Pelangi untuk Aqila

Pelangi untuk Aqila
G & R


__ADS_3

Angin berhembus semilir, dedaunan pohon yang tertiup angin menjadi penghias dimalam sunyi, jangkrik dan cacing tanah tak pernah lepas sebagai pelengkap, malam seperti terasa berbeda tanpa mereka


"Shadaqallahul adzim" Aqila mengakhiri bacaan Al-Qur'annya, rutinitas barunya setelah bersama Naufal, membaca Al-Qur'an selesai tahajud dan Naufal yang akan menyimak bacaannya


"Kayaknya masih ngantuk, capek banget ya?" Naufal melihat istrinya yang menguap dan menjatuhkan kepalanya diatas sajadah


"Hmm, terlalu banyak kejadian tak terduga akhir-akhir ini" Aqila berusaha mempertahankan kesadaran saat matanya ingin sekali tertutup


"Dingin" ia memukul tangan Naufal yang diletakkan dengan sengaja oleh laki-laki itu diatas wajahnya


"Biar nggak ngantuk" jawab Naufal tanpa rasa bersalah sama sekali


"Ihhh Kak Naufal, nanti harus ulang wudhu lagi, padahal sudah mau subuh" Aqila menggerutu, air benar-benar dingin pagi ini, membuat ia bahkan sampai menggigil saat mengambil wudhu


"Itu hanya godaan setan agar manusia semakin malas beribadah, harus kita lawan jangan dituruti untuk terus lanjut tidur" Aqila mengiyakan saja, tapi matanya tak bohong kalau ia memang sangat mengantuk


"Mikirin apasih sampai kurang tidur?" Aqila bangun dari duduknya, ia berjalan mendekati jendela dan membuka tirai itu, sinar rembulan langsung menerobos masuk, terlihat begitu indah


"Cantik" ucap Naufal bukan karena melihat bulan dilangit, tapi karena melihat wajah istrinya yang terlihat cantik terkena sinar bulan


"Rembulan memang selalu cantik" balas Aqila


"Bukan, tapi wanita didepanku yang aku maksud" Aqila tersenyum, setiap Naufal menggodanya ia selalu malu padahal mereka sudah menikah


Aqila duduk didepan jendela masih dengan mukenah yang ia kenakan, Naufal mengikuti istrinya, ia duduk disebelah Aqila. Mereka saling menyandarkan kepala masing-masing, hanya gerakan refleks saja, tapi tetap terlihat seebagai sesuatu yang romantis


"Banyak hal yang terjadi belakangan ini" Aqila memulai pembicaraan mereka saat mengingat beberapa hari ini banyak hal tak terduga yang terjadi


"Hmmm, ini bukan sesuatu yang tak disengaja, melainkan memang sudah diatur oleh skenario sang pencipta dan jalan yang dipilih hambanya"


"Hmmm, bahkan pertemuan kita juga karena jalan yang kita pilih dan tentunya dengan melibatkan pencipta" Naufal menatap kearah Aqila, masih seperti mimpi jika ia duduk bersama sekarang, berdua dibawah cahaya rembulan, dan bercerita seperti ini. Dulu ia sering melakukan ini sendiri, duduk didekat jendela, melihat rembulan dan berdo'a untuk dipertemukan kembali dengan seseorang yang mengisi hatinya


"Aku masih memikirkan siapa perempuan yang dipilih ibu Kak Gempa sampai meninggalkan Renata"


"Fadila" Aqila langsung menegakkan tubuhnya hingga membuat kepala Naufal hampir terjatuh jika ia tidak segera berpegangan pada lantai


"Beneran? Fadila?" Naufal mengangguk mengiyakan


"Aku sampai bingung siapa yang harus dikasihani diantara mereka"


"Kenapa gitu?"


"Renata kasian karena ditinggalkan Gempano sedangkan Fadila kasian karena mungkin saja hati Gempano masih terikat pada Renata" Ucap Aqila, ia sampai bingung sendiri dengan kisah cinta tiga orang itu


"Yang kasihan itu Gempano..."


"Kok bisa?" Aqila memotong ucapan suaminya?. Naufal sedikit mengernyit apa ia belum memberitau Aqila tadi malam?


