Pelangi untuk Aqila

Pelangi untuk Aqila
Hotel


__ADS_3

Selesai isya sekitar jam setengah sembilan malam, barulah Reyna pulang kerumahnya, ia banyak menghabiskan waktu disana, Naufal sebagai laki-laki mengerti sekali kalau istri dan sahabatnya itu mungkin punya masalah penting


"Hati-hati dijalan Ren, jangan ngebut" Renata mengacungkan jempolnya setuju saat membawa mobilnya keluar dari halaman rumah mereka


"Assalamu'alaikum"


"Wa'alaikumussalam"


"Ceritanya banyak banget ya? Sampai dia baru pulang sekarang?" Aqila menatap Naufal, apa laki-laki itu belum tau tentang Gempano?


"Kak Naufal nggak tau apa-apa?" Tanyanya balik pada Naufal


"Tau apa?"


Aqila membawa Naufal duduk disofa, ia juga harus mendiskusikan ini bersama Naufal, bukan bermaksud ikut campur sebenarnya dalam hubungan mereka, tapi ia butuh solusi untuk diberikan pada Renata


"Kak Naufal nggak tau tentang Kak Gempano?"


"Kenapa nyebut laki-laki lain?" Aqila gemas sendiri, bisa tidak kalau urusan seperti ini jangan cemburu dulu


"Bukan, ini ada masalahnya sama Renata" jelasnya agar Naufal mengerti


Naufal berfikir sejenak, pagi ini ia juga melihat Gempano dalam keadaan kacau, pandangan mata laki-laki itu tampak kosong dan seperti orang bingung


"Apa ada masalah dengan mereka?" Tanyanya mulai serius


"Kak Gempano nggak ngasih tau?" Naufal menggeleng


"Renata bilang, Kak Gempano memilih perempuan pilihan ibunya" Naufal menunjukkan ekspresi yang sama dengan Aqila saat pertama kali diberitau Renata


"Makanya Renata nangis, dia kecewa banget karena merasa diberi harapan palsu"


"Yang paling playboy dan suka gonta ganti pacara di geng Felis Catus itu harusnya Panil bukan Gempano"


"Tunggu dulu, Panil?" Tanya Aqila, kalau tidak salah Reyna pernah menyebut nama laki-laki itu


"Iya, Gempano itu anak yang humoris dan paling bisa dipercaya dalam geng walau kelakuannya seperti itu"


"Renata bilang apa alasan Gempano memilih perempuan itu?"

__ADS_1


"Dia bilang Kak Gempano nggak mau ngecewain orang tuanya" Naufal memijit pelipisnya, cinta terhalang restu memang sesuatu yang sangat sulit. Ia kenal betul Gempano, senakal-nakalnya anak itu, baktinya pada orang tua sudah tidak diragukan lagi. Bahkan pernah mereka ribut dengan geng Regan dulu, ia tak datang karena alasan ibunya tidak mengizinkan, padahal ia salah satu anggota inti


"Menurut Kak Naufal yang salah siapa?" Naufal menoleh kearah istrinya, ia mengelus kepala Aqila dan tersenyum


"Kakak tidak bermaksud membela siapapun, tapi dilihat dari pandangan mereka, mereka punya alasan masing-masing melakukan itu, mungkin bukan bermaksud menyakiti pihak lain, tapi tetap saja pihak lain merasa tersakiti"


"Ibu Ratih melakukan itu karena setiap ibu selalu menginginkan yang terbaik untuk anaknya"


"Tapi Renata juga baik" sela Aqila


"Baik dalam artian kita mungkin sedikit berbeda dengan baik dalam artian mereka, kita pikir Renata gadis yang baik karena sopan, ramah, menyenangkan, tapi baik dalam artian mereka mungkin lebih dari itu"


"Gempano adalah pihak yang mungkin paling merasa bersalah, dalam hatinya mungkin saja ia memilih Renata, tapi tetap saja keputusan ibunya adalah yang terbaik menurutnya dan tidak bisa ia bantah"


"Renata sudah jelas menjadi korban disini, ia hanya perempuan yang diberikan sebuah janji oleh laki-laki yang sangat berbakti pada orang tuanya"


"Jadi siapa yang salah, kita tidak tau karena mereka punya alasannya masing-masing, seperti anak kecil yang mencuri roti diwarung karena lapar, kita tau itu salah, tapi dia punya alasan sendiri"


"Berarti yang salah adalah caranya" tebak Aqila, ia mendengar penjelasan Naufal dengan seksama


"Bisa jadi"


"Gempano menyetujui usulan ibunya karena ia ingin mewujudkan bakti anak pada orang tuanya, tapi caranya mungkin salah karena kurang berusaha meyakinkan dan terlanjur memberi janji palsu pada Renata"


"Sedangkan Renata, ia hanya diberi sebuah janji tanpa terlibat bagaimana hubungan ibu dan anak itu"


"Apa mereka tidak egois jika seperti itu caranya?"


