
"hnggg" Aqila melenguh membuka matanya, entah sudah berapa lama ia tertidur disini, tapi kepalanya terasa lebih baik tidak sesakit tadi
"Sudah bangun?" Aqila dikejutkan dengan suara lemah lembut seorang perempuan yang duduk di kasur sebelahnya, dilihat dari penampilan dan wajahnya yang lebih tua darinya, Aqila menebak ia bukan santriwaati tapi mungkin ustadzah yang mengajar disini
"Maaf ustadzah" Aqila merasa tak enak tentu saja, karena dirinya malah tidur disini, jika ia seorang santriwati sudah pasti ia akan dihukum
"Tidak apa-apa, teman kamu tadi izin keluar sebentar, katanya mau cari makan" Aqila tersenyum mengangguk, Renata pasti lapar karena gadis itu juga bercerita belum sempat sarapan tadi pagi
"Calon makmumnya Naufal ya?" Aqila mengernyit kemudian dengan pipi yang memerah menahan malu, ia mengangguk
"Masya Allah, cantiknya"
"Terima Kasih Ustadzah"
"Panggil Kak Diva saja, biar kita dekat, namamu siapa?"
"Aqila kak"
"Saya ustadzah baru di pesantren ini, setelah pulang dari Mesir, Abi Umar minta ngajar disini, karena katanya mereka butuh pengajar tambahan"
"Kakak alumni pesantren sini juga ya?"
"Saya di pesantren cuma dua tahun, setelah itu memilih kuliah ke Mesir untuk memperdalam apa yang saya pelajari disini"
"Dua tahun?" Aqila mengulangi pertanyaannya
"Ia saya masuk pesantren setelah lulus SMA untuk memperdalam ajaran islam selama dua tahun di pesantren ini dan memutuskan untuk lanjut ke Mesir, saya seorang mualaf"
Aqila tersentak, tak menyangka Diva seorang mualaf
"Lalu orang tua kakak dimana?" Aqila langsung memukul mulutnya, sifatnya Renata yang selalu ingin tau sepertinya menurun kepadanya
"Maaf kak, Aqila lancang"
__ADS_1
"Nggak apa-apa, orang tua kakak seorang pebisnis, mereka awalnya melarang dengan tegas saat kakak memilih masuk islam, namun dengan nekat kakak tetap mengikuti kata hati dan menjadi muslim, entah kenapa rasanya saat pulang sekolah di sore hari kala mendengar suara adzan yang menandakan waktu shoat berkumandang, seolah ada daya tarik kakak untuk lebih mengenal agama ini lebih jauh, karena itu setelah lulus SMA kakak memutuskan masuk pesantren ini meskipun orang tua kakak melarang"
Aqila mengangguk mengerti, hidayah Allah memang kadang datang tanpa diduga dan dengan cara yang tak pernah terpikirkan
"Terus orang tua kakak sekarang gimana?" Aqila kelewat penasaran mendengar cerita menarik dari Diva
"Sepulang saya dari Kairo, saya berkunjung setelah hampir lima tahun tak pulang kerumah. Alhamdulillah hidayah Allah juga datang pada mereka, mereka resmi menjadi muslim"
"Subhanallah" Aqila kagum dengan kisah Diva yang menurutnya indah
"Temen kamu yang tadi cerita, katanya kamu calon istri Naufal" ucap Diva setelah tak ada perbincangan beberapa saat, Aqila mengangguk sudah menduga Renata mengatakan itu
"Naufal itu anak yang baik, dulu sempat dikabarkan dekat dengan Fadila, anak Kyai Utsman, ternyata jodohnya Aqila, memang takdir kita tidak ada yang tau termasuk jodoh" Aqila mengangguk membenarkan, menurut Aqila takdir itu tak akan bisa diprediksi oleh manusia karena kedepannya sudah ditentukan oleh Allah
"Aqila ngerasa nggak pantes buat Naufal kak" Aqila menunduk, rasanya benar-benar ia tak percaya diri
"Loh kenapa?, Aqila cantik, sopan, ramah, baik dan keliatannya juga pinter, kenapa ngomong gitu?"
