
"Ikh...kakak buang dimana sih kuncinya!!!" Geram Tia sambil mengobrak-abrik seisi kamar untuk mencari kunci basecamp yang tadi malam Igo buang sembarangan.
Sudah hampir setengah jam setelah mereka selesai mandi, mereka mencari kunci basecamp.
"Aku buang ke arah sini kok." Jawab Igo sambil ikut mencari kunci yang buang itu.
"Makanya jangan buang sembarangan dong, jadi pusing kan nyarinya." Omel Tia.
"Aaargh.." Igo menjambak rambutnya frustasi, dia yang bikin masalah dia sendiri yang frustasi.
"Telpon satpam aja kak, minta di bongkar aja ini pintunya." Ucap Tia memberikan ide.
Tak ada pilihan lain, karena waktu juga sudah menunjukkan hampir pukul sebelas, mau tidak mau Igo menghubungi pos satpam dan meminta tolong untuk membongkar pintu basecamp. Tak lupa Igo memberitahu kode pass pintu unit apartemennya agar si satpam bisa masuk ke dalam apartemen.
Setelah kurang dari setengah jam, penyelamatan sang satpam pun berhasil. Pintu basecamp sudah terbuka lebar, yah...walaupun harus membongkar handle pintu. Sekarang tinggal memanggil tukang kunci untuk memperbaiki pintu basecamp sekaligus mengganti kode pass unit apartemennya.
Setelah berhasil membuka pintu basecamp, dua orang satpam yang melakukan penyelamatan pun keluar dari unit apartemen Igo.
Saat Igo mengantar dua satpam itu, Tia pun cepat-cepat keluar dari dalam basecamp dan melangkahkan kaki menuju kamarnya.
"Astaga....macan tutul gue!!!" Pekik Igo saat ingat dengan Tia.
Belum juga si satpam keluar dari unit apartemennya, cepat-cepat Igo menyusul Tia.
Untung saja Tia masih berada di depan pintu kamarnya, kalau sampai Tia sudah masuk ke dalam kamar dan melihat penampakan dirinya di cermin habislah Igo kena smackdown.
"Eeeh...apaan sih kok main tarik-tarik gini." Omel Tia saat Igo tiba-tiba menariknya ke ruang televisi.
"Kamu tunggu sini, biar aku aja yang ambilin bajunya."
"Heh..gak usah aku aja, tumben banget mau ngambilin baju aku."
"Kamu kan capek sayang, jadi daripada kamu buang tenaga mu untuk milah milih baju, mending kamu duduk manis disini sambil ngumpulin tenaga. Kamu nikmatin aja pelayanan dari suami mu yang serbaguna ini, oke." Ucap Igo sambil mengerlingkan matanya sebelah.
Walau pun merasa aneh dengan sikap suaminya sejak tadi, tapi tetap saja Tia menuruti kata-kata Igo.
Tia pun duduk manis di sofa ruang televisi.
Tak lama Igo pun datang membawa pakaian komplit, pakaian luar maupun pakaian dalam. Tapi ada satu benda yang membuat Tia bingung.
__ADS_1
"Udah cepetan pake. Apa mau di pakein juga?" Kata Igo karena istrinya tak kunjung memakai pakaiannya.
"Ya udah sana keluar dulu." Usir Tia.
"Cih...masih malu aja." Decih Igo sambil membalikkan tubuhnya. Ia hanya membalikkan tubuhnya dan tidak mau keluar dari ruang televisi.
"Ya malu lah, sekarang aku kan dalam keadaan sadar." Jawab Tia.
"Terus setiap kamu polos itu dalam keadaan apa? Kerasukan setan bo•kep?" Tanya Igo asal.
"Mungkin." Jawab Tia tak kalah asal dari pertanyaan suaminya.
"Udah." Kata Tia setelah selesai memakai pakaiannya.
Igo pun membalikkan tubuhnya untuk menghadap istrinya.
"Ini juga di pake dong sayang." Pinta Igo sambil mengambil syal dari atas sofa yang tidak Tia pakai.
"Ngapain pake gituan sih kak? Orang panas juga!! Entar aku di kira gondokkan lagi sama Nia dan Ica." Tolak Tia.
