Pelangi untuk Aqila

Pelangi untuk Aqila
Janji?


__ADS_3

Saat malam menyambut bumi, rembulan sudah siap dengan cahayanya, namun malam ini indahnya rembulan tertutup awan kelabu yang mengandung beratnya air, seolah-olah siap menumpahkan beban itu kapan saja


"Izinkan aku bertemu mereka" lirih Aqila dengan suara begitu pelan, sakit ini rasanya luar biasa sekali


"Aku sudah meminta Kak Devan mengantar mereka kesini"


"Kak Naufal kuat, kenapa nangis?" Masih dengan pakaian sholat masing-masing, suami istri itu baru saja menyelesaikan sholat berjamaah


"Qil, bertemu denganmu adalah kebahagiaan yang tak pernah bisa diungkapkan dengan kalimat dan puisi seindah apapun"


"Terima kasih sudah mencintai hamba Allah yang lemah ini, terima kasih juga atas janjinya menjadi pelangi"


"Pelangi selamanya"


"Selamanya, sampai aku yang akhirnya pergi"


"Aku mencintaimu"


"Aku tau itu, aku juga mencintaimu, apa masih perlu diungkapkan seperti ini lagi?"


Mereka berdua terkekeh bersama, momen ini adalah momen yang selamanya tak terlupa dalam hidup Naufal


"BUNDA" kedatangan dua anak kecil dalam ruangan itu membuat mereka menghapus air mata masing-masing


"Kami rindu bunda" dua anak itu masing-masing menarik kursi di sebelah kiri dan kanan Aqila, naik kesana dan mencium pipi bundanya


"Bunda lebih rindu kalian"


"Bunda jangan nangis, kita ada disini"


"Anak bunda kuatkan? Kalian anak hebatkan?" Aqila mengelus kepala mereka masing-masing


"Kami kuat, kami anak yang hebat"


"Boleh bunda izin pergi? Bunda capek?"


Naufal tak sanggup mengatakan apa-apa lagi, ia memalingkan pandangannya


"Pergi kemana? Dipanggil Allah?" Aqila menganggukan kepala saat pertanyaan itu lolos dari putrinya


"Bunda nggak akan kembali lagi?"


"Bunda masih bisa liat kalian dari sana"


"Bagaimana jika kita pengen ketemu bunda?" mata anak itu sudah memerah


"Tatap foto bunda dan doakan bunda saat sholat, Allah akan dengarkan doa kalian, kita masih bisa ketemu dalam mimpi"


"Bagaimana kalau kita pengen peluk bunda?"


"Peluk ayah, karena sebagian dari jiwa bunda tertinggal untuk ayah"

__ADS_1


"Siapa yang ngajar kami gambar lagi? Ayah nggak bisa"


"Bisa minta tolong sama Aunty Rena, dia pintar gambar"


"Siapa yang akan cerita lagi sebelum tidur?"


"Ayah bisa setiap malam yang cerita"


Aqila sampai tak sadar, darah segar mengalir dari hidungnya


"Qil" Naufal mengambil tisu dan membersihkannya


"Boleh bunda pergi? Bunda capek tidur terus, bunda capek sakit kepala terus, ternyata bunda nggak bisa sekuat itu"


Aqila minta maaf berkali-kali, janjinya melihat mereka bahagia, janjinya untuk sembuh dan janjinya untuk menjadi kuat, tak bisa ia lakukan, penyakit ini ada diluar kehendaknya


"Janji jadi anak yang baik dan jangan bikin ayah marah, janji ya sama bunda kalau Ilal dan Ila jadi anak yang kuat, biar bunda bisa tenang"


Dua saudara itu saling pandang, mata dan hidung mereka sudah memerah, mereka menganggukan kepala yang membuat Aqila bisa sedikit tersenyum, hatinya bisa sedikit lega


"Jangan lupa do'akan bunda kalau bunda sudah pergi"


"Kami pasti rindu bunda"


"Bunda akan lebih rindu dengan kalian disana"


"Ilal jadi kakak yang baik, lindungi adek Ila, Ila juga harus denger kata kakak, kalian jangan berantem, nanti ayah sedih" si kembar lagi-lagi menganggukkan kepala mereka, air sudah menggenang di pelupuk mata


"Apa kau bisa membiarkan aku istirahat? Aku sudah lelah" Aqila berusaha tersenyum saat mengatakan itu, ia menatap kearah Naufal yang masih diam meneteskan air matanya. Sakit kepala ini tak pernah ia bayangkan rasanya semenyakitkan ini, tak heran kadang orang lebih memilih suntik mati daripada menahan sakit yang luar biasa dan tak tau kapan berhentinya. Semangat dan motivasi dirinya untuk sembuh ternyata tak membuat penyakit itu mengalah


"Jadi ayah yang kuat untuk mereka, kalau Kak Naufal lemah siapa yang akan membimbing mereka" Aqila berucap lirih, tubuhnya sudah seperti kehilangan tenaganya


"Ayah pahlawan kami" kedua anaknya memeluk kaki ayah mereka erat, seolah ikut menguatkan


Naufal mengecup seluruh wajah istrinya, ia menyatukan kening mereka cukup lama, air matanya sampai menetes diwajah sang istri, sebelum akhirnya ia berucap


"Istirahatlah, kamu pasti sudah lelah"


"Terima kasih"


