Pelangi untuk Aqila

Pelangi untuk Aqila
Saya Menerima


__ADS_3

Hampir seminggu sudah Rian belajar, laki-laki itu juga lebih sering mendengar pengajian-pengajian lewat sosial media, malam ini sepertinya akan menjadi malam terakhir ia datang setiap magrib merepotkan pasangan ini, besok ia akan mencoba datang lagi ke rumah perempuan itu dan meyakinkan orang tuanya


"Kamu semakin lancar sekarang, sudah bisa membedakan mana huruf yang dibaca dengung, samar dan jelas" ucap Naufal saat Rian baru selesai membaca Al-Qur'an


"Terima kasih, sebelumnya aku hanya membaca saja tanpa memperhatikan hukum bacaan itu sendiri" balas Rian, Aqila mulai melihat Rian berubah beberapa hari ini, laki-laki itu seperti berubah menjadi orang lain


"Kak Rian mau pergi kesana besok?" Tanya Aqila, ia bertanya tentang keputusan yang akan diambil Rian untuk perempuan bernama Rani itu


"Iya, kakak akan pergi dan mencobanya" Rian menjawab dengan mantap sepertinya kepercayaan diri laki-laki itu sudah kembali sekarang


"Tetap jadi diri sendiri" Naufal memberi semangat dengan menepuknya


Sama sekali tak menduga kalau ia dan Rian punya hubungan sebaik ini, mengingat bagaimana seringnya mereka dulu bermusuhan, laki-laki itu selalu menunjukkan wajah tak suka padanya


"Semoga berhasil"


"Aamiin"


"Jangan lupa minta do'a orang tua, agar dipermudah oleh Allah"


.


Pagi harinya, Rian sudah siap dengan kaos panjang dan celana hitam bahan, menurutnya ini sudah penampilan yang sempurna, bahkan ia kadang-kadang sengaja lewat depan kaca untuk melihat penampilannya, sesuatu yang tak pernah ia lakukan sebelumnya


"Woy, kapan mau masuk kerja?" Devano menepuk pundaknya cukup keras dari belakang sampai Rian yang sedang melihat diri di badan mobilnya yang mengkilap berjengkit kaget


"Besok"


"Jangan terlalu rapi, biasa saja jangan sampai dia merasa kamu terlalu berlebihan" Rian sampai menghela nafasnya, apa perjuangan harus seribet ini pikirnya? Menurutnya ini adalah penampilan yang biasa tapi orang lain masih menganggapnya rapi?


Rian teringat ucapan Aqila dan Naufal semalam, jadi diri sendiri


"Do'ain aja" ucapnya menepuk pundak Devano dan masuk kedalam mobil


Jalan raya yang cukup padat membuat Rian harus ektra bersabar, salahkan juga dirinya yang mungkin terlalu pagi berangkat bertepatan dengan jam siswa berangkat sekolah dan orang pergi bekerja. Ini juga sebenarnya ia lakukan agar tidak mengantar Yusuf sekolah, bukan karena apa, tapi pertanyaan anak itu yang kadang tidak nyambung membuat moodnya rusak pagi-pagi


Tin tin tin


Rian mendengus mendengar suara klakson mobil dibelakangnya, apa mereka tidak tau kalau didepan masih ada mobil lain? Benar-benar merusak harinya yang ia pikir cukup baik


Setelah hampir dua puluh menit, akhirnya ia kembali kesana, nampak ada sebuah mobil lain juga yang datang. Rian sudah merasakan prasangka tidak enak, ia menghela nafasnya dan memberanikan diri masuk kedalam rumah


"Assalam..."


"JANGAN DATANG LAGI KALAU MEMANG TIDAK MAU DENGAN ANAK SAYA!" Seorang laki-laki berpeci hitam, sarung hijau dan koko putih nampak keluar dari sana. Rian mengerjapkan matanya, laki-laki itu terlihat seperti tidak enak dan setelah itu pergi begitu saja


Rian menarik nafasnya, mendengar suara ayah Rani sudah cukup membuatnya gentar, apalagi sepertinya laki-laki tadi yang ditolak mentah-mentah. Padahal jika dilihat-lihat, laki-laki itu sepertinya lulusan pesantren, auranya seperti itu. Bagaimana jika dirinya juga ditolak? Rian ingat dengan pesan Naufal, percaya pada diri sendiri

__ADS_1


Setelah mengumpulkan tekad, Rian memberanikan diri mengucap salam untuk kedua kalinya


"Assalam..."


