
Secepat itu matahari terbenam, padahal baru beberapa menit yang lalu rasanya mata terbuka dan merasakan angin pagi menusuk kulit. Ternyata waktu memang berjalan secepat itu
"Umi keliatan jauh lebih baik" Aqila yang sedang memanaskan makanan diatas kompor menoleh saat Naufal menuang air minum dalam gelas
"Pada akhirnya hati akan dipaksa melupakan walau kenangan masih terlintas dalam bayangan, daripada ingatan yang hanya menyisakan kesedihan hingga berlarut-larut lebih baik memang jika kita berusaha memulai lembaran baru"
"Memulai lembaran baru tanpa seseorang yang terbiasa menemani kita bagiku sulit"
"Sulit kenapa?"
"Karena dimanapun aku berada, maka aku akan merasa seperti melihatnya"
"Kak Naufal kan dulu juga sering terbiasa tanpa abi saat kuliah, bahkan kalian hanya bertemu beberapa kali"
"Setiap aku melihat pesantren, atau setiap sholat, aku akan ingat bagaimana ia pernah memukulku dulu dengan rotan karena memilih bermain dan kabur dengan temanku dari ponpes daripada sholat berjamaah" Naufal sedikit terkekeh saat mengatakan itu
"Kak Naufal senakal itu? Kak Naufal kan putra pemilik ponpes?" Aqila langsung memilih duduk dihadapan Naufal setelah mematikan kompor, cerita ini cukup menarik baginya
"Aku senakal itu dulu karena tak ingin banyak diatur"
"Padahal kalau dalam cerita yang sering kudengar, putra ponpes itu rajin, teladan sampai jadi rebutan ustazah dan santriwati"
"Hahaha" Naufal sampai sedikit memukul meja saat tertawa mendengar ucapan istrinya
"Itu hanya karangan sayang, bisa saja mungkin kalau mereka memiliki kesabaran ekstra, tapi sebenarnya dalam jiwa mereka pernah ada rasa lelah melihat banyak kitab dan hafalan yang belum disetor"
"Rasa lelah dan bosan itu biasa untuk seorang penuntut ilmu" balas Aqila
"Ini konteksnya berbeda, kadang ada sesuatu dalam diri laki-laki untuk mencoba sesuatu yang menantang, seperti mencoba kabur diam-diam, saling bertukar surat dengan santriwati atau kadang sengaja menyembunyikan sandal atau barang santri lain"
"Senakal itu?" Gumam Aqila, dalam pikirannya santri itu laki-laki kalem yang fokus hanya untuk urusan agama tanpa pernah ada niat kabur-kaburan
"Nggak semuanya juga kayak gitu"
"Kak Naufal termasuk yang mana?" Tanya Aqila dengan mata memicing curiga
"Yang disebutin tadi"
"Termasuk mengirim surat diam-diam untuk santriwati?" Nada bicara Aqila berubah, ia menghunuskan tatapan tajam pada suaminya yang pura-pura menatap kearah lain
"Mungkin"
"Mungkin? Artinya pernah kan?" Naufal mengusap tengkuknya dan beberapa saat kemudian mengangguk
"Dengan siapa? Fadila?" Entah kenapa nama itu yang pertama kali terucap oleh Aqila
"Itu zaman MTs"
"Aqila nggak nanya zaman MTs atau Zaman MI, Aqila nanya siapa dia?"
"Temen Fadila" cicit Naufal, suaranya kecil sekali
__ADS_1
"Waw, luar biasa sekali. Ada rumor seorang Naufal pradana Al-Ghazali dijodohkan dengan anak teman pak kyai, malah yang dikirimi surat temannya"
"Itu dulu, sebatas cinta monyet, juga karena kalah taruhan sebenarnya. Tapi saat aku pertama kali liat kamu, cinta itu bukan lagi permainan tapi jadi sebuah tujuan yang menjadi bagian dari sujudku yang panjang"
"Gombal" Aqila tertawa mendengarnya walau sebenarnya ia sedikit terharu juga
"Kalau kamu sama Galang gimana?" Malam ini justru menjadi malam pembahasan kisah cinta masa lalu di meja makan untuk pasangan yang sudah menikah lima tahun itu
"Galang itu laki-laki tampan, cerdas, teladan, dan..."
"Aku nanya kisah kalian bukan mendeskripsikan bagaimana Galang" Aqila tertawa, mereka benar-benar lupa duka yang tersimpan dalam hati masing-masing
"Begitulah dia, laki-laki yang kurang ajar karena suka mempermainkan perasaan perempuan, setelah putus dari Reyna langsung ngajak pacaran secepat itu, kurang ajar apalagi dia?" Aqila sampai menggebu-gebu saat mengingat itu
"Sekarang semuanya berbeda, waktu berlalu secepat kedipan mata, hal yang dulu kita tak pernah duga bisa terjadi sekarang"
"Begitulah kehidupan, selalu menjadi rahasia tuhan" Naufal memegang tangan Aqila yang diletakkan diatas meja
"Terlepas dari bagaimanapun cerita masa lalu, aku ingin kau jadi pendampingku sampai hari tua nanti" saat itulah Aqila teringat dengan surat dokter yang masih dalam tasnya, apa ia bisa memberitau Naufal sekarang saja?
"Kak Naufal aku..."
"Ternyata sudah jam setengah dua belas, kita berbincang selama itu, ayo tidur agar tidak terlambat untuk aktifitas besok pagi"
Aqila hanya menghela nafasnya, sepertinya ini belum saat yang tepat, ia akan memberitau Naufal besok
......................
