
Hari begitu cepat berlalu, baru saja mentari terbit sekarang sudah ada rembulan di langit yang menggantikan, bahkan menit berganti dengan jam terasa dalam satu kedipan mata
Seusai acara yang melelahkan untuk Renata, akhirnya ia bisa bebas dan ingin segera mengistirahatkan tubuhnya, tapi ia teringat sesuatu saat mendengar pintu terbuka
"Apa alasan lo nggak nolak waktu itu?" Tanpa basi-basi, pertanyaan itu langsung keluar dari mulutnya saat melihat Galang baru masuk ke kamar
"Memangnya harus punya alasan?" Tanya Galang balik, ia seperti biasa saja dan melangkah dengan santai menuju meja belajar
"Gue butuh alasan" jawab Renata, arah pandangnya mengikuti kemanapun laki-laki itu pergi
"Nggak tau" dua kata itu sudah membuat Renata frustasi dan ingin sekali memukul kepala Galang
"Lo nggak tau? Terus apa yang lo harepin dari pernikahan ini?"
"Seperti kebanyakan pasangan pada umumnya, hidup bahagia selamanya"
"Lo tau nggak apa kunci dari kebahagiaan itu?"
"Cinta kan?" Galang malah bertanya dengan santai
"Yup, cinta. Apa itu bisa terwujud diantara kita?"
"Bisa, kalau kita saling belajar"
"Emangnya lo mau belajar?"
"Kenapa enggak? Kita bisa belajar bareng kan?" Galang berdiri didepan Renata, tinggi mereka hampir sama
"Tapi..."
"Hati kamu masih sama dia?" Tanya Galang, Renata menatap kearah lain
"Lang gue udah nggak ada rasa sama dia, tapi lo tau pasti kan kalau kenangan orang nggak bisa dihapus semudah itu"
"Karena itu aku akan membantumu menghapusnya dengan kenangan baru" jawab Galang, laki-laki itu mengarahkan wajah Renata agar menatap kearahnya
"Tapi lo..."
"Ssttt...." Galang meletakkan jari telunjuknya didepan bibir Renata
__ADS_1
"Kamu, coba belajar pakai kata aku-kamu"
Renata terdiam, tak menyangka Galang membahas ini juga, tapi memang agak aneh kalau dia mengatakan lo-gue pada suaminya. Renata menghela nafas, serumit itu problematika gen Z, untuk menggeser kata lo-gue menjadi aku kamu cukup melibatkan perasaan yang kompleks
"Tapi kamu bisa janjikan?" Renata agak trauma dengan kata janji, jadi sepertinya harus membuat syarat terlebih dahulu agar tak dikecewakan lagi, begitu pikirnya
"Janji apa? Untuk selalu bersamamu? Untuk hidup bahagia sampai tua? Sampai kematian menjemput? Janji untuk setia? Atau janji untuk tidak menyakiti?"
"Janji untuk membuatku merasa tidak salah memilihmu, itu sudah mencakup semua janji yang kau sebutkan" jawab Renata mantap
"Bisa, aku berjanji" Galang mengulurkan jari kelingkingnya. Renata agak sedikit terdiam kemudian mengaitkan kelingkingnya juga, ia tak menyangka Galang cukup percaya pada janji kelingking
"Apa jaminan yang kau berikan?" Tanya Renata
"Apa masih perlu? Bukankah karma itu nyata? Jika aku mengingkari janjiku mungkin banyak masalah yang akan aku dapatkan. Kau bisa memegang janjiku, karena ini adalah pertama kalinya aku berjanji untuk serius dengan seorang perempuan selain ibuku"
"Lalu masa lalumu itu apa?" Tanya Renata, ia justru kembali kesal saat mengingat bagaimana Galang dikampus dulu
"Masa laluku adalah sebuah pelajaran untukku bisa belajar sekarang, aku sadar kalau sekarang bukan saatnya untuk bermain lagi tapi fokus pada komitmen, selain itu aku tak pernah berjanji pada mereka"
"Aku berjanji menepatinya, jangan takut, aku bukan laki-laki yang menghilang setelah memberi janji" kalimat terakhir Galang justru membuatnya seperti menyinggung Gempano, tapi laki-laki itu tidak taukan masalahnya dengan Gempano seperti apa?
"Baik, aku akan memegang janji itu"
"Apa?" Tanyanya bingung, apa laki-laki itu menyuruhnya salim? Begitu pikirnya, bukankah ini romantis? Renata sampai terdiam sejenak
"Pijitin, tanganku pegel nyalamin tamu terus" Renata sudah ingin mengumpat kalau tidak ingat Galang adalah suaminya, padahal beberapa menit yang lalu laki-laki itu berbicara serius dan romantis, kenapa sekarang jadi seperti ini?
.
