
"Jadi?"
"Jadi apa?" Aqila malah balik bertanya saat Naufal menginterogasinya ditempat dimana mereka bercerita tentang kenangan masa lalu tadi malam, meja makan
"Jadi kapan? bagaimana? Kenapa aku tidak tau Qil? Aku seperti suami yang bodoh" Naufal sampai mengacak-ngacak kasar rambutnya
"Jangan mengatakan itu lagi, aku sudah bilang Kak Naufal yang terbaik" Aqila meraih tangan Naufal untuk digenggamnya telapak tangan itu erat
"Mengenai kapan, aku juga tak tau kapan pastinya, aku selalu berpikir penurunan berat badan, sering lupa dan pusing adalah hal yang biasa terjadi hanya karena kurang istirahat beberapa hari ini. Aku tak tau kalau penyakit itu kembali lagi" nada suara Aqila bergetar, ia pikir penyakit itu akan hilang selamanya, karena setelah operasi ia rutin kontrol dan dokter sudah mengatakan remisi, artinya tidak ditemukan lagi sel itu
"Bagaimana aku mengetahuinya? Kak Diana yang menyarankan periksa ke rumah sakit saat dimana kita berkunjung kemarin malam" Aqila menjelaskan itu dengan menutup wajahnya, suaranya terisak pelan
"Kenapa kau tidak bilang mengenai itu semua?"
"Karena aku tidak merasa sakit yang sama seperti yang aku alami dulu, jadi aku hanya menganggap ini sebagai penyakit biasa. Mimisanku juga hanya terjadi kemarin malam, jadi aku menganggap wajar hal ini" Aqila menunduk, kini ia mengaku salah
"Ayo kita kerumah sakit sekarang Qil, aku ingin kamu sembuh dan kita bisa hidup membesarkan si kembar bersama-sama" Naufal menghapus air matanya, bagaimanapun caranya Aqila harus sembuh. Tak ada lagi gunanya menyalahkan siapa-siapa, yang terpenting adalah harus sembuh dulu
"Aqila" Naufal dan Aqila saling pandang saat mendengar seperti suara keluarganya diluar
Aqila berjalan membuka pintu dan terkejut melihat semua keluarganya bahkan hadir disini, kecuali Reyna karena adiknya mungkin belum mendengar informasi apa-apa
"Ada hal apa? Kenapa semuanya bisa kemari?" Tanyanya dengan bingung
"Kamu mengatakan ada apa? Apa kamu masih waras menyembunyikan hal sebesar ini dari kami?" Rian langsung maju kedepan setelah Aqila mengatakan itu
"Rian!" Papa Arya memperingatkan Rian yang tempramennya tak pernah berubah
"Aqila" lirih sekali suara Mama Intan memanggil putrinya
__ADS_1
"Kenapa tidak bicara tentang ini?" Aqila menatap Diana dan Darren, artinya dua orang itu sudah memberitau orang rumah
"Aqila baik..."
"Jangan dilanjutkan, kamu selalu mengatakan dirimu baik-baik saja, kamu pikir kamu siapa? Kamu hanya manusia biasa nak" Papa Arya memotong ucapannya bahkan sebelum Aqila sempat menyelsaikannya
"Lebih baik bicaranya didalam saja" Naufal menarik tangan istrinya untuk membiarkan keluarganya masuk
Sofa di ruang tamu tak muat menampung mereka semua, jadilah mereka duduk dibawah beralaskan karpet
"Apa yang ingin kalian dengar? Aqila merasa lebih baik" Aqila tak menyangka mereka semua tak masuk kerja, apa memang karena libur? Atau karena dirinya?
"Lebih baik katamu?, Diana, apa maksudnya lebih baik itu?" Darren masih tak mengalihkan pandangan dari adiknya
"Kanker otak glioblastoma, terletak di lobus temporal atau bagian otak samping, tak jauh dari lokasi kanker sebelumnya, termasuk kanker ganas karena penyebarannya yang begitu cepat, hal ini disebabkan ia bisa menyediakan suplai darahnya sendiri"
"Maaf"
"Maaf? Kenapa harus meminta maaf kepada kami?" Papa Arya menggelengkan kepalanya berkali-kali, ia benar-benar tak mengerti isi pikiran putrinya
"Aku minta maaf karena aku sendiri tak tau dimana salahku, apa aku pernah menginginkan penyakit ini datang lagi? Tidak pernah sekalipun. Bagaimana aku bisa memikirkan penyakit yang telah membuatku meneteskan banyak air mata sepuluh tahun lalu saat yang kulihat saat ini adalah tawa anak-anakku"
"Mereka bahagia aku juga bahagia, sakit itu tak ada artinya saat mereka bisa tersenyum. Aku tak bisa merasakan sakit apapun karena mereka selalu menjadi obat untukku"
Naufal tak bisa menahan air matanya lagi, tak peduli keluarga istrinya menganggapnya lemah, ia telah memilih wanita yang tepat untuk mengisi tempat dihidupnya, apa wanita itu akan terus menemaninya?
