
Hari ini tepatnya keberangkatan Aqila dan semua keluarganya, kembali ke tanah airnya yang sudah lima tahun ia tinggalkan, Aqila menyeret kopernya pelan sebelum menaiki pesawat dengan penerbangan yang begitu panjang ini, ia melirik kembali ke belakang, Rochester, kota bagian Amerika Utara ini telah mengajarkan banyak hal padanya, ia tak akan lupa dengan itu. Sayangnya hari ini Reynald tak bisa ikut mengantar karena laki-laki itu punya jadwal praktik, dan tidak boleh libur begitu saja karena sudah membuat janji dengan pasien
"Kenapa?" Tanya Papa Arya memegang pundak putrinya, Aqila hanya menggeleng pelan dan tersenyum
"Ternyata tak semudah itu meninggalkan semuanya" ucapnya pelan
"Memang tak semudah itu, tapi kita harus ingat kalau tempat kita bukan disini" jawab Papa Arya
Saat itulah terdengar suara pemberitahuan dari bandara kalau pesawat yang akan mengantar mereka sudah siap, saatnya mereka pergi dan tak tau pasti kapan bisa kembali kesini
"Selamat tinggal Rochester, kau mengajarkan banyak hal padaku disini, dulu aku datang kesini membawa rasa sakit dan kesedihan sekarang aku akan pulang dengan sehat dan rasa bahagia, Assalamu'alaikum" Aqila menghela nafasnya panjang sebelum akhirnya benar-benar menaiki tangga pesawat
Aqila memejamkan matanya pelan saat pesawat mulai mengudara, terbang ribuan meter diatas permukaan tanah
Apa yang akan terjadi nanti setelah kepulangannya? Apa yang akan ia katakan ketika bertemu Naufal? Dan apa yang akan ia katakan kepada laki-laki itu? Semua pertanyaan bersarang di kepala Aqila, ia menghela nafasnya pelan dan memilih memejamkan mata, ini adalah penerbangan yang panjang, dan selama itu ia harus berfikir tentang apa yang akan terjadi selanjutnya begitu ia mendaratkan kaki setelah lima tahun ke tanah airnya
.
Lantunan merdu ayat suci Al-Qur'an terdengar dari masjid ponpes 'Nurul Iman' hal yang menjadi rutinitas wajib santri di waktu sepertiga malam, waktu dimana suasana sunyi, sepi, dan waktu yang tepat bagi seorang hamba untuk bermunajat kepada Rabb-Nya
"Ya Allah, engkau lebih mengenal aku daripada aku mengenal diriku sendiri, engkau tau tentang isi hatiku tanpa aku memberitahunya padamu, engkau maha mengetahui dan berkuasa atas segalanya, Ya Allah setelah rentetan ujian takdir ini, apa kami bisa bersama?"
__ADS_1
"Aku percaya padamu yang maha mengatur segalanya, aku percaya kau akan memberikan yang terbaik untukku, jika memang kau menggariskan dia untukku yakinkan hatiku untuk terus memperjuangkannya sampai kami bisa bersama sebagai pasangan yang halal"
Naufal mengusapkan tangannya ke wajah setelah berdo'a dan mengadu kepada sang khalik tentang masalahnya, gerimis ringan turun membasahi rumput yang kering, sang rembulan tertutup awan kelabu, suara jangkrik dan cacing tanah menjadi penghias malam yang sunyi, semilir angin bertiup lembut mengantarkan rindu, rindu pada ia yang jauh disana, pada seseorang yang telah ia beri janji, seseorang yang membuatnya bisa merasakan apa arti kata cinta, cinta yang penuh luka, cinta yang penuh lika-liku takdir, dan cinta dalam kesabaran
"Paman Nofal disuruh ke masjid ponpes sama Abi" pintu dibuka seorang anak kecil dengan koko dan sarung yang berwarna keabuan, matanya yang sayu terlihat jelas kalau ia masih mengantuk, dia Ayub keponakan Naufal
