
"Itu Kak Darren kan?" Renata menunjuk Darren yang berdiri di depan gerbang kampus sembari melihat jam di pergelangan tangannya
" Galang bisa mati sekarang" desis Aqila
"Bagus, biar rasain tuh orang, nggak punya malu banget, gue yakin pas lahir urat malunya ikut putus pas suster motong tali pusar dia"
"Bicara lo kasar banget" Aqila menegur Renata namun juga ikut terkikik mendengar ucapan sahabatnya itu
"Gue nggak sabar liat pertunjukkan seru, pasti Kak Darren keren banget pas lawan Galang pakek jas dokter" Aqila hanya mengangguk-anggukan kepala menanggapi
"Eh, kakak lo liat kita" Renata menepuk punda Aqila dengan heboh
"Terus?"
"Dia jalan ke arah sini Aqila, kayaknya dia mau jemput lo deh"
"Nggak mungkin!, dia pasti mau tanya tentang Reyna" Aqila tak mau berharap tentang apapun, jika pada akhirnya hanya menimbulkan sakit hati lantaran kecewa
"Udah selesai kuliahnya dek?" Aqila dan Renata mematung sejenak mendengar ucapan Darren, tapi mereka yakin tidak salah dengar
Aqila menoleh ke belakang, mungkin Darren melihat Reyna sekarang
"Aku kak?"
"Memangnya siapa lagi?" Darren mengusap kepala Aqila dengan gemas, membuat Aqila hanya mematung tak percaya
"Kak Darren ngapain kesini?"
"Karena sekarang hari ulang tahun kakak, ayo kakak teraktir"
"Hah?" Aqila sampai membuka lebar mulutnya tak percaya mendengar ucapan Darren, sejak kapan kakaknya sebaik ini? Dia tidak kerasukan hantu rumah sakit kan?
"Kenapa? Nggak bisa?"
"Bu bukan gitu, tapi Aqila ada janji sama Renata hari ini mau makan siang bareng"
"Kalau gitu, ajak dia juga" Renata sampai tak bisa berkata-kata, sebagai teman yang mengenal Aqila dari SMA, baru pertama kali ia melihat Darren memperlakukan Aqila seperti ini, biasanya ia hanya nampak acuh bahkan tak menyapa Aqila sekalipun saat mereka berapapasan
__ADS_1
"Eng enggak usah kak, aku nggak apa-apa kok, udah di telpon ibu juga disuruh pulang cepetan" Tentu saja itu hanya kebohongan Renata belaka, nyatanya ia tak ingin mengganggu kebersamaan adik kakak yang bahagia
"Aqila gue duluan"
"Kalau gitu hati-hati dijalan" Aqila hanya menatap punggung Renata yang mulai menjauh menuju tempat parkir
"Ayo, kenapa masih diam disini?"
"Kita ajak Reyna juga kak, nanti dia sedih"
"Dia masih ada jadwal kuliah, lagian ada sesuatu yang mau kakak omongin ke kamu" Aqila hanya mengangguk pasrah saja mengikuti langkah Darren menuju mobil hitam yang sudah terparkir di halaman kampus
"Loh, Dokter Diana juga ikut?" Aqila sedikit terkejut melihat dokter yang menanganinya di rumah sakit ada disini
gercep juga Kak Darren pikirnya
"Iya, ada sesuatu yang mau kita bahas bertiga"
"Ayo masuk"
Jarang atau bahkan ini pertama kalinya Aqila menerima perlakuan seperti ini dalam beberapa tahun terakhir dari saudaranya, khususnya Darren
Bagi Aqila, diantara saudaranya yang lain sejak kecil ia memang lebih dekat dengan Darren, karena itu saat Darren juga perlahan ikut menjauh darinya, rasa kehilangan itu lebih berat daripada Rian atau Devano
"Bagaimana kabarnya Aqila?" dokter Diana tersenyum menatap Aqila yang duduk disebelahnya saat ini, sedangkan Darren duduk sendiri di kursi kemudi
"Alhamdulillah kalau sekarang masih baik, tapi nggak tau nanti soalnya sakit kepalanya sering dateng tiba-tiba dok" jawab Aqila seadanya
"Itu tentu hal yang wajar untuk penderita kanker otak"
"Walaupun sudah pernah kemo dok?" tanya Aqila dibalas anggukan dokter Diana
"Iya, kemoterapi kan punya siklus, jadi nggak langsung sembuh dan sakitnya ilang begitu saja, tapi ada prosesnya"
"Kalau mimisannya gimana?" tanya dokter Diana kembali
"Kalau mimisan kadang-kadang juga dok"
__ADS_1
"Ada masalah dengan ingatan? seperti sering lupa sesuatu, cara berfikir atau mungkin sering berhalusinasi?"
