
Setelah proses rangkaian acara yang begitu panjang akhirnya selesai juga. Pasangan pengantin itu sudah mengganti pakaian mereka dengan pakaian biasa. Malam sudah menyapa bumi, di kediaman Abi Umar, para keluarga Bramadja siap mengundurkan diri
"Jadi istri yang baik dan berbakti pada suamimu, surga seorang istri setelah ia menikah ada dibawah telapak kaki suaminya" ucap Mama Intan, ia memeluk Aqila yang tersenyum mengangguk dengan mata memerah, perpisahan memang selalu menjadi akhir yang menyesakkan
"Udah jangan nangis lagi, malu sama Naufal" Aqila memukul Rian yang masih saja menggodanya
"Udah, jangan ganggu adikmu lagi, cepetan masuk ke mobil" Rian mengelus kepala Aqila dan pelan dan pergi
"Sekarang Naufal yang akan menggantikan tanggung jawab papa, maafkan papa nak kalau belum bisa membuat Aqila merasa bahagia" Aqila menggelengkan kepalanya, ia memeluk papanya erat
"Aqila yang harus minta maaf, kenapa malah papa yang minta maaf?" Papa Arya tersenyum membalas pelukan putrinya, dari dalam hatinya jelas ini sesuatu yang berat dan tak mudah
"Jaga Aqila baik-baik nak, jangan biarkan dia sampai meneteskan air mata luka lagi" Naufal yang berdiri disamping Aqila mengangguk, ini sudah janjinya
"Kalau dia melakukan kesalahan, tolong nasihati dia dengan cara yang baik, jangan sampai kau membuatnya kembali merasakan sakitnya sebuah pukulan yang akan menyisakan penyesalan dihatimu" Devano mengusap pundak Naufal, sampai sekarang kejadian lima tahun lalu menjadi penyesalan yang berat untuknya, saat ia menampar Aqila hanya karena sebuah kesalahan yang memang tak ia pernah ingin lakukan. Saat dimana ia melihat Aqila, maka penyesalan itu juga selalu teringat dalam hatinya
"Kalian seharusnya sudah cukup dewasa untuk mengerti ini, tapi jadilah segalanya untuknya, tepati janjimu sebagai pelanginya" Naufal mengangguk juga kala Darren menghampirinya
"Kami pulang dulu, kalian ibaratnya sudah menjadi satu sekarang, jika ada masalah baiknya di bicarakan baik-baik, jangan asal menyalahkan atau menuduh" pasangan itu mengangguk
"Udah nak, papa pulang dulu" Papa Arya melepas pelukan putrinya, walau hatinya pun berat melakukan itu
"Kak" Aqila tersenyum saat Reyna menghampiri dirinya
"Jangan manja lagi, kasian Panil kalau harus nikah besok sama anak kecil" Reyna tersenyum, ia memeluk Aqila erat. Sekarang ia mengerti kalau dulu Aqila terabaikan sebagian besar karena dirinya
"Maaf"
"Udah Kakak bilang Reyna, jangan minta maaf lagi" Reyna melepas pelukannya dan mengangguk, sekarang ia bisa mengerti rasanya sebuah perpisahan dengan kakak perempuan satu-satunya
"Jaga diri baik-baik kami pulang dulu" Papa Arya menepuk pundak Naufal, selanjutnya berpamitan dengan keluarga yang lain
__ADS_1
"Uncle Ian, kenapa Aunty Qilla nggak ikut pulang?" Tanya Yusuf saat melihat Aqila melambaikan tangan kearah mereka yang sudah masuk ke mobil
"Sekarang Aunty Qilla nggak tinggal bareng kita lagi" jawab Rian
"Kenapa?"
