Pelangi untuk Aqila

Pelangi untuk Aqila
Rumit


__ADS_3

Hari yang mungkin ditunggu-tunggu seluruh pasangan didunia, hari pernikahan mereka dengan orang yang mereka cintai. Tapi sepertinya tidak untuk Renata, pernikahan tanpa cinta, tanpa ia duga-duga terjadi begitu saja. Apa ini sebuah permainan? Pikirnya, yang lebih tak habis ia pikir saat laki-laki yang bersamanya adalah Galang Pradipta Andiron, laki-laki yang hampir selalu membuatnya naik darah tiap bertemu


"Jangan tegang Ren, santai" Aqila berusaha menenangkan Renata yang terlihat gelisah dan tak menampilkan senyum sama sekali saat dirias oleh mua


"Nikmati aja, terima dia sebagai jodoh kamu" Renata hanya menghela nafasnya


"Nggak bisa semudah itu Qil, dia itu Galang loh kalau kamu lupa, laki-laki yang... "Renata menahan nafasnya tak sanggup melanjutkan kalimat berikutnya


"Hahhh, kamu tau sendirilah tanpa perlu aku jelasin"


"Aku ngerti nggak mudah buat kamu nerima dia, tapi apa kamu percaya kalau cinta itu bisa tumbuh seiring dengan waktu berjalan?"


"Aku nggak tau"


"Kuncinya ada disini Ren" Aqila menyentuh depan dada "dihati kamu" lanjutnya


"Kalau kamu ikhlas nerima dia sebagai pasangan kamu, percayalah Allah akan memudahkan hati kalian berdua untuk saling mencintai" Renata terdiam, kata-kata Aqila memang mungkin benar adanya


"Tapi kalau dia nggak gimana?"


"Kalau dia nggak nerima aku gimana?"


"Kalau dia nggak nerima kamu bagaimana mungkin dia langsung setuju nikah sama kamu dan tidak menolak sama sekali. Aku sampai curiga kalau mungkin Galang ada rasa sama kamu" Renata berpikir sejenak, menurutnya beban hidup semakin berat saja


"Tapi..."


"Jangan bilang kalau kamu ragu gini karena masih ada rasa Kak Gempano?"


"Rasa itu mungkin masih ada, tapi walau disuruh memilih aku juga tak akan bersamanya karen rasa kecewanya terlalu dalam. Aku takut kalau Galang hanya bermain-main, aku takut kalau ia punya perempuan lain, aku takut kalau ia tiba-tiba menceraikanku besok pagi, aku takut..."


"Sttttt" Aqila meletakkan telunjuinya didepan bibir Renata

__ADS_1


"Jangan terlalu over thinking Ren, jangan mencemaskan hal yang belum pasti terjadi, masa depan itu adalah apa yang tercipta dari hari ini, kamu masih bisa berubahnya"


"Tapi..."


"Kamu tau nggak perempuan yang batal dijodohin sama Kak Gempa?" Aqila sengaja mengalihkan perhatian Renata, lihat saja Renata yang tadi cemas langsung berubah penuh tanda tanya diwajahnya


"Siapa?"


"Fadila" jawaban Aqila membuat Renata menutup mulut


"Pantas dia lebih milih pilihan ibunya daripada aku, Fadila cantik, paham agama, perempuan sholehah, sedangkan aku? Hanya perempuan yang baru belajar menggunakan hijab" Renata semakin merasa tak pantas


"Tapi nggak jadi karena Fadila sudah bertunangan dengan orang lain"


"Aku tau, Kak Gempano juga kemarin bilang gitu"


"Apa kamu percaya karma itu ada Ren?" Renata mengangguk


"Ini yang aku takutkan Qil, bagaimana kalau Galang besok memilih perempuan lain yang lebih cantik, sholehah,..." Aqila menepuk jidatnya menggelengkan kepala, niatnya ingin membuat Renata tenang malah semakin menambah beban overthinking sahabatnya


"Renata yang aku kenal adalah gadis yang santai, dewasa dan menyelesaikan masalahnya dengan otak, bukan dari hati"


"Kamu hanya semakin memberatkan dirimu dengan pikiran itu Ren, coba tarik nafas dan buang, jangan habiskan tenagamu untuk memikirkan hal seperti itu. Kamu masih punya hal yang lebih penting untuk dipikirkan"


"Apa itu?"


