Pelangi untuk Aqila

Pelangi untuk Aqila
Dewasa itu apa?


__ADS_3

Senyum bahagia jelas terpancar di wajah Aqila, gadis itu berhasil meraih predikat cumlaude di jurusan bisnis. Ia tidak mengambil jurusan seni seperti waktu kuliah di Indonesia tapi memilih bisnis. Sebelumnya ia ingin memilih menetap di Indonesia dan kuliah disana, tapi karena harus sering-sering melakukan kontrol kerumah sakit, Papa Arya memutuskan untuk kuliah saja disini tentunya dengan persetujuan Aqila


Ingatannya masih buram, ia lupa dengan wajah orang-orang yang dulu pernah bersamanya, ia lupa bagaimana bentuknya, siapa namanya dan apa hubungan orang itu dengan dirinya


"Selamat ya nak, Aqila berhasil" Papa Arya memeluk putrinya dengan haru


"Terima kasih Pah, Aqila nggak bisa sampai diposisi seperti ini kalau bukan karena dukungan kalian"


Mama Intan menepuk pelan lengan suaminya, Papa Arya mengusap pelan air yang keluar dari sudut matanya, ada hikmah dibalik penyakit putrinya, ia mendapatkan ganti waktu yang hilang dimasa lalu untuk lebih dekat dengan putrinya, ia juga berhasil menjalankan perannya dengan baik sebagai sosok pahlawan yang pernah gagal


"Wajahnya yang ceria seperti ini membuatku merasa mengulang waktu saat ia kecil dan terus tertawa walau dengan hal sepele" Mama Intan membenarkan ucapan Papa Arya


Mereka melihat kearah Aqila yang sedang berkomunikasi dengan bahasa isyarat kepada teman-temannya yang mengalami tunarungu dan sesekali tertawa entah apa yang mereka bahas


Amerika dikenal sebagai negara yang ramah untuk penyandang disabilitas, contohnya di kota kecil bagian Amerika Utara ini, Rochester. Semua kebutuhan disabilitas terpenuhi dan begitu diutamakan


"Bagaimana dengan Naufal?" Papa Arya memijit pelipisnya pelan, pertanyaan istrinya juga yang sedang menjadi pikirannya sekarang


"Beberapa hari lalu Abi Umar menelpon, ia bertanya bagaimana kelanjutan dengan acara pertunangan mereka lima setengah tahun lalu"


"Papa hanya menjawab, Aqila belum bisa mengingat dengan baik semuanya"


"Ia mengatakan Naufal sudah semakin dewasa, ia takut anaknya terjerumus kedalam dosa zina, jadi memiliki niat menjodohkannya dengan anak Kyai Utsman"


"Bagaimana jika saat mereka sudah menikah baru Aqila mengingat semuanya? Aku tidak ingin melihat kesedihan lagi diwajahnya" Mama Intan memandang wajah putrinya yang tersenyum dari kejauhan


"Aku akan berusaha mengatakan padanya untuk menunggu sebentar lagi, aku pun tak ingin melihat dirinya tertawa dengan pandangan kosong"


"Aku tak ingin ia memakai topeng lagi diwajahnya untuk menipu kita semua kalau ia baik-baik saja, padahal hatinya hancur"


"Sejak ia terbangun dari komanya, aku sudah berjanji pada diriku tak akan membiarkan setetes air mata luka jatuh dari mata indahnya"

__ADS_1


"Aku hanya ingin dia bahagia" Mama Intan tersenyum dan mengangguk setuju


"Aqila anak yang istimewa, ia berbeda dari saudaranya" Papa Arya membenarkan ucapan Mama Intan, Aqila memang berbeda


"Kakek, nenek" Suara anak kecil memanggil pasangan paruh baya itu dengan suara yang begitu menggemaskan


"Halo cucu nenek" Mama Intan meraih Zara yang nampak lucu dengan baju berwarna pink dari gendongan Diana, sedangkan Papa Arya menggedong Yusuf yang terlihat semakin menggemaskan dengan jas hitam yang melekat pada tubuhnya


"Aqila mana Om, tante?" pertanyaan Kirana mewakili isi benak mereka semua yang tak melihat keberadaan orang yang sudah diwisuda itu hadir disana


"Itu, sedang berbicara dengan temannya" Mama Intan menunjuk kearah Aqila yang masih tertawa, entah apa pembahasannya dengan gadis berambut pirang yang sepertinya cukup dekat dengan dirinya


