Igo pun kembali menghampiri Tia.


"Siapa yang nelpon kak?" Tanya Tia penasaran.


"Duta,asisten aku."


"Jadi kakak beneran punya asisten?"


"Ya iya lah Ti,kalau aku gak punya asisten gak mungkin sekarang aku di sini nemenin kamu."


"Oh. Pasti asisten kakak nelpon nyuruh kakak ke kantor yah?" Tebak Tia.


Igo menggeleng.


"Gak. Dia cuma ngasih tau kalau closet yang kamar ruang kerja aku udah di sedot sama tukang sedot wc." Jawab Igo ngaco.


Mendengar jawaban Igo,jelas saja Tia mengernyitkan keningnya tidak percaya.


"Beneran??!!"


"Hahahahaha." Igo tertawa puas kerena berhasil membuat ekspresi Tia yang terkaget-kaget.


"Kamu tuh lucu banget sih Ti,status doang mahasiswi kedokteran,eh...tapi gampang banget di bohongin." Kata Igo sambil menguyel-uyel pipi Tia.


"Ish..nyebelin.!!" Cebik Tia sambil menghempaskan tangan Igo dari pipinya.


"Ada yang ngajuin kerjasama. Tapi klien kali ini temen SD aku,jadi temen SD aku ini ngotot minta meeting bareng aku gak mau melalui asisten aku."


"Oh. Temen kakak laki-laki atau perempuan?"


"Perempuan. Namanya Sasha."

__ADS_1


Mendengar klien suaminya perempuan ditambah lagi kliennya tidak mau meeting melalui perantara,hati Tia tiba-tiba memanas. Seperti ada api yang sedang memanasi hatinya. Ingin rasanya Tia menyuruh Igo untuk menolak kerjasama dengan teman SD suaminya itu,tapi Tia tidak tau alasan yang tepat yang harus ia katakan kenapa ia menyuruh sang suami menolak kerjasama dengan Sasha.


__ADS_2