
Aqila menarik nafasnya panjang kala melihat mobil Naufal sudah keluar dari area rumah, ia berencana kerumah sakit hari ini dan belum memberi tau Naufal sebelum ada keputusan yang jelas, ia sudah menyuruh laki-laki itu diam dirumah saja karena takut kondisinya belum stabil, tapi Naufal mengatakan dirinya baik-baik saja
Ia mengambil handphone diatas nakas untuk memberitau Diana, dari semalam ia belum sempat menanyakan pada kakak iparnya apa ia tidak ada jadwal sekarang?
Setelah Diana mengatakan tidak ada barulah Aqila bersiap menuju tempat yang bahkan tak pernah ingin ia kunjungi lagi, tapi keadaan memaksanya sekarang, ia harus berpikir sepositif mungkin kalau dirinya hanya sebatas kelelahan saja
Hanya sakit kepala biasa, penurunan berat badan biasa, mimisan biasa, semuanya hanya sebatas kelelahan, itu yang dikatakan Aqila untuk mensugesti dirinya
Tapi, hasil ST Scan yang dipegangnya mematahkan semua itu, bukan sakit kepala biasa, bukan kelelahan biasa, bukan mimisan biasa, tapi karena memang sel ganas itu kembali menyerang tubuhnya
"Apa yang harus aku lakukan kak? Dia kembali, bagaimana dengan Naufal? Bagaimana dengan Ilal dan Ila? Mereka masih membutuhkanku" Aqila menutup wajah dengan kedua telapak tangannya, apalagi sekarang? Naufal baru saja selesai berduka kemarin dan ia akan memberitau hal ini padanya, apa ia tega melakukan itu?
"Tenangkan dirimu Qil, kamu pasti bisa melawan penyakit ini lagi, apalagi sekarang penyemangatmu sudah banyak, ingat Naufal, ingat Ila dan Ilal yang membutuhkanmu" Diana mencoba memberikan ketenangan dengan memeluk adik iparnya, bahu Aqila bergetar, ia benar-benar menangis melihat ini
"Dulu penyakit ini bisa dikendalikan, maka sekarangpun sama, kita pasti bisa mengendalikannya, penyakit ini tak akan membuatmu menyerah begitu saja kan?"
"Apa yang akan aku katakan pada Naufal? Dia baru saja terpukul karena kehilangan Abi Umar, apa aku tega mengatakan ini?"
"Sayang, Zara minta dijemput" Darren yang tiba-tiba masuk malah melihat pemandangan yang tak bisa ia mengerti
"Aqila?" Ia memastikan perempuan yang menunduk menangis terisak itu memanglah adiknya
"Kamu kenapa?" Diana menarik tangan Darren dan menggelengkan kepala, tanda Aqila sedang tidak bisa diajak berkomunikasi sekarang
"Dia kenapa?" Darren bertanya lewat gestur mulutnya tanpa mengeluarkan suara
Diana menatap Aqila sejenak dan menatap Darren kemudian mengambil hasil pemeriksaan diatas meja dan memberikannya pada Darren
"I ini?" Darren sampai terbata, tangannya gemetar melihat surat rumah sakit yang tertulis adiknya dinyatakan menderita penyakit yang sama seperti sepuluh tahun lalu
Kanker otak glioblastoma penyakit yang tertulis dalam lembaran putih itu. Darren sampai menggelengkan kepalanya beberapa kali, ia pikir penyakit itu sudah hilang dan kecil sekali kemungkinan untuk kembali, tapi ternyata kemungkinan kecil itu terbukti sekarang
Apa yang akan Darren katakan untuk menguatkan adiknya? Kata-kata penyemangat seperti sudah basi mungkin ditelinganya, apa yang akan ia katakan nanti pada orang tuanya?
"Aku pikir kisah hidupku akan berakhir bahagia setelah pelangiku datang, ternyata aku sekuat itu sampai tuhan mengujiku lagi seperti ini" Aqila menghapus air mata dengan tisu, ia beranjak dari duduknya dan memasukkan semua dalam tasnya, termasuk hasil pemeriksaan yang dipegang Darren
"Qil" Darren ingin mencegah saat Aqila keluar dari ruangan
__ADS_1
"Aku baik-baik saja, aku kuat" Darren memejamkan matanya mendengar kalimat itu, kuat? Ia memang tak pernah meragukan bagaimana kuatnya Aqila bahkan sampai bisa bertahan
"Dia butuh waktu sendiri untuk menenangkan diri"
.
