
Setelah berbagai rangkaian acara sakral itu selesai, selanjutnya ucapan selamat dari berbagai tamu undangan yang hadir, suara hadroh dari grup ponpes Nurul Iman menghiasi suasana di hari bahagia itu Para teman-teman mereka banyak yang datang terutama dari teman kampus
"Selamat ya semoga sakinah, mawadah warrohmah" Aqila mengangkat kepalanya mendengar itu, suara yang tak asing lagi
"Bu Maya" ucapnya menutup mulut tak percaya melihat dosennya yang terkenal killer itu hadir, tapi bagi Aqila, Bu Maya bukan seperti itu
"Hai" Galang berdiri dibelakang Bu Maya melambaikan tangannya, dengan setelan kemeja batik dan celana hitam
Naufal sudah siap pasang muka, Aqila hanya tersenyum menangkupkan tangannya
"Jangan tersenyum depan dia, aku nggak suka" Bu Maya yang mendengar itu sedikit menutup mulut tak percaya, ia benar-benar tak menyangka bisa melihat hari ini tiba
"Ternyata undangan lima tahun lalu, bisa terlaksana sekarang" ucapnya pelan
"Ya begitulah bu, takdir manusia tetap ditangan-Nya" Bu Maya mengangguk
"Semoga kalian menjadi keluarga yang sakinah mawaddah warrohmah"
"Aamiin" jawab Naufal mengamini
"Terima kasih udah dateng bu, Aqila nggak nyangka ibu benar-benar bisa hadir disini"
"Tentu ibu harus hadir untuk melihat si badboy kampus menikah" Naufal tersenyum menunduk mendengarnya
"Kenapa ibu bisa dateng bareng Galang?" Tanya Aqila saat melihat Galang tadi berbarengan dan sedikit berbincang dengan Bu Maya. Padahalkan dulu Galang di Fakultas bisnis bukan seni
"Dia anak ibu" Naufal dan Aqila sama-sama menutup mereka, mencerna apa yang terjadi, anak? Galang?
"Aku tau kalian pasti tidak menyangka aku ini anak dosen killer" ucap Galang merapikan sedikit rambutnya yang berantakan, sedangkan Bu Maya menepuk lengannya pelan
"Bagaimana bisa?" Tak pernah ada yang menyangka kalau ini adalah fakta, terasa sangat mustahil. Galang si anak yang dulu sering bermain rasa ternyata anak dosen killer, benar-benar sulit dipercaya. Padahal saat ia ke rumah Bu Maya untuk mengantarkan surat sebelum pergi ke Rochester, ia tak pernah melihat Galang. Mereka dulu satu SMA tapi Aqila juga tak pernah melihat Bu Maya saat pengambilan raport atau wisuda perpisahan karena yang datang pasti selalu bapaknya. Sudah hampir sepuluh tahun dan ia baru tau fakta ini, luar biasa sekali
Tamu undangan mulai berkurang, Aqila sudah mulai merasakan kesemutan pada kakinya, ia ingin sekali duduk tapi tak sopan rasanya
"Kenapa?" Naufal bertanya saat melihat istrinya seperti meringis
"Capek" ucap Aqila pelan
__ADS_1
"Duduk saja, sepertinya tamu..."
"Hai" Aqila menolehkan kepalanya kedepan, senyum bahagia terpatri diwajahnya
"Reynald!" Naufal yang melihat Aqila tiba-tiba tersenyum cerah heran, terlebih saat Aqila menyebut nama Reynald, hatinya langsung panas mendengarnya
Ia teringat kata Papa Arya, kalau Aqila sudah jatuh cinta dengan laki-laki lain bernama Reynald, ini tidak bisa dibiarkan pikirnya. Ia menatap laki-laki berkulit putih, rambut kecoklatan dan bola mata biru yang sedang berdiri didepan mereka saat ini
"Aku pikir kau sudah melupakan namaku" ucapnya terkekeh kecil
"Mana mungkin aku bisa lupa" Naufal semakin panas mendengarnya, ia salah mengartikan maksud Aqila, ia berfikir Aqila tak akan melupakan nama laki-laki itu dalam hatinya
"Belum satu bulan kau pulang dari Rochester sekarang sudah menikah?, Hebat sekali" ucapnya dengan nada sedikit menyindir
"Ternyata sudah ada seseorang yang menungguku disini" ucap Aqila, ia melirik kearah Naufal
"Sayang sekali ya, untung aku belum sempat melamarmu saat itu" mata Naufal melotot mendengar itu
"Maaf, tapi kami sudah memiliki janji jauh sebelum itu" balas Naufal, ia menatap jengkel kearah laki-laki itu
"Oh ya? Tapi Aqila sempat lupa dengan hal itu"
"Gara-gara kau mengatakan hal itu aku terus kepikiran"
"Mengatakan apa?"
