
PLAK. Sasha langsung menoyor kepala Roy.
"Tante..tante!!! Udah gue bilang jangan panggil tante!!!" Protes Sasha.
"Loe siapa sih? Dan loe dapet dari mana foto itu?"
"Kenalin,gue Roy. Gue dapet foto ini langsung dari sumber yang terpercaya. Karena hanya orang ini yang diizinkan membawa kamera saat pernikahaan anaknya pak Mandala."
"Gue gak percaya!!! Loe kira gue orang bodoh apa,langsung percaya sama omongan loe?! Asal loe tau yah,sebelum gue deketin Igo,gue tuh udah cari tau dulu status Igo. Dan dari informasi yang gue dapet Igo itu masih single. Yah...walaupun udah gak perjaka.!!"
"Loe pikir loe aja yang percaya kalau mereka udah nikah? Gue tadinya juga gak percaya,tapi setelah gue ngebuntutin mereka berdua,disitu gue yakin kalau mereka emang udah nikah. Loe gak percaya? Ayo kita buktiin." ajak Roy.
"Caranya?"
"Kita datengin apartemennya. Mereka tinggal di apartemen di kawasan xxx. Kita pura-pura jadi kurir,loe pura-pura jadi kurir pengantar makanan dan gue jadi kurir pengantar paket. Gimana?" Ajak Roy sekali lagi.
"Tunggu. Loe itu sebenarnya siapa sih? Apa loe punya dendam pribadi sama Igo makanya loe sampe segitunya?" Tanya Sasha sambil memicingkan matanya.
"Loe gak perlu tau siapa gue. Sekarang yang penting,loe mau gak gue buktiin kalau si Igo itu udah nikah? Kalau loe gak mau,gue balik nih."
Sasha menghela nafasnya,karena penasaran akhirnya Sasha mau ikut dengan Roy untuk membuktikan kata-kata Roy.
🎀 🎀 🎀
Malam hari pun datang.
Setelah selesai mengisi perut mereka,kini Tia dan Igo duduk-duduk santai di balkon sambil memandang langit malam yang bertaburan bintang.
__ADS_1
"Akhirnya bisa juga ngerasain santai kayak gini." Ucap Tia sambil meregangkan kedua tangannya.
"Emangnya kamu gak pernah nyantai kayak gini?"
"Sejak masuk SMU aku gak pernah sesantai ini. Sekalipun santai hanya beberapa jam aja,habis itu belajar lagi. Tapi hari ini aku benar-benar nikmatin hari libur aku. Bukan cuma fisik yang istirahat tapi otak aku juga ikut istirahat." Jawab Tia.
"Emang kalau libur kamu gak pernah liburan sama mami-papi gitu atau sama temen-temen kamu,si Nia sama si Ica?"
"Kalau sama Nia dan Ica mah sering,tapi cuma ngemall doang,kalau pun libur paling ke taman hiburan,waterboom,kebun binatang,atau pantai. Tapi begitu sampe rumah yah belajar lagi. Kalau sama mami-papi jarang,kan mami-papi sibuk."
"Emang kamu tuh kutu buku makanya lebih suka belajar di banding nikmatin hari libur?!"
"Lebih tepatnya terpaksa jadi kutu buku."
Igo mengernyitkan keningnya,menelaah arti dari kata terpaksa jadi kutu buku.
"Kakak tau kan kalau aku cuma dua bersaudara?"
Igo menganggukkan kepalanya.
"Dulu tuh sebelum bang Satria memilih untuk menjadi pengusaha di bidang kuliner. Papi sama mami tuh berharap banget kalau bang Satria akan mengikuti jejak papi sama mami. Bahkan bang Satria udah di gadang-gadang akan menjadi penerus papi di rumah sakit. Tapi setelah lulus SMU bang Satria malah lebih milih untuk mengambil jurusan bisnis. Disitu papi dan mami kecewa banget sama bang Satria,bahkan hubungan papi sama bang Satria sempat renggang karena itu. Tapi untungnya kerenggangan papi sama bang Satria cuma sampai satu semester. Papi sama mami akhirnya bisa nerima keputusan bang Satria." Tia menjeda kata-katanya untuk menghela nafasnya sesaat.
