Pelangi untuk Aqila

Pelangi untuk Aqila
Tasbih dan Rosario


__ADS_3

"Maukah kamu menjaga Fadila dan membimbingnya?" Naufal tersentak, tanpa sadar ia langsung melepas genggaman tangan Kyai Utsman


"Abi" Fadila menggelengkan kepalanya, meminta Kyai Utsman tidak melanjutkan ucapannya


"Maaf pak kyai, tapi pak kyai tau saya sudah bertunangan dengan Aqila" Fadila menunduk, sejujurnya dari dulu ia menyukai Naufal, tapi laki-laki itu hanya menganggapnya anak dari teman ayahnya


"Naufal, ini sudah lima tahun lebih, dan gadis itu bahkan belum bisa mengingatmu? Mau sampai kapan kamu menunggu?"


"Sampai dia mengingatku" jawab Naufal mantap


"Bagaimana jika dia disana sudah jatuh cinta dengan seseorang? Apa yang akan kau lakukan?" Naufal terdiam sejenak dan menarik nafasnya panjang


"Itu adalah kemungkinanmu dan belum pasti terjadi" jawab Naufal apa adanya


"Lagi pula, kenapa harus saya? Pasti banyak laki-laki diluar sana yang ingin menikah dengan perempuan seperti Fadila"


"Saya tidak percaya pada mereka"


"Lalu bagaimana pak kyai bisa percaya pada saya? mahasiswa ternakal diangkatan saya"


"Karena saya melihatnya dari matamu"


"Naufal, tolong penuhi permintaan ini sebelum saya pergi" Naufal menggelengkan kepalanya, sebenarnya ia tak tega melihat Kyai Utsman dengan tatapan seperti itu, tapi hatinya lebih tak tega meninggalkan Aqila yang sudah ia beri janji


"Saya sudah jatuh cinta dengan Aqila pak kyai, mohon maaf saya tidak bisa mengabulkan permintaan itu"


"Ingat, hati itu bukanlah milikmu tapi milik Allah, Allah bisa saja membolak balikkan hati manusia, cinta itu bisa hadir seiring berjalannya waktu" Naufal masih menggelengkan kepalanya, hatinya sungguh tak sanggup


"Rasullulah saat menikah, apa ia pernah memikirkan tentang cinta?"


"Saya bukan Rasullullah, saya adalah Naufal Pradana Al-Ghazali, laki-laki biasa yang penuh dosa" Jawab Naufal tegas


"Saya pergi dulu, Assalamu'alaikum" hati Naufal terasa sakit mendengarnya, terserah mereka berfikir ia seperti laki-laki labil, tapi hatinya sungguh tak bisa dipaksa untuk hal ini


.


"Ren, katanya Aqila segera pulang" Renata yang sedang melukis diatas kanvasnya terhenti mendengar kata Gempano, hubungan dua orang itu kini semakin berencana menikah sebentar lagi. Gempano masih menjalankan bisnis yang semakin berkembang dengan Naufal, Panil dan Vian, sedangkan Renata bekerja disalah satu Galeri seni yang cukup terkenal


"Aku tak ingin berharap lagi, beberapa kali aku berharap dan hanya rasa kecewa yang aku dapat" jawab Renata


"Sepertinya kali ini serius, Regan yang memberitahuku, ia diberitahu oleh Kirana yang saat ini bersama Aqila"


"Aku sungguh berharap jika memang itu nyata" balas Renata kembali melanjutkan lukisannya

__ADS_1


"Tapi Regan berpesan jangan memberitau Naufal dulu, biarkan ini menjadi kejutan untuknya" ucap Gempano


"Aku harap kali ini memang nyata, aku ingin Aqila hadir di pernikahan kita"


.


Cuaca pagi itu disinari cahaya mentari cerah, hembusan angin terasa begitu menyejukkan, juga pemandangan yang ada saat ini dimana orang banyak berkomunikasi dengan tangan dan bahasa tubuh mereka, terlihat indah karena menghargai nikmat sang pencipta


"Reyna, kamu punya pacar nggak?" pertanyaan tiba-tiba dari kakaknya membuat Reyna hampir tersedak es krim yang dimakannya, mereka berdua duduk di kursi taman dengan pandangan tak lepas dari Yusuf dan Kirana yang bermain kejar-kejaran lantaran rambut Kirana ditempeli permen karet bekas Yusuf


"Mmm ada" jawabnya malu-malu. Reyna yang sekarang benar-benar berbeda dengan ingatan Aqila, adiknya itu terlihat lebih mandiri tak semanja dulu


"Siapa?" tanya Aqila sambil menyendokkan es krim kedalam mulutnya


"Temannya Kak Naufal" gerakan Aqila memakan es krim terhenti, sedangkan Reyna menutup mulutnya saat menyadari ia keceplosan


"Naufal? Dia siapa? Kayak nggak asing" otak Aqila berusaha mengingat nama itu, hanya terlihat buram, justru kepalanya semakin sakit


"Jangan dipaksa kak, pelan-pelan kakak pasti ingat"


"Apa dia temanku dulu?"