"Sering" bukan Aqila yang menjawabnya tapi Darren yang duduk dibalik kemudi, ia ingat Aqila yang sering mengatakan melihat kakek atau neneknya, atau bahkan melupakan sesuatu penting seperti berkas yang diminta Devano beberapa hari lalu
"Kalau emosi? Biasanya kanker otak juga mempengaruhi perubahan emosi seseorang"
"Kalau itu kadang-kadang juga sih dok, tapi beberapa hari ini Aqila merasa baik-baik saja, kadang sakit kepala atau mimisan tapi tak sesering sebelumnya" dokter Diana mengangguk mendengar penjelasan Aqila
"Aqila perempuan yang kuat karena bisa menahan rasa sakit itu, banyak orang diluar sana yang memilih menyerah dan hanya pasrah dengan hidup mereka"
"Aqila mau sembuhkan?" Aqila mengangguk, siapa yang tak ingin sembuh? ucapnya dalam hati
"Aqila harus punya semangat dan motivasi kalau ingin sembuh, pikirkan tentang orang-orang disekitar Aqila yang selalu tersenyum dan menemani Aqila, pikirkan tentang cita-cita yang ingin Aqila raih suatu hari nanti, jangan karena penyakit ini menjadikan Aqila lemah dan menyerah, tapi jadikan ia untuk meningkatkan motivasi dan percaya kalau suatu hari nanti Aqila bisa bahkan melebihi orang yang sehat diluar sana" Aqila lagi-lagi mengangguk, dokter Diana ternyata dokter yang ramah, cepat sekali rasanya Aqila akrab dengan dirinya
"Pola makan, istirahat, dan lain-lainnya juga harus teratur, makanannya juga harus sehat dan bergizi, hindari makanan daging olahan, kopi, makanan yang terlalu berlemak, makanan kemasan, dan makanan kaleng" jelas Dokter Diana panjang lebar, seperti seorang ahli gizi
"Dokter Diana punya pacar?" ucap Aqila tiba-tiba, ia melirik Darren melalui kaca mobil dan dapat melihat ekspresi tegang dari wajah Darren saat Aqila mengatakan itu
"Kenapa nanya gitu?"
"Aqila cuma pengen tau aja sih, kalau dijawab juga enggak apa-apa" Aqila mengerti, mungkin itu termasuk privasi yang tidak ingin Diana ungkapkan kepada semua orang
"Belum" Mata Aqila berbinar mendengar itu
"Kalau sama Kak Darren mau nggak?"
"Aqila!" Darren menaikkan sedikit suaranya, mungkin malu mendengar hal itu
"Oowh Aqila ngerti Kak Darren nggak mau pacaran ya? Langsung sat set nikah gitu, biar nggak dosa" jawab Aqila tanpa rasa bersalah sedikitpun
"Jangan bahas hal kayak gitu Aqila"
"Kak Darren sih, nggak gentle jadi laki-laki, harusnya tuh kalau suka ajak ta'aruf kalau nggak mau pacaran, jadinya Aqila kan yang duluan dateng jodohnya?" Aqila menutup mulut menahan tawa, entah kenapa sekarang ia merasa lebih bahagia dan perasaan ini sudah lama tak ia rasakan saat bersama keluarga khususnya Darren
Tak ada balasan lagi Darren, namun dapat Aqila lihat telinganya mulai memerah, apa mungkin Darren tak ingin menikah karena harus menunggu Devano dulu? Begitu pikir Aqila
Akhirnya setelah berkendara hampir dua puluh menit, mobil sedan hitam itu berhenti di depan sebuah restoran yang terbilang cukup mewah, Darren pasti mengajaknya kesini karena mengingat sekarang adalah hari ulang tahun saudaranya itu, pikir Aqila
__ADS_1