"BUNDA!!!" Begitu memarkirkan motornya di depan halaman sekolah, suara sikembar langsung menyambutnya membuat senyum itu terbit diwajahnya yang kian tirus
"Bagaimana pelajarannya hari ini?"
"Selu!, kita belajal gambal, mewalnai dan menyanyi"
"Bisa?"
"Bisa!" Aqila hanya tersenyum mendengar semangat anak-anaknya, ia harap semangat dan wajah ceria ini tidak akan luntur dimasa depan apapun yang terjadi
"Kak Aqila"
"Kenzo" Aqila mengernyit melihat laki-laki itu turun dari mobil dengan seorang anak laki-laki berpakaian merah putih
"Ini Qais ya? Sudah besar sekarang" anak laki-laki itu hanya tersenyum saat Aqila mengusap kepalanya
"Masuk semester empat"
"Nama kamu siapa?"
"Kenapa?" Layla menjawab dengan galak saat anak berbaju merah putih itu bertanya padanya
"Kamu mau nggak jadi pacarku?" Qais tiba-tiba berlutut didepan Layla, mengangkat permen tusuk yang ia keluarkan dari saku bajunya
"Nggak mau, kata kak ucup pacalan itu dosa"
Aqila sampai menutup mulutnya tak percaya mendengar obrolan anak itu, Qais memberikan Layla permen dan mengucapkan kalimat yang entah ia dengar dari mana
"Pacalan nggak boleh" Bilal menyembunyikan adiknya yang hanya berjarak sepuluh menit di belakang tubuhnya
"Kalau gitu mau nggak jadi istriku?" Aqila sampai memegang dada syok mendengar ucapan anak itu
__ADS_1
"Heh, Qais siapa yang ngajarin?" Kenzo langsung membekap mulut adiknya, darimana adiknya yang baru kelas satu SD itu mendengar kalimat seperti itu
"Aku nggak mau" Layla kini memilih bersembunyi dibelakang gamis ibunya
"Kenapa?" Anak laki-laki berseragam SD itu melepas tangan Kenzo yang membungkam mulutnya
"Aku masih kecil"
"Yaudah, kalau kamu sudah besar aku tunggu"
"Heh" Kenzo segera membekap mulut adiknya lagi dan menyeretnya masuk ke mobil
"Kak Aqila aku pulang dulu, Assalamu'alaikum"
"Wa'alaikumussalam" Aqila hanya berucap pelan, ia masih syok mendengar kata-kata anak sekecil itu yang terang-terangan melamar putrinya
"Ila nggak mau nikah sama dia?" Gadis kecil berusia empat tahun itu melipat tangannya didepan dada
"Kenapa?" Tanya Bilal
"Dia anak nakal"
"Tau darimana?" Aqila semakin heran mendengar ucapan putrinya, walaupun agak lucu juga anak kecil membahas ini
"Dia nggak masukin baju sekolah" Aqila tertawa sampai memegang perutnya, anak-anaknya sejenak membuat ia lupa apa yang sedari tadi dipikirannya
Mereka tidak tau kalau pertemuan ini menjadi awal benang merah tercipta, Layla tidak tau kalau dimasa depan, laki-laki yang ia tolak akan merubah hidupnya secara perlahan
"Bunda yang jemput? Ayah mana?" Pertanyaan itu lolos dari mulut Bilal kala Aqila menyuruhnya berpegangan yang erat diatas motor
"Ayah masih kerja, katanya nanti setelah dzuhur kita ke pesantren"
"Kenapa ke pesantren? Kakek udah nggak ada" suara Bilal melemah, ia begitu dekat dengan kakeknya yang sering menceritakan kisah nabi
"Emang nggak rindu nenek? Nenek rindu loh" Aqila menyalakan motor kemudian melihat kanan kiri untuk memastikan kendaraan yang lewat
"Rindu, masakan nenek enak, Ila suka"
__ADS_1
"Ilal juga suka"
"Nanti temani nenek ya disana, biar dia nggak sedih lagi"