"Sayang" Aqila memerah mendengar itu, Naufal mengangkat dagunya untuk menoleh kearahnya


"Seperti yang dikatakan diawal, kita mungkin menilai mereka egois, tapi jika dilihat lagi tergantung dari alasan mereka masing-masing"


"Paham?" Aqila mengangguk, ia masih malu sekali rasanya, sedangkan Naufal hanya terkekeh, senang sekali melihat wajah istrinya seperti itu


"Tapi siapa kira-kira perempuan yang dijodohkan dengan Gempano?" Naufal menggeleng tak tau, ia akan meminta Gempano bercerita lebih lanjut besok


Sementar itu Renata sudah merasa setidaknya lebih lega, setelah bercerita tentang masalahnya pada Aqila, bebannya sedikit terasa berkurang, untuk sekarang ia tak ingin mendengar kata-kata cinta, ia ingin fokus melukis saja dan fokus pada pekerjaan


Saat di perempatan lampu merah, matanya menajam melihat mobil hitam yang ia kenal sekali siapa pemiliknya, itu adalah mobil ayahnya. Tapi kenapa arahnya bukan pulang ke rumah? Melainkan ke?

__ADS_1


Hotel!


Renata membulatkan matanya, sudah kisah cintanya hancur, ia tak ingin rumah tangga orang tuanya juga hancur, ayahnya bekerja disalah satu perusahaan teknologi yang cukup terkenal dan ibunya juga memilih sebagai wanita karir, tapi hubungan mereka selama ini baik-baik saja bahkan harmonis menurut Renata


Renata sudah menggelengkan kepalanya, mencegah pemikiran-pemikiran negatif yang langsung terbentuk otomatis begitu melihat bangunan itu, entah karena sering membaca novel atau menonton film, tapi bangunan itu selalu dikaitkan dengan perselingkuhan atau hubungan gelap


Renata tak akan membiarkan itu terjadi, ia mengikuti mobil ayahnya sampai parkir di depan hotel. Ia menyalakan kamera untuk jaga-jaga saat ayahnya mengelak dan mulai bertindak jarang pulang, ia akan mengadu pada ibunya nanti


"Ayah, aku tidak percaya ini" gumamnya mengikuti jejak ayahnya yang mulai naik ke lift, ia berusaha setenang mungkin agar tidak dicurigai pihak hotel


Ia memilih naik lewat tangga dengan kecepatan penuh, ia sampai di lantai dua sesaat setelah ayahnya keluar dari lift. Ia lagi-lagi menganga tak percaya, ayahnya membawa buket bunga? Bahkan pada ibunya ia belum pernah melihat ayahnya seromantis itu


"Padahal aku ingin laki-laki yang menjadi suamiku seperti ayah, kenapa ayah jadi seperti ini?" Ia tidak bisa mengendalikan otaknya berfikir positif, isinya adalah pikiran negatif semua


Ayahnya berhenti di depan salah satu pintu kamar hotel, ayahnya menekan bel dan seorang wanita yang keluar membuatnya menutup mulut tak percaya


"Ibu!" Teriakkanya mungkin cukup keras hingga membuat dua orang yang sudah tak lagi muda itu menoleh


"Kok kayak suara Renata?" Tanya Ibu Fani pada suaminya


"Mana mungkin, dia memberi pesan tadi sedang ada dirumah Aqila" balas Pak Rudi, ia melihat lorong itu yang kosong, tidak ada siapa-siapa disana


Sedangkan Renata yang tadi spontan berteriak, langsung masuk kedalam salah satu kamar hotel yang kebetulan tidak terkunci. Ia mengatur nafasnya, lelah karena menaiki tangga dan lelah karena harus menjadi penguntit, ia lupa kalau hari ini aniversary pernikahan orang tuanya, benar-benar romantis sekali


Ia membuka matanya, saat itulah ia sadar masuk kesalah satu kamar disini


"Galang?" Ia heran melihat laki-laki berambut klimis itu menyilangkan tangan didepan dada


"Ngapain lo masuk kamar orang sembarangan?!" sentak Galang, ia terkejut tadi saat Renata tiba-tiba masuk, untung ia sudah berpakaian. Ia kesini tadi ada janji dengan salah satu pengusaha yang bekerja sama dengannya, karena terlalu lelah setelah perjalanan ia memutuskan menyewa salah satu kamar untuk beristirahat


"Eh sorry, tadi ada hal mendadak" Renata menangkupkan tangannya, malu juga rasanya seperti ini


"Lain kali ketuk pintu atau apa kek, kayak orang penggeledahan aja lo" ucap Galang sewot, anggota DPRD muda itu melangkahkan kakinya keluar diikuti Renata dibelakang


"Iya, sekali lagi maaf"


"Loh Renata?" Renata mematung melihat orang tuanya sudah keluar, ekspresi mereka terkejut melihatnya keluar dari kamar hotel dengan Galang, ia sudah bisa membaca ekspresi itu


"Ibu, ayah, ini tidak seperti yang kalian pikirkan!"

__ADS_1


__ADS_2