"Tentang anak yang pergi kedokter gigi"
"Anak yang pergi ke dokter gigi?" Aqila bergumam pelan dan berfikir sebentar
"Hah? Yang itu, apa benar? Padahal aku hanya bercanda saat itu" ucap Aqila, ia menutup mulutnya sedikit tertawa
"Sekarang aku kembali bingung dengan hatiku sendiri" jawab Reynald lesu
"Maaf tuan bule, apa bicaranya masih panjang? Aku sudah tak sabar ingin memeluk sahabatku" Renata yang ada dibelakang sedikit menoleh kearah Reynald, melihat cara dia bicara dengan bahasa Indonesia tapi masih dengan logat luar
"Owh ya sorry, nanti kita bicara lagi" ucapnya, Aqila mengangguk sedangkan Naufal semakin masam saja, ia sama sekali tak mengerti apa maksud istrinya, dokter gigi, keyakinan, anak yang sakit gigi, ia tak mengerti apa pembahasan mereka
__ADS_1
"Aqila" Renata langsung memeluk leher Aqila erat, bahunya bergetar, Aqila sampai heran melihatnya
"Ren, jangan nangis gini" ucapnya tak menyangka Renata akan menunjukkan perilaku seperti ini
"Aku terharu liat sahabatku akhirnya bahagia, ini tangisan haru karena akhirnya kau berhasil menemukan kebahagiaanmu" Renata memeluk leher Aqila, menyembunyikan tangisnya disana. Sejujurnya, hatinya saat ini sedang terasa campur aduk, senang dan sedih. Senang tentu saja karena pernikahan Aqila, dan sedih karena melihat Gempano yang terlihat pendiam, tidak menyapa dirinya hari ini dan tadi ia lihat seperti terburu-buru pergi. Hati Renata sakit melihat itu, Gempano tidak mengatakan apa-apa kalau ia akan pergi, apa ia setidaknya bisa memberitahu dulu kemana tujuannya?
Renata ingin menangis tapi tak ingin ada yang melihatnya bersedih, apalagi ini dihari bahagia sahabatnya, karena itu ia memanfaatkan ini sebagai alasan untuk menumpahkan air matanya dipundak sahabatnya
"Udah jangan nangis lagi, kita masih bisa ketemu kan?" Renata mengangguk mengelap air matanya dengan tisu, untunglah yang mereka pakai make up mahal jadi tidak mudah luntur
"Gempano kemana Ren, kok nggak keliatan?" Tanya Naufal, Renata sempat berfikir sebentar ingin mengatakan apa
"Dia kayaknya ada urusan mendadak dirumah, tadi setelah menerima telepon dia tiba-tiba pergi" ucap Renata, karena tak mau Naufal bertanya lebih jauh lagi, ia segera turun dari pelaminan itu
"Renata? Ibu sampai nggak ngenalin kamu loh" Renata mengerjapkan matanya kemudian tersenyum dan meraih tangan Bu Maya, ia juga tak menyangka bisa bertemu dosen killernya disini
"Perpisahan itu memang selalu ada seiring dengan berjalannya waktu, semakin kita dewasa apalagi sudah menikah, sulit sekali rasanya punya waktu luang untuk kembali kumpul bersama sahabat" Renata menganggukkan kepala menanggapi perkataan Bu Maya, matanya pasti terlihat memerah sekarang karena sudah menangis tadi
"Iya, sedih juga rasanya saat mengingat bagaimana mereka berdua dulu" ucapnya
"Owh iya, kamu sama Gempano pacaran ya? Dia sekarang kemana? Kok nggak keliatan?"
"Dia kayaknya ada urusan keluarga mendadak bu, jadi sudah pergi tadi"
"Ibu, kapan kita pulang?" Renata mengerjapkan matanya saat melihat laki-laki berambut klimis menghampiri mereka dan memanggil Bu Maya dengan sebutan ibu
"Ibu?" Ulang Renata sekali lagi, ia pikir ia salah dengar. Tapi wajar juga sih karena Bu Maya juga dosen dikampus mereka, tapi kenapa nada panggilannya terdengar akrab sekali
"Ini anak saya, Galang" Renata menjatuhkan rahangnya, menganga tak percaya, Lelucon macam apa ini?. Galang? Laki-laki yang dia anggap..., sepertinya tak perlu dibahas lagi bagaimana pandangan Renata pada laki-laki itu, karena yang pastinya buruk
"Anak ibu? Anak kandung ibu? Bukan anak pungut?"
"Sembarangan lo kalau ngomong" ucap Galang, ia duduk dikursi dekat Bu Maya
"Ternyata anggota DPR masih ada waktu ya buat kondangan, jalan raya sebelah udah diperbaiki belum?" Galang tak merasa tersindir sama sekali dengan ucapan Renata, lagipula ia tau daerah yang dimaksud Renata dan itu bukan bagiannya
.
__ADS_1
Banyak Typo...🙏🙏🙏