"Aku tak menyangka melihat mereka semua sudah tumbuh sebesar ini, bahkan aku sudah menjadi kakek" Ucap Papa Radit pelan


"Waktu berjalan begitu cepat kak, sekarang sepertinya aku ingin menghabiskan hari tuaku dan bermain bersama cucuku dirumah"


"Kita belum setua itu juga Arya, kita masih mempunyai tanggung jawab besar, kau pasti mengerti maksudku" Papa Arya mengangguk membenarkan, ia menatap kearah Aqila, Kirana dan Reyna yang sedang berfoto dengan pose heboh bersama teman-teman Aqila lainnya


"Itulah maksudku, aku tak sanggup bila harus melihat air mata putriku jatuh hanya karena laki-laki yang salah" Ucap Papa Radit


"Tapi nyatanya, aku pernah menjadi laki-laki yang membuat putriku banyak menderita"


"Jadikan sebagai pelajaran agar tak ada lagi perbedaan diantara mereka"


"Kakek kenapa nangis?" Zevan, anak dari Davin dan Anya, melihat kearah kakeknya, usianya yang baru memasuki lima tahun cukup sulit untuk mencerna ucapan para orang tua didepannya


"Kakek tidak menangis, tapi bahagia"


"Kenapa bahagia keluar air mata?" Tanyanya polos


"Karena air mata tak selalu untuk duka tapi juga menggambarkan rasa suka yang dalam, kau akan memahaminya saat sudah tumbuh dewasa nanti"

__ADS_1


"Dewasa itu apa?" Papa Radit menarik nafasnya panjang, kadang pertanyaan dari Zevan membuatnya darah tinggi


"Dewasa itu altinya kita bisa teltawa saat sedih" Devano yang baru menundukkan diri di samping Papa Arya terkejut sekaligus sedikit geli mendengar ucapan putranya yang belum pasih mengucap huruf 'R' tapi sudah membahas tentang urusan yang tidak seharusnya


"Siapa yang mengajari Yusuf kata-kata itu?"tanya Rian yang tercengang mendengar jawaban keponakannya, padahal masih cadel tapi membicarakan hal yang cukup dalam tentang hidup


"Aunty Qila yang bilang" jawabnya santai


"Bagaimana cara orang sedih tertawa?" Tanya Zevan lagi, kali ini ia memandang kearah Yusuf


Yusuf melihat sekeliling kemudian menunjuk kearah Zara yang digendong Darren mendekat kepada mereka


"Mungkin kayak Zala, liat deh ail matanya kelual tapi ia teltawa"


"Berarti Zara dewasa dong? Tapi kan Zara masih kecil?" tanya Zevan bertambah bingung


"Ini kenapa sih?" Darren yang baru datang melihat orang-orang disana seperti kebingungan melihat tingkah laku dua anak laki-laki yang memiliki usia tak jauh beda


"Menulut uncle Darren, dewasa itu apa?" Darren sedikit geli mendengar pertanyaan Zevan tapi ia tetap menjawab


"Dewasa itu artinya sudah besar" jawab Darren sekenanya


"Tapi kata Aunty Qilla, olang yang besal belum tentu dewasa kalena kedewasaan seseolang tidak ditentukan oleh umul dan tinggi badan" Darren yang hendak duduk hampir saja terjungkal ke belakang jika lengannya tidak ditarik Rian, bisa bahaya kalau putrinya ikut terjatuh


"Lalu Aunty Qilla bilang apa? Dewasa itu apa?" tanya Zevan


Yusuf bangun dari tempat pangkuan Papa Arya, ia berdiri didepan laki-laki keluarga Bramadja yang menunggu jawabannya, orang-orang disekeliling tak begitu dihiraukan, ia mulai mengangkat sebelah tangannya seolah bercerita


"Aunty Qilla bilang, dewasa itu altinya dimana kita bisa teltawa saat sedih, dewasa itu tidak ditentukan oleh umul atau tinggi badan, dewasa itu juga tentang pemikilan kita, dewasanya kita hanya kita yang tau dan salah satu tanda dewasa itu adalah saat kita sudah bisa menyelesaikan masalah sendili" Yusuf begitu dramatis menyampaikan ucapannya seolah membaca puisi, bahkan ada beberapa orang yang diam dan memperhatikannya


"Masalah itu apa?" Tanya Zevan yang membuat para laki-laki Bramadja itu menepuk jidat mereka

__ADS_1


__ADS_2