Pelangi untuk Aqila

Pelangi untuk Aqila
Rindu Musim Dingin


__ADS_3

Malam menyapa bumi, sang surya tergantikan rembulan yang telah berotasi ke belahan bumi lain, hawa dingin terasa menusuk kulit memasuki musim salju di negara empat musim ini


Aqila duduk didepan laptopnya melihat wajah Kirana dengan mata dan hidung memerah meminta maaf berkali-kali karena tidak bisa ikut mengantar karena sedang melakukan riset disalah satu desa yang cukup terpencil


Aqila mengangguk berkali-kali dan mengerti, ia tau keluarga pamannya kemarin luar biasa sibuk, Papa Radit mendapat pasien dalam kondisi darurat dan segera harus dilakukan tindakan, Mama Rani membantu Davin mengurus Naya yang terus mual dan pusing karena efek kehamilan, sedangkan Davin sendiri seperti ayahnya yang mendapat pasien darurat


Perbedaan jam antara Amerika dan Indonesia terbilang jauh yakni dua belas jam, di tempat Aqila saat ini menunjukkan jam delapan malam, dan jauh di Indonesa sana masih menunjukkan pukul delapan pagi


"Pokoknya kamu harus janji untuk sembuh, ya?" pertanyaan yang kesekian kalinya dengan kalimat yang sama untuk meminta dirinya berjanji. Apa mereka pikir berjanji semudah itu?


"Nggak janji tapi usaha" jawab Aqila sama seperti jawaban-jawaban sebelumnya


"A apa?" Aqila menghela nafas panjang, koneksi internet sepupunya buruk sekali, gambarnya bahkan tidak jelas, hanya nampak buram-buram dengan latar hijau yang terlihat seperti pepohonan lebat. Bukan hanya itu, suaranya pun terputus-putus dari tadi membuat percakapan yang harusnya tak sepanjang ini karena menunggu koneksi internet


"Udahlah Kir, lanjutin aja penelitiannya, kalau udah pulang nanti kita lanjut lagi tukar kabarnya"


"Assalamu'alaikum" ucapnya tanpa menunggu jawaban kirana atas pernyataan sebelumnya karena sekarang bahkan layar sepupunya itu mulai berubah hitam dan kembali ke gambar blur, begitu seterusnya


"Siapin diri buat besok ya sayang, yakin ya kalau bisa sembuh" Mama Intan mengelus punggung putrinya lembut sembari menaruh secangkir coklat panas diatas meja


"Terima kasih Ma" Mama Intan hanya mengangguk dan tersenyum hangat sebagai jawaban

__ADS_1


Udara kian terasa dingin, angin semakin berhembus dengan kencangnya menggerakkan daun-daun pohon ditepi jalan, dibalik jendela kamarnya Aqila menatap rembulan yang bersinar cerah menuju musim salju


"Wahai seseorang yang berjanji menjadi pelangi selamanya, kau berhasil membuktikan padaku kalau pelangi nyatanya memang hanya sementara, bagaimana kondisimu disana? Sudah sadarkah? Atau masih terbuai dalam alam dengan mimpi indah? Apa janjimu masih bisa kutagih suatu hari nanti? Atau justru kau sendiri yang mengingatkanku tentang janji itu. Kita liat saja bagaimana takdir berjalan sekarang, aku percaya kalau rencana Allah tetap yang terbaik walaupun awalnya dipenuhi air mata seperti ini"


Dalam gelapnya malam, dengan rembulan dan hembusan angin musim dingin, anak manusia menyampaikan rindu, rindu pada seseorang yang jauh disana, berbisik lewat angin yang menghantarkan sejuta rasa melalui jalan pekatnya malam, dengan hati yang terasa membeku sedingin musim salju yang memasuki desember, rindu yang lebih dari kata rindu tapi sebuah kesabaran dan penantian dengan ujung yang entah bagaimana menanti didepan sana, cukup hanya tuhan sang pemilik skenario yang tau


.