"Karena dia punya keluarga baru, Uncle Naufal" jawab Rian seadanya, ia berusaha membuat Yusuf mengerti dengan kata-katanya
"Om penagih utang itu ya?" Rian mengangguk, ia sebenarnya tak mengerti dari mana asal kata itu, tapi ia tau kalau kata itu untuk Naufal
"Telus kapan Aunty Qila pulang?" Nada bicaranya mulai berubah sendu
"Dia tidak tinggal dirumah lagi, jadi uncle juga tidak tau" Yusuf menunduk, yang ditangkap oleh kepalanya adalah Aqila sudah tidak bersama mereka lagi
"Nak Aqila jangan sungkan, kita adalah keluarga" Aqila mengangguk, mau bagaimanapun ia tetap merasa canggung
"Ayo masuk" Aqila mengikuti langkah Naufal ke kamarnya, ia berdiri didepan pintu coklat itu
"Maaf kalau sedikit berantakan, belum sempat bersih-bersih"
"Ini termasuk rapi, nggak seberantakan kamar Kak Rian" ucapnya melihat sekeliling, hanya beberapa buku dilemari dan atas meja yang terlihat berantakan
Aqila berjalan menuju kursi yang ada dideat jendela, pemandangan dibawah terlihat jelas dari sana, cahaya rembulan yang bersinar indahpun masih bisa ia lihat dengan begitu jelas
"Disinilah aku selama lima tahun ini menantimu, menyampaikan rinduku pada angin yang berhembus untuk mengantarnya pada dirimu yang jauh disana" Aqila melihat kearah Naufal yang juga melihat kearah dirinya
"Ada yang mengatakan kalau orang memiliki jodoh mereka masing-masing di dunia ini, entah lawan jenisnya atau justru kematian, saat itu aku berfikir jodohku adalah kematian" Naufal langsung memegang pundak istrinya dan menggelengkan kepala
"Kita sudah bersama, akhirnya aku bisa memberikan bahuku untuk sandaranmu" ucapnya membawa Aqila kedalam pelukannya
"Aku berdo'a semoga kita bisa menjadi keluarga yang sakinah, mawaddah, warahmah"
__ADS_1
"Kak Naufal?" Aqila mendongak menatap kearah suaminya
"Hmm iya"
"Kau bisa menjelaskan tentang pengertiannya padaku? Agar aku bisa mengerti dan menjalankan maksudnya dengan baik" Naufal tersenyum manis sekali mendengar pertanyaan istrinya, ia membawa Aqila duduk disofa yang ada dalam ruangan itu
"Dengar dan perhatikan baik-baik" ucapnya bagai guru yang mengajarkan pada muridnya
"Sakinah itu tenang, tentram, aman dan damai. Keluarga yang sakinah membuat pasangan akan merasakan ketenangan dalam kehidupan rumah tangga mereka" Aqila mengangguk tanda mengerti
"Mawaddah adalah cinta dan kasih sayang, sebagaimana aku akan selalu jatuh cinta beberapa kalipun aku melihat wajahmu, aku hanya ingin wajah ini yang selalu kulihat mendampingiku sampai aku menutup kembali mataku untuk selamanya" Pipi Aqila memerah mendengar itu
"Mawadah itu adalah fitrah manusia, mawadah ini yang membuat pernikahan semakin berwarna, menjadikan pernikahan sebagai ladang untuk saling memberi dan menghujani dengan cinta yang halal"
"Warahmah adalah mendapatkan rahmat atau berkah. Berkah dari cinta yang diwujudkan dengan saling menjaga, melindungi, melengkapi kekurangan satu sama lain dan saling mengingatkan dalam kebaikan di jalan-Nya. Dengan kesabaran hati serta pengorbanan dari suami dan istri tentu akan membuat keluarga memiliki warahmah atau karunia di dalamnya. Dari adanya proses kesabaran tersebut, warahmah akan diberikan oleh Allah Swt. sebagai bentuk cinta tertinggi dalam sebuah keluarga"
Air mata Aqila luruh, bukan karena mendengar penjelasan Naufal atau kisah cinta mereka hingga bisa sampai dititik ini, tapi karena ia senang, ia bahagia saat ia memiliki orang yang tepat untuk membimbingnya selanjutnya
"Kenapa nangis?" Naufal mengusap air mata itu dengan tangannya
"Aku hanya bahagia, karena tuhan telah mempertemukan aku dengan orang yang tepat untuk melengkapi kekuranganku"
"Aku yang harus berterima kasih pada tuhan karena telah mendatangkan seseorang yang mampu membuatku merasakan indahnya sebuah perasaan cinta ini, sebuah fitrah yang dimiliki manusia" Naufal mengecup puncak kepala Aqila
"Ini salah satu mawaddah, cinta yang membuat n*fsu menjadi berpahala" Aqila mengerjapkan matanya mendengar itu, terlihat menggemaskan sekali di mata Naufal
"Ana uhibbukafillah"
.
🙈🙈🙈🙈🙈
__ADS_1