"Tapi,walaupun papi dan mami udah bisa nerima keputusan bang Satria,tapi aku tuh tau banget kalau dalam lubuk hati papi yang terdalam papi masih menyimpan kekecewaan sama bang Satria. Dari situ aku jadi punya motivasi untuk bahagiain papi-mami dengan menjadi dokter. Makanya dari SMU aku tuh belajar mulu,les mulu,biar bisa masuk universitas kedokteran. Biar bisa gantiin rasa kekecewaan papi-mami dengan rasa bangga karena aku bisa masuk kedokteran nerusin mami-papi. Makanya aku gak mau menjalin hubungan dengan lawan jenis,takutnya kalau aku pacaran atau menikah,aku akan mengabaikan pasangan aku. Karena aku tau,kalau menjadi dokter keluarga lah yang paling di korbankan. Tapi saat mami-papi minta aku nikah sama kakak,aku juga gak bisa nolak karena aku tau kalau aku nolak pasti mami sama papi kecewa."
Sepanjang Tia bercerita,Igo hanya memandang wajah Tia. Dia tidak menyangka di balik kejutekan dan kejudesan seorang Tia,ternyata sebagai seorang anak,Tia adalah anak yang berbakti dan sangat menyayangi orangtuanya.
"Jadi gara-gara itu kamu nolak-nolakin aku terus?"
__ADS_1
"Salah satu nya sih itu. Tapi aku juga nolak kakak karena kakak itu penjelajah wanita."
"Itu kan dulu Ti,sebelum kenal sama kamu. Tapi suer deh semenjak aku sadar kalau aku udah jatuh cinta sama kamu,aku gak pernah gitu lagi,makanya aku fokus ngejar kamu. Tapi kamu nya malah nolak aku terus."
"Kalau sekarang,kakak masih suka begitu gak?" Tanya Tia iseng.
"Astaga Ti..dua bulan kita nikah kamu belum percaya sama aku?"
Tia menggedikkan bahunya. Sebenarnya ia sudah mempercayai sang suami,tapi melihat wajah Igo yang sangat serius,membuat Tia tak tahan untuk tidak mengerjai suaminya.
Pembalasan. Begitulah kata Tia dalam hati.
"Aku harus gimana lagi sih Ti,biar kamu percaya sama aku? Kalau memang aku belum berubah,bisa aja sekarang aku jajan serabi lempit di luar sana,secara kamu belum pernah ngasih Dragon makan serabi lempit. Tapi aku kan gak ngelakuin itu Ti. Aku sabar nungguin kamu sampe siap. Asal kamu tau Ti,hati aku nih udah berlabuh di pelabuhan hati kamu,jangkar kapal aku udah tenggelam di dasar hati kamu,tali tambang kapal aku juga udah diikat mati di bollard hati kamu,jadi aku udah gak bisa kemana-mana selain disisi kamu."
"Oh...so sweet." Gumam Tia dalam hati.
Hati Tia bukan hanya meleleh mendengar ungkapan isi hati Igo,tapi juga meluber sampai ke tulang-tulang Tia.
Spontan Tia pun berdiri dari tempat duduknya dan pindah duduk di pangkuan Igo dan mengalungkan lengannya di leher Igo. Aksi spontan Tia ini jelas membuat Igo menganga terkaget-kaget.
"Makasih yah kak udah ngasih cinta seluas samudra untuk aku." Kata Tia tepat didepan wajah Igo.
Perlahan tapi pasti,Tia makin mendekatkan bibirnya dengan bibir Igo untuk saling bersilahturahmi bibir.
Ting Tong Ting Tong. Tapi baru saja bibir Tia mendarat,tiba-tiba bunyi bel mengganggu keromantisan mereka.
Sontak Tia langsung menjauhkan bibirnya dari bibir sang suami,kemudian refleks berdiri dari pangkuan Igo.
__ADS_1