
"Aku tak bermaksud ikut campur dengan urusanmu, tapi aku cukup penasaran apa yang membuat dirimu sampai melakukan hal gila seperti kemarin" ucap laki-laki itu dengan pandangan lurus kedepan
"Aku tak sadar dengan apa yang aku lakukan, seolah hati dan pikiran bukan dibawah kendaliku, karena itu aku mengatakan aku memang gila" jawab Aqila dengan pandangan lurus tanpa menatap laki-laki itu
"Menurutku orang yang mampu bertahan menghadapi setiap ujian dalam hidupnya adalah orang yang luar biasa, dibandingkan orang yang hanya pasrah dengan kehidupan, menganggap dunia kejam, dan memilih mengakhiri hidupnya seolah ia manusia paling menderita"
"Kita tidak tau beban apa yang ia pendam, jadi mungkin saja ia sudah lelah dan menyerah dengan hidupnya" ucap Aqila menanggapi
"Kalau begitu apakah aku boleh tau beban apa yang sedang dipikiranmu sampai melakukan hal itu?" Aqila tertawa mendengar pertanyaan laki-laki itu
"Kita hanya orang asing, kenapa aku harus memberitahumu?"
"Kita satu negara, apa itu bisa disebut orang asing?"
"Orang yang satu sekolah saja bisa dianggap asing, apalagi satu negara yang luas dengan jumlah penduduk dua ratus tujuh puluh juta jiwa" jawab Aqila sedikit tertawa
"Reynald" laki-laki itu tiba-tiba mengulurkan tangannya kearah Aqila
"Namaku Reynald, boleh aku tau nama orang yang berusaha bunuh diri ini siapa?" Aqila menatap tangan laki-laki itu yang terulur tanpa menyambutnya
"Hidungmu berdarah" ucap laki-laki itu yang menatap Aqila terdiam saja
Aqila yang tersadar spontan berdiri "Maaf aku harus segera pergi" ucapnya meraih tas kecil disebelahnya dan sedikit berlari menuju arah rumah
"TUNGGU! AKU BELUM TAU NAMAMU SIAPA?!" Teriak Reynald namun Aqila hanya membalas dengan lambaian tangan
Reynald kembali terduduk dikursi itu, mengambil secarik kertas putih diatas kursi tadi mereka duduki
"Aku rasa dia memang gila, siapa yang akan menggambar pelangi dimusim panas seperti ini? Pelangi harusnya hadir saat musim hujan" gumamnya melihat apa yang digambar Aqila. Pandangan mata Reynald tertuju pada bagian bawah kertas itu
"Aqila Valisha Bramadja" gumamnya membaca nama yang tertulis disana
__ADS_1
"Nama yang indah untuk gadis seperti dirimu" ungkapnya dan memasukkan kertas itu kedalam saku celananya, berencana akan ia kembalikan saat bertemu kembali.
Hari berikutnya, Aqila yang baru saja menyelesaikan makan siang dengan papanya dibuat terkejut dengan kedatangan Mama Intan, Darren, Rian dan Reyna, ia menatap Papa Arya yang sama terkejutnya, sepertinya papanya juga tidak tau menau tentang ini
"Kalian, kenapa bisa datang?" tanya Aqila. Namun tak ada jawaban, tangis Mama Intan langsung luruh, ia memeluk erat putrinya yang nampak semakin kurus dan pucat
"Kenapa Aqila bertanya kalau kami bisa datang? Kami datang untuk Aqila" ungkapnya terisak, sedang Aqila hanya diam mematung tak tau ingin berkata apa
"Kenapa Aqila nggak nelpon mama? Nggak kangen sama mama? Nggak pengen cerita sama mama?" tanya Mama Intan menatap wajah Aqila yang masih nampak linglung
"Maaf" hanya kalimat itu yang keluar dari mulut Aqila
"Mama nggak perlu kata maaf, mama hanya ingin Aqila sembuh, bisa kan?" pertanyaan yang rasanya sudah mulai bosan didengar Aqila, apa mereka berfikir kalau dirinya hanya pasrah saja?
"Aqila akan usaha" jawaban yang sama untuk pertanyaan yang sama, bukan sebuah janji tapi usaha
"Kenapa Kak Rian juga ikut? empat hari lagi wisuda kan?" tanya Aqila setelah suasana lebih baik, mereka duduk bersama di ruang tamu, dan Aqila merasa suasana ini begitu canggung karena mereka terus melihat dirinya, seolah dirinya manusia yang begitu lemah, dan jujur Aqila tak begitu menyukai ditatap seperti itu
"Besok kakak pulang sendiri, Aqila lebih butuh mereka dibanding kakak"
"Jangan!, itu adalah hari istimewa untuk Kak Rian, mereka harus hadir, mama dan papa wajib datang diacara itu" Aqila menatap wajah Papa Arya dan Mama Intan dengan tatapan penuh permohonan
"Aqila, Kak Rian hanya merayakan wisuda, sedangkan Aqila harus berjuang, bagaimana bisa mereka pergi meninggalkan Aqila sendiri disini?"