"Ayub, berapa kali harus paman katakan Naufal bukan Nofal" Naufal kesal sekali dengan tingkah anak kakaknya itu yang memanggil namanya sesuka hati
"Iya paman nofal disuruh ke masjid sama abi, Ayub cuma mau menyampaikan amanah abi, Assalamu'alaikum"
"Wa'alakumussalam" Naufal menggelengkan kepalanya, keponakannya itu memang tidak bisa mengucap namanya dengan benar
Naufal memperbaiki pecinya dan keluar menuju masjid ponpes yang tak begitu jauh dari rumah, gerimis ringan ia biarkan mengenai tubuhnya, tak sampai membuatnya basah kuyup, ia justru menikmati rintikan gerimis lembut ini mengenai permukaan kulitnya, udara yang cukup dingin pagi ini memang menjadi godaan berat karena mata selalu ingin terpejam, dan tubuh masih merindukan hangatnya selimut, tapi justru diwaktu seperti inilah kemuliaannya, waktu yang sunyi dan sepi, waktu yang tepat untuk mengadu dan mendekatkan diri kepada sang khalik
"Sabar Naufal, jangan berharap lagi jika kau tak ingin kecewa" gumamnya, ia pernah diberitau beberapa kali kalau Aqila akan pulang, tapi apa yang ia dapatkan? Hanya rasa kecewa karena harapan yang tak sesuai
Walaupun ia berharap kalau itu memang benar Aqila, ia tak ingin berharap lebih dan terlalu banyak, karena hatinya tak ingin lagi kecewa, ia akan sabar menanti, ia yakin sebentar lagi penantian itu akan berakhir
Semburat jingga mulai terlihat diufuk timur, suara ayam dan burung ikut meramaikan suasana pagi, embun-embun air di ujung daun mulai berjatuhan seiring surya yang semakin meninggi
"Bagaimana keputusanmu?" Hasan bertanya pada Naufal yang menatap kearah ufuk timur, tepat dimana mentari mulai meninggi
__ADS_1
"Aku akan menanti" jawab Naufal singkat, ia memegang pembatas yang ada dilantai dua gedung aliyah, menatap matahari terbit dari sini terlihat lebih menyenangkan
"Kau masih sabar menanti?"
"Kenapa tidak? Berkali-kali aku sholat istikharoh hatiku tetap condong kearah dirinya, bukan yang lain"
"Bagaimana dengan permintaan Kyai Utsman padamu beberapa hari lalu? Bukankah kau akan memberinya jawaban setelah dua minggu? sekarang tersisa tiga hari lagi, apa yang akan kau katakan padanya?" tanya Hasan, pandangannya turut lurus kearah mentari yang mulai meninggi hingga sinarnya mengenai pohon-pohon kelapa yang menjulang
"Masih tersisa tujuh puluh dua jam lagi, dan aku yakin bisa memberitahunya kalau aku tidak akan pernah mengingkari janjiku pada Aqila"
"Janji itu memberatkanku, apa yang akan terjadi jika aku menikah dengan Fadila tapi hatiku masih terikat pada Aqila? Bukankah pada akhirnya Fadila juga yang akan tersakiti? Aku tak bisa mengubah hatiku semudah itu"
"Lalu bagaimana? Kyai Utsman memintamu menjaga dan melindungi Fadila, lantas kau akan menolaknya"
"Aku akan menunaikan permintaan itu"
"Dengan menikahi Fadila?" Tanya Hasan bingung, ia tak mengerti maksud perkataan Naufal
"Menjaga dan melindunginya sampai ia menemukan laki-laki yang baik, aku akan membantunya menemukan laki-laki yang bisa menjaga, melindungi dan membimbingnya"
"Entah mendapat keyakinan dari mana, hanya saja hatiku sudah memilih pilihan ini, menunggunya dan menempati janjiku padanya"
__ADS_1
"Aku yakin diseberang sana dia melakukan hal yang sama, tak mungkin hatinya bisa terikat semudah itu walaupun ia tak mengingat apapun tentangku" Naufal mengeluarkan cincin perak yang lima tahun lalu ia gunakan
"Karena saat melihat pelangi, disanalah ia akan mengingatku" gumamnya pelan