Pelangi untuk Aqila

Pelangi untuk Aqila
Papa Bangga


__ADS_3

"Ta tapi bener, dia kakak gue" Aqila berusaha bertahan walau suaranya mulai bergetar, benar kata orang 'lidah itu lebih tajam dari pedang'


Mendengar kata-kata Veronica membuat Aqila cukup sakit hati, bahkan rasanya lebih sakit dari rasa sakit pada kepalanya. Jika luka fisik mungkin masih bisa disembuhkan dengan berobat tapi bagaimana dengan luka hati?, nyatanya menerima permintaan maaf orang lain memang mudah namun hati belum tentu ikhlas dan tulus, ibarat luka yang akan tetap meninggalkan bekas walau sudah diobati sekalipun


"Heh, ngimpi lo siang-siang gini?, ngarep banget masuk keluarga Bramadja, mikir dong pake otak lo itu"


"Nggak malu apa sama penampilan lo yang sok suci gini"


Veronica menarik jilbab yang membungkus kepala Aqila dengan kasar dan tersenyum mengejek seraya mengoper benda segi empat itu ke temannya saat Aqila berusaha meraihnya


"Gue juga liat lo deket sama Naufal kan? Ketua Felis Catus? Padahal apa yang menarik dari lo, sampai mereka lebih milih perempuan munafik kayak lo" ucap salah satu teman Veronica sambil melempar jilbab itu kearah temannya yang lain


"Jangan, tolong kembalikan" air mata Aqila sudah menetes, sungguh ia tak mengerti semua kejadian ini, rasanya harga dirinya seperti diinjak-injak oleh mereka


"Ayo ambil, kita liat bagaimana wajah asli perempuan kayak lo" Dengan kasar Veronica menjambak rambut Aqila, membuat Aqila memukul-mukul tangan Veronica dari rambutnya


"Ihhhhh, rambut lo rontok banyak banget, pasti kurang perawatan kan lo?" Mereka memandang rambut rontok yang cukup banyak itu seolah dengan pandangan jijik melihat sesuatu kotor


"VERONICA! LO APAIAN ADIK GUE?" Suara Rian menggelegar marah dari ujung sana, melihat Aqila yang terduduk menangis tanpa jilbab yang membungkus rambutnya


Kilatan amarahnya terpancar nyata saat melihat rambut yang cukup banyak ditangan Veronica, Rian mengeratkan giginya geram


"PLAKKK"


"Jangan pikir karena lo perempuan gue nggak berani kasar sama lo" ucapnya saat Veronica terjatuh akibat tamparan Rian yang cukup kuat dipipi kanannya


"Rian, apa maksud lo kayak gini?"


"LO TANYA APA MAKSUD GUE?!, MASIH BERANI NANYA KAYAK GITU LO SETELAH PERLAKUIN ADIK GUE KAYAK GINI?!" Rian benar-benar diliputi amarah besar, rasa bersalahnya kepada Aqila semakin terasa dalam


"A adik" suara Veronica mulai bergetar saat Rian mengatakan itu


"Jangan bohong kamu Rian!, adik kamu cuma Reyna"


"Siapa yang bilang gitu sama lo?! Siapa?!, biar gue buat lebih parah dari lo"


"Lagia kalau gue bohong atau enggak, hubungannya sama lo apa? Lo siapa?"

__ADS_1


Veronica terdiam dengan mata yang mulai berair, ia benar-benar tak menyangka, sungguh!. Ia pikir adik Rian cuma Reyna karena laki-laki itu tak pernah bercerita tentang adik perempuannya yang lain karena memang mereka tak dekat jadi ini adalah kesalahannya karena tak mengetahui seluk beluk keluarga Bramadja, ia hanya mengira Rian punya tiga saudara, dua kakak laki-laki dan satu adik perempuan


"Aqila" Renata berlari melihat kondisi Aqila yang begitu kacau, ia sempat mendengar keributan di area sekitarnya saat mencari keberadaan Aqila yang menghilang


"Gue nggak bakal biarin kejadian ini berlalu begitu saja, gue laporin ke pihak kampus tentang kelakuan kalian" ancam Rian kepada Veronica dan teman-temannya, dan bukan sekedar ancaman tapi nyata


"Kamu nggak papa?" Rian berjongkok disebelah Aqila yang terdiam dengan pandangan kosong, tangannya merapikan rambut adiknya dan kembali memaikan jilbab adiknya yang dilepas Veronica


"Minum dulu Qil" Renata menyodorkan botol air yang dibelinya dari kantin, ia mengerti Aqila pasti masih syok dengan kejadian barusan


"Maafin kakak Aqila, kakak gagal lagi jadi kakak yang baik buat kamu" Rian membawa Aqila kedalam pelukannya, pelukan sang pelindung yang rasanya bagai mimpi, pelukan yang sudah lama hilang dari sosok yang banyak diharapkan anak perempuan sebagai pelindung, pembela sekaligus teman.