Aqila meletakkan secangkir teh hangat disebelah Naufal yang masih sibuk berkutat dengan laptopnya, padahal jam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam
"Sibuk banget ya?" Tanyanya, ia menarik kursi kosong dan duduk disebelah Naufal yang masih memperhatikan grafik angka di layar monitor
"Penjualan menurun?" Sebagai sesama lulusan bisnis ia bisa membaca grafik yang ada disana
"Hmmm, padahal awal-awal menu baru cukup ramai, sekarang penjualan terus menurun" Naufal menyugar rambutnya kebelakang, kepalanya pusing karena teman-temannya yang lain sibuk dengan urusan mereka, termasuk Maher. Gempano masih dilanda kesedihan dan dalam suasana hati yang baik-baik saja, Naufal mengerti kondisinya. Jika dipaksakan juga, bukannya membantu laki-laki itu malah hanya akan menambah pekerjaan karena tak bisa fokus hingga salah menuliskan angka. Maher sibuk menyiapkan pernikahan dengan Fadila, Vian masih sibuk karena istrinya baru melahirkan anak kedua mereka dan Panil? Laki-laki itu sibuk berjuang mendapatkan keluarga calon mertuanya. Tunggu, Naufal menoleh kearah Aqila saat menyadari sesuatu
"Kenapa?" Tanya Aqila bingung saat Naufal tiba-tiba menatap kearah dirinya
__ADS_1
"Bujuk Rian untuk memberikan Panil restu menikahi Reyna"
"Kenapa Kak Rian?" Tanya Aqila, bukankah seharusnya membujuk Papa Arya saja
"Panil mengeluh, katanya harus Rian yang memberikan restu dahulu, baru bisa keluarga yang lain. Ia menghalangi Panil datang kerumah Bramadja sebelum ia bisa mendapat restu dari Rian"
"Kenapa harus Kak Rian?" Aqila sampai ikut bingung dengan tingkah kakaknya yang mengahalangi sampai seperti itu, apa Panil laki-laki yang buruk?
"Mungkin karena masih meragukan Panil yang mantan playboy" jawaban Naufal membuat Aqila menepuk jidat, pantas saja kalau begitu Rian menolak, ia masih meragukan Panil
"Dalam geng Felis Catus, Panil yang paling playboy hingga semua anggota kami dikenal playboy juga" lanjut Naufal
"Pantas saja jika seperti itu, predikat masa lalu Kak Panil bisa dibilang buruk karena mempermainkan perasaan banyak wanita" balas Aqila
"Aku juga justru curiga kalau Rian tidak memberikan restu karena tidak ingin didahului nikah kedua kali oleh adiknya" Aqila mengangguk membenarkan alasan itu, bisa jadi juga
"Aku melihatnya dengan seorang perempuan beberapa hari lalu saat kita dalam perjalanan pindah kesini" ucap Aqila, ia ingat sekali kalau itu adalah Rian
"Aku juga pernah melihatnya dihajar seorang pria paruh baya saat pulang dari ponpes"
"Dia kenapa ya?" Aqila mungkin akan bertanya besok karena setelah pindah kesini ia memang belum pernah bertemu Rian secara langsung
"Panil menambah beban pikiran saja" Naufal menghela nafasnya panjang, ia sudah pasti akan meminta cuti panjang setelah ini dan memberikan semua urusan bisnis pada teman-temannya, padahal ia juga butuh cuti karena baru menikah tapi teman-temannya juga sedang dalam masalah mereka masing-masing
"Mungkin konsep beberapa kafe harus sedikit diubah mengikuti gaya ketimuran seperti makanan yang disajikan. Jadi seolah-olah pengunjung bisa merasakan sedang menikmati makanan itu langsung dari negara asalnya, Turki" Aqila mencoba memberi saran yang menurutnya bisa lebih baik
"Pasti banyak yang tertarik datang, konsepnya juga bisa disesuaikan dengan anak muda zaman sekarang, target untuk kafe ini untuk kalangan remaja kan?" Setelah menjelaskan panjang kali lebar menurutnya, Aqila menoleh meminta pendapat laki-laki itu
"Kak Naufal"
"Kak Naufal" bukannya menjawab, laki-laki itu malah diam saja menatapnya
"Kak Naufal kenapa sih?"
"Cantik"
"Iya, kafenya akan terlihat semakin cantik"
"Kamu cantik"
__ADS_1
"Nggak nyambung deh, kita bahas kafenya sekarang" bukannya kesakitan Naufal justru tersenyum saat Aqila menepuk lengannya cukup keras, bukannya mengaduh kesakitan ia malah tertawa, menggoda istrinya adalah sesuatu yang menyenangkan untuknya
"Aku ingin bersamamu menikmati masa tua yang indah sampai maut memisahkan kita"