Pelangi untuk Aqila

Pelangi untuk Aqila
Terlalu Jauh


__ADS_3

Asap panas mengepul dari dua cangkir teh diatas meja, cukup untuk menghangatkan tubuh karena gerimis diluar yang masih menyisakan udara dingin


"Disini saja" Aqila yang hendak pamit undur diri malah diminta Rian untuk ikut bergabung, ia menoleh kearah Naufal sejenak dan laki-laki itu mengangguk tanda setuju


"Jadi masalahnya apa?" Tanya Naufal saat Rian dari tadi hanya diam seperti orang kebingungan


"Jadi begini, ekhemmm..."laki-laki itu berdehem pelan


"Aku ingin bertanya, apa yang harus kita lakukan untuk meyakinkan hati orang tua?"


"Maksudnya?"


"Maksudnya meyakinkan orang tua si perempuan kalau kita serius, setelah berbagai cara dan ucapan yang kita lakukan" barulah sekarang Naufal paham kalau Rian sepertinya memang tertarik memulai hubungan serius


"Apa perempuannya sudah setuju?"


"Sudah"


"Sudah?" Aqila menutup mulutnya tak percaya, ia pikir perempuan itu masih belum setuju


"Kenapa dia harus setuju?" Gumamnya pelan, tapi karena duduk didekat Rian, laki-laki itu bisa mendengar ucapannya


"Heh"


"Becanda"


"Apa yang membuat orang tuanya belum mengizinkan?"


"Dia bilang aku terlalu kaya dan takut kalau akan menduakan anaknya"


"Apa ayahnya kebanyakan nonton sinetron?" Aqila kembali menutup mulutnya saat sadar ia tak seharusnya bicara


"Apa kau sudah mencoba jalur lain?"


"Jalur apa? Santet? Bukankah itu haram" Aqila sampai tak sadar menepuk lengan Rian cukup keras dan tertawa menutup mulutnya, Naufal juga terlihat seperti menahan tawa tapi karena melihat wajah serius Rian, ia juga mengubah wajahnya menjadi serius

__ADS_1


"Bukan, maksudnya jalur langit lewat do'a"


"Pernah"


"Mungkin Kak Rian tidak istiqomah melakukannya" balas Aqila, kali ini ia berusaha untuk tidak tertawa


"Setiap selesai sholat, tapi kadang-kadang aku juga sadar diri saat melihat laki-laki yang dijodohkan dengannya paham agama" balas Rian


"Kalau begitu coba jalur tikungan sepertiga malam" ucap Naufal, suaranya terdengar penuh keseriusan


"Maksudnya sholat sepertiga malam, itu waktu yang ijabah untuk berdo'a. Suasana sunyi itu doa seorang hamba begitu mustajab dan cepat dikabulkan oleh Allah jika ia bersungguh-sungguh" balas Aqila, takut Rian salah paham maksud perkataan Naufal


"Oowh begitu"


"Kamu juga harus punya kemauan belajar agama, agar bisa menjadi pemimpin yang baik dan merasa pantas untuk berada disampingnya" ucap Naufal


"Itu masalahnya, aku kadang tidak percaya diri apalagi saat melihat sainganku yang rata-rata lulusan pesantren" Rian menarik nafasnya panjang laki-laki itu meremas rambutnya


"Aku sudah berusaha berpakaian seperti mereka dan bahkan melakukan puasa sunah seperti hari ini, tapi batal" lirih Rian diakhir kalimatnya. Aqila mengingat kejadian siang tadi, saat Rian mengatakan itu, bukannya berhenti memakan es krim yang dipesan, laki-laki itu malah melanjutkan padahal Aqila sudah memberitau kalau lupa puasanya tidak batal


"Apa?"


"Kamu tidak menjadi dirimu sendiri"


"Niat Kak Rian juga salah"


"Mau bagaimana lagi? Kenapa aku sekarang tidak percaya diri?"


"Kak Rian terlalu percaya diri sebelumnya sampai merasa sesuatu mudah untuk diraih karena terbiasa bersaing dan berhasil memenangkan proyek dalam dunia bisnis, Kak Rian membawa kebiasaan itu untuk urusan cinta yang rumit sampai merasa seperti ini sekarang" ucap Aqila


"Meniru orang lain dalam kebaikan itu boleh, tapi jangan menghilangkan sesuatu yang menjadi ciri khas kita untuk menjadi orang lain, ini adalah diri kita dan sesuatu yang menjadi ciri khas kita" Naufal menepuk lengan laki-laki itu


"Kak Rian sampai meniru penampilan mereka, artinya Kak Rian tidak percaya diri dengan penampilan sendiri"


"Jadi?"

__ADS_1


"Jadi, meniru kebaikan mereka boleh tapi jangan mengubah sesuatu yang memang menjadi ciri khas kita" ucap Naufal masih dengan sabar menjelaskan


"Aku boleh belajar agama sama kamu nggak Fal?" Naufal terdiam sejenak, ia mengerti mungkin Rian malu untuk belajar pada orang lain


"Boleh, tapi selesai maghrib ya"


"Aku setuju" balas Rian semangat


"Apa perempuan itu juga menyukai Kak Rian?"


"Mungkin iya"


"Mungkin? Bukannya Kak Rian bilang udah diterima?" Aqila sampai menggaruk kepalanya yang terbungkus jilbab karena pusing dengan masalah Rian


"Dia bilang akan menerima laki-laki yang dipilih oleh ayahnya. Artinya kalau aku berhasil mengambil hati ayahnya maka artinya aku juga telah berhasil mengambil hatinya" ucap Rian


"Tapi aku yakin kalau dia sebenarnya menyukaiku" Aqila dan Naufal saling pandang, belum sampai lima menit laki-laki didepannya ini mengatakan tak percaya diri, sekarang tiba-tiba menjadi sepercaya diri ini


"Apa ini juga alasan Kak Rian belum ngerestuin panil? Karena nggak ingin didahului menikah oleh Reyna?" Tanya Aqila, ia teringat cerita yang Naufal ceritakan kemarin


"Apa dia mengadu padamu?" Pertanyaan itu dilontarkan Rian untuk Naufal


"Tidak, dia hanya sedikit bercerita"


"Aku tak mengizinkannya bukan karena tak ingin didahului, tapi aku benar-benar ingin dia mendapat pendamping yang baik. Kita memang tidak bisa melihat seseorang dari masa lalunya tapi aku hanya takut Reyna yang belum siap, gadis itu terlalu dimanja sejak kecil" saat Rian mengucap itu, Aqila jadi mengingat kembali memori masa kecilnya, memang benar jika Reyna terlalu dimanjakan


"Aku tak khawatir kalau dia mendahuluiku, hanya saja aku ingin memberi mereka waktu untuk berpikir dengan matang sebelum memulai perjalanan ibadah panjang ini" ucap Rian, laki-laki itu melepas pecinya dan menggaruk kepalanya


"Kak Rian mau belajar apa besok?" Tanya Aqila, ia berusaha memecah kesunyian yang tiba-tiba tercipta


"Belajar baca Al-Qur'an"


"Kak Rian bukannya udah bisa baca Qur'an?" Tanya Aqila


"Kakak seperti berjalan terlalu jauh dari Allah Qil, kakak hanya menjalankan kewajiban seperti sholat, puasa dan zakat. Baca Al-Qur'an hanya bisa dihitung jari dalam setahun" Rian menghela nafasnya panjang

__ADS_1


"Artinya sekarang Allah mungkin ingin Kak Rian dekat pada-Nya sampai memberikan ujian ini"


__ADS_2