"Karena Renata sudah akan menikah dengan Galang, dan Fadila sudah bertunangan dengan laki-laki lain tadi malam" Aqila sampai menutup mulut tak percaya? Apa ini?


"Dia yang mungkin paling pantas dikasihani, tapi dia juga yang memilih itu sendiri tanpa pertimbangan. Dia memainkan dua hati perempuan, ia sebenarnya menyukai Renata tapi karena ibunya ia melepas dan memilih Fadila. Ibaratnya ia masih memiliki rasa pada Renata tapi juga ingin memiliki Fadila"

__ADS_1


"Nito ou mono wa ito mo ezu"


"Maksudnya?" Naufal tak mengerti bahasa yang diucapkan istrinya


"Jika kamu mengejar dua kelinci sekaligus, maka tak satupun kamu dapat, ini peribahasa jepang yang menggambarkan kondisi Kak Gempano. Dia mungkin sudah melepas Renata, tapi sebenarnya hatinya masih menginginkan Renata ada disampingnya, tapi juga ingin memiliki Fadila aggar tak mengecewakan ibunya. Tapi sekarang pada akhirnya, ia tak mendapatkan apa-apa" jelas Aqila pada mengangguk membenarkan, mereka malah ikut pusing memikirkan ini, terlebih Gempano adalah sahabat baiknya dan Renata adalah sahabat baik Aqila


"Siapa yang ngajarin?"


"Reynald" Naufal yang tadi tersenyum langsung merubah ekspresi wajahnya mendengar nama laki-laki yang pernah dekat dengan istrinya itu


"Jangan cemburu sayang, bukannya udah kita bahas kemarin?"


"Apa?" Naufal pura-pura tidak mendengar, padahal jantungnya sudah ingin melompat keluar hanya untuk satu kata yang diucapkan istrinya


"Jangan cemburu"


"Terus?"


"Terus apa?"


"Lanjutan katanya tadi kayak yang pertama" Aqila mengingat-ingat ucapannya


"iihhhh Kak Naufal"


"Hahaha"


.


"Makanya ibu bilangin jangan jadi pebinor, kamu mau rebut istri orang? Ha!" Miss Hana sengaja menekan luka dipelipis putranya dengan kuat


"Aku nggak jadi pebinor bu, aku cuma mau nyelamatin dia aja dari suaminya, bukan bermaksud merebut"


"Dia sudah punya suami Reynald, apa kamu tidak ada wanita lain?"


"Suaminya tidak baik"


"Kalau begitu kenapa dia tidak bercerai saja? Demi harta?"


"Bukan, tapi karena dia tidak ingin putrinya merasakan kehilangan ayah"


"Percuma saja kalau begitu, lama-lama putrinya bisa trauma karena terus melihat pertengkaran orang tuanya" Miss Hana menuang sedikit alkohol pada kapas dan mengobati lutut Reynald. Ia heran dengan Reynald dan suami wanit yang dimaksud, sebenarnya mereka berkelahi seperti apa? Hampir seluruh tubuhnya babak belur


"Aku jugaa bilang gitu, karena sebenarnya pria itu menginginkan anak laki-laki bukan perempuan, jadilah ia membenci putrinya sendiri"


"Bodoh sekali sampai mau disiksa seperti itu!, bawa saja wanita itu besok kemari, ibu akan memberikan dia nasihat agar menceraikan suaminya yang tidak beradab itu" ucap Miss Hana kesal sampai menekan luka putranya terlalu kuat


"AKHH IBU!!!"


.


Menjelang tiga hari lagi pernikahannya, Renata tidak diizinkan bertemu Galang, tapi ia juga belum mengantar surat undangan pada Gempano. Ingin meminta bantuan Aqila, tapi sahabatnya itu sedang berada dirumah suaminya di ponpes, ia jadi tak enak kalau pergi kesana. Ia sebenarnya bisa saja meminta orang lain mengantarkan undangan ini, misal Panil atau Regan. Tapi ia juga punya hala yang harus dikatakan pada laki-laki itu

__ADS_1


"Hahhhh, bismillah" Renata mengambil undangan berwarna coklat motif bunga yang indah dengan dilapisi plastik bening, di bagian depan tertulis inisial namanya dan Galang, G & R