"Fadila gadis baik, sholehah, cantik, dan yang pasti ilmu agamanya lebih dalam dari Aqila" ucap Aqila menunduk meremas jari jemari tangannya
"Naufal memilih Aqila artinya memang menurutnya Aqila adalah perempuan yang tepat untuk mengisi hatinya, perihal ilmu agama yang kurang, bukankah tugas pasangan adalah saling melengkapi?" Ucap Diva melanjutkan kalimatnya
"Kak Diva udah nikah belum?" Aqila bertanya seperti itu, karena laki-laki yang mendapatkan Diva pasti laki-laki yang beruntung
Diva menggeleng sebagai jawaban
"Hatiku pernah tertarik pada seseorang, sayangnya dia bukan jodoh yang dikirim Allah untukku"
"Maaf" Aqila menunduk merasa bersalah, karena telah melanggar wilayah privacy perempuan itu
"Jangan meminta maaf kamu tidak salah, aku juga yang ingin bercerita"
"Aneh ya, kita bisa jatuh cinta begitu mudahnya bahkan tak sampai satu menit, tapi melupakannya luar biasa susahnya" ucap Diva terkekeh
__ADS_1
"Kak Diva belum bisa lupain dia?"
"Udah, sekarang ada laki-laki yang menurut saya lebih baik dari dia, laki-laki yang berjanji datang menemui saya setelah pernikahan adiknya selesai"
"Kenapa harus nunggu pernikahan adiknya dulu?"
"Katanya ia ingin lebih dulu adiknya bahagia karena sudah terlalu lama menderita, bahkan saat pertama kali bertemu dia saya melihat dia berdo'a sampai meneteskan air mata"
"Dia bercerita menjadi sosok kakak yang gagal melindungi adiknya, ia marah pada dirinya sendiri karena lebih mementingkan ego dan tak memperhatikan adik-adiknya dengan baik, padahal ia adalah anak sulung dikeluarganya"
"Lalu bagaimana dengan laki-laki yang pernah membuat kakak tertarik, apa dia sudah menikah?"
"Sudah, pernikahannya tepat hari ini"
"Kak Hasan" entah kenapa Aqila langsung menyebut nama itu, karena memamg mengingat ia disini juga karena pernikahan calon kakak iparnya itu
"Iya, dia orangnya" Aqila semakin terkejut mendengar itu, tak menyangka Diva memberitahunya
"Awalnya saya merasa sama sepertimu, begitu tak percaya diri, apalagi status saya seorang muallaf sedangkan ia anak seorang kyai, karena itu saya memilih menjauh perlahan daripada sakit"
"Ternyata laki-laki yang saat ini berjanji dengan kakakpun seperti itu, awalnya kakak merasa begitu jauh dengan dia, ayahnya seorang pebisnis sukses dengan cabang perusahaan dimana-mana, sedangkan keluarga kakak hanya perusahaan kecil yang tak bisa dibandingkan dengan dia, kakak berfikir pasti banyak perempuan yang mengantri menjadi istrinya dengan kecantikan yang lebih diatas saya, tapi dia mengatakan karena hatinya telah memilih saya sebagai calon makmumnya" Aqila terdiam, kata-kata Naufal persis sama seperti apa yang dikatakan laki-laki yang menjadi cerita Diva, karena hatinya memilihnya, bukan melihat fisik atau seberapa dalam ilmu agamanya
"Setiap manusia pasti punya kelebihan dan kekurangan, tak ada manusia di dunia ini yang lahir sempurna tanpa kekurangan"
"Terima kasih, nasihatnya kak"
"Jangan lupa loh undangan pernikahannya" ucap Diva bercanda, tapi ditanggapi serius dengan Aqila
"Aqila boleh minta nomer kakak? Nanti kakak juga jangan lupa undangannya, Aqila penasaran siapa laki-laki yang beruntung dan mengganti posisi Kak Hasan" Diva tersenyum dan mulai mengetikkan nomor di handphone yang disosodorkan Aqila
"Hati itu milik Allah, dia yang membolak-balikannya, karena itu jangan jatuh cinta terlalu dalam dengan ciptaannya, tapi lebih perbanyak cinta kepada penciptanya"
.
__ADS_1
Banyak Typo...🙏