Pelangi untuk Aqila

Pelangi untuk Aqila
Lima Hari Lagi


__ADS_3

Senja sudah hampir tak nampak, ia hanya menyisakan awan berwarna merah yang indah diufuk barat, langit sudah mulai berubah gelap, rembulanpun sudah siap menggantikan surya


Ruang tamu kediaman Arya Bramadja menjadi saksi bisu betapa tegangnya suasana ini, sudah seperti kasus di pengadilan yang melibatkan jaksa


Papa Arya menarik nafasnya panjang, ia menatap kearah Naufal yang juga menatap kearahnya


"Hahhh, jadi apa kamu sudah benar-benar yakin? Naufal?" Tanya Papa Arya sekali lagi, ia sudah menanyakan pertanyaan ini beberapa menit yang lalu saat Naufal datang bersama keluarganya, menyampaikan maksud dan tujuan


"Saya sudah yakin dengan keputusan ini"


"Kalian sudah dewasa dan ini bukan lagi waktunya bermain-main, apa kau sudah siap? Menjalani ibadah terpanjang dalam hidupmu?" Tanya Papa Arya sekali lagi, Naufal mengangguk dan menjawab 'yakin'


"Apa kau bisa berjanji padaku seperti lima tahun lalu saat kau datang kesini untuk selalu menjaga dan membahagiakan Aqila?"


"Lebih dari itu, dia akan menjadi tanggung jawabku, makmumku, sudah pasti aku akan menjaga dan melindunginya bahkan tanggung wajab terbesar sebagai pemimpinnya" jawab Naufal mantap


"Aku pernah merasa gagal menjadi pahlawan dan membuat putriku meneteskan banyak air mata berharganya. Apa kau bisa berjanji untuk tidak membuat air mata kesedihan itu menetes lagi?" Aqila terharu mendengar ucapan Papa Arya, sekalipun dulu Papa Arya mungkin mengabaikan dirinya, tapi sekarang ia tak pernah merasakan kekurangan. Tuhan telah membalasnya dengan sebuah penyesalan panjang, yang terkadang masih bisa ia rasakan hingga sekarang


"Aku akan berusaha untuk itu, memastikan kalau wajahnya selalu tersenyun dan yang akan menetes dari matanya hanyalah air mata kebahagiaan" Papa Arya mengangguk mendengar ucapan Naufal


"Lalu kapan kau bisa mengikatnya dalam janji suci dan ikatan halal itu?" Naufal tersenyum senang mendengar pertanyaan itu, bukankah artinya ia sudah mendapatkan restu


"Besok" bahkan Abi Umar yang ada disebelahnya kaget mendengar jawaban putranya, sedangkan Umi Sarah menggelengkan kepalanya, bar-bar sekali pikirnya


"Saya mengerti kamu mungkin merasa takut kalian akan terpisah lagi seperti rentetan takdir yang telah berlalu sebelumnya, tapi Naufal pernikahan itu juga butuh persiapan, persiapan mental, persiapan acara dan lain sebagainya" Naufal menganggukkan kepalanya, benar kata Papa Arya, sejujurnya ia sedikit takut kehilangan lagi, apalagi mendengar cerita kemarin kalau Aqila sudah menyerahkan hatinya kepada laki-laki lain


Ia menatap Aqila yang menunduk, apa benar seperti itu? Jika iya, kalau itu benar? Maka ia hanya akan membuat Aqila jatuh cinta lagi saat perempuan itu sudah ada didekatnya, Aqila juga mengatakan tidak menolak lamaran ini kan? Jadi ia yakin kalau Aqila dan hatinya masih sama seperti dulu


"Benar, aku memang sedikit takut itu terulang lagi"


"Jika kau sudah melibatkan Allah dalam urusanmu, yakinlah yang terbaik nak" ucap Abi Umar, ia memegang pundak putranya. Sedangkan Rian yang melihat itu menggelengkan kepalanya, apa dia memang Naufal si badboy kampus dulu? Orang yang hobi balapan dan terdengar kabar sering tawuran?


"Jadi, kapan?"


"Begini, bagaimana kalau lima hari lagi? Kami akan berusaha dulu menyiapkan semuanya semaksimal mungkin, mulai dari membuat undangan, dekorasi tempat acara, baju dan persiapan lainnya" Ucap Abi Umar


"Apa Pak Kyai tidak kerepotan?" Tanya Mama Intan, ia pikir waktu itu terlalu singkat


"Insya Allah tidak"

__ADS_1


"Baik kalau begitu, saya juga akan mengirim beberapa orang untuk membantu mengurus semuanya disana, agar pak kyai tidak terlalu kerepotan " ucap Papa Arya


"Sebenarnya tidak perlu begitu juga pak, kami mempunyai banyak orang dipesantren yang siap membantu" ucap Abi Umar menolak dengan halus


"Tidak apa-apa, bukankah semakin banyak akan semakin baik?"