"Asyhadu alla illaha illallah wa ashadu anna muhammad rasulullah" bisikan syahadat yang terucap sebagai akhir tugas Naufal sebagai penuntun untuk sang istri selama di dunia


Aqila menampilkan senyum indahnya sebelum akhirnya menutup mata. Suami dan anak-anaknya sudah bisa melepas kepergiannya dengan tenang, maka ia bisa tenang saat pergi


Kamis, 02 Februari di saat langit malam menaungi bumi, sosok yang selalu kuat dan merasa baik-baik saja, akhirnya memejamkan mata dan pergi untuk selama-lamanya. Meninggalkan pelanginya yang berhasil menepati janji untuk memberi banyak warna selamanya, selama hidupnya


Tubuh Naufal luruh kelantai, ia memeluk anak-anaknya yang juga menangis mengetahui bunda mereka telah pergi. Apa yang bisa mereka lakukan? Kematian ini ada ditangan sang kuasa. Manusia hanya harus bersiap, siap untuk ditinggalkan dan meninggalkan. Sebelah sayapnya hilang, bagian dari jiwanya telah pergi, senyum dan tawa yang selalu ia lihat setiap saat tak ada lagi, hilang sudah


"Yang sabar sayang, jangan nangis, nanti bunda ikut nangis disana" Naufal memeluk anak-anaknya yang menggelamkan wajah mereka pada leher ayahnya, ia mengatakan tak boleh menangis tapi air matanya sendiri tak bisa berhenti


Orang yang ada diluar langsung masuk saat melihat mereka seperti itu, Mama Intan dan Papa Arya menangis melihat putri mereka menyisakan wajah senyum tapi tak lagi bernafas

__ADS_1


Devano, Darren dan Rian, tak kuasa untuk tak menangis, adik mereka telah pergi, satu pesan yang Aqila titipkan untuk mereka


"Tolong jaga Ilal dan Ila, aku tak meragukan Kak Naufal, tapi mereka butuh lebih banyak orang untuk membuat mereka bahagia"


Malam itu awan kelabu akhirnya menurunkan beban, hujan deras seolah mengiringi perginya wanita kuat yang telah lelah berjuang, kanker glioblastoma menjadi akhir perjuangannya. Ia pergi meninggalkan dua malaikat kecil dan pelangi untuk selama-lamanya


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Ilal, Ila" dengan tergesa-gesa Naufal membuka pintu rumahnya, Layla menelponnya dan menangis tanpa berkata apa-apa. Karena panik ia langsung pulang dan meninggalkan pekerjaannya


"SURPRISE!" Dua anak itu keluar dari kamarnya, mereka memegang kue dengan lilin angka 43 yang tertancap diatasnya


"Selamat ulang tahun ayah" Naufal terduduk lemas, ia mengatur nafasnya yang lelah berlari dan menyalip kendaraan demi sampai sini dan ternyata anak-anak itu malah menyiapkan seperti ini


"Kalian sudah membuat ayah takut"


"Hehehe, sekarang ayo tiup lilinnya dan ucapkan permintaan ayah pada Allah di usia yang semakin tua ini"


"Jangan terlalu kurang ajar" Bilal tertawa saat ayahnya menarik pelan telinganya


"Jangan minta ketemu bunda, kami nggak mau" Layla menggelengkan kepalanya, tahun lalu ayahnya malah berdoa seperti itu sampai membuat mereka marah


"Nggak, ayah minta semoga kalian tetap bahagia"


"Ini do'a untuk ayah bukan untuk kami"


"Kalau kalian selalu bahagia, ayah juga bahagia dan pasti bunda disana juga bahagia"


"Udah, kenapa jadi berubah nangis gini, harusnya kan senang, Ila ayo kita ambil piring didapur, makan kue sebanyak-banyaknya hari ini" Bilal menarik tangan saudaranya untuk pergi


"Ayah jangan lupa turun, nanti kuenya kami habiskan kalau ayah nggak mau"


"Ayah ganti baju dulu" Naufal menatap kepergian dua anaknya yang menghilang dibalik pintu. Tatapannya beralih pada foto diatas nakas, ia mengambil dan mengusapnya pelan, setetes air mata mengenai permukaan kaca dari foto itu


"Sudah sepuluh tahun berlalu Qil, mereka sudah besar, satu tahun lagi memasuki masa putih abu" ia mengusap wajah istrinya yang tersenyum dalam foto itu


"Kami semua merindukanmu, kau pasti tertawa disana karena melihat pelangimu lemah seperti ini, bagaimana lagi? Tak ada lagi mentari yang membiaskan air hujan"


"Aku berhasil menjaga mereka dengan baik, mereka tumbuh menjadi anak yang pintar, kau tau? Mereka selalu bergantian mendapat juara satu" Naufal sedikit terkekeh saat mengatakan itu


"Kau pasti baik-baik saja disana kan? Tunggu aku datang menemuimu, mungkin setelah melihat mereka bersama pendamping hidupnya, aku selalu mencintaimu dan itu tak pernah bisa diubah"


.


...⚘END⚘...


Akhirnya tamat guys...😌😌😌


Maaf kalau endingnya nggak sesuai dengan ekspetasi kalian...🙏🙏🙏


Memang hidup ini kadang tak sesuai dengan apa yang kita inginkan, tapi bukan berarti kita menyerah begitu saja...🙂🙂🙂

__ADS_1


Sampai jumpa di kisah Bilal dan Layla...🤗


__ADS_2