"Ini apa Qil?" Suara Naufal bergetar mengangkat kertas putih di genggaman tangannya
"Ini apa?!" Suaranya sedikit meninggi, seperti sedikit marah, sedih dan kecewa bercampur menjadi satu
Naufal menunduk terisak mengusap air matanya, padahal semalam mereka masih bisa tertawa baik-baik saja, sekarang semuanya berubah dalam waktu kurang dari sembilan jam saja
Awalnya ia mencari ponsel Aqila untuk mencoba menghubungi ponselnya yang entah ia letakkan dimana, perhatiannya tertuju pada tas hitam diatas meja rias, ia melihat Aqila memakai tas itu kemarin dan belum memegang ponsel sejak semalam jadi ia pikir, ponsel istrinya pasti ada disana
Ia menemukan apa yang dicarinya, tapi justru amplop putih berlogo rumah sakit menarik perhatiannya, kapan istrinya pergi kerumah sakit? Dan surat apa itu?, pertanyaan itu langsung bersemayam dikepalanya
Sejak membaca Aqila tertulis di bagian atas surat, hatinya sudah merasakan perasaan berbeda, hingga dengan perlahan pandangannya tertuju pada satu kalimat
Kanker otak glioblastoma
Naufal sampai memegang ujung meja untuk menjaga keseimbangannya, apa ini? Apalagi sekarang?, ia mencoba melihat tanggal surat itu yang justru membuat hatinya semakin hancur, itu tanggal kemarin, padahal ia sudah mencoba berpikir itu adalah hasil tes Aqila sepuluh tahun lalu
"Kak Naufal sarapan" ia memandang perlahan wanita yang membuka pintu itu, wanita yang telah membuatnya merasakan arti bahagia dari cinta
"Ini apa Qil?"
"Ini apa?!" Rasa kecewa, marah dan sedih menyatu dalam dirinya saat mengatakan itu, padahal surat ditangannya sudah dengan jelas menjawab pertanyaan itu, tapi ia ingin mendengarnya langsung dari mulut istrinya, setitik hatinya masih berharap kalau ini tak lebih dari kebohongan belaka
"A apa?" Suara Aqila bahkan bergetar, ia tak menyangka Naufal menemukan surat itu terlebih dahulu, padahal ia juga memang berencana menemukannya hari ini
__ADS_1
"Kenapa Qil? Kenapa?! Hiks, kenapa lagi?" Hanya itu kata yang mampu Naufal keluarkan, kenapa penyakit itu harus kembali lagi? Kenapa harus istrinya? Kenapa seberat ini cobaannya? Kenapa Aqila tak memberitaunya
"Apa yang bisa aku katakan untuk menjawab? Sedang aku sendiri tak tau apa jawabannya?"
"Kenapa tak memberitauku kalau kau datang kerumah sakit kemarin?! Hah!, apa kau masih menganggap aku suamimu?" Naufal sampai mengguncang bahu istrinya cukup kuat, hatinya sedih bercampur kecewa
"Karena aku menganggap Kak Naufal suamiku, aku tak memberitau. Aku mengerti, aku paham Kak Naufal masih berduka karena kehilangan abi? Bagaimana bisa aku tega memberitau?"
"Justru karena kamu menyembunyikannya membuat aku semakin sakit Qil, aku kecewa, aku kecewa pada dirimu yang menutupi hal sebesar ini, aku kecewa pada diriku karena seperti suami tak berguna!"
"Siapa yang mengatakan itu? Kak Naufal adalah suami yang sempurna, laki-laki yang baik" Aqila tak suka mendengar ucapan itu
"Sikapmu yang seperti ini seolah mengatakan itu, kau seolah menganggapku lemah sampai menyembunyikan ini, padahal aku sudah berharap kalau kita bisa saling terbuka apapun masalahnya, apalagi masalah sebesar ini" Naufal menurunkan nada bicaranya, ia menjatuhkan kepalanya dipundak Aqila yang menangis tergugu
"Maaf, maafkan aku" Aqila hanya mampu mengatakan itu, ia pikir lebih baik memberitau Naufal saat keadaannya mulai membaik, nyatanya keputusan yang ia ambil salah besar
"Aku tak ingin mendengar kata maafmu, aku hanya ingin kamu sembuh" suara isakan menjadi irama yang menyayat hati sepagi ini, seperti tak akan ada mentari yang menampakkan cahayanya karena awan kelabu sudah menutup lagi sebelum fajar
"Ayah, bunda" suara dari dua malaikat kecil mereka membuat pasangan itu sadar, Naufal dan Aqila sama-sama menghapus air mata mereka, meski tak bisa berbohong karena mata mereka yang memerah
"Nanti terlambat"
"Iya nak, ayo bunda antar" Naufal menarik tangan istrinya dan menggelengkan kepala
"Dirumah saja, kita perlu bicara setelah ini"
"Ayah sama Bunda belantem ya?"
"Siapa yang bilang gitu?" Naufal melihat anaknya yang duduk dikursi belakanh dari kaca depan mobil
"Kalian nangis, Bilal juga dengel suala ayah malah" anak kecil itu mengerti dengan apa yang terjadi antara orang tuanya
"Jangan bikin bunda nangis, Ila sayang bunda"
"Bunda yang buat ayah nangis, dia sakitin ayah" dua anak itu mengerti dengan ucapan ayah mereka
"Bunda mukul ayah?"
"Kita sampai" Naufal tak ingin membalas lebih lanjut ucapan anaknya, air matany serasa ingin terus mengalir
"Hati-hati ya, belajar yang rajin" Naufal tersenyum mencium kepala mereka saat anaknya bersalaman
"Assalamu'alaikum ayah"
"Wa'alaikumussalam" Naufal tersenyum membalas lambaian tangan mereka, senyumnya langsung pudar saat anak-anakya sudah tak terlihat lagi
"Kita pasti bisa melewati semua ini nak"
.
Banyak Typo...🙏🙏🙏
__ADS_1