"Tapi bagaimana bisa juga mereka tidak hadir di acara penting itu, Kak Rian pasti ingin mama dan papa bangga dengan hasil kakak, Kak Rian pasti ingin dilihat papa dan mama kalau Kak Rian unggul dan tidak mengecewakan mereka" Rian terdiam tak bergeming, apa yang dikatakan Aqila memang benar, jujurnya ada sedikit harapan dalam hatinya kalau kedua orang tuanya pun bisa hadir, tapi memikirkan kondisi Aqila, ia sadar kalau sekarang bukan saatnya dirinya bersikap egois
"Sudah, nanti kita bicarakan hal ini lagi lebih baik kalian semua istirahat, papa tau kalian pasti lelah setelah perjalanan panjang" Papa Arya menatap Darren, Rian dan Reyna, menyuruh mereka masuk ke kamar masing-masing
"Aqila bisa bicara sebentar?" Mama Intan meraih tangan kurus Aqila yang hendak berdiri
"Mama mau bicara apa?"
__ADS_1
"Ayo ikut" Papa Arya membuka lebar pintu kamarnya, kini posisi Aqila duduk diapit kedua orang tuanya, hal yang dulu sering membuatnya iri kepada Reyna
"Kenapa Aqila tidak ingin kami yang menemani? Apa Aqila marah, kecewa atau benci kepada kami sebagai orang tua yang gagal?" Aqila menggelengkan kepala
"Aqila tentu senang, sangat senang kalau bisa ditemani kalian, tapi Kak Rian lebih butuh"
"Kak Devan, Kak Darren dan Reyna bisa hadir mewakili mama dan papa" ucap Mama Intan
Aqila menggelengkan kepalanya
"Rasanya berbeda, rasanya sakit saat mahasiswa lain bersama orang tua mereka sedangkan Kak Rian hanya sendiri, Aqila pernah merasakannya"
"Mama dan papa tidak bisa hadir di acara wisuda SMP dan SMA Aqila, rasanya sakit melihat anak lain dengan bangga dipuji orang tuanya saat berhasil meraih juara, Kak Devan memang ada tapi langsung pergi saat ada panggilan meeting, Aqila bisa merasakan sakitnya sendirian dan iri melihat orang tua yang begitu bahagia melihat anaknya, karena itu Aqila ingin papa dan mama yang hadir diacara itu, Aqila tak ingin Kak Rian merasakan seperti apa yang Aqila rasakan"
"Kak Devan mungkin bisa hadir, tapi bagaimana kalau tiba-tiba istrinya membutuhkannya?, bagaimana kalau Kak Darren tiba-tiba dapat panggilan darurat dari rumah sakit?, hanya tersisa Reyna, bagaimana perasaan Kak Rian melihat mahasiswa lain berfoto dengan orang tua mereka sedangkan ia sendiri bersama adiknya?"
"Lalu, bagaimana dengan Aqila yang akan berjuang?" Tanya Papa Arya, tak peduli bila dianggap lemah karena mengeluarkan air mata, sedang Mama intan sudah terisak memeluk Aqila tak sanggup berbicara
"Aqila memang butuh dukungan kalian, dan dengan kehadiran kalian disini, Aqila sudah sangat bahagia, Aqila akan masuk ke ruang operasi setelah itu tak sadarkan diri selama operasi, apa kalian juga ikut diberikan masuk ke ruang operasi menemani Aqila? Tidak kan?"
"Tapi Kak Rian, ia begitu butuh kehadiran kalian, ia akan merasa bangga menunjukkan nilai bagusnya, ia akan merasa bangga saat namanya dipanggil dengan hasil yang memuaskan, ia ingin melihat wajah kalian bangga dengan dirinya" Mama Intan dan Papa Arya memeluk Aqila erat, bahkan dikondisi seperti ini ia masih mengingat saudaranya, melupakan apa yang pernah terjadi dulu
"Aku hanya tak ingin ia merasakan sakitnya kesendirian" gumam Aqila pelan, namun masih bisa didengar oleh orang tuanya
Rian yang berada dibalik pintu mematung tak percaya, niatnya ingin mengambil handphone yang ia titipkan pada Mama Intan, tapi harus mendengar hal yang tak pernah ia duga, adiknya lebih mementingkan ia daripada dirinya sendiri. Aqila yang pernah ia tampar, bahkan tak segan membentak saat Aqila melakukan kesalahan dulu, kini ternyata Aqila lebih mementingkan ia. Rian begitu malu, malu pada dirinya sendiri yang tak bisa bersikap dewasa dan menjadi kakak yang baik untuk Aqila
"Maaf, kakak berjanji akan menjaga Aqila lebih baik di masa depan" gumamnya
.
***Baru sempat up sekarang, 🙏🙏🙏
__ADS_1
Dua bab dulu, author usahain nanti sore atau nanti malem up lagi...☺
Banyak Typo...🙏🙏🙏***