
"Mengenai masalah, Aunty Qilla tak banyak belkomental" ucapnya kembali duduk pada salah satu kursi kosong yang menghadap kearah keluarganya, gayanya benar-benar mirip sang ayah yang sedang duduk dikursi perusahaan dengan mengangkat sebelah kaki dan mengetuk dagu dengan tangannya seolah berfikir
Devano sampai mengeluarkan kameranya, kapan lagi ia melihat anaknya yang suka membuat Zara menangis itu bergaya cool meniru dirinya
"Ia hanya bilang, masalah itu membuat seseolang beltambah kuat dan sebagai bukti kalau ia pelnah belada dimasa sulit dan belhasil melewatinya"
"Aunty Qilla juga bilang, kalau masalah itu sendili halus...halus..." Yusuf terdiam sejenak mengingat-ingat kata selanjutnya
"Halus..."
"Harus dihadapi bukan lari dan dimanapun kita sembunyi ia akan berhasil menemukan kita karena masalah itu adalah..."
"teman kita"
"Yes, pintar sekali keponakan aunty" Aqila mengangkat tangannya lima jari dan dibalas oleh Yusuf dengan hal serupa
"Tos"
"Jangan mengajari yang aneh-aneh pada Yusuf, Aqila" Davin yang baru saja datang bersama istrinya mengambil alih sang putra dari pangkuan Papa Radit
"Apanya yang aneh sih kak? Otak mereka sedang dalam fase rasa ingin tau yang tinggi jadi aku ngasih tau apa yang ingin mereka tau"
"Ya, tapi bahasanya jangan terlalu puitis kayak gitu, mereka juga nggak paham, pakai kata-kata yang mudah dipahami aja, seperti dewasa artinya sudah besar seperti Paman Rian, udah gitu aja"
"Uncle" Jawab Rian sewot tak terima dipanggil paman
"Yaelah, sama maknanya cuma beda bahasa" jawab Davin tak kalah sewotnya
"Beda" Rian seperti anak kecil yang kekeh dengan pendiriannya, kata paman terdengar seperti terlalu tua untuknya
"Kak Devan yang jadi ayahnya aja nggak protes, kenapa Kak Davin yang jadi om nya protes?" tanya Aqila menekan kata om
"Bisa nggak jangan pakai om, pakai paman aja"
"Sama aja kan, karena om itu apa Yusuf...?"
"Om itu altinya paman dalam bahasa belanda" jawaban Yusuf membuat mereke tercengang bahkan para ibu-ibu, Kirana dan Reyna yang baru datang menganga tak percaya mendengar ucapan Yusuf yang seperti orang dewasa. Bahkan Rian bertepuk tangan karena bisa membalas ucapan Davin walau lewat keponakannya
__ADS_1
"Ada apa ya ini? Kok kayaknya seru banget?" tanya Diva menghampiri sang putra yang senantiasa menempel pada Aqila
"Sayang, jangan biarin putri kita dekat sama Aqila" Diana terheran mendengar ucapan suaminya, Darren langsung menyerahkan Zara kepadanya
"Kenapa?"
"Aku nggak mau dia ikut tercemar kayak Yusuf"
"Yusuf kenapa?" Diva mengecek tubuh anaknya mendengar ucapan dari Darren
"Yusuf baik-baik aja bunda"
"Tapi otak Yusuf udah nggak baik-baik aja" Balas Darren mencoba menutup kuping putrinya, padahal Zara mulai terlihat risih dengan tingkahnya ayahnya dan ingin menangis sebentar lagi. Devano hanya santai saja, ia justru bangga dengan putranya walau belum bisa mengucap huruf R dengan benar
"Otak Yusuf baik-baik aja kok, ini namanya celdas kata Aunty Qilla" ucapnya memegang kepalanya dengan sebelah tangan dan satu tangannya lagi mengepal diudara
"Awwww, yusuf cerdas dan ganteng banget deh, aunty suka" Aqila mencium keponakannya dengan gemas
"Kayak pacal Aunty Qilla kan?" semua orang yang tadi tertawa kembali terdiam dan menatap kearah Aqila meminta penjelasan
"Pacal itu altinya...mmm"
"Ayo kita beli eskrim" Aqila membungkam mulut keponakan yang ember itu dan menggendongnya pergi meninggalkan orang-orang yang saling bertatapan disana, tentu mereka semua bagaimana kisah cinta gadis itu
.