Ceklek


Ibu Fani membuka pintu "Ren, ayo saatnya kamu keluar"


"Tarik nafas dan buang" Renata mengikuti instruksi Aqila, sampai tubuh dan jantungnya bisa ia kendalikan

__ADS_1


"Ibu yakin kali ini kamu sudah ada di tangan laki-laki yang tepat" ucap Bu Fani saat ia menggenggam tangan putrinya


.


Jauh dibarisan tamu acara paling belakang, Gempano menatap nyeri pemandangan didepannya, Renata dengan wajah cantik dan pakaian putihnya yang indah duduk disebelah laki-laki yang telah mengambil alih tanggung jawab atas dirinya, dan itu bukan dia. Dulu mereka pernah membicarakan ingin konsep pernikahan seperti apa, baju pengantin seperti apa, dan riasan seperti apa, tapi sekarang mereka pada akhirnya bukan pasangan yang ditakdirkan bersama


Gempano mengusap air disudut matanya kala melihat Renata mencium tangan laki-laki yang sekarang sah menjadi suaminya, mereka telah bersama lebih dari tujuh tahun, tapi pada akhirnya itu bukan dirinya


"Jangan menangis seperti anak kecil yang kehilangan mainannya" Gempano mendongak menatap Naufal yang mengulurkan selembar tisu padanya


"Dia bukan main, tapi sebuah berlian berharga"


"Mau bagaimana lagi? Dia sudah diambil orang lain dengan surat kepemilikan yang sah" balas Naufal, ia duduk dikursi kosong samping laki-laki itu


Dalam hal ini menurutnya Gempano memang salah karena kurang berjuang dan tak berusaha lebih keras meyakinkan orang tuanya, tapi kesalahan sepenuhnya juga tidak bisa ditimpakkan padanya begitu saja


"Aku gagal Fal, aku gagal mempertahankannya, aku gagal meyakinkan ibuku, aku gagal karena telah merusak kepercayaannya dan aku gagal karena telah membuatnya kecewa"


"Semua manusia pasti pernah merasakan kegagalan, jangan terlalu terpuruk untuk kondisimu saat ini, menangis boleh tapi jangan berlebihan sampai menyalahkan pencipta untuk jalan hidupmu"


"Kamu harus bisa mengambil hikmah dari kejadian ini agar tak melakukan kesalahan yang sama dimasa depan"


"Aku mengerti, hanya saja untuk saat ini aku masih berusaha menghapus namanya dari hatiku"


"Ikhlaskan dia, kuncinya ada pada dirimu. Ikhlaskan hatimu melepasnya dengan orang lain. Yakinkan dirimu kalau jodoh manusia tidak tertukar, dan sekarang Allah sedang menyiapkan jodoh itu untukmu" ucap Naufal, ia tak bisa membiarkan Gempano bersedih seperti ini. Laki-laki itu seperti hilang arah, ia tak ingin sahabatnya tersesat dijalan yang salah dan mengambil jalan yang haram untuk menenangkan diri


Naufal mengalihkan pandangannya kedepan, ia pun tak menyangka ini terjadi, ia melihat Galang sebagai laki-laki yang baik sekarang, walau dulu laki-laki itu sempat menyukai Aqila dan Aqila juga sempat menyukai laki-laki itu


Mengingat itu ia jadi cemburu sendiri, ia melihat istrinya yang hari ini tampil berbeda duduk dibelakang Renata, ia tersenyum sendiri, ia selalu jatuh cinta untuk kesekian kalinya


"Kenapa cinta itu selalu rumit?" Tanya Gempano, ia menghela nafasnya. Padahal hanya lima huruf, tapi rumitnya mengalahkan soal matematika satu papan begitu pikirnya

__ADS_1


"Karena yang rumit itu memberikanmu banyak pelajaran dari jalan yang kau tempuh dengan suka atau duka, entah kau berhasil melewatinya atau tidak, semuanya tergantung pada dirimu"


__ADS_2