"Kakak yang patutnya disalahin dari semua ini, gara-gara kakak kamu harus ngalamin hal kayak gini"


"Dia pacar Kakak?" tanya Aqila pelan saat kondisinya mulai terasa membaik


"Bukan, cuma deket aja, mungkin ia ada rasa berlebih tapi kakak anggap dia cuma temen satu fakultas, nggak lebih dari itu"


"Emang nggak punya malu perempuan kayak gitu" ucap Renata saat melihat Veronica dan antek-anteknya pergi


"Kenapa?" tanyanya lembut, namun Aqila lagi-lagi menggeleng, Rian tak bertanya lebih lanjut karena paham Aqila mungkin belum bisa seterbuka itu dengannya


"Ayo kita pulang"


.


Angin malam berhembus pelan namun cukup memberi suntikan hawa dingin pada kulit, kilat-kilat kecil nampak dilangit malam, kilat tanpa suara dan hujan yang sering menyertainya


"Kenapa diluar gini? Nggak dingin?" Aqila yang sedang menikmati bintang diufuk sebelah barat cukup terkejut saat seseorang duduk disebelahnya


"Nggak" jawabnya singkat pada sang pahlawan yang telah merawat dirinya, pahlawan yang merasa gagal menyandang kata itu untuk salah satu putrinya


"Kenapa papa kesini?"


"Emang nggak boleh?" Aqila hanya menggeleng dengan tersenyum tipis menanggapi pertanyaan papanya


"Itu namanya rasi bintang orion" tunjuk Papa Arya pada salah bintang yang berjejer disana

__ADS_1


"Kok papa tau?" tanya Aqila, sepertinya ia mulai tertarik


"Tentu tau, karena papa saat SMA dulu paling seneng kalau belajar astronomi, bahas-bahas tentang tata surya dan benda-benda langit yang tak ada habisnya"


"Bagaimana cara papa tau kalau itu Orion?"


"Sebenarnya papa tau karena sering melihatnya, dan Orion juga paling mudah ditemukan dari rasi bintang lain"


"Lihat tiga bintang yang sejajar itu?" Papa Arya menunjuk tiga bintang sejajar yang diapit dua bintang bersinar terang


"Iya"


"Nah, bintang sejajar tiga itu sabuk Orion dan bintang yang paling terang di Orion namanya Rigel, Rigel termasuk salah satu bintang paling terang di tata surya"


"Kemunculan bintang Orion pertanda adanya pergantian musim, ini yang digunakan orang-orang zaman dulu saat akan bercocok tanam" sambung Papa Arya


"Hebat ya mereka, bisa nentuin arah pakai bintang, bisa tau musim yang tepat buat bercocok tanam pakai bintang juga"


"Langit itu luas dengan segala keindahannya, Maha Suci Allah yang telah menciptakan segalanya, tak hanya dinikmati keindahan kelap-kelipnya, mereka juga bermanfaat untuk orang-orang yang memang mengerti manfaatnya" Aqila mengangguk setuju dengan ucapan ayahnya


"Kenapa? Ada masalah?" sekarang saat merasa hati putrinya mulai membaik, Papa Arya memulai tujuannya untuk lebih dekat dengan putrinya, membuat Aqila lebih terbuka dan bisa mengandalkan dirinya sebagai seorang ayah untuk membantunya sebelum tanggung jawab itu lepas dari suaminya


"Kalau Aqila nikah, artinya beasiswa Aqila juga dicabut dong pa"


"Kenapa mikirin itu sayang?, papa masih mampu buat sekolahin Aqila sampai lulus S3 kalau mau tanpa beasiswa"


"Tapi uang beasiswa itu untuk orang lain, buat bantu anak-anak jalanan yang masih belum bisa sekolah" Papa Arya menatap putrinya dalam, sungguh mulia sekali hati putrinya


"Papa ngerti, tapi Aqila kurang tepat buat nerima beasiswa"


"Kenapa? Aqila kan pakai beasiswa prestasi"


"Biar pun gitu tetep aja kurang tepat, pasti masih banyak anak berprestasi juga namun dari keluarga yang tak mampu, mereka yang lebih berhak untuk itu"


"Tapi Aqila saat itu pakai beasiswa agar bisa buat papa sama mama bangga" lirih Aqila membuat Papa Arya membawa putrinya dalam dekapannya


"Maafin papa nak untuk perilaku papa sebelumnya, papa bangga sama Aqila bukan karena beasiswa itu, tapi papa bangga karena hati Aqila yang tulus pada orang lain dan pada Aqila yang berhasil jadi perempuan hebat, Aqila hebat" luruh air mata Aqila mendengar itu, ucapan yang dulu dinantinya saat mendapat rangking terbaik atau menjadi juara

__ADS_1


__ADS_2