Apa yang ia tunggu? Sebuah ketidakpastian dari gadis yang tidak mengingat apapun tentang dirinya? Atau sebuah harapan kalau gadis itu benar-benar akan kembali dan bersamanya? Semuanya tidak pasti, hanya tuhan yang tau
Tidak pasti, tapi kenapa hatinya memilih menunggu?, apa itu yang dinamakan cinta? Laki-laki itu tersenyum miris
"Kapan kau akan kembali? Bisakah kau mengingatku?"
Usianya yang sudah memasuki dua puluh delapan tahun, kadang membuat orang tuanya menyuruhnya cepat menikah agar ia bisa terhindar dari zina, tapi bagaimana dengan hatinya yang masih tertaut dengan Aqila?
"Kau harus selalu baik-baik saja, biarkan takdir rumit ini berjalan, aku percaya jodoh manusia tidak tertukar" gumamnya pelan memandang rembulan malam yang malam ini terlihat begitu indah
.
__ADS_1
"Aqila, bisa jelaskan kepada papa apa maksud perkataan Yusuf tadi siang? Pacar? Aqila punya pacar? Ada yang mau dijelaskan tentang itu?" Aqila sudah menduga ini akan terjadi, papanya mengintrogasinya dengan pertanyaan beruntun di kursi taman depan rumah selesai sholat isya
"Aqila nggak punya pah"
"Lalu kenapa Yusuf bicara tentang pacar?"
"Aqila kemarin nonton drama, terus dia datang, karena cowoknya ganteng ya Aqila keceplosan bilang pacarku di depan Yusuf"
"Aqila nggak bohong kan?"
"Kenapa Aqila bohong? Aqila tau pacaran itu haram" Papa Arya mengangguk dan tersenyum, ia mengelus kepala putrinya
"Nak, apa Aqila sudah ingat sesuatu? Misalnya tentang seseorang di Indonesia"
"Aqila ingat punya sahabat baik sejak masa SMA dan kami kuliah ditempat yang sama, tapi Aqila lupa namanya siapa, wajahnya juga terlihat belum jelas dalam memori Aqila tapi Aqila tau dia sahabat terbaik"
"Namanya Renata, Aqila benar dia sahabat terbaik Aqila"
"Lalu apa Aqila mengingat tentang kampus? Orang-orang yang ada disana? atau cerita lainnya?" Aqila menggeleng menjawab pertanyaan Papa Arya
"Tapi Aqila ingat sesuatu tentang kalian" Aqila mengucapkan itu dengan pandangan lurus kearah lampu jalan
"Aqila ingat tentang apa?" Jantung Papa Arya berdetak dua kali lebih cepat
"Aqila ingat sesuatu yang aneh"
"Aqila ingat Kak Devan pernah nampar Aqila karena lupa, Aqila ingat Kak Darren pernah ninggalin Aqila dijalan, Aqila ingat Kak Rian pernah nampar dan nuduh Aqila dorong Reyna dari tangga padahal Aqila nggak pernah ngelakuin itu, Aqila ingat selalu ngunci kamar dan sendiri nyalain lilin tiap ulang tahun, dan Aqila ingat tentang mama dan papa yang selalu sibuk, aneh kan? Kenapa Aqila ngerasa kalau mimpi itu seolah nyata?"
Papa Arya tak dapat menahan tangisnya, benar walaupun ia sudah berusaha menjadi ayah yang baik selama ini, kenangan pahit dan kelam itu tetap tak bisa dihapus
"Bilang sama Aqila kalau itu cuma mimpi kan pah?" Papa Arya menggeleng, ia mengadahkan kepalanya keatas, agar air mata tak turun"
"Itu nyata nak, itu kisah masalalu, kenangan pahit Aqila itu adalah kesalahan terbesar papa sebagai orang tua karena tak bisa membagi kasih sayang dan mendidik dengan benar"
"Aqila mau kan maafin papa?"
"Aqila udah maafin papa dan semuanya, Aqila bisa melihat bagaimana ketulusan kalian selama Aqila disini, Aqila bisa merasakan kehangatan keluarga sempurna yang seperti sudah lama hilang "
__ADS_1