Tempat yang indah dengan berbagai bunga beraneka jenis dan warna mengelilinginya, derasnya air terdengar mengalir diiringi suara kicauan burung, menciptakan suasana yang benar-benar begitu menenangkan


Di alam bawah sadarnya Naufal bermimpi seolah berada ditempat yang indah nan nyaman, tempat yang mungkin belum pernah ia lihat sebelumnya, begitu menenangkan suasananya, namun berbeda dengan hatinya yang justru merasa gelisah seperti kehilangan sesuatu


Siapa? Siapa dia? Perempuan itu, perempuan yang sering hadir dalam mimpinya, hanya berupa suara tanpa wajah yang bisa ia lihat dengan jelas, sebatas sosok berpakaian putih bersih dengan jilbab senada yang melambaikan tangan, ingatan tentang sosok itu seperti tak ada dalam kepalanya, suara itu terasa tak asing namun siapa dia? Saat Naufal berusaha berlari menggapainya sosok itu menjauh seperti tak bisa terkejar


Hanya air mata yang bisa keluar dari sudut matanya


"Apa yang kau tangisi dalam tidur mu nak?" Abi Umar yang baru saja selesai membaca Al-Qur'an di samping putranya meraih selembar tisu diatas nakas dan mengusap air mata Naufal dengan pelan


"Kau menangisi dia? Ayo sadar, ayo bangun, kejar dia, yakinkan dia, jangan hanya menutup mata dan menangis seperti ini" Tanpa sadar air mata yang jarang dikeluarkan Abi Umar, justru meluncur begitu saja melihat kondisi putranya seperti ini


"Kau dulu marah karena Abi selalu mengekangmu? Mengekangmu untuk ini, ini, ini dan itu, sekarang Abi katakan ayo kejar apa yang kau mau, bangunlah dari tidurmu, jadi laki-laki sejati yang memperjuangkan Hawa nya, tulang rusuknya dan pendamping hidupnya!"

__ADS_1


"Mau sampai kapan kau tertidur seperti ini? Sudah hampir satu bulan lamanya kau seperti ini, apa tubuhmu tidak lelah? Apa kau tak ingin mewujudkan mimpi-mimpimu? Bangun nak, buktikan pada abi kalau kau seorang laki-laki sejati yang suka kebebasan bukan terkurung dalam mimpi dibawah sana"


"Ayo bangun nak, Abi rindu Naufal yang ceria dan banyak tersenyum, Abi rindu dengar kata-kata Naufal, ayo bangun dan gapai semua mimpi itu"


Di alam bawah sadarnya Naufal melihat perempuan itu semakin menjauh


"Buktikan janjimu di masa depan" kata-kata yang sering ia ucapkan


Janji apa?


Saat akan meminta penjelasan sosok itu telah pergi yang ada justru abi dan ummi nya yang tersenyum kepadanya dan membentangkan tangan, seolah meminta Naufal masuk ke dekapan hangat mereka


Hingga


Mata yang tertutup itu mengerjap dengan pelan, karena silau melihat cahaya dalam ruangan itu


"Kau sudah sadar nak?" Abi Umar yang duduk disamping brankar terkejut dan menoleh menatap putranya yang sudah satu bulan memejamkan mata akhirnya sadar dari tidur panjang nya


Abi Umar menekan tombol disamping brankar Naufal untuk memanggil dokter memeriksa kondisi Naufal


Abi Umar tak henti-hentinya mengucap rasa syukur, do'a nya dijawab sang kuasa, sedang Naufal masih meneliti ruangan ini dan bertanya-tanya apa yang membuatnya ada disini? Seluruh tubuhnya terasa kaku luar biasa, berapa lama ia tak sadarkan diri? ia merasa kurang, merasa kehilangan seperti ada seseorang yang pergi darinya, seseorang yang seperti memiliki tempat tersendiri dihatinya, mencoba mengingat namun justru kepalanya berdenyut sakit

__ADS_1


__ADS_2