"KENAPA KAU KEMBALI?" Rian sudah memegang dadanya terlebih saat ayah Rani keluar dengan memegang sapu didepan pintu


"Kau"


"Assalamu'alaikum" salam ketiganya berhasil


"Kenapa kau datang lagi?"


"Pak, saya serius dengan niat saya untuk menjadi pendamping putri bapak"


"Saya tidak mau punya menantu orang terlalu kaya" Ayah Rani masih mengangkat sapu itu sampai membuat Rian cukup was-was


"Pak jangan gitu, biarin Rian masuk dulu" Ibu Rani keluar, ia cukup kenal dengan Rian karena Rian yang sering kesini


Ayahnya Rani, Pak Bayu akhirnya menghela nafas dan mengangguk menurunkan gagang sapu itu, ia memperbaiki pecinya dan sarungnya yang sedikit melorot. Ibu Tina tersenyum kearah Rian dan mempersilahkan laki-laki itu masuk


Rian mengangguk dengan tersenyum canggung, setidaknya hari ini ada kemajuan begitu pikirnya. Karena beberapa hari kemarin ia hanya sampai sebatas mengucap salam tapi Pak Bayu langsung memberi bogeman mentah karena Rani pernah menceritakan kalau ia pernah bertemu Rian di kampus dulu


"Silahkan duduk nak Rian" dengan canggung Rian duduk disofa ruang tamu, Rani berasal dari keluarga sederhana, ayahnya bekerja sebagai petani sekaligus ketua RT di lingkungan ini


"Kenapa liatin sekitar? Saya tau rumah saya nggak sebagus rumah kamu"


"Saya tidak membandingkan pak, saya hanya melihat dekorasi rumahnya" balas Rian, matanya memang tidak bisa diam melihat kerajinan tangan yang terpasang di dinding rumah, mulai dari bunga buatan, rumah kayu, dan beberapa gantungan dari kerang laut


"Ini semua Rani yang buat, anak itu tidak bisa sekali melihat barang bekas" Rian mengangguki ucapan Bu Tina


"Cantik" ucapnya


"Maaf rumah kami sederhana"


"Tidak bu, rumah adalah istana bagi pemiliknya, tak peduli bagaimana bentuknya tapi kenangan yang tercipta disana tidak pernah bisa dilupa begitu saja"


"Jadi, apa tujuanmu kesini?" Pak Bayu langsung menayakan itu, walau ia sudah tau maksud kedatangan Rian


"Saya berniat serius untuk putri bapak, saya tau kalau mungkin ilmu agama saya tidak bisa sebanding dengan orang yang datang untuk Rani, tapi saya berjanji untuk belajar lagi dan bisa membimbingnya" ucap Rian mantap


"Saya tidak mau punya menantu terlalu kaya dan sering masuk TV, pasti banyak perempuan diluar sana yang mengincar jadi pertahanannya bisa goyah kapan saja"


Kening Rian mengerut? Sering masuk TV? hah mungkin maksud Papa Rani saat kemarin perusahaan mereka meluncurkan produk baru di bidang pangan, saat itu memang Rian yang menjelaskan didepan media


"Saya berjanji untuk setia pak" balas Rian serius


"Sekalipun diluar sana banyak perempuan yang mengincar, saya berjanji akan tetap mencintai putri bapak sampai ajal menjemput saya" kalimat itu keluar begitu saja dari mulut Rian, bahkan kalimat yang ia siapkan dari rumah tak ada satupun yang ia ingat

__ADS_1


"Rani! kemari nak" terdengar suara pintu terbuka, Rian melihat perempuan itu keluar dari pintu berwarna coklat yang ada disebelah ruang tamu, tapi kenapa matanya terlihat sembap?


"Apa jawabanmu, laki-laki ini kembali datang dan tak jerah dengan pukulan ayah" Rani menatap Rian sekilas kemudian menunduk


"Kamu mungkin tidak akan bisa menerimaku" lirihnya pelan


"Kenapa?"


