Pelangi untuk Aqila

Pelangi untuk Aqila
Kami merindukanmu


__ADS_3

Darren menghapus air matanya yang mengalir begitu saja, mimpi itu terasa begitu nyata untuknya, bahkan ia bisa melihat bagaimana kesedihan semua orang saat Aqila pergi, semuanya seolah terjadi


Darren menggelengkan kepalanya, ia melirik jam pada benda pipih yang ia nyalakan, sudah jam dua belas malam, kejadian ini begitu persis dengan mimpinya. Ia juga teringat sesuatu dan benar saja tepat ulang tahun Aqila yang ke dua puluh tahun, ia menandainya saat Aqila memberikan kejutan untuknya di ulang tahunnya kemarin, kemana saja ia selama ini? Atau lebih tepatnya bagaimana perasaan Aqila setiap tahun di hari ini? Kesepian? Sudah pasti hingga pantas saja ia merasa asing dalam keluarganya


"Happy Birthday dek, sekarang ulang tahun Aqila yang ke dua puluh, apa Aqila tak ingin bangun dan merayakannya?" Gumamnya pelan, saat itulah lampu indikator ruang operasi padam, dan ruangan dingin itu mulai terbuka


Dokter Chris menghampiri Darren, menunduk, menangkupkan tangan di depan dada dan menggelengkan kepalanya. Darren mengatur nafasnya, mimpi itu tak mungkin nyatakan?


"Detak jantungnya sempat terhenti beberapa saat dan kami sempat ingin menyerah, tapi keajaiban datang"


"Kami telah berupaya sebaik mungkin, operasinya berhasil tapi mungkin Aqila akan mengalami masalah pada ingatannya dan sekarang Aqila dinyatakan koma setelah operasi"


Darren sedikit bersyukur, mimpinya tak jadi kenyataan, walau Aqila koma setidaknya masih ada harapan dirinya untuk hidup


"Kami akan memindahkannya ke ruang perawatan saat kondisinya sudah stabil"


Darren mengangguk, ia masuk ke ruangan dingin itu dan langsung memeluk pelan tubuh adiknya, karena banyaknya selang penunjang kehidupan yang tersambung pada tubuh ringkih itu


"Terima kasih sudah berusaha dan bertahan dek, terima kasih sudah mau bersama kami disini"


"Sekarang ulang tahun Aqila kan? Aqila ingin hadiah seperti apa hmmm? Aqila ingin hadiah yang bagaimana? Akan Kak Darren berikan semuanya kalau Aqila sudah bangun" Darren menghapus setitik air mata yang turun dari ujung mata Aqila


"Kenapa menangis? Sakit? Atau Aqila terharu karena untuk pertama kalinya kakak ngucapin ulang tahun setelah sekian tahun berlalu?"


"Sekali lagi terima kasih karena masih mau bertahan"


"Kami semua, mama, papa, Kak Devan, Kak Rian, Reyna, dan semua keluarga kita, teman-teman Aqila merindukan Aqila, jadi cepatlah bangun, jangan tidur terlalu lama"


"Karena ribuan kilometer jauhnya dari sini, pelangi juga masih menunggu"


*Tiga bulan kemu**dian*


"Mimpinya indah banget ya nak? Sampai nggak mau bangun dari tidurnya?" Mama intan mengelus kepala Aqila yang mulai ditumbuhi rambut-rambut tipis


"Aqila nggak kangen ya sama kita disini? Kita udah kangen banget loh sama Aqila"


"Mah, makan dulu" Papa Arya mengajak istrinya yang tak beranjak sedikitpun dari kursi samping brankar, memperhatikan wajah putrinya


Baru saja Mama Intan hendak beranjak dari duduknya, matanya menangkap sedikit peegerakan dari telunjuk putrinya yang dipasangi alat untuk mendeteksi pergerakannya, sesaat kemudian mata yang sudah lama tertutup itu terbuka


"Aqila" Mama Intan kembali duduk dan megecup tangan putrinya, sedangkan Papa Arya menekan tombol disamping brankar untuk memanggil dokter

__ADS_1


.


Lima tahun kemudian


Dibawah terik matahari musim panas, seorang gadis nampak berjalan sedikit tergesa, mengangkat sedikit tangannya untuk menghalau terik matahari yang begitu menyengat


Trackkkk


Gadis itu sedikit terkejut melihat seseorang mengibarkan payung dan berjalan disebelahnya


"Berapa derajat hari ini?"


"Tiga puluh satu derajat"


"Kenapa aku merasa cuacanya begitu panas hari ini?"