"Sama-sama huruf G, tapi bukan Gempano melainkan Galang" lirih Renata, kenangan mereka mungkin tak bisa terhapus secepat itu tapi rasa kecewa yang terlalu dalam membuatnya harus rela melepas laki-laki seperti Gempano


"Mau kemana Ren?" Ibu Fani menyapa putrinya yang nampak rapi, sejak kejadian dihotel itu ia jadi sering bertanya kemana Renata pergi, takut putrinya bertemu Galang atau berselingkuh dengan laki-laki lain, sampai pernah membuat Renata memvideokan dirinya dari berangkat ke rumah sampai pulang kerumah lagi


"Mau ketemu Gempano, nganterin undangan sekalian ada yang mau Renata bicarain sama dia" Renata mengambil tangan ibunya untuk salim, ibunya libur bekerja untuk benar-benar memastikan acara maksimal bersama dengan Bu Maya


"Jangan lupa kunci hati kamu!, awas kalau sampai jatuh cinta pada laki-laki seperti dia lagi!"


"Iya, aku juga masih punya otak buat mikir bu" Renata memutar bola matanya malas, kalimat itu rutin diucapkan ibunya saat ia keluar


"Hati-hati dijalan"


"Assalamu'alaikum"


"Wa'alaikumussalam"


Renata menuju motornya, ia teringat kalau belum bertanya pada Gempano dimana laki-laki itu sekarang?, dengan berat hati dan menghela nafas panjang, ia membuka blokir kontak Gempano, namun belum sempat ia menekan ikon telpon, panggilan masuk dari nomor itu


Renata sedikit terkejut sampai hampir menjatuhkan handphonenya, ia menarik nafas dan mengatur suara agar tak terdengar seperti gugup


"Halo, Assalamu'alaikum Ren"


"Wa'alaikumussalam"


"Bisa kita bertemu? Ada sesuatu yang ingin aku katakan padamu"


"Kebetulan aku juga ingin mengatakan sesuatu" balas Renata


"Dimana kamu ingin bertemu?" Lanjutnya lagi


"Bagaimana kalau di tepi danau kemarin?"


"Oke"


Gempano melihat panggilan yang sudah berakhir dari gadisnya, mungkin sekarang bukan lagi atau bisa jadi sekarang lagi, entahlah


Hatinya sekarang benar-benar seperti jarum kompas tanpa magnet, benar-benar kehilangan arah. Ia ingin kembali ke utara tapi ia bingung dimana arahnya, ingin kembali ke lokasi semula tapi ia sudah pergi melangkah terlalu jauh, jika ia terus melangkah mungkin ia akan terjatuh dalam jurang yang dalam


Kemarin malam orang tuanya memberitau kalau mereka terlambat datang, sudah ada laki-laki yang melamar Fadila terlebih dahulu, tergambar jelas kekecewaan diwajah ibunya, Gempano tak tau harua berbuat apa karena itu adalah kebebasan gadis itu untuk memilih


"Fadila sudah memiliki calon tunangan lain, ibu sedikit kecewa karena pikir dia akan memilihmu, maafkan ibu nak, karena kita terlambat"


Gempano menggeleng saat ibunya mengatakan itu, ia justru merasa ada sedikit beban yang terangkat walau ia juga sedikit kecewa


Gempano masih teringat jelas kejadian tadi malam, sampai merasa benar-benar tak tau arah lagi sekarang, ia sudah memutuskan Renata, apa sekarang masih bisa bersama? Karena untuk sekarang ia akan menepati janji bisa membahagiakan perempuan itu, terlebih ibunya sudah merestui tadi pagi


Cahaya dari matahari diufuk barat memantulkan air danau yang berwarna hijau, nampak sedikit bayangan mentari disana, jam masih menunjukkan pukul setengah lima sore, lokasi disini tak banyak didatangi orang mungkin karena musim hujan jadi tanah agak becek, berbeda jika musim panas, para keluarga akan memilih piknik disini


"Renata" Gempano menarik nafasnya, rangkaian kata ia susun untuk meminta maaf pada gadis itu, ia harus percaya kalau gadis itu bisa memaafkaannya

__ADS_1


__ADS_2