"Apa aku salah Ma? Apa aku salah karena sakit ini? Memang siapa manusia yang suka rela merasakan sakit? Apa ada manusia yang meminta supaya diberi penyakit?"
"Aku tak pernah meminta itu, tapi tuhan mungkin menganggapku terlalu kuat dan mampu dengan ujian ini, karena jelas ia tak akan menguji seseorang diluar batas kemampuannya"
__ADS_1
"Jangan tanya apa aku ingin sembuh dari penyakit ini, karena sama saja kalian meragukan peran seorang ibu untuk anaknya. Jangan tanyakan seberapa besar keinginanku untuk hidup, jawabannya lebih dari yang pernah kalian bayangkan"
"Aku punya suami hebat, laki-laki yang menjadi imamku dan membimbingku dengan baik, aku punya anak-anak cerdas yang selalu membuat tawaku terbit dengan tulus, tak seperti dulu lagi, sekarang konteksnya berbeda, Aqila sudah dewasa bukan lagi anak remaja yang menangis karena sakit kepala kanker"
Kalimat itu keluar begitu saja dari hatinya, ia berjanji tak akan pernah membiarkan penyakit ini mengambilnya dari orang-orang terdekatnya, tapi apa jadinya jika takdir tuhan berkata lain?
"Jadi aku tak pernah bohong kalau aku mengatakan baik-baik saja, papa bertanya apa yang membuat aku baik-baik saja? Jawabannya karena hatiku baik-baik saja, jika hati yang sakit semuanya akan sakit termasuk tubuh, tapi jika hanya tubuh yang sakit, semuanya masih bisa terlihat baik-baik saja"
Ini adalah sesuai dengan apa yang terjadi sepuluh tahun lalu, Aqila yang selalu mengharap kasih sayang, Aqila yang selalu terbayang akan kematian, hatinya tak bisa dikatakan baik-baik saja saat itu. Jadi yang ia pikirkan dalam kepala adalah saat dimana tuhan akan mengambilnya
"Apa pengobatan yang terbaik Diana?" setelah hening cukup lama, Papa Arya akhirnya bersuara
"Kanker otak glioblastoma adalah kanker ganas yang bisa menyebar dengan cepat keseluruh bagian otak, kemoterapi bisa dilakukan untuk pengecilan dan pengendalian kanker, operasi juga bisa dilakukan untuk pengangkatan sel kanker dalam otak selanjutnya dilakukan kemoterapi untuk memastikan kanker bisa terkendali"
"Kemoterapi saja" Aqila yang menjawab, ia tau betul apa efek samping yang akan ditimbulkan jika operasi, walau memang kemungkinan juga muncul saat kemoterapi
"Efek sampingnya apa kak?" Naufal yang bertanya, sejak tadi ia tak melepaskan genggaman tangannya pada Aqila
"Baik kemoterapi atau operasi semuanya memiliki dampak tersendiri, mulai dari mual, muntah, kejang-kejang, gangguan penglihatan, sampai masalah pada memori"
"Aku yakin bisa sembuh"
"Harus!" Naufal menekan kalimat itu, agak ngeri juga sebenarnya mendengar efek samping yang disebutkan Diana
"Kakak nggak menyangka kamu sekuat itu Qil" Devano sebagai anak sulung keluarga menggelengkan kepalanya
Ia yang tak sengaja mendengar percakapan Darren dan Diana di dapur, awalnya ia penasaran karena orang itu menyebut nama penyakit dalam istilah medis yang tidak ia mengerti, tapi saat Darren mengatakan
'Bagaimana dengan Naufal dan anak mereka?' ia langsung tau yang dimaksud adalah Aqila. Tak ada yang menduga kejadian sepuluh tahun lalu itu bisa terulang lagi dalam sejarah keluarga mereka
__ADS_1