"Ini tuh fashion Tia sayang. Sekarang tuh lagi tren banget pake syal." Bujuk Igo.
"Tren apaan? Aku sering baca majalah fashion, tapi gak ada tuh yang pake syal."
"Enak aja!!! Gak yah." Protes Tia.
"Udah gak usah banyak protes, cepetan pake ini, biar aku pakein bedak di muka kamu."
"Kakak juga mau bedakkin muka aku?"
Igo mengangguk.
"Serba guna banget kan suami kamu ini. Udah ayo cepetan." Perintah Igo.
"Tepung kali serba guna!!!" Celetuk Tia sambil memutar bola matanya malas. Tapi tetap saja ia menuruti kemauan suaminya.
Setelah Igo selesai memoleskan bedak tipis-tipis di wajah Tia, Igo kembali menarik tangan Tia untuk ikut dengannya masuk ke dalam basecamp dan menemaninya ke ruang ganti untuk memakai bajunya, karena sedari tadi Igo hanya memakai bathrobe.
Lagi dan lagi, Igo mendudukkan Tia di tempat yang jauh dari jangkauan cermin.
__ADS_1
Setelah memakai pakaiannya, Igo dan Tia pun keluar dari dalam basecamp.
"Eh..kak tunggu, ponsel sama dompet ku." Tia menarik tangan Igo saat sadar kalau dirinya tidak membawa tas yang berisi dompet dan ponselnya.
"Ya udah tunggu sini, biar aku ambil." Igo pun memutar langkahnya menuju kamar Tia untuk mengambil tas Tia.
"Kak Igo kenapa sih? Aneh banget." Gumam Tia yang merasa aneh dengan tingkah suaminya.
Tak lama Igo pun datang.
"Nih.." Igo menyodorkan tas istrinya itu.
Tia pun mengambil tas itu dari tangan Igo.
"Ayo." Igo kembali menarik tangan Tia.
"Terus ini pintunya gimana?" Tanya Tia, karena kode pass unit apartemen mereka sudah di ketahui orang lain.
"Nanti aku suruh Duta bawa tukang kunci kesini." Jawab Igo enteng.
Tia pun diam dan percaya saja.
Mereka pun keluar dari dalam unit apartemennya menuju lift. Tapi saat langkah kaki mereka hampir tiba di lift, Igo baru sadar kalau lift yang akan mereka masukki di kelilingi cermin.
"Ti, kita pake tangga darurat aja yah." Ajak Igo.
"Haaah?!" Tia ternganga mendengar ajakan Igo.
Tanpa mendengar jawaban Tia, Igo langsung menarik tangan Tia menuju tangga darurat.
"Kak Igo apa-apaan sih, ada yang simple kenapa yang ribet." Protes Tia saat mereka berjalan menuju tangga darurat.
"Biar sehat sayang." Jawab Igo.
"Sehat apaan, yang ada betis bengkak. Lagian tadi kakak bilang gak mau bikin aku capek, lah ini apa coba, bukan cuma capek tapi encok!!" Sepanjang jalan menuju tangga darurat Tia terus saja ngedumel.
"Kakak gak lagi mau balas dendam sama aku kan gara-gara kemaren aku suruh ngegym?" Tanya Tia curiga.
"Ya gak lah sayang, orang kamu kayak gitu juga karena aku yang salah. Lagian kalau aku balas kamu, cari mati lah itu namanya, karena aku tau, nanti kamu balas lagi dengan hal yang lebih mengerikan." Jawab Igo mencoba meyakinkan istrinya.
__ADS_1
"Sini aku gendong, biar betis kamu gak bengkak dan badan kamu gak encok. Kalau badan kamu encok, aku juga yang pusing nanti." Kata Igo sambil menyerahkan dirinya untuk menggendong Tia saat mereka sudah sampai di tangga darurat.
Untung saja lantai unit apartemen Igo ada di lantai delapan dari lima belas lantai yang ada. Kalau seandainya unit apartemennya berada di lantai lima belas, sudah bisa di pastikan mereka kerumah sakit bukan untuk menjenguk Ica yang baru melahirkan melainkan untuk mengantar Igo ke spesialis ortopedi.