"Sepertinya iya"


"Dia senior kita, tapi hubungan kalian terbilang dekat"


"Sedekat apa?" Reyna ragu ingin menjawab pertanyaan ini


"Kalian pernah bert..."


"Valisha" Reynald menghampiri mereka dengan sedikit berlari


"Teman kakak dateng, aku nyusul Kak Kirana sama Yusuf dulu" Aqila mengangguk walau merasa sedikit aneh dengan sikap adiknya itu


"Bisa aku bicara sebentar?"


"Apa kau sekarang sedang berlari? Lagipula untuk apa meminta izin" Reynald sedikit tertawa dan menempati tempat kosong di sebelah Aqila


"Kau ingin mengatakan apa tadi malam? Maaf aku terburu-buru pulang"


"Tidak apa, aku mengerti, aku hanya ingin mengatakan..."


"Apa?"

__ADS_1


"Entah sejak kapan ini dimulai aku tidak tau, tapi aku mulai merasakan hal yang berbeda saat bersamamu, mungkin itu yang kebanyakan orang sebut sebagai cinta saat seorang laki-laki menyukai perempuan lebih dari hubungan teman"


"Ka kau menyukaiku?" tanya Aqila terbata


"Maaf ini mungkin terlalu mendadak untukmu dan kau hanya menganggapku teman..."


"Reynald"


"Tapi aku akan berusaha untuk membuatmu..."


"Reynald!" Aqila menaikkan suaranya sedikit lebih tinggi, saat laki-laki yang biasanya kalem itu terus berbicara tanpa henti


"Kenapa? Aku mengerti kau tidak menyu..."


"Tidak, bukan itu"


"Artinya kau menyukaiku?" Aqila tertawa kecil dan menggelengkan kepalanya


"Lalu apa?"


"Apa kau tidak menyadari sesuatu?" tanya Aqila, Renald terdiam sejenak mengingat-ingat


"Diantara kita terbentang jarak yang begitu jauh, jarak yang tak akan pernah bisa kita lewati"


"Maksudmu beda negara? Beda benua?" Aqila lagi-lagi menggelengkan kepala dan tersenyum kecil, kenapa laki-laki pintar itu tiba-tiba jadi lemot?


"Lebih dari itu, kita terpisah jarak tak kasat mata yang tidak boleh dilewati" ucap Aqila


"Apa itu?"


Aqila merogoh saku bajunya dan mengeluarkan tasbih berwarna putih, kemudian tangannya menyentuh kalung salib yang menggantung di leher Reynald


"Kau mungkin lupa, antara tasbih dan rosario tak mungkin bisa bersama, antara hamba Allah dengan anak tuhan tidak bisa disatukan" jawab Aqila dengan tersenyum


Reynald tersentak, ia tersadar sesuatu dan lupa akan hal itu, bagaimana ia bisa melihat Aqila sama dengan dirinya? Padahal sudah jelas wanita itu berhijab dan menjaga jaraknya kala mereka bersama, Aqila benar mereka terpisah jarak jauh yang tak bisa dilewati bukan beda negara atau beda benua yang membentang ribuan kilometer tapi berbeda keyakinan


"Kita tak bisa bersama karena ada aturan tuhan yang mengikat dalam diri kita, tuhanku dan tuhanmu berbeda"


"Maaf, aku melupakan hal yang paling penting itu"


"Hey, kenapa meminta maaf? Memangnya kamu salah apa?"


"Maaf karena jatuh cinta padamu" Aqila sedikit tertawa mendengarnya

__ADS_1


"Cinta itu bukanlah sebuah kesalahan Reynald, kau tak perlu meminta maaf untuk itu, kita berdua memang berbeda dan itu tak bisa diubah, jangan sampai kau melakukan hal gila dengan meninggalkan agamamu hanya demi diriku, aku tidak menginginkan kau melakukannya jika itu hanya untukku" ucap Aqila tersenyum


__ADS_2