"Bukan cuacanya, tapi hatimu yang panas"


"Jangan sok tau Reynald Arazka, hariku tak pernah seburuk harimu"


"Benarkah Valisha? Aku pikir aku melihat asap keluar dari telingamu" Gadis itu berhenti berjalan, dia Aqila. Namun Reynald lebih memilih memanggilnya dengan nama tengah Valisha


"Berhenti bercanda Reynald, hatiku sedang tidak baik untuk diajak bercanda sekarang"


Aqila terdiam sejenak, ia memilih duduk dikursi taman pinggir jalan, Reynald ikut mendudukkan diri disebelahnya. Aqila memandang bangunan-bangunan disekitarnya, kota ini, Rochester, kota yang sepi itu sebutan untuk sejumlah orang, karena banyaknya orang tuli di kota itu dengan populasi yang nyaris mencapai seratus ribu penduduk


"Aku tak memikirkan apa-apa, hatiku hanya merasa sedikit berat seolah aku melupakan sesuatu penting dalam hidupku dan mungkin merasa sedikit sedih karena setelah wisuda aku akan kembali ke negaraku"


"Aku pasti merindukan semua yang ada disini" lanjut Aqila kemudian


"Termasuk aku?" tanya Reynald merapikan rambutnya yang sedikit berantakan


"Kamu orang Indonesia, bukan orang sini" ucap Aqila sedikit bercanda membuat wajah memberenggut laki-laki itu


"Aku yang menemanimu selama disini, kita tetangga dan teman kan?"


"Teman? Sejak kapan kita menjadi teman?"


"Sebelum kau memasuki dinginnya ruangan operasi"


"Benarkah? Maaf aku melupakan beberapa hal setelah sadar dari koma ku, ingatanku seperti buram, menampakkan hal tak jelas yang justru membuatku pusing saat aku memaksanya"

__ADS_1


"Jangan pernah memaksanya lagi, segala sesuatu itu tak bisa dipaksa, atau ia akan sakit dan rusak"


"Terima kasih" ucap Aqila tiba-tiba


"Kenapa kau berterima kasih padaku"


"Karena mau berteman denganku" Reynald sedikit tertawa mendengar jawaban Aqila


"Aku yang seharusnya berterima kasih karena menerimaku sebagai temanmu"


"Cuaca terasa semakin panas, ayo pulang"


ajak Reynald


"Maafkan mengatakan ini, tapi bisakah kau menutup payung itu, sejujurnya itu agak memalukan" cicit Aqila pelan menutup wajahnya, ia malu saat orang-orang sekitar memperhatikan mereka yang memakai payung padahal cuaca tak sepanas itu


.


"Assalamu'alaikum"


"Wa'alaikumussalam" Darren yang sedang menemani putranya bermain, menjawab salam begitu mendengar adiknya pulang


"Kak Diana mana kak?"


"Katanya pergi ke supermarket sebentar" Darren dan Diana, mereka menikah tiga tahun lalu saat kondisi Aqila benar-benar sudah dirasa pulih


Lima tahun lalu Darren melihat sendiri bagaimana adiknya berjuang diruang operasi dan berakhir koma selama tiga bulan, denyut jantung Aqila sempat melemah bahkan pernah berhenti berdetak, membuat mereka panik bukan main saat itu, namun akhirnya setelah tiga bulan, Aqila sadar namun tak mengingat semuanya, dokter mengatakan ingatannya akan kembali secara perlahan


"Zara cantik banget sih, iisshh pengen dicubit"


"Heh" Darren menyingkirkan tangan adiknya yang gemas sekali mengincar pipi anaknya


"Andai Yusuf juga ada disini, dia udah bisa diajak ngomong" Yusuf adalah nama anak dari Devano dan Diva yang tahun ini segera memasuki usia lima tahun


"Besok mereka pasti udah sampai, wisudanya lusa kan?" Aqila mengangguk membenarkan


"Maaf ya kak, Kak Darren harus cuti karena nemanin Aqila disini"


"Jangan pernah ngomong gitu lagi, kakak ini saudara kamu, kakak nggak mau dengar kata itu lagi"


Mereka sepakat bergantian menemani Aqila disini, biasanya Mama Intan dan Papa Arya yang paling sering menemaninya, karena saudaranya yang lain sibuk dengan kegiatan mereka, Devano dan Darren yang paling jarang menemani karena dua saudaranya itu termasuk orang yang super sibuk

__ADS_1


.


Maaf yang kena prank...✌✌✌😌


__ADS_2