"Kalau begitu terima kasih banyak Pak Arya"


"Tak perlu mengucap terima kasih, memang sudah sewajarnya kita saling membantu"


"Mahar apa yang diinginkan Nak Aqila?" Tanya Ummi Sarah, Aqila mengangkat kepalanya, kini semua pandangan tertuju padanya, ia jadi malu sendiri


"Seperangkat pakaian sholat"


"Itu saja?" Tanya Naufal, ia tau kalau itu mungkin mahar yang mudah tapi justru itulah tanggung jawab terbesarnya. Ia harus bisa menjadi imam yang membimbing Aqila nanti


"Ya" Aqila mengangguk, Naufal tak mungkin tak mengerti arti benda itu kan? Pikir Aqila


"Kau juga sudah memberiku cincin emas saat lamaran itu kan?"


.


"Maaf Ren, kamu nunggu lama ya?" Gempano datang dan duduk disebelah perempuan itu


"Belum terlalu lama kok" Renata tersenyum, menampilkan senyuman khasnya


"Maaf, soalnya tadi ada beberapa laporan yang salah"


"Iya nggak papa"


"Ini" Renata menyerahkan kertas berwarna biru yang terbungkus plastik bening mengkilat, di pinggirnya ada bunga indah yang membingkai dua nama disampul depan


'Naufal dan Aqila'


"Aku pikir kita nggak bakel dapet juga, karena kita kan sahabat mereka udah pasti kita dateng walaupun nggak ada undangan" ucap Gempano sedikit terkekeh, Renata sedikit tersenyum mendengar itu


"Mereka akan menikah dua hari lagi" jawab Renata


"Iya, aku juga udah denger dari Naufal"

__ADS_1


"Apa orang tua Kak Gempano masih belum mengatakan apa-apa?" Tanya Renata, ia mempertanyakan status hubungan mereka saat ini


"Mereka belum mengatakan iya, mereka hanya bilang kamu belum siap melakukan ibadah panjang itu" ucap Gempano


"Siap atau tidaknya kita, kita yang menentukan dan melihat diri kita sendiri, bukan orang lain" balas Renata, ia masih bingung dengan hubungan mereka saat ini, dikatakan pacaran mungkin iya, karena hubungan mereka terlihat seperti sepasang kekasih, tapi Gempano juga belum pernah menembak Renata untuk dijadikan pacar, ia hanya berjanji akan membuat Renata bahagia dan mengatakan mencintai gadis itu


Renata jadi bingung sendiri dengan hubungan mereka, mereka saling mencintai dan mengetahui hati satu sama lain, tapi statusnya saat ini kadang membuatnya bingung


"Memang, tapi aku tidak ingin menikah tanpa restu orang tuaku, walaupun kita bahagia tapi tanpa rido mereka tetap saja terasa seperti ada yang kurang lengkap"


"Apa kau sudah berusaha meyakinkan mereka?" Tanya Renata


"Sudah, mereka mengatakan persiapkan dulu semuanya dan yakin dengan pilihanmu"


"Sepertinya mereka memang kurang menyukaiku" balas Renata, ia memang pernah bertemu dengan orang tua Gempano dan mereka seperti menyambut dirinya baik, tapi Renata merasa kalau ibu Gempano justru melihat penampilannya saat itu yang terkesan sedikit tomboy


"Renata stop!, aku tidak ingin kau menyalahkan mereka, mungkin apa yang mereka katakan benar kalau aku butuh banyak persiapan" ucap Gempano, suaranya sedikit meninggi seperti tak terima orang tuanya dikatakan seperti itu


"Persiapan apa lagi? Apa itu artinya kau juga meragukan kalau aku bukan pilihan yang tepat?" Tanya Renata, suaranya juga mulai sedikit meninggi. Ia sakit hati mendengar jawaban itu


"Bukan begitu maksudku Ren, tunggu sebentar lagi dan aku pasti akan meyakinkan mereka"


"Sudah dua tahun dan masih belum menghasilkan apa-apa, berapa lama lagi aku harus menunggu? Orang tuaku terus bertanya dan aku semakin bingung memberikan alasan yang tepat"


"Aqila dan Naufal saja menunggu lebih dari lima tahun, apa kau tidak bisa?"


"Gempano!" Renata menyebut nama laki-laki itu tanpa embel-embel kak seperti biasa


"Kisah kita dan mereka berbeda, jangan pernah kau menyamakan itu karena selamanya itu tak pernah sama"


"Kau bukan Naufal yang setia menunggu dan selalu berusaha menepati janjinya dan aku bukan Aqila yang bisa sabar menghadapi segala ujian hidupnya" jawab Renata, tanpa sadar air matanya menetes mengatakan itu


Gempano memegang kepalanya pusing


"Renata, aku pikir kita sudah sama-sama dewasa untuk mengerti hal ini, beri aku waktu sebentar lagi, aku yakin mereka pasti luluh"


"Kurang dewasa apa lagi? Aku rela belajar banyak hal yang sebelumnya kurang aku sukai demi mereka, aku masih setia menunggu dan mengatakan semuanya baik-baik saja pada orang tuaku, kurang dewasa apalagi sekarang? Kau ingin aku berjuang seperti Aqila? Apa kau juga bisa berjuang seperti Naufal?"


.

__ADS_1


Banyak Typo...🙏🙏🙏


__ADS_2