"Aku pernah mengalami kecelakaan cukup parah enam tahun lalu, bagian bawah perutku mengalami luka dalam cukup parah hingga dpkter mengatakan kecil kemungkinan untuk bisa memberikan keturunan" suasana mendadak hening


Rian terdiam, pantas saja saat ia menemukan pulpen Rani dikampus dulu, ia sulit sekali mencari keberadaan perempuan itu, ia pikir Rani ada difakultas seni karena ia kebetulan menabrak Rani disana, perempuan berambut sebahu, dengan pakaian hitam dan gaya tomboynya yang membuat Rian merasakan perasaan berbeda, tak lupa juga sikap ketus perempuan itu. Beberapa hari mencari ia tak menemukan informasi apapun, hingga masalah dengan Aqila membuat ia melupakan kejadian itu namun masih memiliki harapan untuk dipertemukan kembali dengan perempuan pemilik polpen biru itu. Hingga tuhan mengabulkan do'anya saat mobilnya mogok di jalan sepi, perempuan dengan jilbab hitam memberhentikan motor maticnya disamping Rian dan membantu laki-laki itu. Rian awalnya tak menyadari karena dulu hanya melihat sekilas wajah perempuan itu tapi dari suara perempuan itu Rian akhirnya memberanikan diri bertanya


"Rani ya?" Terlihat perempuan itu sedikit terkejut saat Rian mengenalinya


"Siapa?" Tanyanya bingung, ia pikir tak pernah bertemu Rian


"Aku Rian, laki-laki yang pernah kau tabrak di koridor kampus fasilitas seni enam tahun lalu" jawab Rian, ia benar-benar tak menyangka tuhan mengabulkan do'anya untuk dipertemukan kembali. Dan saat itu Rian kembali jatuh cinta untuk perempuan yang sama, unik dan berbeda dari kebanyakan perempuan lainnya. Saat itulah Rian mengajak bertemu keesokan paginya dengan dalih mengembalikan pulpennya


"Saya tau kamu menolak! Sekarang pulanglah!" Suara Pak Bayu menyadarkan Rian dari lamunannya, tanpa sadar sedari tadi ia mengingat pertemuan mereka


Rani menunduk, laki-laki yang datang untuk melamarnya atau mendekatinya, akan mundur saat ia mengatakan ini, hingga saat Rian datang dan berniat serius ia mengatakan akan menurut dengan pilihan ayahnya. Ayahnya tak ingin karena kekurangan putrinya, ia malah hidup menderita dengan keluarga barunya. Keturunan memang menjadi topik yang cukup sensitif setelah menikah di negara ini


"Tak perlu menggunakan kata halus untuk menyampaikan penolakanmu, saya tau..."


"Saya menerimanya" balas Rian tanpa ragu, pernikahan tak hanya tentang keturunan dan juga dokter mengatakan kecil kemungkinan bukan berarti tidak mungkinkan? Ia juga bukan tuhan yang bisa mengatur


Jawaban Rian membuat suasana kembali hening, Rani mengusap air matanya pelan menatap Rian, tak menyangka laki-laki yang pernah ia tabrak dulu mengatakan ini


"Saya menerima kekurangannya" balas Rian tanpa ragu


"Kamu menerima?" Pak Bayu mengulangi takut salah dengar


"Saya menerimanya" balas Rian


"Kenapa kamu menerimanya? Kamu tidak ingin menyakitu putri saya? Kamu tidak akan menduakan dia? Kamu tidak akan mencari perempuan lain kan?"


"Tidak akan"


"Kamu mungkin setuju, tapi bagaimana dengan orang tuamu?"


"Mereka akan setuju, mereka mendukung keputusanku selama itu hal yang baik" Pak Bayu terdiam cukup lama seperti tak menyangka laki-laki didepannya akan menerima, padahal ia tau sekali Rian berasal dari keluarga terpandang


"Pernikahan tidak hanya sebatas tentang keturunan, tapi tentang arti sebuah kebahagiaan tersendiri yang dirasakan hati saat tak lagi hampa, saat tak lagi bingung kemana jalan pulang saat beban pundak terasa berat, itu menurut saya" lanjut Rian, Pak Bayu sepertinya masih ragu, ia masih memikirkan tentang orang kaya kebanyakan yang egois


Bu Tina menyentuh lengan suaminya, memberi syarat kalau Rian adalah laki-laki pertama yang tidak keberatan sama sekali, Pak Bayu akhirnya mengangguk


"Baiklah, bawa keluargamu kita akan bicarakan tentang ini lebih serius lagi"

__ADS_1


__ADS_2